My Adsense

11 Mei 2009

Prosa “aku”

MALDALIAS
PROSA
AKU
Kini sebagian ragaku ada padamu sampai nanti,
Apa kamu tahu…
aku tetap dekat dengamu,
membawa rasa yang tetap abadi untukmu.
Amateur_Blogger

Penerbit
Maldaz Prosa

PROSA AKU
Oleh: Maldalias
Copyright © 2010 by Maldalias

Penerbit
Maldaz Prosa
mxforefer.blogspot.com
mxforefer@hotmail.com

Desain Sampul:
Maldalias




Diterbitkan melalui:
www.nulisbuku.com


“Gibran sasongko” itulah namaku.
(Untaian kata yang hampir menyerupai nama seorang pujangga terkenal).
Tidak pernah aku membayangkan kehidupan yang dilewati berbagai rintangan tak jelas. Oleh sebab itu, aku juga tidak yakin menyukai cara hidup seorang pujangga. Kehidupan mereka selalu ditorehi kelokan alur yang mewarnai perasaan dan cara berpikir.
Namun bila tetap disangkutkan dengan namaku, mungkin abstraknya kehidupan yang kualami hanyalah sebuah kebetulan. Kalaupun ada rentetan kesamaan, itupun hanya cara-Nya yang telah digariskan untuk ku.
Berbagai masalah yang mendera, terkadang membuat ku hilang bersama pikiran sendiri. Mereka yang tidak perduli, menjadikan aku tidak sepenuhnya ada di dunia ini.
Kasarnya aku dianggap manusia“Abnormal” yang sengaja memenuhi otak ku dengan pikiran sinting.
Tapi “Semua itu Fitnah”, berseberangan dengan kenyataan sebenarnya.Merekalah yang tidak sanggup untuk mengerti isi pikiranku yang melebihi batas kenormalan mereka.
Pada dasarnya aku juga menganggap basa-basi itu tak perlu, hanya perbuatan rendah. Entah darimana tercipta pendapat seperti itu, yang jelas aku bukan orang bodoh yang mau merendahkan diri sendiri.
Diam memang jalan terbaik, aku lebih senang bermain dengan nalar yang ada di kepalaku, dengan begitu aku bisa membuat peraturan yang kusuka sesuka hati. Untuk apa juga mengomentari sikap manusia lain, jika itu hanya akan menghasilkan sampah perdebatan yang mengotori pikiran.
Kalimat-kalimatku memang terdengar egois!. Tapi, bukankah itu juga sifat alami manusia yang terkadang diperlukan sebagai “tameng” pembelaan diri.
Bila sering direndahkan, egoislah yang lumrah menjadi pilihan supaya tetap jadi pemenang dalam keterasingan.
Tapi aku tidak merasa “egois” bila bersikukuh hidup yang kujalani bukanlah kutukan dari nama, tanggal lahir atau ramalan apapun. Lagipula apalah arti dari namaku ini, hanyalah untaian huruf yang sama sekali tidak punya makna berharga, ah “Masa bodo”!.
Yang kutahu, aku selalu bangga mengakui keadaan diri. Tanpa perlu malu dengan aku yang tidak tampan, kurang pintar, hanya menyimpan sedikit sikap sopan dan tertib, serta masih banyak kekurangan lain yang “Egois” ingin kusimpan sendiri.
Intinya dibalik sisi egois ku, masih ada keinginan untuk bersyukur, karena semuanya sudah kurasa cukup untuk ku.
“Persetan dengan yang lain jika mereka juga sama bersikap seperti itu kepadaku”, aku yakin hidup dapat dituntun dengan segala daya dan pikiran dasyat yang ada dalam otakku. Anggaplah mereka yang menganggapku “aneh bahkan sinting” hanyalah angin lalu.
Lagipula selama norma-norma itu masih dibuat oleh mereka, tidak ada gunanya mereka tahu kalau akulah yang lebih normal. Karena hanya untuk menjadi seorang normal dalam dunia mereka, memaksa aku untuk mengikuti segala tingkah yang bertentangan dengan pikiranku.
Sesekali aku memang pernah merasa ada baiknya menyenangkan hati mereka, mengikuti segala peraturan dan berlagak semuanya baik-baik saja. Tapi karena itu berawal dari keterpaksaan, aku malah semakin menjadi tidak betah dan memilih konsekuensi sebelumnya “berteman sepi”.
(Disebalik itu, tahukah kalian bila hingga sekarang tetap kunanti pengakuan jujur, bahwa merekalah yang sinting, “bukan aku!”).
Tapi aku juga manusia, seiring alunan waktu, pengucilan yang terasa tak berkesudahan itu membuat aku merasa beda. “Sendiri” telah membuat aku menjadi pecinta kesunyian, segalanya menjadi serba individual. Akhirnya terbit pemahaman ini, semakin lama terus berakar kokoh dalam pikiranku.
Tercipta kesadaran, bahwa hidup sendiri dapat mematikan rasa. Hanya mahkluk tak bernurani yang sanggup melewatinya. Jelas diriku bernurani dan hanya binatang yang tidak. Aku masih butuh keramaian dan hanya itu yang tersirat dalam pikiran di otakku sekarang ini.
Tak juga berguna jika aku mencari pelampiasan, kenapa sebelumnya sikapku sampai seperti itu. Meski aku juga yakin bahwa karakter terbentuk dari hal-hal paling dekat dalam hidup kita.
Lingkungan tempatku tumbuh adalah keluarga yang mengasihiku,memberlakukan aku sebagaimana mestinya. Mereka mengajariku teori “peduli sesama” sebagai syarat membaur dalam masyarakat.
Sempat aku mengecap situasi dan kondisi yang termasuk takaran rasa bahagia setiap manusia normal. Kesimpulanya, semua itu pernah aku terima dan berjalan apa adanya.
Hingga kedewasaan dan kehidupan bermasyarakatlah menjadi jawabanya, lambat laun menghantarkan aku menemukan pikiran bebas sendiri. Berusaha menelusuri setiap detik kehidupan dengan pemahaman yang kucipta sendiri.
“Patutkah ada yang disalahkan, jika aku berusaha menjadi manusia sempurna”?. Jika demikian, mereka yang menghinaku pantas menjadi sebab, hingga aku selalu menuntut “hormat” karena takut direndahkan.
Itulah hidupku sebagai seorang Gibran sasongko. Aku masih menjadi manusia yang mampu menjelajahi belukar kehidupan, meski berlalunya waktu hanya boleh dituntun oleh nalar cerdasku sendiri. Bertarung melawan deraan aral dengan prinsip yang dianggap “egois’.
Semuanya tetap berjalan apa adanya, dengan konsekuensi yang harus kuterima “tersisih dari keramaian”. Sampai pada suatu saat aku menemukan Dia. ”Bidadari pujaan hati”.







1

Hari ini, hari pertama aku menyandang predikat sebagai seorang mahasiswa. Jurusan Filsafat yang menjadi pilihan disalah satu perguruan tinggi negeri cukup ternama. Serta menjadi penghuni baru sebuah kontrakan yang terletak di dekat kampus tersebut.
Sebagai orang baru, tentunya aku harus mulai mengenal lingkungan dan masyarakat sekitar. Besar harapan agar di lingkungan ini, apa adanya diriku lebih dapat diterima, dibandingkan beberapa tempat tinggal terdahulu yang lebih sering membuat jengah.
Diriku memang seorang perantau yang acap kali berpindah tempat. Sejak SMA aku sudah berpisah dengan keluarga. Menilik latar belakang keluarga, aku dan saudara-saudariku adalah anak dari kedua orang tua yang sudah lama merantau. Maka kami adalah keluarga perantau.
Namun sejak SMA aku pergi, berusaha mencari jati diri sendiri sebagai seorang perantau. Berpisah dengan seluruh keluarga, mereka kutinggalkan di tanah rantau lain yang berada di ujung timur negeri ini.
Sebagai perantau, aku selalu menuruti kemana nasip mengarahkan hidup. Entahlah, aku pun tak tahu kenapa harus ditakdirkan sebagai manusia yang menyukai cara hidup Nomaden.Mungkin itu dikarenakan“kebebasan”, bukankah kata itu yang selalu dicari manusia seusiaku di zaman sekarang ini.
Begitu mudahnya aku berpindah tempat jika sudah mulai bosan dengan lingkungan sebelumnya. Selain ingin bebas, untuk mencari suasana baru sering dijadikan alasan yang paling tepat.
Tapi untuk sekarang ini, kenapa aku harus pindah adalah untuk mencari lokasi tempat tinggal yang jaraknya paling dekat menuju kampus.

