My Adsense

13 Jan 2009

Filosofi kupu-kupu



Berdasarkan pengetahuan ku yang hanya sekedar, aku hanya dapat mengartikan mahkluk ini sebagai hewan yang keunikan utamanya terlihat dari “Metaformosis” , merupakan tahapan proses rumit kehidupanya sebelum menjadi kupu-kupu utuh. Selebihnya, aku hanya dapat membayangkan kupu-kupu dalam perputaran imajinasi yang tak jelas arah. Mungkin saja, Malaikat dan peri-peri cantik di khayangan sana memiliki sepasang sayap, seperti sepasang sayap yang dimiliki kupu-kupu, ah…tidak ada yang dapat memastikanya.

Dengan keanekaragaman bentuk dan sepasang sayapnya, kupu-kupu kunilai sebagai mahkluk kecil yang cantik, dianugerahkan sebagai mahkluk bebas yang dapat terbang sesuka hati, seenaknya hinggap dan menghisap sari manis berbagai bunga demi kelangsungan hidupnya.

Aku pun menyukai kebebasan, menuruti kata hati dan terkadang seenaknya…seperti semboyan yang kerap digandrungi komunitas anak negeri, pemuja grup band SLANK. Sebuah kelompok musik yang juga terinspirasi dari kupu-kupu untuk membuat logo band mereka .

Namun, dalam tulisan ini ada sebuah kisah yang ingin kuceritakan. Waktu itu aku menemukan kisah ini tertoreh di lembaran kertas usang, mungkin tercabik dari kumpulan lembaran-lembaran lain yang awalnya sebuah buku. Sungguh, kisah ini cukup menggugah hati.

Seorang lelaki menemukan kepompong, cikal bakal dari kupu-kupu. Kemudian sampailah pada suatu saat ketika dia melihat munculnya lubang kecil pada kepompong itu. Lelaki itu, kemudian duduk dan mengamati kupu-kupu dalam beberapa waktu yang cukup lama, melihat kupu-kupu berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu.

Akhirnya, kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan, si kupu-kupu telah berusaha semampunya dan dia tidak dapat berusaha lebih jauh lagi. Lelaki itu pun memutuskan untuk membantunya, dengan mengambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.

Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayap mengkerut. Terus saja si lelaki mengamatinya karena berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yang mungkin akan berkembang seiring waktu. Semuanya tak pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang.

Ehm…cerita yang cukup menggugah bukan?. Tapi, kisah di atas belum mencapai makna yang akan tersampaikan dari cerita ini. Yang sebelumnya, aku sendiri tidak mendapatkan makna apapun sehabis membacanya.

Tapi setelah lebih banyak mencari tahu, akhirnya aku mengerti bahwa dari cerita tersebut terpetik sesuatu dari kebaikan dan ketergesaan si lelaki. Adalah bahwa, dia salah berpikir dan menganggap kepompong yang menghambat perjuangan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil. Kenapa dia tidak berpikir atau mungkin memang dia tidak tahu bahwa hal itu adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu ke dalam sayap-sayapnya, sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut….

Yang kemudian dari cerita itu akhirnya terbit suatu pemahaman berarti dalam benak ku, bisa juga untuk kalian yang juga membaca kisah ini.

Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu, atau tidak pernah dapat terbang seperti kupu-kupu yang bebas melanglang buana ke segala tempat. Tapi, kita punya usaha yang dapat membuat kita bertahan hidup.

Yang terpenting adalah permohononan sepenuh hati kita kepada Ilahi, agar jika memberikan kesulitan-kesulitan, dapat membuat kita kuat. Memohon KebijakanNya agar memberi persoalan yang dapat diselesaikan, memohon Kemakmuran padaNya dengan memberikan otak dan tenaga untuk bekerja, memohon Keteguhan hati ketika kita sedang menghadapi mara bahaya agar dapat diatasi.

Saya memohon Cinta dan saya yakin jika Allah memberi saya orang-orang yang salah, agar saya dapat menemukan orang yang benar nantinya. Saya memohon Kemurahan, kebaikan hati dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan. Saya tidak memperoleh yang saya inginkan, tetapi saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.

Renungkanlah itu wahai sobat, walau hanya dari kisah seekor “kupu-kupu” kecil, kita sudah dapat menemukan arti kehidupan. Patutlah membuat kita bersyukur karena tercipta sebagai Insan mulia yang dianugerahi Iman, akal dan usaha. Segalanya tergantung dari daya nalar kita untuk menghayati anugerah yang diberikan itu.

Cintrong




Cinta ?! Cinta?...
Katanya sejuta rasa dan warnanya, sering teragungkan di lembar-lembar kisah roman manusia. Sang Gibran pun lelah memaknainya dalam seribu satu syair bunga cinta, bahkan Shakespeare kehilangan hakikinya dalam pseudo-dramatic adegan sandiwara Tetapi cinta pun sering berakhir dalam benaman piciknya ruang makna

Kenapa ?!

Menurutku karena kini, cinta hanya jadi dongeng peraduan sepasang jiwa muda, cintapun sekedar jadi romantika dua hati yang bergejolak menahan rasa, bahkan parahnya lagi cuma jadi cumbu rayu manja yang mengatas namakan cinta

Sesungguhnya, betapa bermaknanya Cinta ?

Adalah ketika Rasul tercinta dalam detik-detik kematian, terucap kata bijak yang menyentuh kalbu peradaban. Dia berseru…Ummatku? ummatku? Dan matanya pun terpejam diiringi derai kesedihan seluruh zaman
Adalah ketika seorang manusia baru terlahir dari rahim ibunya, setitik air susu mengalir dengan ikhlas menebus dahaga, sepasang mata tak mampu terpejam meninabobokan sayangnya, sang ayah basah keringat mengumpulkan nafkah demi anaknya
Adalah ketika setetes darah jatuh ke bumi membayar harga nyawa manusia, airmata membasahi sudut mata menyerahkan pengorbanan lelah dan takut terusir oleh harapan akan pulang ke alam kekal nanti. Keberanian bergetar bersama cinta dan keridhaan sementara nyawa pun diregang di tepian ranjang kematian
Adalah ketika Sang Raja Semesta menebar kasih sayangnya ke penjuru langit dan bumi. Dia berujar…kau manusia, tetap diberi-Nya meski kau mengingkari. Kau manusia, tetap dikasih-sayangi-Nya meski riak lakumu tak berbudi. Kau manusia, tetap dilindungi-Nya meski kau tak mengabdi. Kau manusia, tetap dicintai-Nya meski kau tak mencintai. Kau manusia, tetap diperhatikan-Nya meski kau tak peduli. Kau manusia, tetap diharapkan-Nya meski kau maksiyat berkali-kali Dan dalam takdirnya, kau tetap menjadi manusia sejati

Niscaya bumi takkan menjadi dunia tanpa ada cinta. Walau cinta begitu picik diwakili oleh seuntai kosa kata usang dalam bait-bait syair manja dan skenario melodrama yang justru tak pernah mewakili sejuta rasa cinta

"Katakanlah, 'Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu peroleh, perniagaan yang kamu khawatir merugi dan tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya?Dan Allah tidak menunjuki kaum yang fasik.'"

Detak hari pilu, 2009
pemuja cinta, pembenci Valentine,
Maldalias

Arti Cinta


Buat apa aku tertarik kepada seorang wanita karena parasnya, jika keelokan parasnya itu dapat menyesatkan ku nantinya. Apalagi seandainya aku hanya tertarik kepada kekayaannya, bukankah kekayaan itu dapat musnah.

Ehm,…akhirnya kesimpulanku jatuh pada penalaran bahwa yang paling baik bagi ku adalah tertarik kepada wanita yang dapat membuatku tersenyum, karena memang hanya senyum yang dapat membuat hari-hari gelap ku menjadi cerah. Semoga aku menemukan wanita seperti itu.

Suatu saat nanti akan ada juga tahap dalam kehidupanku, ketika aku sangat merindukan seseorang pujaan hati, sehingga ingin sekali menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga saja aku tidak hanya selalu bermimpi…

Tapi, jika pun harus diawali dengan mimpi, akan ku utamakan mimpi tentang apa yang selalu menari dalam imajinasiku. Pergi ke tempat-tempat yang ingin kusinggahi. Menjadi manusia seperti yang ku harapkan, karena aku hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin ku lakukan.

Ya Tuhan Ku,…semoga aku mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuat ku baik hati, cobaan yang cukup untuk membuat ku kuat, kesedihan yang cukup untuk membuat ku manusiawi, pengharapan yang cukup untuk membuat ku bahagia dan uang yang cukup untuk membeli yang kubutuhkan.

Dan tetapkanlah aku pada satu keyakinan, bahwa ketika satu pintu kebahagiaan ku tertutup, pintu yang lain pasti akan dibukakan. Meskipun acap kali aku terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi ku.

Mengenai Hidup ku,…dipenuhi oleh manusia-manusia yang berada di sekelilingku, entah siapa dan dari mana mereka berasal. Tapi yang paling kuingat hanyalah kalian…Sahabatku.
Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda takdir bersamaku, walau tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mereka lebih senang mendengar segala keluh kesah ku yang seakan tak pernah usai. Setelah itu, aku dapat sejenak pergi dengan perasaan tenang, karena telah bercakap-cakap lepas dengan mereka melalui hati.

Patut juga diingat bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya. Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hati orang lain pula. Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkahi.

Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, meraka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.

Mungkin Tuhan menginginkan aku bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, yang paling penting aku harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia itu.


Dan jika boleh bercerita, aku ini hanya memerlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang, tetapi jika untuk melupakan seseorang aku memerlukan waktu seumur hidup. Aku memandang kebahagiaan sebagai perasaan yang tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka.

Sedangkan perasaan cinta yang dalam adalah jika meskipun kamu kehilangan rasa, gairah, romantika tetapi masih tetap perduli padanya. Sedangkan hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya, malah kamu harus melepaskannya.

Pandanganku untuk ‘cinta’ zaman sekarang, awalnya dimulai dengan sebuah senyuman, kemudian bertumbuh dengan sebuah ciuman dan berakhir dengan tetesan air mata. Sudah sangat jarang ditemui cinta yang datang kepada mereka yang masih berharap sekalipun pernah dikecewakan, kepada mereka yang masih percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka yang masih mencintai sekalipun pernah disakiti hatinya. Mungkin aku hanya sesorang yang termasuk dalam kelompok kecil itu.

Tapi secara jujur pengalaman mengajarkan aku…, sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintai ku, tetapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian untuk mengutarakan cintaku kepadanya. Dari hal itu aku kemudian berpandangan bahwa masa depan yang cerah selalu tergantung pada masa lalu yang dilupakan. Aku tidak dapat hidup terus dengan baik jika tidak melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.

He..he..he..memang jiwa manusia itu selalu dipenuhi dengan kelemahan dan keraguan, sehingga aku selalu saja berusaha menggapai cintanya walaupun sudah terasa mustahil. Tapi itu juga karena aku percaya akan takdir Ilahi yang menentukan segalanya. Sehingga aku seharusnya jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika aku masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika aku masih merasa sanggup dan jangan pernah katakan aku tidak mencintainya lagi jika aku masih tidak dapat melupakannya

Dengan suatu kesadaran yang bertambah bahwa memberikan seluruh cintaku kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cinta ku. Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh di hatimu.

Selalu bersikap tegar dan siap untuk hal-hal yang sangat ingin aku dengar meskipun yang ku dengar dari orang tersebut tidak seperti yang diharapkan. Namun demikian, aku tak akan menulikan telinga untuk mendengar perkataanya dengan sepenuh hati.

Inti yang paling penting dari segala pemahamanku tentang cinta dan hidup adalah, aku tidak ingin melupakan makna sakral yang dapat dipetik dari sejarah terlahirnya diriku di dunia. Waktu terlahir, aku menangis dan orang-orang di sekelilingku tersenyum. Artinya aku akan menjalani apa adanya hidup ku sehingga pada waktu meninggal, aku tersenyum dan orang-orang di sekelilingku menangis.

Semoga disaat aku telah tiada nanti, telah kugapai cinta dan tujuan hidupku yang lain, sehingga aku dapat mengucapkan selamat tinggal pada dunia dengan tersenyum, disertai tangis sesal mereka karena pernah menyia-nyiakan aku ketika hidup.

3 Jan 2009

Salute for Slank



Kemarin malam, tepat pkl. 21.00 wib, gue ngeliat siaran tipi yang ditayangin salah satu stasiun swasta di negeri ini. Acara itu memperingatin Ultah-nya SLANK yang ke- 25 di kota Surabaya, Bpk.Adiyaksa Daud selaku menteri Pemuda dan Olahraga hadir juga pada acara itu.

Tau engga’?, ada kalimat yang cukup buat gue terkesima waktu itu. Bpk.Menteri yang ngomong ke Band SLANK (Band Kesayangan gue, yang sudah jadi idola gue dari bocah. Sedikit banyaknya udah jadi inspirator yang bae buat gue, emang seeh sedikit numbuhin bibit nakal…. Tapi, itu kan lebih ke salah gue, bukan SLANK…

Gue juga engga’ perduli cacian, hinaan, atau apa juga yang pernah dikatakan masyarakat tentang SLANK. Yang jelas, SLANK adalah band no.1 yang TOP BGT. Lagunya pas banget, prinsipnya yang buat gue jatuh hati : apa adanya, seenaknya. Kata-kata itu kan ampuh banget buat kami para Slanker yang pernah atau sering terkekang oleh masa muda penuh aturan, atau zaman yang lebih ngedewain kesongongan materi.

Dengan mengidolakan SLANK, gue nobatin diri sebagai Slanker. Dan kalo Slanker sejati, berarti membenci segala kemapanan yang bisa buat generasi muda bangsa ini tambah songong. Emang seeh, Slanker cendrung seenaknya, tapi masa muda kan emang harus bebas agar dapat sejauh mungkin jelajahin jati diri. Kalo SLANK dan Slanker pernah jatuh, mungkin itulah kesalahan yang pasti terjadi pada kami atau siapa aja yang hanyalah manusia lemah. Tapi itu sama sekali engga’ mencerminkan Slanker yang sekarang juga harus seperti itu. “SLANK bisa tobat”…Slanker juga harus bisa dong..

Masih banyak qo’ dampak positif dari syair, prinsip dan jiwa SLANK yang patut diteladanin. Cita-citanya luhur untuk jadi-in generasi muda bangsa ini menjadi generasi PLUR (Peace, Love, Unity, Respect).

Bukankah hal-hal itu yang buat umat manusia dapat mencapai ketentraman dalam hidup???.

Eh iya,…kalimat Bpk.Menteri yang buat gue terkesima waktu itu adalah
“ Perbuatan yang telah dilakukan SLANK mungkin hanya setitik air diantara samudra luas, akan tetapi mereka telah berperan dalam menciptakan gelombang ombak perubahan yang terjadi di negeri ini “.

Salute for SLANK……

Pemerintah Akan Memperketat Aturan Unjuk Rasa



Masyarakat kita sudah tidak asing lagi dengan kata “Unjuk Rasa”. Pengertian umumya adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum, biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok yang tidak puas dengan sistem atau ketentuan yang berlaku.

Di Indonesia, unjuk rasa menjadi hal yang lumrah sejak jatuhnya rezim kekuasaan Soeharto pada tahun 1998, di mana menjadi simbol kebebasan berekspresi. Pada waktu itu, terjadi hampir setiap hari di berbagai bagian di Indonesia, khususnya Jakarta. Dan dengan melihat keadaan bangsa sekarang ini yang tetap dihinggapi berbagai permasalahan pelik, tentunya tetap menjadi sebuah kewajaran bila unjuk rasa sering terjadi. Mahasiswa sebagai generasi bangsa yang sering menjadi aktor utama dalam aksi ini, namun kerap juga dilakukan oleh kelompok-kelompok lain dengan tujuan tertentu.

Dibalik semua itu, harus pula disadari bahwa unjuk rasa terkadang bukan hanya menyampaikan aspirasi saja, penyampaian aspirasi yang berlebihan pun kadang dapat bercampur emosi yang dapat menyebabkan berbagai tindakan brutal seperti pengrusakan terhadap sarana dan prasarana milik umum. Hal itu memang sering terjadi, entah yang melakukan aksi unjuk rasa adalah kelompok mahasiswa yang mewakili kaum terpelajar atau kelompok masyarakat awam dan mudah tersulut emosi.

Karena itu, jika memang benar pemerintah akan memperketat aturan unjuk rasa, mungkin dapat menjadi solusi dalam mengatasi dampak yang akhir-akhir ini malah menjadi ajang penyalur kekerasan dan pertikaian. Apakah memang hanya dengan kekerasan aspirasi mereka dapat sepenuhnya diterima, ataukah hanya menjadi usaha sia-sia belaka yang memperparah keadaan dengan jatuhnya banyak korban ?. Jelasnya, jika aspirasi ditujukan untuk kepentingan baik tentunya perlu diwali dengan permulaan yang baik pula.

Tapi, setiap pendapat memang harus memandang dari berbagai sisi. Dan dalam permasalahan ini, pemerintah pun harus tidak gegabah dalam merencanakan atau mengambil setiap kebijakan. Perlu diperhatikan apa maksud setiap aspirasi yang disampaikan, apalagi jika sampai dituntut dengan perngorbanan. Sedangkan pemerintah dengan segala aparatnya tidak bisa dipungkiri tetap menjadi pihak yang terkuat.

Seharusnya aspirasi yang disampaikan dapat menyadarkan pemerintah untuk mengevaluasi diri terkait dengan kinerja yang selama ini dilakukan. Bukankah para pengunjuk rasa hanya ingin pemerintah mendengar dan melaksanakan aspirasi mereka dan bukan untuk menganggu. Dan jika aspirasi tersebut disampaikan secara berlebihan, mungkin karena ingin menegaskan prioritas yang harus dilakukan pemerintah beserta jajarannya dalam meninjau kembali masalah fundamental yang sering menjadi sebab adanya unjuk rasa. Seperti kelangkaan BBM, kemiskinan dan meningkatnya tingkat pengangguran.

Jika aturan unjuk rasa memang akan diadakan, harus didahului dengan pemikiran seksama oleh pihak terkait disertai penegasan dan penuh kedisiplinan oleh semua pihak dalam menerapkanya.

Semua yang penulis utarakan hanyalah merupakan pendapat yang ingin dikemukakan agar unjuk rasa tetap secara murni menjadi sarana untuk menyalurkan aspirasi, bukan ajang pertikaian yang memakan korban. Karena tidak ada yang mau beraspirasi untuk menderita dan pemerintahan yang baik adalah yang mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, jabatan, lembaga atau lainya.

29 Des 2008

Selamat datang Tahun Baru


Selamat datang Tahun Baru, tahun yang sudah seharusnya memiliki makna penting bagi kehidupan manusia. Karena tahun baru bukan hanya berarti menggantikan tahun yang lama, akan tetapi bermakna bagi setiap pribadi untuk bisa melakukan evaluasi mengenai segala tingkah laku mereka. Segala evaluasi yang dilakukan diakhir penghujung tahun ini, memang patut diawali dengan perenungan bermakna, yang nantinya dapat menjadi penilaian masing-masing individu akan hal apa saja yang perlu dirubah.

Tapi, sejauh mana perenungan itu turut mempengaruhi dampak perubahan yang terjadi pada diri masing-masing individu. Apakah perubahan itu dapat terus berlangsung dan mempengaruhi segala aspek kehidupan secara positif ?. Itulah pertanyaan yang menambah keyakinan bahwa begitu pentingnya perenungan sebagai rencana awal dalam mengisi tahun baru ini dengan perubahan.

Di zaman sekarang ini, peradaban telah dihuni oleh berbagai kemajuan dalam berbagai aspek teknologi dan pemikiran. Sehubungan dengan keadaan itu, dituntut pula pengadaan sumber daya manusia yang mampu bersaing agar tidak tertinggal dengan zaman yang terus saja berpacu dengan kecanggihanya. Tentu saja ada harga yang harus dibayar untuk semua itu. Akhirnya, sudah menjadi sesuatu yang lumrah jika faktor keuntunganlah yang menjadi inti pencarian masyarakat dunia saat ini, berbagai cara dilakukan agar dapat meraih kekuasaan dan harta untuk membayar jasa yang telah diberikan pada zaman ini.

Hingga pemaknaan tahun baru lebih cendrung ditujukan kepada evaluasi dan pembaharuan di bidang ekonomi. Seperti bagaimana mengatur keuangan, mengubah kinerja dalam berkarya, meningkatkan daya saing, dan mengejar laba yang tinggi. Perubahan-perubahan yang lebih tertuju pada aspek ekonomi itu semakin kentara terlihat meskipun sempat tertutup oleh tujuan perubahan lain yang diarahkan pada masalah sosial masyarakat. Dari pernyataan di tersebut, dapat diketahui sebatas mana makna perenungan yang mengantarkan manusia zaman sekarang pada pemahaman arti Tahun Baru.

Kemudian, bagaimana dengan sisi spritualitas ?. Apakah dirasa sudah tidak perlu menjadi perhatian untuk dilakukan evaluasi dan pembaharuan dalam kehidupan rohani manusia di bumi ?. Memang masih ada umat manusia yang memikirkan dan melakukanya, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa banyak juga yang seakan sudah tidak memikirkanya. Mungkin menurut mereka, dari awal kehadiran ajaran agama dan moral di muka bumi ini, memang tidak perlu dievaluasi, karena tidak pernah berubah dari sekedar melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan tercela.

Lalu, bagaimana dengan permasalahan-permasalahan pelik yang terus saja mendera bangsa ini, bukankah sangat berhubungan dengan keadaan spritual umat. Tidak adakah yang menyadari bahwa keterpurukan tidak akan berubah, sebelum manusia-manusia yang berperan merubah terlebih dahulu hal-hal negatif yang ada dalam jiwa masing-masing. Karena sebenarnya itu hanya berujung pada pengotoran moral yang selanjutnya semakin jauh menjadi alat penghancur peradaban bangsa ini.

Untuk itu marilah kita memaknai Tahun Baru kali ini dengan merenungi segala perubahan-perubahan positif yang harus dilakukan. Tanpa melupakan bahwa yang paling penting dari perubahan itu adalah evaluasi yang terjadi pada sisi spritualitas, melingkupi aspek agama dan moral. Karena hal itu yang berperan penting dalam keberlangsungan peradaban di muka bumi ini.

Serta harus ada gagasan yang benar disertai dengan kemauan dan tekad untuk berubah, karena jika hanya gagasan tanpa kemauan atau sebaliknya, tidak akan menghasilkan perubahan. Oleh karena itu jiwa setiap individu harus diupayakan agar memiliki gagasan, pikiran, kemauan dan tekad yang suci agar perubahan di tahun yang baru ini dapat tercapai.

Korupsi Budaya Indonesia



Apalagi permasalahan rentan yang sedang ramai dibicarakan di negri ini, kalau bukan masalah korupsi. Selama ini, pemberantasanya tidak pernah menampakkan hasil yang nyata. Pelakunya yang disebut koruptor sudah sering membuat jengah dengan berbuat seenaknya, mereka lihai membuat penegak hukum tidak berdaya.