Jika ingin ditelusuri awal kisah ini…
Pertama ku berjumpa denganya, hanya selintas kejadian yang tak disengaja. Yang kupahami saat itu, hanya sedang memandangi seorang gadis yang cukup cantik untuk penglihatan mata lelaki normal.
Hanya itu…
Toko bunga “kembang setaman”. Sepanjang mata memandang, berjejer aneka bunga indah yang menghiasi. Di tempat itu, nantinya terkenang sebagai awal perjumpaan yang mengawali kisah ini.
Ternyata persuaan itu bukanlah sekali. Meski awalnya hanya perjumpaan sepintas, tapi kejadian itu tersimpan dalam memori otakku. Inikah yang disebut takdir, jika ternyata toko bunga yang sering kulewati itulah merupakan tempat dimana aku sering bertemu denganya.
Jadi, kesimpulan sederhananya, di toko bunga itu ada seorang gadis yang sering kujumpai ketika berangkat dan pulang dari kampus, hanya itu…
(Biasa berkutat dengan pemikiran yang rumit, membuat aku terlatih untuk mengesampingkan permasalahan yang kuanggap sepele. Hanya masalah pendidikan dan upaya ‘mengisi perut’ yang lebih utama buat ku. Sedangkan kata-kata semisal ”Pacaran dan tetek bengek lainya” selalu tersisih di urutan yang paling belakang. Mungkin karena pengalaman yang kudapat hanya membuat aku paham pengertian secara teorinya saja).
(Masihkah ada manusia normal yang berminat menjalin kedekatan dengan diriku?, sedangkan aku merasa tak ada yang menarik dari pemuda yang selalu berkutat dengan buku dan pikiranya sendiri. Kalaupun mereka ada mungkin hanya beberapa, dan hanyalah manusia yang bernasip sama naasnya dengan diriku).
Tapi aku tidak dapat mengingkari kodrat sebagai lelaki sejati, hingga bagaimanapun cara aku menafikkan diri untuk menyembunyikan keinginan, pada akhirnya akan hadir jua perasaan itu.
Kisah yang berawal dari kekagumanku pada seorang gadis….

Sedikit menyingkat kisah ini,…
Sebelumnya, telah jujur kudeskripsikan keegoisan dan rasa tidak percaya diriku dalam menghadapi urusan “pacaran dan kroninya”. Tapi bukanlah sebuah kesalahan jika pada akhirnya akupun tak dapat menyangkal sisi kodratku sebagai lelaki. Sekian banyak berjumpa gadis dalam keseharianku, gadis di toko bunga itu yang kuakui mendapat nilai lebih untuk parasnya.
Hari-hari terlewati yang tak kuhiraukan perginya, hingga jadi berminggu-minggu yang juga berlalu tanpa kesan. Aku masih menjadi wajah baru di kota ini dan sama sekali tidak ada perihal yang mendorong niatku untuk mengenal dia lebih jauh, hingga kejadian itu terjadi….
Di pagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya. Aku berangkat menuju kampus, menghitung langkah sambil memikul tas berisi diktat-diktat tebal.
Setelah beberapa jarak tertempuh, aku tepat berada di depan toko bunga itu…
”PRANG!!!!!” Suara bising yang cukup membuat kesadaran dan pendengaranku terhenyak. (terdengar seperti suara benda terjatuh dan pecah…).
Masih tersisa sedikit rasa kagetku ketika melirik arah datangnya suara. Dan dengan lirikan yang tidak jauh dari tempat ku berdiri, seseorang kelihatanya juga baru tersadar atas apa yang terjadi, dialah yang baru saja menjatuhkan sebuah vas bunga kaca. Kepingan vas bunga itu bertebaran di muka toko.
Sesaat kemudian, aku tetap memastikan pandangan kearahnya. Jarak kami berdua memang dapat terhitung hanya beberapa langkah, dan jikalau tidak rabun, mestinya kami dapat memastikan dengan jelas rupa dari paras masing-masing.
Cukup sekian detik aku memfokuskan penglihatan, kemudian dapat memastikan bahwa yang kupandang adalah seorang gadis. Tapi, terasa ada sesuatu yang lain dari dia yang kupandang ini.
Setelah coba mengingat-ngingat, ternyata dia adalah gadis yang sebelumnya sering kujumpai sepintas di toko bunga ini. Dan dari awal perjumpaan itu, aku memang mengakui bahwa gadis itu memiliki paras yang menarik.
Namun bila perjumpaan waktu itu, sisi menarik yang kupadang hanyalah kecantikanya, maka dimulai dari detik ini aku sungguh dapat memastikan kesalahan besar terhadap anggapanku.
(Persepsi dan makna kecantikan bagi setiap orang kemungkinan besar memang akan berbeda. Tetapi, naluri jujur lelaki normal tentunya akan sama untuk menentukan nilai kecantikan itu pertama kali. Sebuah rasa maha dasyat yang menurutku adalah seni visualisasi alami yang takaran penilaianya tentu menggunakan penglihatan sebagai indra pertama yang menerawangi. Akupun tidak menyalahkan pendapat manusia lain yang berbeda, karena siapalah aku, hanya lelaki awam yang menilai semuanya itu terlebih dulu dari apa yang kupandang).
Namun pada saat kejadian itu, aku menatap dia dengan jarak yang lebih dekat dibandingkan dengan pertemuan sepintas sebelumnya. Disaat itu baru aku sadar, seharusnya bukan hanya secara biasa, tetapi ada kekaguman lebih yang kuberikan padanya.
Dia adalah seorang gadis dengan keseluruhan raga yang menawan. Lekukan tubuh rampingnya begitu indah dengan tinggi yang sesuai, rambut panjangnya tergerai lurus sampai ke pundak yang jenjang, sawo matang kulit tubuhnya yang halus.
Parasnya cantik dan meneduhkan setiap mata memandang, dikaruniakan mata bulat nan indah, alis tebal terhias alami dengan bulu mata yang lentik, serasi dengan bentuk dan ukuran hidung yang mancung. Bibirnya merekah, ranum dan semerah delima. Segala yang terlihat dari parasnya, terus saja menambah ketakjuban ku.
Itulah yang kumaksud kecantikan luar biasa yang terpancar alami dan tak pantas disebut biasa saja…