Wajar saja, semakin gencar generasi cendikiawan memunculkan berbagai usulan agar disusun peraturan hukum baru yang mencakup penjelasan secara detail, disertai ketegasan yang menjadi faktor utama membuat jera pelaku korupsi. Walaupun ide ini datangnya terlambat, setidaknya harus selalu ada upaya agar permasalahan korupsi ini dapat dituntaskan. Meskipun sejak dulu langkah penuntasan itu sebenarnya telah dilakukan, undang-undang dan peraturan sudah lama dibuat oleh mereka yang mengerti hukum. Tapi, kita pun sebagai masyarakat bangsa ini tidak dapat mungkir bahwa hasil yang kita rasakan tetap saja pepesan kosong

Marilah generasi bangsa ini memusatkan pikiran dan bersikap kritis terhadap sebab utama dari permasalahan ini. Untuk meninjau ke belakang, harus kembali kepada aspek historis yang menjadi cikal bakal terciptanya kasus korupsi yang memeriahkan kegalauan kondisi bangsa kita saat ini. Tentu saja, setiap manusia yang masih dapat berpikir waras menilai korupsi adalah perbuatan yang buruk walaupun hanya jauh di lubuk hati kecilnya saja, dan jika disangkut pautkan dengan budaya, berarti korupsi merupakan budaya yang buruk.

Sebelum membahas permasalahan ini lebih lanjut, marilah kita merenungi juga definisi atau pengertian budaya. Bukankah selama ini, pemahaman tentang budaya memang tak pernah jelas. Sejak awal masyarakat kita mengenal sejarah bangsa ini, budaya memang sering dianggap suatu hal yang baik, untuk itu harus dilestarikan atau dipertahankan. Tapi, kenapa sedikit sekali pemikiran yang menelaah ulang pengertian tersebut sebelum meyakini secara pasti.

Menurut pengertianya, budaya adalah pola tingkah laku yang berlangsung terus menerus. Dan sebagai manusia, tingkah laku dan pemikiran kita tidak pernah luput dari kesalahan. Oleh karena itu, sebenarnya budaya tidak dapat dikatakan selalu benar. Dan dalam permasalahan melestarikan, budaya bukanlah aspek abadi yang sesakral agama. Sehingga harus selalu dikoreksi sesuai dengan kepentingan zaman dan dapat ditempatkan pada posisi yang bermanfaat bagi masyarakat yang hidup di zaman sekarang.

Kesimpang-siuran makna membuat perbedaan pemahaman adalah dalam menyikapi kata korupsi. Sedangkan kata korupsi sendiri bukan merupakan kata asli yang berasal dari bahasa ibu bangsa kita. Korupsi dipinjam dari bahasa Inggris Corruption. Masyarakat yang strukturnya berbeda tentu memiliki penafsiran yang berbeda pula mengenai pemahaman kata itu.

Jika suatu masyarakat tidak mengenal sebuah kata secara jelas, maka sesungguhnya mereka tidak mengenal secara pasti prilaku berdasarkan kata itu. Jadi , apa makna korupsi bagi masyarakat Indonesia ?. Bahasa Indonesia ternyata tidak memberikan keterangan yang memadai tentang makna korupsi yang merupakan makna pinjaman dari bangsa lain.

Bagaimana suatu masyarakat dapat mengenal konsep korupsi, jika tidak memiliki kosa kata korupsi. Setelah berusaha dijabarkan dalam bahasa Indonesia, korupsi hanya ditafsirkan secara sederhana. Pengertian korupsi hanya dipersempit pada batas pengertian sebagai tindakan menggunakan kekayaan atau uang Negara secara tidak sah. Dan dalam hal ini, korupsi telah terjadi di Negara Indonesia yang berbalut demokrasi.

Lantas seperti apa sejarah bangsa kita ?. Bangsa kita ini diawali dengan budaya kerajaan, yang telah terbukti secara absah merupakan asal-usul berdirinya negara kita. Perangsuran zaman dan situsi yang merubah konsep tersebut, dan lahirlah demokrasi yang mengandung arti kekuasaan berada di tangan rakyat.

Merunut aspek sejarah tersebut, dapat diketahui bahwa dalam konsep budaya Indonesia, kedaulatan awalnya tidak berada di tangan rakyat melainkan tangan raja, dan kekuasaan bukan berasal dari ‘bawah’ melainkan dari ‘atas’. Dalam konsep kerajaan, kekuasaan tidak berorientasi kepada rakyat, karena kekuasaaan itu lebih bersumber pada harta. Penguasaan yang merajai segalanya. Permasalahan pelik pun muncul jika menyangkut kekayaan negara, tentu saja dianggap sebagai milik penguasa tersebut, sedangkan rakyat kecil tidak memiliki apa-apa. Kasarnya rakyat dalam konteks ini hanya dinilai berdasarkan jumlah penduduk yang tidak ada artinya..

Dalam rezim korup hanya ada orang kaya yang diuntungkan karena bisa mendapatkan semua pelayanan publik atau menguasai sumber ekonomi dan tidak pernah ada sumber ekonomi penting yang jatuh ke tangan orang miskin. Jika telah sampai pada titik krisis seperti itu, ujung-ujungnya kembali kepada peran penting segelintir masyarakat yang masih dapat berpikir positif untuk menuntaskan permasalahan ini. Tetapi, hingga kini dampak dari pemikiran mereka yang bernaung di bawah kata reformasi belum memberikan arti yang berarti, walaupun patut tetap ada penghargaan atas upaya mereka untuk merubah masa depan bangsa ini kearah yang lebih baik.

Dan sampailah pada kesimpulan utama dari penulisan ini bahwa keadaan bangsa ini tidak akan berubah, sebelum manusia-manusia yang berperan merubah terlebih dahulu apa yang ada dalam jiwa masing-masing. Yaitu, mengubah semua pemikiran negatif akan kepentingan untuk meraih kekuasaan dan meraup harta. Sebenarnya segala keinginan negatif itu hanya berujung pada pengotoran moral yang selanjutnya semakin jauh menjadi alat penghancur peradaban bangsa ini.

24 Des 2008

Sajak Simphoni dari Alam Bawah Sadar


Sajak-sajak adalah suara dari alam bawah sadar. Tak mau ku katakan tentang suara-suara yang timbul dari roh, untuk menghindarkan kesan yang mengandung klenik. Dalam hal ini, aku lebih baik mempergunakan istilah teknis pisikologis “bawah sadar”, meski sesungguhnya soal bawah sadar sama orisinilnya dengan soal roh. Tetapi orang akan lekas dan percaya untuk menerima pengertian bawah sadar itu dari pada roh, yang sudah terlanjur mengingatkan orang kepada tahkyul.

Apa yang muncul dari bawah sadar mungkin suatu yang memalukan diri, seolah-olah menyebabkan kita berdiri telanjang bulat di muka umum, mungkin pula bayangan angan-angan yang pelik, hanya sekali saja menampakkan diri di depan mata hati kita.

Pada saat-saat yang sepi kita berada di dalam kesadaran yang paling cerah, yang mengungkapkan diri dari situasi kita sampai kepada inti hakikatnya. Sajak-sajak yang terkumpul, kuanggap simphoni bagiku. Adalah hasil pergulatan untuk merebut kiltan-kilatan kesadaran itu sebelum tenggelam lagi dalam ketidaksadaran yang dungu.

Bagiku, tujuan pada hidup dan kerja sastra harus memuncak kearah kesadaran sepenuhnya. Itu harus menjadi akhir segala kerja ilmu seni dan lakon hidup. Diriku seperti pencuri yang memasuki gua penuh emas dan cepat harus lari ke luar, sebelum pintu-pintu tertutup dan emas di tangan menjadi darah melekat, darah penyesalan, dan derita kehidupan.

Alam bawah sadar itu amat luas, dan kalau kita bisa memasukinya, kita akan menjadi sadar akan kehadiran Allah, sebagai pusat kesadaran pada segala gerak yang tercipta di dunia fana ini. Hanya hati yang kering dari angan-angan, yang tidak tersadar demikian .

Aku tidak mau sombong wahai sobat, tapi aku beranggapan bahwa mereka yang tidak bisa melihat alamat-alamat kebenaran di tengah alam berlambang ini adalah mereka yang tidak sanggup melihat dengan mata hati, tidak bisa membiarkan rohnya, bawah sadar, intuisi atau rasanya bersuara. Sedangkan, aku mau dengan persediaan pengalaman dan ilmu yang mengisi, akan membentuk diriku mencapai kesadaran setinggi–tingginya tentang hidup dan tentang manusia.

Dan aku beranggapan bahwa kebenaran yang hakiki hanya dapat disoroti dengan agama, dengan menggali lebih dalam ke bawah sadar. Dengan begitu, akan timbul suara kebenaran yang berintikan penyadaran sendiri, bukan tiruan pemikiran dari dogma atau doktrin.

Sikap ku dalam hidup bersosialisasi, dapatlah disamakan dengan seorang arkeologi yang ingin menyusun kembali batu berdebu yang berantakan menjadi candi yang utuh dan keramat, dan mau melihat pada bangun dan motif-motifnya.

Kalau chairil anwar mau melihat ke dalam diri manusia dan ke dalam dirinya sendiri, maka aku mau melihat hakikat manusia sampai kepada nyawa yang terbayang dalam darah.

Adalah percuma seperti apa yang telah dilakukan orang terdahulu, mereka tanpa berlandaskan agama yang sebenarnya. Walaupun pernah ada manusia yang memotong-motong tubuh sesama manusia lain sampai bagian yang kecil-kecil, hanya karena ingin membuktikan logika, tapi tidak juga menemukan nyawa. Waktu itu telah hadir pula budha yang hendak mencapai pelepasan dari belenggu jasmaniah. Demokritus pun tidak bisa melihat apa-apa selain atom dan kekosongan.

Aku tahu apa yang paling benar dari semuanya, semakin kutemukan setelah semakin jauh kutelusuri alam bawah sadar menurut ku, karena hanya aku yang paling mengerti pikiran sadarku sendiri. Mereka yang lain hanyalah sarana luar yang kadang tak memberikan arti yang berarti. Hidayah pun turun hanya kepada manusia yang mau menerimanya. Dinul Islam

20 Des 2008

"badan hukum pendidikan dan peran pemerintah"‏


Kisruh kembali berdentang dalam dunia pendidikan negera kita. Perang pernyataan dan klaim terjadi antara pemangku tanggung jawab yang mengurus pendidikan dengan pihak yang peduli akan pendidikan negeri ini. Seperti yang sudah-sudah, sebagai generasi terdidik yang mengemban masa depan bangsa, sepantasnya jika para mahasiswa begitu gencarnya mengeluarkan aspirasi atas kisruh yang sedang terjadi. Terbit harapan kita bersama, agar aksi yang terjadi bukan malah memperkeruh suasana.

Kasusnya menjadi menarik untuk disimak, karena dilatarbelakangi oleh argumentasi hukum dan perspektif yang berbeda dari pihak-pihak yang berseberangan. Sebenarnya berpangkal dari tidak jelasnya peraturan pemerintah dengan dimunculkannya Badan Hukum Pendidikan (BHP), yang masih dalam Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional.

Untuk menjelaskan sebab dan asal-usul mengenai apa dan bagaimana status dari BHP ini, memerlukan argumen panjang yang ditilik dari sumber hukum berupa peraturan pemerintah (PP) yang berisi ketentuanya secara lebih terperinci. Tapi dalam kolom singkat ini, penulis hanya ingin mencoba menguraikan pendapat tentang BHP secara umum, mungkin dapat menjadi sedikit sumber acuan yang melatar belakangi pihak-pihak berkepentingan untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Badan Hukum Pendidikan (BHP) dapat diartikan sebagai badan hukum satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat, yang berfungsi untuk memberikan pelayanan pendidikan, prinsipnya adalah mengelola pendapatan dana (nirlaba) untuk memajukan satuan pendidikan.