Aku memang cukup menyempatkan pandangan dalam waktu sepintas untuk melihat keseluruhan raga dari seorang hawa yang ada didepanku ini. Dan meski kesimpulan yang kubuat hanya sesaat, tetapi dengan segala kekaguman yang terasa, sudah pantas aku terpana terhadap anugerah yang diberikan pada gadis ini. Entah mengapa, yang pasti karena terpesona !,
Kemudian tergerak juga keinginanku untuk berani menyapa dia. Kalimat ini yang terucap pertama kali, sebagai titik awal perkenalan kami .
(Bukanlah kejadian istimewa, karena hanya perbincangan sesaat dan “aneh buat ku”. Biasanya aku sering tak acuh untuk mengawali pembicaraan dengan orang yang belum kukenal, apalagi untuk seorang gadis seperti dia, yang dengan memandangnya saja sudah cukup membuat hatiku bergetar).
“Waduh vas bunganya pecah ya?” (Entah mungkin karena gugup, suara ku terdengar berat. Sengaja kusunggingkan senyum yang sedikit dibuat-buat. Untuk beberapa saat aku seperti menanti jawaban gadis ini…)
Setelah menemukan arah datangnya suara, akhirnya gadis itu membalas kalimatku. “ehm…iya, aku yang kurang berhati-hati ”
(Tersungging senyumku ketika mendengar jawabanya. Tak apa sedikit malu, setidaknya terbesit rasa senang, karena dapat membuat gadis ini berbicara padaku untuk pertama kalinya. Tak juga mengapa, bila dia tidak benar-benar memandangku, mungkin aku saja yang salah memperhatikan. Beberapa kuntum anggrek yang kupungut, segera kuberikan ke tanganya…).
“oh iya,terima kasih…” (Jemari-jemari halusnya menyambut pemberianku. Bersamaan dengan itu, kembali lurus kulirik wajahnya. Tetapi, kejadian serupa itu menimbulkan tanya di hatiku, mengapa dia seakan tidak memandangku ketika menggapai bunga yang kuberikan).
(….derap langkah terdengar dari dalam toko, disertai suara seorang lelaki dewasa…). ”kan udah bapak bilang, kamu enggak usah repot-repot melakukan pekerjaan di toko, kalo kejadianya kaya’ gini, kan kamu sendiri yang susah”.
(Perkiraanku benar, dia memang seorang lelaki dewasa, badannya sedikit gemuk dengan ukuran tubuh yang termasuk “jangkung” untuk orang-orang di negaraku. Sekilas dari suaranya, mungkin dia adalah orang yang tegas dan berwibawa, selain tampak pula keramahan dari raut wajahnya).
“enggak papa ko’ pa, aku cuma tersandung aja tadi” gadis itu menjawab.
“ya sudah…, ayo papa antar kamu masuk ke dalam lagi”, (sambil membimbing gadis itu, lelaki dewasa tadi masuk ke dalam toko,…Tapi, seperti melupakan sesuatu, dia berbalik, sedikit melirik dan tersenyum akrab kepadaku…).
”ma kasih ya dik” katanya .
(Merasa kalimat itu sudah pasti ditujukan kepadaku, akupun tersenyum…). “oh iya, sama-sama pak” jawabku kemudian.
Selanjutnya, kejadian tadi berlalu. Mereka berdua telah masuk kedalam toko. Yang tampak sekarang adalah seorang pemuda bergegas membersihkan kepingan vas bunga, pecah dan bertebaran di muka toko. Mungkin orang itu adalah pekerja di toko bunga ini. Toko bunga “Kembang Setaman”.
Pagi ini, di depan toko “Bunga Setaman” sudah mulai ramai dengan berbagai aktifitas kendaraan dan pejalan kaki. Jalan ini yang menghubungkan kampus, pasar dan daerah-daerah perkantoran.
Kejadian sepintas tadi telah berlalu, aku kembali melanjutkan perjalanan menuju kampus. Sambil melangkah pergi, kutaut sendiri kesimpulan sederhana dari pristiwa yang baru terjadi.
Dari cara si gadis menyapa lelaki dewasa tadi, dia pasti ayahnya, selain terlihat pula kemiripan wajah antara mereka berdua”.
“Tapi kemudian, muncul pertanyaan yang tiba-tiba saja terbayang dalam ingatanku,…”.
Tapi, ah…sudahlah...
(Mungkin gadis itu malu dan merasa bersalah karena tidak sengaja memecahkan vas bunga!. Atau karena aku berani melirik dia dengan lirikan yang terpesona. Lagipula, sepertinya alasan yang kedua sama sekali tidak mungkin. Gadis secantik dia mengapa harus malu dan canggung sehingga tidak berani memandangku. Bukankah dia lebih pantas tersipu terhadap lirikan lelaki yang memenuhi kriteria untuk membuat banyak gadis kagum, dan hal itu tidak ada pada diriku. Ya sudah, biarkan dugaan tak jelasku ini berlalu).
“…lagi pula, sedikit geli aku membayangkan jika hal tersebut memang benar…”
Kesimpulan dan pertanyaan ringan itupun cuma sekedar pikiran lepas, berlalu setelah aku sampai tepat di depan gerbang kampus.
Walaupun hari-hari selanjutnya aku lebih sering memperhatikan si gadis dan lelaki dewasa tadi. Bahkan sekedar tegur sapa sering terjadi antara aku dengan lelaki dewasa itu.
Itu tetap seperti biasa, seperti bagaimana cara aku bersosialisasi…
(Aku masih menjadi manusia sedikit acuh, menyapa manusia sekitar dengan canggung dan kaku. Entah kenapa diriku memang kurang mahir untuk berbasa-basi, apalagi dengan orang yang baru kukenal).

















2

Siang ini cuaca nampak kurang bersahabat, selubung awan mendung mengundang gerimis yang rintikanya perlahan mulai membasahi bumi. Terlihat kesigapan manusia sekitar seandainya akan turun hujan sebentar lagi. Sebenarnya aku kurang memaklumi keadaan ini, karena terjadi disaat jarakku menuju kontrakan masih harus ditempuh beberapa meter lagi.
“DRUS…”. Sekonyong-konyong hujan yang diperkirakan memang benar terjadi. Bergegas aku berlari kecil, mencari perlindungan dari basah.
Ketika sedang mempercepat langkah, terdengar seruan yang sepertinya ditujukan kepadaku .
“eh dik, berteduh di tempat bapak aja dulu”.(Dengan mempercepat langkah, perhatianku hanya tertuju pada tempat berteduh yang tidak jauh dari pandangan, tapi itu justru membuat aku lupa bahwa sekarang ini sedang berada di depan toko bunga ‘Kembang Setaman”).
(Seruan tadi berasal dari lelaki yang akhir-akhir ini sudah sering bertegur sapa sepintas jika aku melewati toko bunga “kembang setaman”, lelaki dewasa yang pernah kujumpai bersama si gadis).
“eh iya pak, sepertinya emang gak ada tempat berteduh yang lebih dekat ” jawab ku langsung.