Yang menjadi sumber persoalan adalah dengan disiapkanya RUU BHP, telah memunculkan isu-isu yang didominasi pernyataan bahwa ini merupakan rancangan yang sengaja dibuat pemerintah agar dapat melepaskan tanggung jawab konstitusional terhadap pendidikan nasional. Jika seandainya seperti itu, dimanakah tanggung jawab pemerintah terhadap UUD 1945, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pernyataan di atas dikarenakan timbul pertanyaan seputar permasalahan yang menyangkut biaya pendidikan yang dikhawatirkan akan semakin mahal. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, karena jika institusi pendidikan seperti universitas negeri telah sepenuhnya menjadi kepengurusan pihak swasta (yayasan), tentunya pendanaan sepenuhnya didapatkan dari pihak-pihak yang sedang mengenyam pendidikan atau mahasiswa.

Dengan begitu, yang terjadi bukan hanya menambah beban para mahasiswa yang sudah berat dengan keadaan ekonomi bangsa saat ini, tetapi juga memusnahkan impian anak-anak kurang mampu yang giat menuntut ilmu agar ketika menjadi mahasiswa nanti dapat menambatkan pendidikanya pada perguruan tinggi negeri.

Tetapi, cara bijak dalam mengatasi suatu permasalahan adalah dengan memandang inti permasalahan tersebut dari berbagai aspek. Sebenarnya, BHP juga memiliki sisi positif untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa ini. Dengan adanya otonomi pendidikan, dimungkinkan pihak-pihak terkait dapat lebih leluasa mengembangkan upaya demi memajukan kualitas pendidikan yang mungkin selama ini hanya terkukung oleh aturan pemerintah.

Dan perlu diketahui bahwa dalam RUU BHP memungkinkan lembaga pendidikan tinggi asing untuk berdiri dan bekerjasama dengan Negara kita. Patut diakui bahwa dari segi kualitas, memang perlu banyak mencontoh dari bangsa asing yang sumber daya manusianya terbukti lebih tinggi dari bangsa kita. Meskipun tetap harus ada pengawasan, agar jangan sampai liberalisasi pendidikan tersebut menyebabkan intervensi dan penguasaan oleh lembaga tinggi asing secara berlebihan.

Dalam hal pengawasan ini, peran dan tanggung jawab pemerintah yang sangat diperlukan, begitu juga tidak sepenuhnya menghilangkan bantuan dan subsidi yang sudah seharusnya diberikan. Akhirnya semua pendapat saya berujung pada harapan utama agar pendidikan yang menjadi sarat utama kemajuan peradaban suatu bangsa dapat diraih secara merata oleh siapapun juga, tanpa membedakan status dan keadaan ekonomi.

Bukan mustahil “Mencerdaskan kehidupan bangsa” yang merupakan tujuan bersama manusia yang mencintai bangsa ini pun dapat tercapai.

Kekuatan imajinasi


Kekuatan imajinasi, identik dengan kepekaan seseorang pengarang. Makin tajam kepekaan seorang pengarang, makinberkelebat imajinasinya. Dan makin tumpul kepekaanya, makin malas imajinasinya, kemudian mengantuk, tertidur dan bahkan bisa saja mampus….!!!

Kepekaan adalah kemampuan menembus apa yang tidak terlihat, tidak terasa dan tidak terpikirkan. Bahkan kepekaan adalah kemampuan untuk mengadakan sesuatu yang tidak terjangkau oleh orang lain. Seandainya saya adalah seorang pengarang, kepekaan saya berbeda dengan kepekaan teman saya yang seorang politikus, pedagang, bahkan dengan saya sendiri yang terkadang menjadi manusia materialistis.

Pada saat menyaksikan suatau kegalauan, seorang yang dungu tidak melihat apa-apa, kecuali kegalauan itu sendiri. Tetapi kepekaan seorang pengarang dapat membuat dia berpikir lain. Selalu gelisah, kemudian sekonyong-konyong mengendalikan suatu kejadian menjadi alur cerita panjang yang berentetan. Seakan didramatisir menjadi kisah yang menarik.

Kepekaan akan tubuh dengan sendirinya semakin menjadi tajam pada saat getol menulis. Pada saat itu imajinasi berkelebat tanpa diminta, bahkan tak dapat dikuasai. Karena itu mengarang tidak dapat sekedar diibaratkan dengan “tukang tulis”.

Kisah Tragis di Hari Kamis


Kamis,20 – 12 - 2008

Naiki tangga itu,jangan perhatikan bayangan lukisan gemetar di sudut gelap lantai pertama. Langkahi muntahan itu dan jangan bersandar pada pagar. Kuncimu bisa dipakai untuk sebagian pintu di bangunan ini, dan yang sebagian lagi tidak terkunci.

Buka pintu yang bertuliskan “Bad Boys”, tak usah repot membaca tulisan vulgar yang dituliskan di bawah hurufnya…toh bukan dalam bahasa Indonesia, dan kau tidak cukup pandai tentang bahasa Inggris untuk mengetahui apakah grafity itu memang dalam bahasa Inggris. Tapi sebenarnya, walaupun tidak faseh…kau sering berusaha mengenal beberapa kata dalam bahasa inggris , sehingga jika kata-kata itu terlihat begitu asing, mungkin saja bukan bahasa Inggris tetapi bahasa perancis….atau apalah.

Buka pintunya dan masuk ke dalam. Bernapaslah melalui mulut. “Mahkluk ini sudah mati” bebarapa hari yang lalu dan menambah bau pengab kamar ini pada musim panas. Buka jendela….tidak lupakan itu, jendelanya pasti macet, dan kau tak punya banyak waktu. Kau kan bukan pembantu di rumah ini…

Perlukah Polisi saja yang membersihkanya ? tetapi setelah kau menelpon mereka…tapi, jangan dulu. Kau masih harus mencari dompet.

Tahan napas dan jangan perhatikan apa yang terjadi pada kulit mahkluk itu. Jangan coba memikirkan seperti apa tubuhnya sebelum membengkak. Tak penting apakah kau pernah memperhatikan dia waktu hidup atau tidak. Gerayangi saja saku baju itu, benar…masukkan tanganmu ke dalamnya. Semakin dalam hingga tangan kasarmu masuk seluruhnya, meskipun kain sakunya begitu tipis, meskipun kulit mahkluk itu di bawah saku tersebut….lembek dan tegang, seperti bubur jagung di lemari es, bergoyang, mesih menyatu tetapi siap terpecah kalau kau menyentuh terlalu kuat.

Ambil semua dari saku itu, setiap saku,…karena memang itu niat awalmu. Kau bisa keluar dari situ, setelah mendapat semuanya.

Biarkan bangkai kucing itu tergeletak. Setelah kau mengambil dompet dan beberapa lembar duit receh yang tertinggal di saku baju dan celanamu yang kau gantung di belakang pintu, dekat dengan bangkai kucing itu. Tak ada guna menelpon polisi, karena kau hanya akan ditertawakan dan dibilang gila. Inikan hanya masalah meregang nyawanya seekor kucing yang sudah seminggu terkurung di kamar mu, tanpa makan. Dan selama waktu itu juga kau pergi mengembara di pedalaman orang Badui untuk meneliti bahan cerita novel mu yang hampir rampung.

Sekali seruan saja,…Tukiyem pembantumu pasti akan bergegas menghampiri dan menurut perintahmu untuk membersihkan semua darah yang mengotori lantai kamar. Kau adalah orang yang tak acuh dalam segala situasi remeh, mungkin karena kesendirian membuat kau mati rasa. Apalagi jika itu hanya untuk seekor kucing, hadiah dari mantan kekasih yang kehadiranya pun tak pernah kau hiraukan.
Sungguh malang nasipnya….”Kisah Tragis Si Kucing Manis di Hari Kamis"

14 Des 2008

uncreavealed love


hey iyazz,
i won't come to you tonight...
trying to turn away from your love,dear
hey iyazz,
tonight i won't be coming...
no need to find me for the sake of your love
its our fate, our story wont last forefer

sleep weell my secret lover...
i wish you'll forget me soon
your true imagination about love,will never have the heart to forget you

goodbye my uncrevealed love...
never call may name,if me meet again someday...

Kelangkaan Elpiji Dan Kelanjutan Konversi


Sekarang ini, program konversi minyak tanah ke elpiji tabung tiga kilogram tengah digalakkan pemerintah. Patutlah diperhatikan secara serius agar program ini dapat berjalan secara berkesinambungan.

Tetapi, perencanaan program pengalihan minyak tanah ke elpiji masih sangat lemah. Kebijakan pemerintah tentang Konversi Energi dari Minyak Tanah, terkesan hanya sebagai kebijakan parsial yang kurang komprehensif dan belum terencana matang. Sehingga mengakibatkan munculnya sejumlah kendala dalam pelaksanaan di lapangan. Minimnya sosialisasi membuat masyarakat ragu untuk beralih ke elpiji, demikian pula para agen minyak tanah yang merasa belum siap menjadi distibutor.

Bisa jadi, itu merupakan biang kelangkaan minyak tanah saat ini. Ketika konversi ke elpiji belum siap, pasokan minyak tanah sudah dibatasi di beberapa daerah. Walaupun program ini tetap berjalan, tetapi masih dalam lingkup kecil. Hal ini patut menjadi alasan utama yang harus segera dicari penyebabnya.

Ketersediaan gas dan tabung elpiji yang masih belum maksimal, selain karena tidak semua agen minyak tanah beralih menjadi agen elpiji, kelangkaan ini disebabkan pendistribusian elpiji yang sangat rentan, sehingga harus diadakan pengawasan yang lebih ketat. Dengan pengertian yang lebih luas bahwa keterbatasan infrastruktur elpiji yang belum mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan membutuhkan perhatian yang lebih serius.

Jika pihak-pihak terkait ingin kondisi kelangkaan ini segera diatasi, patut diperhatikan faktor pasokan maupun pendistribusian elpiji. Karena hal ini merupakan unsur penting bagi kelanjutan program konversi minyak tanah ke elpiji yang sekarang ini tengah digalakkan pemerintah.

Dan seandainya telah terjadi kecurangan dalam pendistribusian, seperti ulah agen yang sengaja menimbun, menyusul isu kenaikan harga elpiji bersamaan pengumuman pemerintah menaikkan harga BBM, mestinya lebih mudah diidentifikasi dan dikoreksi karena semua distributor bekerja di bawah kontrol Pertamina. Untuk itu Fungsi kontrol dari Pertamina pun harus berjalan secara benar.

Dengan terbatasnya infrastruktur elpiji, tidak mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan bahan bakar. Akhirnya akan berujung pada kehidupan masyarakat yang semakin terkendala dan orang-orang kecil yang paling merasakan dampaknya. Untuk itu, patutlah dipikirkan bahwa permasalahan yang menyangkut kehidupan orang banyak, haruslah menjadi pemikiran utama.

Saran terbaik adalah sudah saatnya mengubah subsidi elpiji ke subsidi langsung. Atau kelanjutan pelaksanaan program ini, seharusnya tidak hanya mengandalkan Pertamina. Sebaiknya ada ketetapan dan dukungan dari pemerintah, hingga ada evaluasi bagaimana pelaksanaan ke depan yang terbaik.

11 Des 2008

DIGITAL LOVE

Penyair lebih memahami arti akan hidup
Kehidupan adalah mimpi yang dapat diarungi bebas oleh penyair
Melalui untaian kata indah penuh cinta
Aku bukan penyair, namun aku tidak takut bermimpi
Kesungguhan ku memaknai arti kehidupan adalah tekad dalam dunia mimpiku
Mengasihi sesama adalah keharusan dalam kefanaan di dunia
Cinta Ilahi adalah satu-satunya kenyataan setelah tersadar dari mimpiku nanti
Tapi aku ragu memaknai perasaan ini
Sebuah perasaan yang hingga sekarang kuyakini hanyalah impian
Tapi apakah salah ku jika kuingin ini nyata

To much love maybe will kill me
Mungkin itu telah menjadi takdiku untuk mati dalam mimpi dan ilham cinta
Tapi apakah suatu kesalahan jika kuingin semuanya nyata
Karena aku bukan penyair, yang hanya puas dengan impian sempurna
Harapan cintaku hanya bertumpu akan dia
Berilah harapan pada ku…
Karena romantisme pikiran dalam dunia digital ini,
Hanyalah merupakan awal
Yang sebenarnya
Penuh dengan ketulusan untuk mewujudkan semuanya menjadi nyata.

30 Nov 2008

Petarung


SIAPA pun, dalam keadaan apa pun dan di posisi mana pun, tetaplah jadi ‘petarung’ sejati! Ini bukan sekedar anjuran, tetapi sudah merupakan konsekuensi logis dari kondisi kompetisi ekstra ketat yang makin lama makin menghimpit dan malahan bisa membuat otak serasa akan pecah huah.

Perlu dicatat, petarung sejati bukan tidak pernah kalah dalam pertandingan, tetapi yang menganggap setiap kekalahan bukan merupakan pertandingan terakhir. Ciri lain dari petarung sejati adalah mempersiapkan diri secara optimal, pisik maupun mental, sehingga kemampuan yang terbaiklah yang dipertaruhkan. Tidak ada waktu untuk tawar-menawar dalam hal itu! Menganggap remeh para pesaing merupakan kesalahan pertama dan melakukan hal-hal yang unfair atau tidak wajar merupakan kesalahan berikutnya yang merusak citra diri.

(IMAJINASI)“Maldalias” itulah namaku.


“Maldalias” itulah namaku.
(Untaian kata singkat yang sama sekali tidak menyerupai nama seorang pujangga terkenal).
Tidak pernah aku membayangkan kehidupan yang dilewati berbagai rintangan tak jelas. Oleh sebab itu, aku tidak yakin untuk menyukai cara hidup seorang pujangga. Kehidupan mereka selalu ditorehi kelokan alur yang mewarnai perasaan dan cara berpikir.
Namun bila tetap disangkutkan dengan namaku, mungkin abstraknya kehidupan yang kualami hanyalah sebuah kebetulan. Kalaupun ada rentetan kesamaan, itupun hanya caraNya yang telah dipilih untuk ku.
Berbagai masalah yang mendera, terkadang membuat ku hilang bersama pikiran-pikiran sendiri. Mereka yang tidak perduli, menjadikan aku tidak sepenuhnya ada di dunia ini. Kasarnya aku dianggap manusia“Abnormal” yang sengaja memenuhi otak ku dengan pikiran dasyat.

“Semua itu Fitnah!! Karena berseberangan dengan kenyataan sebenarnya”
(Merekalah yang “Abnormal”, bahkan dapat menjadi sinting untuk mengerti isi pikiran yang melebihi batas kenormalan mereka).

Basa-basi tak perlu hanyalah perbuatan rendah,“Aku tidak bodoh untuk merendahkan diri sendiri”.…diam memang jalan terbaik, biarlah aku bermain dengan isi kepala yang peraturanya dibuat sendiri, ”Mengomentari manusia awam hanya akan menghasilkan sampah perdebatan yang mengotori pikiran”.
Terdengar egois memang !
Tapi, “Egois” adalah kodrat, kadang diperlukan sebagai “tameng” bila harkat sering direndahkan. Akhirnya lumrah menjadi pilihan, jika ingin menang dalam keterasingan dunia.

Entah apakah juga “egois”, jika aku pun tidak pernah menganggap hidup yang kujalani adalah kutukan dari sebuah nama, tanggal lahir dan ilmu ramalan apapun.
“Tidak ada makna berharga yang tersirat dalam nama ku,…”
“Masa bodo! , tapi aku menghargai arti dari sebuah nama yang sederhana dan aneh ini…”

Yang aku tahu, aku bangga mengakui keadaan diri ku. Tidak perlu malu dengan aku yang tidak tampan, kurang pintar, hanya sedikit sopan dan tertib, serta berbagai kekurangan lain yang “Egois” ingin kusimpan sendiri. …“Semuanya sudah cukup untuk ku”…

“Persetan..!”, aku yakin hidup dapat dituntun dengan segala daya dan pikiran dasyat yang ada dalam otakku.
“Angin lalu”!, mereka yang menganggapku “aneh bahkan sinting”.
Selama norma-norma itu masih dibuat oleh mereka, tidak ada gunanya mereka tahu kalau akulah yang paling normal. Karena untuk menjadi seorang normal dalam dunia mereka, memaksa aku mengikuti segala tingkah yang bertentangan dengan pikiranku.
Pernah kumerasa ada baiknya menyenangkan hati mereka, ku ikuti segala peraturan dan berlagak semuanya baik. Tapi karena berawal dari keterpaksaan, aku menjadi tidak betah dan memilih konsekuensi terdahulu…“berteman sepi”...,

(Tapi tetap ku tunggu sebuah pengakuan nantinya, bahwa merekalah yang kalah, “bukan aku!”)

“Sendiri” pernah membuat aku menjadi pecinta kesunyian, segalanya menjadi serba individual. Hingga aku tidak tahu, darimana asal pemahaman yang semakin berakar kokoh dalam otakku…
( Kesadaranku berpendapat, hidup sendiri dapat mematikan rasa. Hanya mahkluk tak bernurani yang sanggup melewatinya. “Jelas diriku tidak serendah binatang”. Aku masih butuh keramaian, setidaknya dalam otakku sendiri. Apalagi aku sebenarnya insan paling berbahagia, karena aku mencintai Islam, tercipta dengan tubuh yang lengkap, dikaruniakan talenta yang selalu ingin tahu hingga selalu mencoba dan paling tidak sedikit bisa. Aku juga bisa mendapatkan orang di dekatku, kapanpun ku butuhkan”).
Jika pun ingin mencari pelampiasan sebab, aku pun tidak yakin asal karakterku terbentuk oleh lingkungan.
(Lingkungan tempatku tumbuh adalah keluarga yang mengasihiku, memberlakukan aku sebagaimana mestinya. Mereka mengajariku teori “peduli sesama” sebagai syarat membaur. Mengecap situasi dan kondisi yang termasuk takaran rasa bahagia setiap manusia normal, …semua itu aku terima dan berjalan apa adanya).
Lambat laun, kedewasaan dan kehidupan bermasyarakat yang menghantarkan aku menemukan pikiran bebas sendiri. Berusaha menelusuri setiap detik kehidupan dengan pemahaman yang kucipta sendiri.
“Patutkah ada yang disalahkan, jika aku berusaha menjadi manusia sempurna”?. Jika demikian, mereka yang menghinaku pantas menjadi sebab hingga aku selalu menuntut “hormat” karena takut direndahkan.

Begitulah hidup gw sebagai seorang “Maldalias”. Masih menjadi manusia yang mampu menjelajahi belukar kehidupan, meski berlalunya waktu hanya boleh dituntun oleh nalar cerdas sendiri. Bertarung melawan deraan aral dengan prinsip yang “egois’. Semuanya tetap berjalan apa adanya. Dengan konsekuensi … “diterima dan tersisih ”.
Hingga kini gw masih menjadi seorang mahasiswa Tek. Mesin di kampus UNDIP dan UGM (UNiversitas DIPocin dan Universitas Gunadarma) Depok. Keseharianku sebagai seorang mahasiswa selalu padat diisi dgn kegiatan akademik, ekstrakurikuler dan mencari jodoh.
Nilai kuliah standar2 aja, karena dari dulu gw memang suka yang sedang2 aja. Tapi termasuk disegani teman2 sekampus dalam masalah “otak” karena gw bisa yang mereka bisa tapi mereka belum tentu bisa yang gw bisa, gw gitu lohhh…
Gw juga “gila baca”, maka Gramedia selalu menjadi tempat favorit buat ngisi waktu kosong. Selain itu juga menyandang predikat sbg mahasiswa kere’ yang ga’ punya duit buat beli buku, jadinya teman-teman dengan keterpaksaan harus rela minjamin buku2nya ke gw. Segala macam buku suka gw baca, terutama ttng ilmu pengetahuan umum, agama dan politik juga ok, biografi orang terkenal…apalagi, and never dies about romantic story, filsafat juga ayo…, klo tentang teknik mesin…udah bosan di kuliahan..he..he..
Selain “baca” hobby gw yg baru berkembang tetapi semakin candu adalah Browsing, chating, pokoke ngenet2an lah….gw acungin jempol buat teknologi yang satu ini!!!. Klo orang mau manfaatin Internet buat yg positif,….Apa aja mungkin ,”Dunia keciiiiiil Man!!”.
Dan hobby yang udah sehidup semati sama gw, karena ngelakuinya juga butuh nyali yang gede…”Mix Martial Art”. Gw suka semua olahraga beladiri, dari kecil basic gw Karate, lalu taekwondo dan sekarang ketika kuliah iseng2 gw ikut kungfu dan silat. Sempat juga di Judo, dan Kick Boxing. Gw ga’ main2 dalam menekuni hobby yang satu ini, selalu rutin latihan, berprestasi di tiap sasana, fisik gw benar2 gw geber biar “jago” (RASSIS COMMUNIY), pernah ikut beberapa kali kejuaraan..tapi ga’ menang, bukan karena kalah..hanya kurang beruntung terjun di kelas profesional he..he..
Sekarang jadi ketua sasana Wushu di kampus gw dan silat Merpati Putih di UI,..
Mengenai Jodoh, tak pernah letih gw cari. Ada yang satu gw suka…muncul satu lagi..gw “gebet” aja sekaligus,..bulan ini aja ada 5 cw yang sempat gw gebet,he..he.. tapi berhubung sikap gw yg “diam2 makan dalam”dan terlalu puitis, terlalu menyaring atau bisa juga tau diri. Semua yang gw gebet selalu dalam tahap pedekate, abizznya cw yg gw targetin selalu tajir seeh…padahal kekurangan gw kan dikit…(kurang kaya, kurang tampang, de-el-el…)
Tapi tenang aja, gw tetap optimis ko’…wong nda’ ada yang buat gw harus rendah diri untuk dapetin cw ko’…he..he…tinggal tunggu yang tepat aja..ya..ya..ya…
Tapi emang sempat seeh patah hati, ujung2 nya gw gubah kata2 pengarang bijak kaya gini neeh…

Ada orang-orang tertentu yang memendam cinta demikian rapi. Bahkan sampai mereka mati, sekelilingpun mereka tidak memperlihatkan getas hatinya. Cinta mereka sesepi stambul lama nan melankolis, dengan pengarang yang tidak pernah dikenal,
Jika malam tiba mereka mendengus meratapi rindu, menampar muka sendiri karena jengkel tak berani mendeklarasikan cinta yang mengelitik nadinya. Cintanya tak pernah terungkap, karena ngeri membayangkan resiko ditolak. Lama-lama seperti seorang narsis, mereka menyukai seseorang di dalam hatinya sendiri. Cinta satu sisi, “indah” tapi merana tak terperi.
Mereka hidup dalam bayangan, mengungkapkan cinta agaknya mengandung daya tarik paling misterius dari cinta itu sendiri.
Itulah yang aku rasakan…..

Ya udah deh,….pada intinya sesuai kodrat, aku adalah orang biasa, miskin dan kebanyakan. Namun aku ingin kaya pengalaman batin dan petualangan untuk mencari kebenaran hakiki. Sisi mistisku, aku ingin memastikan setiap kesangsian, membuktikan prasangka dan mitos-mitos, serta mengalami sendiri apa yang hanya bisa diduga orang. Sisi religius, aku mempunyai harapan dari semua keingin tahuan ku itu, dapat menjemput hidayah Ilahi, daripada hanya duduk termangu-mangu tak jelas arah.
Kesimpulanya, aku ingin memuaskan sifat dasar keingintahuan manusia sampai batas akhir yang telah ditentukan dengan segala karunia apa adanya yang diberikan oleh Nya pada ku.