(Toko bunga ”kembang setaman”, bentuk dan susunan dekorasinya dibuat seperti taman kecil beratap. Ada beberapa orang lain selain aku yang juga ikut berteduh di dalam toko bunga ini. Setelah menuruti ajakanya untuk berteduh, di dalam toko bunga ini aku kembali menaut kesimpulan sendiri, ”Toko bunga ini pasti milik dari Lelaki dewasa ini”).
(Dia kemudian mempersilahkan aku duduk di sebelahnya. Sambil tersenyum ramah mulai membuka obrolan pertama kami).
“wah, kalau tadi terus saja berlari, bisa kebasahan dong dik?”
“iya pak, apalagi tas saya ini bahanya tipis, dan gampang basah kalo kena air” jawabku datar. (Sambil mengibaskan tas dan bajuku dari cipratan gerimis yang masih menetes dari atap toko).
“enggak tau nih, kemarin cuacanya cerah, eh sekarang tiba-tiba saja hujan” jawabku lagi. (seakan memberanikan diri untuk lebih berbasa-basi).
“emang sih, kalau bulan–bulan begini cuacanya susah diperkirakan”jawabnya sembari tersenyum.
(Perbincangan awal ini pun perlahan mengalir, aku seperti orang yang sudah lama kenal dengan lelaki ini, karena biasanya cuma dengan orang yang sudah dikenal aku dapat sedikit santai ketika berbicara. Mungkin Karena pembawaan sikapnya juga tenang dan ramah).
(Jika menilik usianya, kemungkinan sudah berkepala empat, akan tetapi dari cara berbicara, raut tampang dan tubuhnya yang masih kokoh tegap, semuanya itu malah seperti bisa dibandingkan dengan perbedaaan usia yang tidak jauh dengan usiaku).
(Setelah obrolan perkenalan basa-basi yang cukup panjang, kami pun mulai bertanya tentang data diri masing-masing).
“Selama ini kita makin sering ketemu, tapi cuma sekedar menyapa saja. Bapak gak tau siapa nama adik?”.
“oh iya, saya yang salah, lupa mengenalkan diri. Panggil saja saya gibran pak”. Jawabku. (sedikit menyembunyikan rasa segan yang masih ada ketika berbicara).
“wah, bagus banget namanya dik, kaya’nya pernah dengar nama penulis terkenal yang persis dengan nama kamu”
“…kata orang sih begitu, tapi ah…biasa saja lah pak” jawabku lagi .
(Sambil menjabat tangan ku, bapak itu ikut memperkenalkan dirinya). ”kalau nama asli saya, Suprapto hasadi, panggil saja pak Ato. Orang-orang disekitar sini juga biasa memanggil bapak dengan sebutan itu”.
(Perbincangan masih terus bergulir, banyak pertanyaan yang ditujukan kepadaku. Dan topik pembicaraan memang lebih aktif dikemukakan oleh pak Ato, karena sepertinya dia lebih mengetahui berbagai remeh temeh percakapan sehari-hari).
(Tapi, meski lebih sebagai pendengar dalam perkenalan ini, aku berusaha menjadi teman bicara yang tidak membosankan, tidak menunjukkan sikap seperti yang sudah-sudah. “Aku sering bersikap acuh, yang secara tidak sengaja mudah kutampakkan jika sedang berbicara dengan orang lain”. Jika ingin mulai beradaptasi, harapku perkenalan dengan bapak ini adalah awalnya ).
Hujan tampaknya sudah mulai reda, satu persatu orang yang menumpang berteduh di toko bunga “Kembang Setaman” perlahan beranjak, beberapa diantara mereka melemparkan senyum kearahnya. Sepertinya mereka sudah saling kenal atau mungkin ada yang bertempat tinggal di sekitar sini.
(Lelaki ini, yang kini kutahu disapa dengan sebutan pak Ato, dengan keramahanya pasti cukup banyak dikenal orang sekitar lingkungan ini).
Sedangkan, didalam toko bunga itu aku seperti enggan beranjak, betah berdiam diri lebih lama dengan obrolan lepas yang terjalin antara kami berdua. Sejauh pandangan, di dalam ruangan yang dihiasi pajangan aneka kembang bunga, hanya kami berdua yang berbincang.
Tapi disela-sela obrolan, aku sedikit terusik, kemudian tersadar, ketika arah lirikan sepasang mataku tergerak dibawa kebagian lain dari ruangan toko ini.
(Ternyata masih ada seseorang lagi disini, selain aku dan pak Ato. Di salah satu sudut ruangan, terlihat seseorang yang sedang duduk dengan tenangnya. Dia sedang mendengarkan alunan lagu dari sebuah perangkat musik).
(Aku sangat mengingat rupa yang sedang kulihat ini, karena sosok dia adalah orang yang tidak bisa dilepaskan dari perkenalanku dengan pak Ato, serta yang membuat aku selalu mengingat toko bunga ini,”Dialah gadis itu”).
(Akupun menemukan pertanyaan baru dalam perbincangan kami). ”Dia gadis yang pernah memecahkan vas bunga tempo hari itu kan pak?”tanyaku sambil menunjuk ke arah yang kutuju.
(Pak Ato melihat arah telunjuk ku, kemudian terdiam untuk beberapa saat). “ehm….iya, namanya Nia, keponakan bapak’” jawabnya singkat.
(Mendengar jawaban itu, aku langsung berpikir untuk mengkoreksi kesimpulan kecil mengenai gadis ini yang pernah kubuat, “ternyata dia adalah keponakan pak Ato”).
“oh…saya sempat berpikir kalau dia itu anak gadis bapak” ujarku lagi.
(Tapi kalimat terakhirku itu sepertinya tidak mendapatkan tanggapan. Penglihatanya sedang tertuju pada bunga-bunga indah yang berada tidak jauh dari pandangan. Perbincangan ini pun terhenti beberapa saat, hingga kemudian pak Ato mengembalikan pandanganya).
“iya, dari kecil dia sudah memanggil bapak dengan sebutan papa. Eh dik, kayanya udah lohor, bapa’ mau sholat dulu”.
“oh iya, hujan sudah reda, sepertinya saya juga sudah harus pulang pak” balasku.
“lain kali kita lanjutkan obrolan kita, jangan sungkan-sungkan mampir ke tempat bapak ini”. Katanya, (masih dengan senyumnya yang ramah).
“iya pak, saya juga senang ngobrol dengan bapak” jawab ku lagi.
Perbincanganpun berakhir. Setelah berpamitan, aku melangkah keluar, bersamaan dengan pak Ato yang masuk kedalam rumahnya.
(Dari perbincangan tadi, telah pula diceritakan bahwa letak rumah Pak Ato yang sekaligus menjadi toko bunganya. Diantara toko dan rumah, hanya dibatasi oleh sekat pintu masuk yang terletak di tengah-tengah. Awalnya, di tempat ini hanya menjadi lokasi bangunan rumahnya yang cukup luas, tapi kini sebagian besar ruangan dan taman rumah itu telah dipugar dan dijadikan toko bunga).
(Namun, dari banyaknya cerita yang bergulir pada perbincangan tadi, aku tidak mendengar pak Ato pernah menceritakan siapa-siapa saja yang menjadi penghuni bersamanya di dalam rumah ini).
(Bagaimana dengan gadis itu ?. Dia tidak pernah sekalipun menjadi obrolan dalam perbincangan kami tadi, dan kalaupun sempat bertanya tentang dia, adalah cuma sekedar pertanyaan sepintas. Akupun baru tersadar akan keberadaaanya, setelah beberapa saat perbincangan ini hampir selesai).
Sebelum hampir melangkah keluar dari toko bunga, aku memang sengaja menyempatkan pandangan sekali lagi kearah gadis itu berada. Di salah satu bagian sudut ruangan itu dia masih duduk tenang dengan segala keanggunanya.
Rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai panjang hingga ke pinggang, kedua mata bulat yang indah sedikit tersembunyi karena arah pandanganya yang tertunduk. Aku tidak tahu apa yang dilamunkan dengan senandung yang mengalun di telinganya. Tapi mungkin hanya untaian syair lagu benar-benar mendayu di hati, yang mampu membuatnya bermain dalam dunia khayalanya sendiri. Hingga tanpa sengaja, tidak memperhatikan orang yang sedang memandangnya.
“Pikiranku menerawang, mengingat sebuah nama yang baru sekali diberitahukan dalam perbincangan tadi, Nia”.