(CERPEN) Keluarga


Rintik hujan, 13.30 WIB Depok 30, November 2008

Lelaki itu,…tubuh gempalnya tidak dapat menyembunyikan kondisi fisik yang kini semakin lemah, tampak keramahan senyum yang terselip diantara guratan-guratan keriput wajahnya. Usianya telah renta dengan raut yang menua, ditambah tubuh yang tidak setegar dulu. Namun jiwa dan pengalamanya telah diuji berbagai cobaan yang membuat dia semakin tegar melewati usia yang tersisa.

Semenjak muda kemandirian telah mendidiknya. Kampung halaman rela ditinggalkan demi menapaki nasip, hanya bermodalkan asa untuk tujuan hidup yang diharapkan cerah. Berpisah dari ibu, ayah, sanak famili dan rumah tempat dia dibesarkan, hanya pakaian di badan dan ongkos sekedarnya. Tekad lah yang membulatkan niatnya untuk pergi merantau. Kisah lampau yang terjadi tahun -70 an dulu.

Berpuluh tahun berkelana ke berbagai daerah, ribuan kilo jalan yang telah dia tempuh. Berbagai aral yang terlewati, menantang usianya yang kala itu masih tunas. Namun, jiwa seorang perantau adalah “tabah”, hingga dapat menjadikan semuanya itu sebagai pelajaran untuk hidup.

Perlahan tujuan yang dicari semakin tampak, rezeki telah didapat walaupun masih sekedar, cukuplah sebagai bekal tuk merajut masa depan. Dia kemudian berkeluarga, sang istri diperturutkan untuk mengais hidup di negeri orang. Bahtera yang dipertemukan di tanah rantau. Bersama mereka menjunjung “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung “.

Setelah sekian waktu, merekapun dikaruniakan buah hati. Berangsur-angsur karunia itu terus bertambah. Hingga di rumah kecil itu, hiduplah mereka bersama lima orang anak. Tiga lelaki dan dua perempuan. Titipan Ilahi yang sangat mereka cintai, namun takdir membiarkan anak-anak itu tumbuh dengan “kesederhanaan”. Tidak ada sedikitpun yang mereka sesalkan, karena selama ini kata itu yang setia menjadi “sobat” dalam mengarungi kehidupan.

“Kesederhanaan” mendidik manusia untuk tegar dan tidak mudah tergoda rupa semu nikmat duniawi, menggiring pada ujung keyakinan bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendakNya. Semoga juga dengan “kesederhanaan”, anak-anak mereka dapat tumbuh sebagai manusia yang mengerti akan hidup yang lurus”.

Tidak semua “orang dulu” pemikiranya ‘kuno’, meskipun sepasang suami istri itu tidak mengecap pendidikan yang berarti. Mereka adalah orang tua yang bijak, dapat menyikapi pengalaman dan sadar bahwa “kebodohan” bukanlah penyakit yang harus ditularkan kepada generasi selanjutnya. Prinsip yang telah tertanam dalam akal, hingga pendidikan anak-anak mereka menjadi prioritas sedini mungkin.

Agama pun teramat penting sebagai pedoman hidup, patut diresapi kesakralanya dengan pemahaman yang benar. Setidaknya sebagai orang tua, mereka sadar bahwa meyakini keesaan Allah itu adalah wajib, maka sedari kecil kelima anaknya perlahan diajari Islam.

Yang terpenting menurut mereka adalah supaya bisa shalat dan mengaji. Pandangan tentang agama yang masih awam, dikarenakan jiwa suami istri itu tidak pernah lebih terasah untuk memahami agama secara absah. Namun, setidaknya niat mereka diringi kesungguhan. Dan walaupun awam, didikan mereka itu telah meyentuh tiang utama dari Agama Islam sendiri.

Berpuluh-puluh tahun perguliran waktu telah terlewati. Masing-masing anggota keluarga itu telah bersama untuk waktu yang sangat panjang. Banyak suka duka yang hadir silih berganti menghampiri keluarga ini. Kelima anak mereka telah tumbuh dewasa, perlahan satu-satu mulai menapaki hidup baru masing-masing.

Anak lelaki yang pertama telah berkeluarga, kemudian beranak satu pula. Betapa senang hati kedua orang tua itu ketika pertama kali menimang cucu. Begitu pula anak keduanya yang wanita, setelah merampungkan gelar sarjana, kemudian dipersunting oleh seorang pria baik. Cukuplah membuat hati kedua orang tua itu sumringah jika melihat kehidupan anaknya bahagia, seakan tidak mengharapkan apa-apa lagi.
Sedangkan anak yang ketiga masih menuntut ilmu di bangku kuliah, bersamaan dengan kedua orang adiknya yang juga masih sekolah.

Itu lah sedikit kisah yang bisa diceritakan tentang kehidupan mereka saat ini, tidak ada kisah menarik lain karena semuanya masih “sederhana”, atau mungkin itu yang sudah digariskan…

Selama hidupnya, kedua orang tua itu hanya mengabdi sepenuhnya untuk keluarga, yang utama adalah berusaha untuk kebahagiaan anak-anaknya. Mereka berdua tidak pernah mampu berikan limpahan kekayaan materi, tapi berusaha memberikan pelajaran lain yang dapat digunakan sebagai bekal hidup kelima anaknya nanti.

Bagaimana dengan kehidupan kedua orang tua itu sendiri?,
Mereka ihklas untuk tidak mengharapkan apapun, karena kebahagiaan keluarga adalah kebahagiaan mereka. Pikiran sederhana dan jujur mereka yang menyimpan harapan, dari benih yang ditanam akan menuai sesuatu nantinya.

Tapi, ternyata selama ini anaknya tidak pernah benar-benar memahami apa yang telah diajarkan oleh kedua orang tuanya. Mereka sengaja bermanja dengan kasih sayang kedua orang tua mereka yang terlalu, tanpa menyadari bahwa hal itu tidak pantas berada dibalik hidup “sederhana”.

Aku lah anak ketiga yang dibesarkan dalam keluarga “sederhana” ini, yang sekarang masih menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi. Aku yang menulis kisah singkat ini. Cerita tentang pergulatan hidup kedua orang tua yang tak kenal letih dalam menghidupi keluarga.

Mereka adalah kedua orang tua ku yang sangat kusayangi. Dari kecil aku dididik untuk “menjadi orang” , disekolahkan, sholat, mengaji. Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya jadi anak “orang mampu”, tapi hingga kini tidak secuil pun aku menyesal. Aku yang sekarang, tentulah pribadi yang akan seperti ini, entah bagaimana nanti hanya Kuasa yang Maha Mengetahui.

Tapi sesalku karena belum ada hal berarti yang telah kupersembahkan kepada kedua orang tua itu….

Jangankan diriku, mereka yang telah lebih dahulu dewasa, -kedua orang kakak ku-, seharusnya dengan pikiran dewasa mereka sudah bisa membahagiakan kedua orang tuanya, atau sedikitnya dapat membuat bangga.
…ternyata , “aku sama tidak mampunya dengan kedua kakak-kakak ku itu”,….

Hingga kapan semuanya begini ?

Seharusnya diantara kami sudah ada yang membuat kedua orang tua itu tersenyum bangga, walaupun mereka tidak terlalu mengharapkanya. Karena aku tahu, kedua orang tuaku tidak sama dengan orang diluar sana yang menanti bahkan menuntut anak-anak mereka untuk dapat “sombong”. Sungguh tidak seperti itu kami dididik…

Betapa besar keinginan ku untuk menulis kisah ini, terdorong oleh sesal dan limpahan kasih sayang ku terhadap Ayah dan Ibu. Akupun tahu seperti itu halnya saudara-saudari sedarah ku yang lain. Kami hadir di dunia karena dua orang itu, sedari kecil dicintai tiada tara, dirawat dan dididik hingga dewasa seperti kini.
Di usia senja mereka kini, tidak ada alasan untuk menyisihkan mereka , karena jika niat itu ada…kami adalah manusia “nista”.

Mungkin takdir yang akan menuntun semuanya itu. Alur hidup mengalir seperti air sungai, kami hanya mengikuti arus. Kadang terburai gelombang, pecah dihantam batu, namun dapat bersatu di muara nanti.

Jika hidup diibaratkan perputaran roda, memang terkadang harus berada di bawah lalu kembali ke atas. Menang dapat diraih, semudah kekalahan yang pasti hadir. Hanya Keimanan dan kesungguhan yang dapat menerima semuanya itu secara lumrah, seperti kehidupan yang wajar pula untuk binasa.
Untuk itu, hanya dengan keyakinan dan Niat suci semua keinginan dapat tercapai.

Terbitlah kesadaran bahwa, jika ingin membahagiakan kedua orang tua, mutlak berasal dari niat tulus pribadi kami –anak anaknya-. Hilangkan keegoisan untuk terus “mengemis” belas kasih kedua orang tua secara berlebih, karena kedewasaan menuntut untuk mandiri.

Tak ada guna melakukan hal yang sia-sia, seiring usia kedua orang tersayang kita yang semakin berlalu. Ujung hidup mereka pastilah kan tiba nanti, jangan sampai di saat itu barulah kita tersadar selama ini hanyalah berbuat hampa.

Aku sama sekali tidak menyalahkan siapapun, karena kasih ku pun tak ternilai untuk kalian. Tanpa kalian, pasti aku sudah lama jenuh dan pergi dari dunia yang membuat aku asing. Hanya kalian, manusia yang sungguh mengerti dan menyayangi aku sepenuh hati. Kalian, yang di dalam tubuhku mengalir darah yang sama. Saudara-saudariku…
Tapi, renungkanlah sejenak syair yang kugubah dengan derai air mata ini….

Bayangkanlah…
Tak pernah terpkirkah oleh kita rasa yang teramat pilu nantinya,
Disaat mereka pergi selamanya tingalkan kita sendiri.
Apalagi jika hanya sesal di kemudian,
mereka pergi tanpa sempat mengecap arti kita.
Waktu itu, kita hanya menangis di bawah batu nisan
Kita sandarkan tangis yang percuma.
Kasih sayang yang mereka berikan begitu dalam.

Sungguh kita tak sanggup, jika itu terjadi
Karena kita sungguh mencintai mereka.
Anggaplah ini saat ini terakhir kita melihat mereka,
Agar kita selalu berusaha membuat mereka tersenyum.

Jangan tunggu derai air mata,
Untuk ucapkan selamat jalan.
Sesungguhnya satu hari saja semua bisa binasa,
Untuk itu, berbuatlah yang terbaik bagi mereka yang kita cintai.

Bagi kita,
jika sesal itu terjadi,
Hancurlah hati sepanjang hidup.



Wahai Ibu,
jejak derita telah kau tapaki,
telah lama kau acuhkan berbagai aral demi kami anak-anakmu.
Kini pun Ibuku tersayang, tak kenal letih untuk terus berjalan.
Sadarkah kalian anak-anaknya,…
tapak kaki Ibu penuh luka dan derita.
Sedangkan tetap udara kasih yang dia berikan.
Kapankah kita mampu membalas ibu….

Aku yang jauh disini, …
Ingin mendekap dan menangis di pangkuanmu Ibu.
Sampai aku tertidur dan bermimpi kembali ke masa kecil ku dulu.
Aku yang pernah menorehkan luka,
tidak pernah kau pendam sakit hati itu.
karena “Aku Anak yang kau cintai”.
Kau selalu balas dengan “doa” ,
yang menjadi teman dalam kehidupanku.
Dengan apa aku membalas sebegitu besar kasih mu itu ibu…



Ayah…
Kau adalah sumber nafas kami…
Yang menjaga hidup kami.
Kau yang ajarkan aku menjadi lelaki,
Kau tak pernah lelah,
sebagai penopang dalam tiang rumah kecil kita.
Semua petuahmu kuanggap yang terbaik
Tapi, Aku hanya memanggil mu Ayah, di saat aku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu Ayah, jika aku telah jauh dari mu.

Hingga kini aku tahu, hanya Kaulah panutanku.
“Pandailah berkawan”, itulah nasehatmu…
Tanpamu, aku bukan yang sekarang.
Aku berani hidup jauh, karena anak dari seorang perantau tangguh.
Tetap tegar ku terjal aral, karena begitulah dirimu dulu.

Ragamu tak lagi sekokoh dulu,
Usia dan rautmu semakin renta,
Tapi kau selalu tetap Ayahku…
Lelaki tegar sederhana yang mewarisi pengalaman berarti…


Hanya lewat cerita pendek ini, aku yang jauh dapat menuangkan apa yang menjadi pikiran ku selama ini. Betapa besar keinginan untuk membahagiakan kedua orang tuaku, hingga hanya itu yang menjadi satu-satunya tujuan ku selama ini.
Tapi, terbersit juga rasa sesal yang sebenarnya bodoh untuk menyalahkan takdir. Tapi apa hendak dikata, aku juga manusia normal. Wajar kalau aku aku kecewa dengan kenyataan yang membuat kedua orang tuaku hingga kini masih belum dapat menikmati usia tua mereka dengan senang.
Tapi siapa yang harus disalahkan?...
Aku yang akan berusaha dengan batas kemampuan, diiringi daya pikiran yang ada dalam nalarku, semoga berguna segala formalitas yang sedang kutempuh kini.
Tapi yang terutama, aku adalah “Maldalias”, seorang anak yang mewarisi sifat pantang menyerah dari kedua orang tuanya. Hanya Aku, pikiran dan niat tulus, yang InsyaAllah dapat mewujudkanya.
Tanpa melupakan doa dan usaha kita bersama sebagai anak-anak dari kedua orang tua yang sangat mengasihi kita.

InsyaAllah…Amien

Maldalias

18 Nov 2008

(IMAJINASI)Yang Wanita Wajib 'Baca' Ini,...yang PrIa 'Pahamilah'


Seorang anak laki-laki kecil bertanya kepada ibunya "Mengapa engkau menangis?" "Karena aku seorang wanita", kata sang ibu kepadanya.
"Aku tidak mengerti", kata anak itu.
Ibunya hanya memeluknya dan berkata,"Dan kau tak akan pernah mengerti"

Kemudian anak laki-laki itu bertanya kepada ayahnya, "Mengapa ibu suka menangis tanpa alasan?"
"Semua wanita menangis tanpa alasan", hanya itu yang dapat dikatakan oleh ayahnya.
Anak laki-laki kecil itu pun lalu tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa, tetap ingin tahu mengapa wanita menangis.

Akhirnya ia menghubungi Tuhan, dan ia bertanya, "Tuhan, mengapa wanita begitu mudah menangis?"
Tuhan berkata: "Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia; namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan "
"Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu melahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya "
"Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh "
"Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan, bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya "
"Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya "
"Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahwa seorang suami yang baik takkan pernah menyakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu"

“Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk diteteskan.
Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan kapan pun ia butuhkan."

"Kau tahu: Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, sosok yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya."
"Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya, karena itulah pintu hatinya-tempat dimana cinta itu ada."

Kirimkan ini kepada setiap wanita cantik yang Anda kenal.

Jika Anda lakukan,sesuatu yang baik akan terjadi.
Anda akan menambah harga diri wanita!
Karena setiapWanita itu Cantik.
Kirimkan juga kepada para pria agar senantiasa dapat menghormati wanita, siapapun mereka ibu,istri,kekasih,kakak,adik dan bahkan wanita yg tidak dikenal yg kebetulan berada didekat kita.

12 Nov 2008

(TULISAN LEPAS) Profil Wushu “Gerak Naga”.

Seni beladiri Kung-Fu atau sekarang lazim dikenal dengan Wushu adalah seni beladiri yang berasal dari negeri Tirai Bambu, Cina. Dalam Wushu, kegiatan yang dilakukan adalah melatih kemampuan fisik yang meliputi koordinasi sempurna yang terbentuk dari gabungan antara kekuatan, kelenturan, kelincahan, serta irama gerak.

Perguruan Kung Fu Gerak Naga berdiri sejak tahun 1995, tepatnya 23 Maret 1995 di STIE Gunadarma. Pada awalnya perguruan ini hanya menitikberatkan pada penggunaan jurus-jurus tradisional Shaolin yang terkenal keras sehingga dilarang untuk dipertandingkan. Lalu, baru pada tahun 1996 berdirilah Wushu di STMIK Gunadarma yang sudah mulai menggunakan jurus-jurus modern untuk standar pertandingan Wushu internasional.
Sejak berdirinya hingga sekarang, Wushu Gerak Naga, atau dalam bahasa Mandarin berarti Long Xian Quan Wushu, telah banyak memberikan kontribusi positif bagi Universitas Gunadarma dan bagi Wushu itu sendiri. Diantaranya adalah dengan banyaknya prestasi yang telah diukir dalam event tingkat daerah maupun nasional.

Berikut adalah beberapa Prestasi yang pernah kami capai :
1.Juara umum pada Wushu Shan Sou Gunadarma Championship pada tahun 1999
2.Juara umum pada Wushu Shan Sou Gunadarma Championship pada tahun 2002
3.Satu medali Emas di kejuaraan Profesional Kick Boxing pada tahun 2000
4.Dua medali Emas pada Kejuaaraan Nasional Wushu pada tahun 2000
5.Menjadi Wasit Internasional pada Eksibisi Wushu SEA GAMES pada tahun 1997
6.Juara Umum 3 untuk cabang wushu pada kejuaraan Nasional Invitasi Univesitas Parahiyangan pada tahun 2003
7.Dua medali perunggu pada Wushu Shan Sou Gunadarma Championship pada tahun 2005
8.Tiga finalis pada Pekan Olahraga Daerah DKI Jakarta 2005
9.Satu perunggu pada Pekan Olahraga Provinsi Banten 2006
10.Satu Emas pada Wushu Shan Sou Gunadarma Championship 2008

Di usianya yang ke-13 ini, Wushu Gerak Naga terus berusaha berbenah diri untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa, negara, Universitas Gunadarma, dan perkembangan Wushu di tanah air, dengan meningkatkan kedisiplinan, mempererat hubungan antar sesama penggiat Wushu, dan pantang menyerah menghadapi rintangan.

10 Nov 2008

(GUBAHAN) Putu Wijaya yang Mengilhamiku




Ketika mulai dewasa, aku bingung untuk hidup di negeriku sendiri. Bahkan hamper frustasi. Mengapa tidak, masyarakat di negeriku ini memilih kebiasaan buruk dalam mengucapkan “ Ya dan Tidak” ketika melakukan komunikasi sosial. Tak ada yang teguh pendirianya.

Orang yang selalu harus mengatakan ‘ya’, suatu ketika dapat kesempatan untuk mengatakan ‘tidak’. Tapi ternyata tetap mengatakan ‘ya’. Tahu-tahu hasilnya ‘tidak’.

Orang yang selalu harus mengatakan ‘ya’, suatu kali ada kesempatan mengatakan ‘tidak’, tahu-tahu tidak ada orang yang mendengarnya. Ia tetap disangka mengatakan ‘ya’.

Ada orang yang selalu mengatakan ‘ya’. Suatu ketika mendapat kesempatan mengatakan ‘tidak’. Dan ternyata jawabanya betul-betul ‘tidak’. Tapi Ia kaget, dapat serangan jantung dan mati!.

Seseorang yang selalu harus mengatakan ‘ya’, suatu ketika dapat kesempatan mengatakan ‘tidak’. Tapi, kemudian mendengar suaranya sendiri mengatakan ‘ya’.

Orang yang lain suka juga mengatakan ‘ya’. Suatu ketika juga dapat kesempatan mengatakan ‘tidak’. Tapi Ia tetap memilih mengatakan ‘ya’, ternyata tidak ada yang peduli, orang lain menganggapnya tak penting.

Ada orang yang selalu mengatakan ‘tidak’. Suatu ketika Ia tidak mengatakan apa-apa. Semua orang menganggap Ia untuk pertama kalinya mengatakan ‘ya’.

‘Ya dan tidak’ adalah rimba yang menyesatkan. Akhirnya aku terkucil, karena untuk berdialog dengan diri sendiri pun aku tidak mampu,. Aku dinilai ‘asosial’ yang selalu berselisih….karena takut, aku memilih diam.

Setelah sekian lama aku berusaha memahami, akhirnya mendapat jawaban. Ternyata tata nilai masyarakat ku dalam membedakan antara ‘ya dan tidak’ hanya dibedakan dari ‘bunyi’ tetapi maknanya ‘dianggap sama’.

Setiap pertanyaan ternyata bukan pertanyaan, itu hanya perintah yang diperhalus. Semua orang memerintah, meskipun kelihatan bertanya. Dan perintah yang diiyakan tidak mengharuskan orang menuruti, hanya aturan basa-basi permainan bersama.

Semua pertanyaan bisa dijawab dengan kadang-kadang ‘ya’ dan kadang-kadang ‘tidak’, sesuai dengan kebutuhan mulut. Bagaimana enaknya waktu berbicara. Karena semua norma peraturan yang telah dibuat tidak akan dirubah. Jadi, jawaban ‘ya dan tidak’ tidak terlalu penting, kecuali sebagai jawaban bahwa yang diajak bicara sudah mendengar…..’cukup’.

Akhirnya aku dapat menjadi warga Negara yang baik, berdamai dengan kemunafikan sosial di sekitar. Aku sukses bahkan makmur dan terkenal, karena menguasai ilmu ‘ya dan tidak’, atau ‘tidak dan ya’, meskipun dalam hati aku tidak menyukainya. Tapi apa hendak dikata, ini sudah menjadi dosa kita bersama.

(IMAJINASI)Menulis


Saya menulis mungkin karena ada kepalsuan yang ingin saya ungkapkan, atau fakta kehidupan yang ingin saya bawa ke tengah orang-orang yang memperhatikan tulisan saya. Tujuan saya pada mulanya adalah mencari perhatian. Tetapi, jika dari kegiatan ini saya masih belum bisa memberi pengalaman estetis, maka saya masih jauh dari angan-angan dan keraguan untuk menulis sebuah buku. Bahkan belum pantas untuk menulis sebuah kerangka penulisan.

Tapi, begitu besar keinginan saya untuk menciptakan tulisan yang mencerminkan keleluasaan, kebebasan gaya yang jarang ditemukan pada karya penulis lainya. Saya menikmati proses penulisan, ingin menciptakan tulisan yang gurauanya, loncatan pikiran, kombinasi metafora, pilihan kata dan komentar yang menunjukan bagaimana erat hubungan yang diciptakan antara saya dan yang membaca, apalagi jika tulisan saya dapat menjadi panutan…”Semoga saja”.

(TULISAN LEPAS)OKSIDENTALISME


Tulisan ini kumulai setelah membaca buku yang ditulis oleh seorang Intelektual Islam, pemikiranya dianggap cemerlang diantara banyak cendikiawan yang ada di zaman sekarang ini. Dia menggebu-gebu dalam menyikapi kebangkitan peradaban masyarakat, khususnya wilayah timur yang selama ini arah pemikiranya selalu didominasi oleh “barat”.
Setelah mencoba meresapi makna yang terkandung dalam buku itu, nalarku sebagai “Orang Muda” tiba-tiba saja bangkit. Buku yang dapat menjawab berbagai pertanyaan generasi bangsa yang sedang bimbang dalam menemukan jati diri.