3

Bangunan rumah yang tidak bisa dikatakan luas. Dari pudar desain dan coraknya yang telah usang, mungkin telah terbangun bisu dalam usia yang sangat lampau. Tidak ada pemandangan yang cukup, apalagi sangat menarik.
Di dalam bangunan itu terdapat ruang tamu, beserta sebuah meja kayu dan beberapa kursi. Lantai ubin yang kasar dan retak, tapi kelihatan bersih karena selalu disapu.
Pajangan lukisan murahan, namun kelihatan cukup sebagai penghias dinding. Rak buku, sarat terisi berbagai ukuran dan judul buku. Adapun sebuah tempat tidur serupa bale-bale, berteman kasur usang, namun tertata rapi dengan beberapa bantal.
Masih ada tiga ruangan yang belum disebutkan. Ruangan kakus yang ukuran paling kecil, juga dapur dan segala perkakasnya. Yang terakhir, hanyalah ruangan kosong, ditempati sebuah kursi panjang dari bambu. Mungkin cuma kursi itu, perkakas dalam rumah ini yang lebih pantas menjadi saksi dalam sepi.
(Dikursi itu aku biasa merebahkan diri, menghabiskan waktu malam untuk bermain dengan pikiran sendiri, setelah lelah seharian bernafas dengan segala konsekuensi hidup. Seperti biasa, cuma kesendirian yang dapat membuat nalar ini berjalan murni. Terpaku sunyi, termenung dalam keremangan suasana bangunan kontrakan murah yang menjadi tempat aku berteduh).
(Tapi tidak untuk sekarang, malam ini hatiku ceria seakan bernyanyi. Entah kenapa aku seperti melupakan kebiasaan, meratapi malam sepi dengan lamunan panjang pengantar tidur. Dalam kelam sepi ini, mesin dalam kepalaku tidak dapat berputar ruwet sebagaimana mestinya, yang ada dalam otakku hanya membayangkan Dia. Betapa sempurna paras yang dikaruniakan, rupa cantik yang meneduhkan setiap pandangan).
Pikiranku kembali berkelana, bisikan ingatan yang terus menggema di hati ku ”Nia”.
Takdir yang bergulir tentunya tak dapat ditolak oleh insan yang berperan sebagai material dalam perputaran roda kehidupan. Bukanlah suatu kesalahan jika aku berusaha mencari titik terang diantara sinar redup kehidupanku dulu. Belajar memahami makna terlahir dalam fana ini, mencoba bijak dan yakin kesemuanya itu akan menggiringku ke kehidupan yang sebenarnya.
Perjumpaan dan perkenalan itu kuyakini adalah alasan takdir semata, tapi bukanlah hal sepele, jika selanjutnya aku dan jiwaku mengalir menghadapi tahap-tahap yang memaksa aku meninggalkan segala prinsip yang dari dulu tidak kusadari semu. Penemuan akan sesuatu yang telah lama hilang dari jiwaku. Kisah yang sekarang adalah nafas baru kehidupan, terhirup setelah aku melewati perkenalan ini.
(Sebelumnya, perasaan yang bersemayam pada hati batuku sudah lama pongah dan angkuh untuk mengenal segala teori yang bertameng cinta. Jikalaupun ada, cuma sebatas mengagumi yang tidak melebihi ‘sekedar’, “aneh” kalau ternyata aku punya keinginan untuk lebih mengenal dia. ”Kemana perginya sikap dingin itu?”, mungkinkah karena jiwa lelakiku telah berbaur dengan rasa kagum akan pesonanya yang terlihat pertamakali ?).
Enam bulan sudah semua kejadian hidup yang telah kuceritakan itu telah berlalu. Jangka waktu yang cukup membuat hidup seseorang normal mengalami perubahan cukup berarti. “Mungkin aku bukan lagi sesosok gibran sasongko dengan segala perangkat tabiat seperti dulu. Aku yang sekarang lebih bisa mengerti akan makna hidup yang sebaiknya…”
Selama enam bulan, seperti biasanya, hidupku mengalir bersama detak waktu, hingga sampai suatu saat dimana aku tidak sanggup menggantikan semua perasaan yang terus bergelut dalam kalbu, “meski dengan syair pujangga apapun”. Karena perasaaan ini bukanlah seperti rekayasa yang tercipta dari sekedar perenungan.
Dunia ini memang terbentuk oleh cinta, karena itu aku tak kuasa menghindarinya.
Kalaupun dulu aku adalah manusia yang lebih memuja kesendirian, mungkin dikarenakan uluran waktu yang masih membiarkan diriku berkelana mencari pemulih semuanya itu.
Pantaslah jika aku mengatakan ini sebagai anugerah terindah dalam hidupku, karena kebahagiaan adalah perasaan unik batiniah yang kadar kenikmatanya tergantung dari orang yang mengecapnya.
Aku mengerti bahwa “Tak ada yang sempurna di dunia ini”, tapi kini kutahu “ketika mengenal cinta, dapat membuat manusia merasa sempurna”.
Meskipun…pada akhirnya nanti, aku tidak tahu dan tidak ingin tahu apa pendapat manusia lain setelah mengetahui kisah yang tersembunyi dari alur cerita ini. Tunggulah sampai kalian mengetahui posisiku yang sebenarnya….





Jika menilik pribadiku yang pernah tersirat pada awal kisah ini, telah kujelaskan panjang lebar bagaimana sosokku dalam mengarungi kehidupan. Sering kuterima berbagai pengasingan yang kuanggap sebagai tempaan. Jiwa dan nalarku lebih suka melayang mencari arti yang dirasa pasti, pernah kucoba meraba hati mereka dengan mengikuti suasana yang ada, tapi tetap saja tabiatku adalah misteri dalam kemunafikan hidup.
Akhirnya aku tak peduli penilaian, biarlah semua berjalan apa adanya, tak usah lagi terlalu egois menemukan makna diri, kuhayati saja peranku sekarang karena esok adalah masa depan yang dimulai hari ini. Dan sekarang aku sudah dapat mentolerir bahwa suatu kewajaran bagi setiap manusia, menerima dengan tidak lumrah insan lain yang dianggap tidak senormal mereka.
Ingin kubercerita kembali mengulang waktu enam bulan itu …
Perkenalan awal itu memang bukan sekedar lagi, bahkan sebelum rentang waktu yang mencukupi perhitungan enam bulan, aku telah mulai merasakan diriku dapat diterima dengan apa adanya.
Dalam keseharian yang terus bergulir, Pak Ato sudah kuanggap seperti kerabat, kutemukan tempat mengadu layaknya keluarga sendiri. Setiap perbincangan yang telah terjalin, memberi masukan untuk memugar pemikiranku yang selama ini membingungkan.
Hubungan kekerabatan seperti itu yang akhirnya membuat Pak Ato tulus berbagi dan menceritakan semuanya. Kisah yang akhirnya menimbulkan banyak tanya padaku, “Siapa gadis itu?”

(Semuanya berawal dari kisah ini…Melewati sebuah alur kisah pilu yang merubah segalanya…)

















4

Derita berkepanjangan mendera hubungan sepasang suami istri. Usia pernikahan mereka telah terjalin cukup lama. Entah itu “kutukan” dari pernikahan yang tak direstui atau dimuasalkan gejolak usia muda mereka yang yakin “keajaiban cinta” dapat menyangga segala problema hidup.
Kebahagiaan mungkin sedikit diraih ketika akhirnya mereka dikaruniai seorang anak. Namun, ternyata perputaran roda nasib lebih cepat dan tetap tidak seimbang bagi mereka.
‘Naas’ yang menjadi pemenang, sang ibu didiagnosa menderita penyakit akut dan dapat diperhitungkan sisa hidupnya yang tinggal sesaat. Gejala penyakit yang seharusnya sudah ditanggulangi dari awal, tapi karena tak kuasa dan nestapa yang bukan hal baru dalam kehidupanya,sang Ibu hanya bisa memasrahkan diri.
Akhirnya dia pergi menghadap Ilahi, ketika anak yang dilahirkanya itu baru berusia satu tahun. Pergi tanpa meninggalkan kesan kasih yang cukup terhadap benih cintanya.
Tak ada insan yang kuasa jika takdir telah tergurat. Lautan derita yang diarungi sendiri membuat seseorang hanyut dalam sepi dan kesedihan. Setengah bulan setelah kejadian itu, suaminya pun turut menghadap Ilahi, menyusul istri tercinta yang lebih dulu pergi.
Betapa malang bayi suci itu, mengapa dia harus dilahirkan dalam dunia kejam yang tega merenggut orang-orang pertama yang memberinya cinta?.
Kisah ini membuat aku tulus teriba. Terlebih lagi setelah tahu, bahwa Ibu dari bayi malang itu adalah adik pak Ato. Mungkin mereka juga tidak akan pernah diketahui keberadaanya,jika takdir tidak mempertemukan Pak Ato dengan suami adiknya sebelum meninggal.
Setelah semua kejadian pilu ini, Pak Ato yang merawat bayi itu sejak berusia satu tahun, “Usia tunas yang seharusnya mengecap kasih sayang kedua orang tua sedarah secara utuh”.