Globalisasi memang menjadi penentu berkembangnya peradaban manusia di dunia, membuat jurang ruang menjadi dekat, karena segala penemuan yang membuat kehidupan semakin efektif dan efisien. Namun, jika melihat keadaan dunia dari sudut pandang hubungan antar ideologi, budaya dan agama, proses globalisasi ternyata tidak menjadikan pemikiran bangsa di dunia ini menjadi seragam.

Masih banyak terjadi ketidak seimbangan taraf perekonomian antar bangsa yang satu dengan bangsa lainya, bahkan masing sering terjadi konflik yang mengatas namakan sentimen terhadap agama-ideologi atau etnis bangsa yang berbeda, yang sebenarnya tidak lepas dari maksud yang tersirat untuk mengeruk kejayaan atau perluasan kekuasaan.
Dalam skala yang lebih luas, bergulirnya arus globalisasi sampai saat ini seakan hanya bermuara dari satu pemikiran yang menjadi faktor penggeraknya. “Tradisi pemikiran barat merupakan sumber pengetahuan yang sering menjadi acuan bagi peradaban ilmiah dalam kehidupan masyarakat dunia”.
Secara terus menerus “Pemikiran Barat” selalu hadir dalam kesadaran umat manusia dalam menyikapi perkembangan zaman, diawali oleh generasi sebelumnya yang terlebih dahulu menempati peradaban. Belum ada pemikiran yang menelaah secara khusus mengenai asal-muasal pemikiran barat, kecuali masih dalam batas yang sempit dan metode perbincangan semata, bukan metode kritik berdasarkan logika untuk membuktikan.

Untuk itu, saya berusaha menelaah permasalahan ini dengan pikiran yang positif. Bukan untuk menyalahkan “Tradisi Barat”, tapi mencoba menjelaskan aspek lain yang dapat melatar belakangi pemikiran dalam menentukan sikap secara lebih bijaksana. Karena motivasi awal saya menulis permasalahan ini, adalah terdorong dari ketidakjelasan generasi kini dalam menemukan jati diri dan mencari panutan yang pantas dicontoh.

Agar langsung menuju inti permasalahan, marilah secara bersama kita renungkan bahwa banyak generasi sekarang yang melakukan kesalahan terhadap generasi lama dan juga terhadap kebudayaan barat.
Terhadap tradisi lama kita melakukan kesalahan sebagai berikut :
1. Kita melepaskan diri dari lingkungan kebudayaan sendiri dan merasa rendah diri atau malu jika berafilasi denganya, disebabkan karena tidak memiliki pengetahuan, ingin dan bangga meniru barat, terdorong niat untuk menyusul kemajuan yang dicapai barat.
2. Kita memasuki lingkungan budaya lain, mengikuti pergumulan didalamnya, meskipun kita bukan salah satu pihak di dalamnya. Dengan bersikap seperti itu, kita telah menjadi penyebar “Peradaban Barat”. Kemudian lebih akrab dengan kata-kata “ idealisme dan realisme, rasionalisme dan empirisme, eksistensialisme dan positivisme, analitisme dan strukturulisme, dan lain sebagainya”.
3. Kita lari dari kenyataan sehingga tidak tahu situasi dan krisis yang terjadi. Kita
tidak mau menghadapi tantangan realitas dan hanya melihatnya dari kebudayaan asing yang sebenarnya sama sekali tidak menyentuh realitas kita. Akibatnya realitas kita diam dan tak bergerak, setelah sisi aslinya diganti dengan sisi asing.

Dan terhadap “Kebudayaan Barat” kita melakukan kesalahan sebagai berikut:
1. Mengeluarkan “Kebudayaan Barat” dari lingkungan dan konteks sejarahnya sendiri. Kita menganggap seolah-olah kebudayaan barat adalah madzab-madzab absolut dan universal yang tidak mengenal batas ruang. Kita juga menjadikan diri sebagai pihak yang bergumul dalam kebudayaan tersebut.
2. Memberikan semacam keabsolutan dan keuniversalan yang tidak semestinya kepada kebudayaan barat, dan menyebarkan kebudayaan tersebut ke luar batas geografisnya. Dengan begitu, kita seakan merealisasikan keinginan kebudayaan luar untuk menjadi kebudayaan penguasa dan pengontrol bagi kebudayaan asli yang semakin terpinggirkan.
3. Memerangi kebudayaan lokal disaat ia sedang mengadakan persaingan dengan kebudayaan pendatang. Ini sama saja dengan menciptakan permusuhan antara tradisi pendatang dengan tradisi lokal, memecah belah kebudayaan bangsa sendiri, dan jatuh ke dalam dualisme peradaban.

Dari pernyataaan di atas, bukan mengharuskan kita bersikap ofensip atau defensip dalam menghadapi dua kebudayaan tersebut, melainkan yang paling tepat adalah bersikap selektif. Artinya, peradaban yang sedang kita jalani saat ini, menuntut adanya sikap kritis. Kritis terhadap tradisi lama dan tradisi barat, serta kritis terhadap realitas dengan mengubah dan mengembangkan tradisi yang ada, bukan menjauhinya.

Masa lalu bukan untuk dipertahankan atau diserang tetapi untuk direkonstruksi, masa depan bukan untuk diserang atau dipertahankan tetapi dipersiapkan dan direncanakan, dan masa kini tidak mungkin dikembalikan ke masa lalu atau diajukan ke masa depan tetapi merupakan tempat berinteraksi ketiga masa. Tergantung sikap suatu bangsa yang tidak melupakan budaya sendiri, karena “Adanya suatu bangsa ditentukan dari budaya asli yang dimilikinya”.
Dalam menyikapi “Budaya Barat”, kita pun harusnya sadar bahwa fenomena kebarat-baratan dalam kebudayaan dan gaya kehidupan kita sehari-hari telah mengakibatkan krisis identitas dan orisinalitas, turut dipengaruhi oleh kekuasaan barat melalui informasi yang turut mempropagandakan mitos budaya cosmopolitan.

Sebelumnya, pernah terjadi berbagai reaksi yang menolak dominasi “Barat”, hanya saja pemikiran-pemikiran itu menegaskan sikap untuk kembali mengikuti jejak orang-orang terdahulu yang hidup dalam taraf keterbelakangan. Seharusnya sikap yang diambil adalah pembenahan dan upaya reformasi dengan tujuan memberikan kemajuan, tanpa melupakan budaya asli serta tidak sepenuhnya menerima budaya luar.

“Budaya barat bukanlah guru abadi dan jenis peradaban yang selalu menang, sehingga tidak perlu takut untuk maju dengan budaya bangsa sendiri. Tapi jika yang terjadi adalah sebaliknya, berarti kita menghadapi krisis peradaban”.

Ketenggelaman total ke dalam “Peradaban Barat” mengakibatkan ketidak tahuan generasi bangsa tentang ciri tanah air dan kemungkinan ditemukan metode budaya sendiri yang cocok. Dengan begitu, kita telah mengorbankan budaya bangsa demi menerapkan “Budaya Barat”.
Bukankah harusnya kita yang lebih tahu priorotas bangsa sendiri ?.

Memodernkan budaya bangsa tetap diperlukan, karena dituntut oleh kondisi perangsuran zaman. Tapi, walaupun spontan haruslah tetap alami. Hal ini dilakukan dengan mempertahankan subtansi dan ruh budaya asli, meski bentuk dan formatnya akan berubah.
Sebelum yakin untuk menggabungkan tradisi asli dengan tradisi pendatang, haruslah terlebih dahulu mengedepankan persatuan tanah air dan kepribadian Nasional. “Kebudayaan kita tetap satu, meskipun terlihat ada kesamaan dengan kebudayaan lain yang sebenarnya berbeda”.

Bangsa kita harus menghilangkan rasa takut dan rendah diri di hadapan barat, agar dapat berinteraksi sebagai pihak yang sederajat. Bahkan dapat mengkritik dan menjelaskan arah yang dituju barat, kemudian menyempurnakanya sesuai dengan budaya bangsa kita. Tetapi, jika kebiasaan-kebiasaan menggunakan akal dan realitas tersebut telah hilang, dapat memaksa kita menggunakan hasil temuan bangsa lain sebagai pendahuluan sebelum dilakukan kajian terlebih dahulu. Pada akhirnya, kita terbiasa meminjam kebiasaan budaya lain dan menjadikan bangsa sendiri sebagai penyebar kebudayaan bangsa lain.

Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk menimbulkan perspektif untuk menilai “Budaya Barat” secara emosional dan penuh kecurigaan. Karena hanyalah kemunduran jika menolak kebudayaan asing tanpa mengetahui hakikatnya, apalgi tergoda isu-isu yang sengaja dihembuskan untuk mendeskreditkan kebudayaan tertentu agar dijauhi oleh mayarakat awam.

Tujuan membendung kebudayaan asing, adalah untuk mempertahankan budaya asli bangsa kita. Sebab kebudayaan asing selain diakui memiliki potensi pencerahan, tetapi juga revolusi. Dan seruan untuk menghalau “ Budaya Barat” bukan berarti menolak kebudayaan bangsa aing, apalagi diartikan dengan ketertutupan untuk kembali ke masa belakang.

Menolak “barat” secara ekstrem berarti menolak ilmu pengetahuan teknologi dan temuan modern yang digunakan manusia setiap hari, sampai pada hal yang sepele, seperti listrik, alat-alat elektronik, sarana transportasi, komunikasi dan lain sebagainya. Padahal temuan-temuan itu telah menjadi kebutuhan zaman. Lalu bagaimana kita dapat meninggalkan, memusuhi dan mempertanyakanya ?.

Untuk menjawab pertanyaan semacam itu, patutlah ada pemahaman yang bijak untuk menjawabnya. Bahwa kita tidak boleh memandang sesuatu dari kulit luarnya saja dengan mengabaikan persoalan pokok serta konsepsi yang melingkupinya. Teknologi telah terbangun di atas teori dan konsep alam yang hadir pada zaman awal terciptanya, sehingga tujuan utama teknologi adalah tidak lain untuk mempermudah pelayanan dan urusan dunia. Tetapi, penemuan-penemuan barat tersebut seharusnya tidak dibanggakan sebagai lahan untuk menikmati fasilitas kemewahan.

Di samping itu, patut diketahui bahwa teknologi barat tidak sepenuhnya murni temuan mereka. Tetapi merupakan hasil akumulasi sejarah dan evolusi ilmu pengetahuan yang dimulai dari penemuan berbagai kebudayaan yang ada. Jadi, setiap peradaban terdahulu sebenarnya memilki andil dalam penemuan ilmu pengetahuan teknologi modern sepanjang sejarah. Yang jadi keinginan kita bersama adalah tidak ada pemisahan antara ilmu dan sejarahnya, tidak menyembunyikan sumber-sumber lama dengan tujuan menciptakan mitos kreatifitas brilian bangsa tertentu. Dan juga seharusnya penggunaan teknologi tidak dimanfaatkan untuk menguasai pihak lain, atau dimonopoli sendiri oleh bangsa yang dianggap penemunya.

Telah terbukti pula bahwa teknologi dapat dieksploitasi untuk menipu, propaganda kebohongan dan slogan menghasut opini masa, seperti yang dilakukan media informasi dan komunikasi. Jika begitu, teknologi mengandung unsur penghancur seperti alat perang dan bom atom. Menjadi simbol kekuatan, kemenangan, kebesaran dan kekuasaan yang telah terjadi di Barat dan Jepang.
Jadi, teknologi tidak seindah kenyataanya.

Semoga saja generasi bangsa ini, tidak terus dihinggapi kebingungan dalam mencari jati diri. Tentunya itu dapat tercapai jika mereka sudah dapat berpikir kritis-rekonstruktif bukan terus terbenam dalam sikap antara ofensip-depensip.