Dan masih ada runutan dari kisah itu….
Ternyata kehidupan yang diarungi oleh pak Ato juga setali tiga uang dengan kisah pilu adiknya. Mahligai perkawinan yang dijalani atas dasar cinta, betapa besar kasih yang tercurah demi mendapatkan kesetiaan masing-masing.
Sayangnya, ketulusan yang terlalu berlebih salah diartikan oleh sang istri. Dia pergi meninggalkan luka pedih, menjejakkan kisah perselingkuhan pahit yang memporak-porandakan semua jalinan kebahagian. Ini terjadi beberapa bulan sebelum berita kepergian adiknya.
Setelah itu, pa A’to seperti kehilangan kesadaran akan dirinya sendiri, alkohol dan segala jenis putih serbuk neraka yang sebelumnya tidak pernah dikenal, justru telah menjadi satu-satunya sobat karib pelampiasan derita yang dikecapnya. Kehilangan orang yang dicintai membuat dia kehilangan jiwa dan semua yang menjadi pedoman hidup.
Berbulan-bulan dia terjerembab jauh dalam kawah kenikmatan semu, diikuti dengan perubahan segala tabiat, hingga kemudian berita kepergian adiknya mengantarkan kembali kesadaranya yang nyaris pergi. Bahkan setelah itu, pak Ato menjadi seseorang manusia yang lebih memahami arti sebenarnya kehidupan ini.
“Bayi mungil itu yang membangkitkan semangatnya untuk terus hidup”. Dia bukan hanya sebuah titipan, tetapi juga karunia yang diberikan untuk menyadarkan pak Ato, bahwa tidak ada sesuatu pun yang pantas disesali kalau masih banyak hal bermakna yang dapat diperbuat.
Kejamkah takdir?, jika semuanya itu hanyalah sesuatu yang memang harus bergulir. Seluruh Insan tidak dapat mengelaknya, karena segala penciptaan bukan atas kehendak yang tercipta.
Jika dikiaskan sekitar dua puluh tahun jarum waktu berdetak, selama itu juga semua kejadian yang diceritakan pak Ato telah berlalu. Merupakan perangsuran pak Ato merawat bayi itu dengan penuh kasih, hanya dia satu-satunya yang menjadi tempat luapan rasa cinta yang pernah tidak tercurahkan sepenuhnya.
Bayi itu sekarang tidak lagi menjadi mahkluk mungil. Beriringan dengan pertambahan usia, kini dia telah menjadi seorang gadis dengan segala anugerah kecantikan dari yang kuasa.
Dialah yang pertama kali kujumpai di toko bunga“kembang setaman”, gadis yang dapat mengkikis hati batuku dengan curahan segala kelebihanya, yang juga mengantarkan aku mengenal pak Ato.
(Dialah menjadi inti dari alur panjang cerita ini, dengan segala kisah perubahan yang membuat aku menemukan kehidupan baru. Tapi, bagaimana setelah akhirnya aku tahu semuanya…?).
Pendengaranku terkesiap, mendengar berita yang membuat nurani ini terjerembab ke kawah perasaanku yang paling dalam. Gelut segala perasaan yang bercampur aduk, mataku berkaca-kaca, seakan memaksa linangan air mata yang mendesak keluar. Sebagai manusia normal, hanya kalimat lirih yang dapat terujar “sungguh kejam hidup ini”….
“Sekali lagi ingin kubertanya”!!. Jika kalian berada pada posisiku, mampukah untuk yakin mengakui bahwa ini sebuah anugerah? apalagi melebihkan sebagai yang terindah…

“Semua kisah sedih Bapa’ ini ternyata belum sepenuhnya berakhir dik’Gibran’.’
(Aku cuma terpaku serius dalam diam, mimik mukaku sedari tadi lelah menahan beban kantung mata berkaca-kaca, yang ingin menumpahkan air mata tertahan. Masih ku tunggu kelanjutan cerita pak Ato. Sesaat, lirih hati ini berbisik ”Ya Tuhan, masih kurangkah derita pahit yang Kau cobakan, sehingga kisahnya yang bergulir masih dengan segala cerita pilu yang menyayat hati”).
(Pak Ato sejenak tertunduk diam, kelihatan seperti menahan emosi yang ada di relung hati. Mencoba menyembunyikan getar bibir yang diiringi bisik gemertak gigi, bukan karena hawa dingin tapi panas kesedihan yang membakar perasaanya).
(Sesekali pandanganya menengadah atau menjuruskan penglihatan ke segala arah yang tak jelas. Seakan tidak sanggup menceritakan kelanjutan kisah pilu itu).
“Sudahlah pak, kalau bapak tidak mau menceritakanya, toh semuanya itu telah berlalu dan menjadi kenangan bapak pribadi”. Kataku (mencoba menenangkan hati pa’ Ato yang sedang gundah).

(Cukup beberapa saat dia memandang lama mataku dengan wajah sendu, pandangan yang seakan mengiba tapi tanpa mengharapkan pertolongan).
“enggak ko’ dik, Bapa memang sudah lama ingin berbagi semua kisah ini. Kamu sudah dianggap seperti keluarga sendiri, jadi pantas untuk mendengar kisah kehidupan pribadi bapak.”. Lanjut pak Ato lagi .
“Kehadiran Nia memang merupakan sebuah mukzizat bagi bapak. Sejak kehadiranya, kesedihan bapak berangsur-angsur tersimpan dan sanggup mengingatnya secara tabah. Tidak ada yang patut disedihkan, karena hidup bapak sudah bahagia bersama keponakan bapak itu. Dari bayi, hingga dewasa, bapak selalu berusaha mencurahkan kasih sayang sebisanya. Tidak sedikit juga menutup-nutupi kejadian pilu yang dialami kedua orang tuanya”.
“Mungkin memang, rasa kasih yang bapak berikan tidak dapat menggantikan kerinduan dia akan wujud orang tua kandung. Tapi, yang terpenting adalah keponakan bapak itu dapat tumbuh seperti anak normal lainya”.
(Pak Ato masih ingin melanjutkan ceritanya lagi, …) “Sama sekali bapak tidak merasa sia-sia mencurahkan semua kasih sayang itu. Nia tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat patuh dan penyayang, dia sangat mengerti dengan kehidupan yang dijalani hanya bersama pamanya yang sudah mulai tua.
(Aku masih menyimak cerita pak Ato, merupakan alur murni kisah yang dramatis, seorang paman yang tulus menyerahkan sisa kehidupanya untuk merawat dan membahagiakan orang terdekat yang tersisa. Kebahagiaan yang mulai teraih kembali setelah terlunta-lunta diterpa badai derita).
Tetapi, dimanakah alur kesedihan itu jika kisah ini memang belum benar-benar mencapai klimaks bahagia ?

(Pak Ato kembali tertunduk, sekonyong-konyong suasana berubah, yang terlihat raut mukanya yang memerah. Lebih mengejutkan dengan disusul isakanya yang tertahan).
“Sudahlah pak, kaya’nya bapak sudah tidak sanggup untuk cerita”. Aku mencoba menenangkan hatinya.
(Wajar jika perasaan piluku ikut terbawa mendengarkan kisah ini, pria dewasa yang selama ini kuanggap sebagai lelaki tegar, tempat berkeluh kesah, ternyata masih banyak yang tersembunyi dibalik semuanya itu. Dari isakanya, dapat kurasakan betapa berat beban cobaan yang telah dialaminya).
(Kalimat terakhirku itu dapat sedikit menenangkan hatinya untuk kembali melanjutkan kisahnya yang terhenti).
“Bapak emang enggak sanggup menahan perasaan setiap ingin menceritakan kisah ini. Kebahagiaan yang bapak ceritakan tadi ternyata juga kembali mendapatkan cobaan”, lanjut pak Ato.
“Sebagai gadis yang beranjak dewasa tentunya dia juga harus melewati tahap-tahap perangsuran usianya. Sekitar empat tahun yang lalu, Nia masih kelas satu SMA. Keceriaan selalu tampak mengisi hari-harinya, tidak jauh beda dengan kehidupan anak gadis seumurnya, sampai akhirnya dia mengenal cinta”.
“Ada anak lelaki yang dikenalnya dari sekolah. Liyas mayusra nama anak itu,…

(Aku masih serius mendengarkan cerita pak Ato, yang sudah dapat kembali bercerita dengan wajah yang tenang …)

“Bapak memang percaya saja kepada Nia, gadis baik seperti dia tentunya tidak akan sembarangan untuk jatuh hati ke teman lelakinya. Bapak juga tidak mau mencampuri segala urusan yang menyangkut masa muda mereka. Dari awal berkenalan dengan anak lelaki itu, bapak memang langsung simpatik”.
“Liyas berpenampilan baik, orangnya ramah dan sopan. Juga tidak segan untuk mengaku sebagai teman lelaki Nia, biasanyakan anak seumuran dia masih suka malu-malu. Mungkin itu karena bapak selalu berusaha ramah kepada semua teman-teman yang dikenalkan Nia”.
(Pak Ato masih melanjutkan kalimatnya…).
“Sepengamatan bapak, sejak berkenalan dengan Liyas, kehidupan Nia bertambah ceria. Wajarlah buat anak remaja seperti dia yang baru mengenal “Pacaran”. Liyaspun tetap menunjukkan sikap apa adanya, bisa dibilang bapak sudah menganggap dia seperti keponakan sendiri”.
“Hubungan mereka terus berlanjut dalam hitungan tahun, waktu yang cukup lama. Apalagi untuk masa pacaran anak ramaja zaman sekarang. Mungkin karena mereka berdua melewati masa-masa itu sewajar usia belia mereka yang polos, saling memberikan kasih yang tulus. Tapi,…”(nada suara pa’ Ato sedikit tertahan).
“Selama itu bapak sama sekali belum mengetahui latar belakang keluarga Liyas. Hanya yang bapak ingat dari cerita Nia, Liyas itu berasal dari keluarga berkecukupan, itu saja yang bapa tahu.”
(Keheningan kembali terjadi dalam perbincangan ini, wajah itu kembali tertunduk, kenapa terlihat lagi raut sendunya yang tersembunyi?. Tak ingin kucoba bangkitkan emosinya jika memang akan bergulir lagi cerita sedih dari mulutnya, maka aku tidak berani lagi untuk bertanya. Biarlah Dia sendiri yang akan bercerita kembali)
“Hubungan mereka terus berlanjut, sampai dengan sendirinya bapak benar-benar tahu tentang asal-usul keluarga Liyas, bahkan lebih lengkap dari yang diketahui Nia. Liyas memang anak yang baik. Pengalaman juga mengajarkan bapak untuk bisa membaca sifat seseorang dari tingkah lakunya. Tapi, siapa sangka kalau anak sebaik dia ternyata berasal dari keluarga yang jahanam!”
(Aku terperanjat ketika mendengar kalimat itu, apa yang dimaksudkan oleh Pak Ato? Ada apa dengan keluarga anak lelaki itu, bukankah maksud dari kalimat-kalimat pak Ato sebelumnya, menyiratkan tentang segala kebaikan lelaki yang bernama Liyas itu).
(Nada suaranya juga tidak sedatar ketika dia bercerita beberapa menit yang lalu. Yang terlihat hanya luapan emosi, bahkan lebih dasyat dari sebelumnya. Sekarang aku lebih penasaran lagi akan kelanjutan cerita ini, kisah yang diceritakan seakan menempuh berbagai kelokan yang merubah alur cerita ini secara tiba-tiba, pak Ato seperti pencerita ulung yang pandai memainkan segala mimik rupa yang membuat penyimak seakan terbawa suasana yang sebenarnya).
“Maaf pak, kalau boleh saya bertanya, memangnya ada apa dengan keluarganya Liyas?” aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Jahanam!. Memang cuma kata itu yang pantas untuk keluarga dia.”Lanjut pak Ato. (masih dengan nada suaranya yang tinggi).
“Pernah bapak cerita kepada kamu, bagaimana kelamnya kehidupan rumah tangga bapak. Istri yang bapak cintai pergi berselingkuh dengan lelaki lain, tanpa alasan dan sebab yang jelas. Kehidupan bapak waktu itu nyaris hancur. Tapi, bapak belum menceritakan kepada kamu siapa lelaki yang tega merebut istri bapak itu.”
“Bayu Ariyanto, lelaki yang pernah bapak anggap lebih dari sahabat, karena hubungan pertemanan yang telah terjalin lama membuat dia sangat berarti dalam kehidupan bapak. Dia juga memiliki kehidupan yang sangat berkebalikan dengan keadaan bapak, berasal dari keluarga kaya yang berpendidikan. Tetapi, hal itu tidak menjadi penghalang dalam hubungan persahabatan kami, banyak sudah kisah sehidup semati yang dilewati bersama. Tetapi siapa yang dapat meramalkan kalau ternyata…”
“kamu pasti masih belum mengerti, dik Gibran?”.
(Aku dengan sendirinya sudah terbiasa dengan keadaan ini, atau apakah pak Ato memang selalu begini untuk menumpahkan perasaan sedihnya. Raut wajah yang memerah, tertunduk diiringi nafas yang tersengal perlahan, sebagai pertanda rasa emosi yang sebentar lagi akan diluapkanya. Permainan imajinasinya seakan berbalik ke alur silam kisah yang diceritakanya, sehingga dia benar-benar bisa merasakan kembali segala cita kehidupan lampau yang pernah dikecapnya)
“Apakah bapak memang kejam dan egois kalau semua derita yang pernah dialami, dituduhkan kepada dia!. Kisah persahabatan yang pernah terjadi sekian lama memang telah bapak buang jauh-jauh. Seandainya kamu di posisi bapak, bagaimana perasaan kamu, setelah tahu sahabatmu itu ternyata….!”
(Ruangan ini seakan hanya dihuni oleh kami berdua, suara pak Ato yang lebih sering terdengar, akupun sedari tadi setia bertahan mendengarkan semua kisah yang diceritakanya. Segala pertanyaan mengenai gadis itu terbalut kisah yang mengiringi perjalanan hidup pak Ato yang sama-sama menyimpan berbagai misteri).
















5

Pantaslah jika persahabatan itu berubah menjadi kecewa dan kebencian yang mendalam. Semuanya terjadi, setelah pak Ato mengetahui bahwa persahabatan mereka hanya berakar dalam diri pak Ato seorang. Bayu ternyata perlahan menutup semuanya itu dengan kedok kemunafikan.
Tiara febriyanti nama wanita yang pernah menjadi istri pak Ato. Wanita yang ternyata juga pernah dicintai oleh Bayu, walaupun perasaan itu hanya disembunyikan tanpa diketahui siapapun. Lambat laun rasa hati itu akhirnya tidak dapat diendapkan lama dalam hati Bayu.
Sedangkan kehidupan rumah tangga yang ditempuh Pak Ato hanya dengan kesederhanaan. Dan tanpa keteguhan Iman “harta memang menjadi Tuhan”, janji sehidup semati yang telah diikrarkan pun pudar. Berkali lipat kekayaan yang dimiliki Bayu, bisa saja dapat membujuk Tiara untuk lebih mencintainya. Dan mungkin itu yang jadi penyebabnya.
Semuanya itu tidak pernah diperkirakan oleh Pak Ato, sampai akhirya Tiara mengutarakan niatnya untuk bercerai. Disaat itu rahasia masih tertutup rapat, bahkan Bayu tetap menjadi tempat pak Ato mencurahkan segala kesedihanya, tanpa menduga sang sahabatlah yang menjadi sebabnya.
Kepedihan tersamar tambah ditorehkan kepada sang sobat ketika Bayu malah memanfaatkan keputusasaan pak Ato dengan menjerumuskanya kedalam dunia kelam narkoba.
(Sebuah makna juga dapat terpetik disini, “pembenaran akan cinta yang memang buta, sehingga arti persahabatan pun dapat menjadi puing yang tak berarti”).
“Kalimat-kalimat dia masih terekam jelas di ingatan bapak”. Ujar pak Ato.
“Sudahlah To, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Nih, gue punya sesuatu yang bisa buat elo lupain semua masalah. Cuma sekali pakai, besok elo sudah kembali jadi Ato yang gue kenal.”
(Ternyata Bayu lah yang secara beruntun menghancurkan hidup sobatnya, sampai akhirnya terkuak semua yang tersembunyi,”Bayu adalah seorang bandar narkoba”. Dan yang lebih memilukan, dalam sayup kehidupan yang sudah tak terarah, akhirnya Pak Ato dengan sendirnya tahu kalau mantan istrinya telah menikah dengan sobatnya itu).

Begitulah kisah pilu masa lampau pak Ato yang pernah terjadi, tapi kurasa semuanya belum berakhir, apa hubungan semua kisah ini dengan seorang lelaki bernama Liyas?. Kisah mana yang bertaut dengan kehidupan Nia?.
“Bayu…manusia biadap itu! Ternyata dia adalah ayah dari Liyas mayusra”. Pak Ato kembali melanjutkan ceritanya . (masih dengan emosi yang meluap-luap).
“jadi!”. Aku seperti menemukan kesimpulan dari kalimat yang baru diucapkan pak Ato.
“iya, Liyas pastinya juga anak dari wanita yang pernah kunikahi itu”. Cepat pak Ato menyanggah seakan tahu maksud pembicaraanku.
(Bertambah lagi kerumitan kisah ini. Dan masih menyimpan tanya yang lain tentang gadis itu… Nia).















6

(Sudah lewat beberapa pekan setelah Pa’Ato menceritakan semua kisah itu,…).
Pertemuan yang terjadi berbalur kisah-kisah pilu yang diceritakan kepadaku. Aku pun perlahan menyelami sosok pak Ato dan kehidupanya. Lambat laun bukan lagi sekedar keingintahuan dengan berbagai tanya.
(Kami dipertemukan melalui iringan ketidaksengajaan waktu, melewati alur yang mengantarkan aku untuk mengetahui sebuah kisah kehidupan, meski belum seluruhnya kisah itu terungkap. Mungkin pula sudah digariskan, jika dari awal pertemuan kami, dimulai dengan berbagai tanya yang tersembunyi, yang untuk menjawab semua itu, ternyata harus memutar waktu hingga terperosok jauh ke massa yang telah lampau).
(Toko bunga “Kembang Setaman” tempat yang mempertemukan kami. Iringan waktu yang terus berlalu tidak dapat mensirnakan ingatan, saat pertama kali kesempurnaan itu terbias di mataku. Tanpa kusadari, kecantikan raganya menimbulkan rasa di hati, rasa yang membuat aku mengerti hidup, karena sebelumnya aku hanyalah manusia yang mati rasa).
Tidak ada kehidupan tanpa ‘pengorbanan dan kasih’, dan kedua kata itulah yang membuat keegoisan menjadi kalah. Keegoisan dapat membuat kita mencampakkan kodrat sebagai mahkluk sosial, meski kita tahu bahwa bukanlah hidup jika kita hanya sendiri.

”Kenapa gadis itu harus dibimbing waktu hendak masuk ke dalam toko ?, pertanyaan itu membuat aku kembali mereka ulang kejadian yang baru terlewat tadi, sedikit membuat aku berusaha mengingat-ingat kalau sepertinya gadis itu tidak benar-benar memandang ku ketika berbicara dan saat menyerahkan beberapa kuntum anggrek yang kupungut, meskipun masih ada ucapan terima kasih dan sedikit senyuman manis yang ditujukan terhadap ku “.
(Itulah kalimat-kalimat yang pernah menjadi pertanyaan namun kuacuhkan ketika perjumpaan awal ku dengan dirinya).

“Saat pertama kali aku tahu tentang semua jawaban itu, beku seluruh aliran darah dalam tubuhku!. Aku terperangah”.
(Ternyata jawabanya adalah bukan karena dia malu ataupun merasa bersalah telah memecahkan vas bunga. Bukan juga karena waktu itu aku berani melirik dia...”bukan !”, tapi karena dia…)
“Gadis buta !”….



7

Detak waktu tetap berdegup sebagaimana mestinya. Dan bagaimana dengan keadaan diriku yang sekarang” ?.
(Hingga detik ini, masih sedikit orang yang mengisi lingkup pergaulan dan keseharianku, tapi aku tetap tak pernah peduli akan penilaian, semua kubiarkan berjalan apa adanya. Aku tak lagi terlalu egois menemukan makna diri, aku hayati saja peranku yang sekarang)…

Nia sudah menjadi temanku…
Entah dari mana titik awal sebenarnya kedekatan kami ini, yang jelas aku hanya berusaha menunjukkan rasa simpatik ku dengan mengikuti aluran waktu yang bergulir. Aku sudah cukup tahu tentang dirinya dari semua kisah yang diceritakan PakAto, keseringan ku berkunjung ke toko bunga “Kembang Setaman” perlahan membuat aku memberanikan diri untuk mengenalnya lebih dekat.

Berawal dari kejadian ini….
Siang itu, selepas pulang kuliah aku menyempatkan diri untuk mampir sebentar ke toko bunga ‘Kembang Setaman’, seperti biasa Pak Ato tetap menyambutku dengan ramah. Kami pun berbincang-bincang selumrahnya hari-hari kemarin.
(Tapi, di sela perbincangan kami itu, terdengar suara langkah pelan yang semakin mendekat. Aku belum tahu siapakah gerangan, hingga akhirnya aku melihatnya. Dia semakin mendekat, berjalan dengan langkah perlahan. Meskipun begitu, jika orang awam yang melihatnya, tentulah tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya dia…).
“mungkin karena seluk-beluk toko ini bukanlah sesuatu yang baru di ingatanya”
“Pa, beberapa hari kemarin, Nia sering mendengar papa ngobrol sama orang yang suaranya seperti pernah Nia dengar. Siapa pa?”
(…pertanyaan itu keluar sendiri dari bibir tipisnya yang merah, samar ingatanku akan suaranya, karena hanya sekali terdengar disaat perjumpaan kami yang pertama. Tapi ku sadar, suara itu pernah mampir di pendengaranku. Lembut suaranya mengucap kalimat yang teruntai perlahan )
“oh iya, papa’belum ngenalin ke kamu. Dik Gibran, kenalkan, gadis cantik ini keponakan semata wayang bapak, Nia”.
(Terpaku aku sejenak. Seandainya nalarku ku dapat menerawang melebihi kemampuan normal manusia, tentulah aku dapat tahu kalau saat inilah awalnya”).
“eh iya, saya Gibran, yang menjadi teman ngobrolnya Pak Ato selama ini, kita juga pernah ketemu beberapa bulan yang lalu, waktu kamu enggak sengaja memecahkan vas bunga di depan toko ini ”. Lanjut ku lagi...
(Adakah dua orang di depanku ini tahu bahwa lidah ku kelu ketika berbicara, tidak dapat kutahan campur aduknya perasaan di hati).
“oh, mas yang waktu itu ya? pantasan suaranya seperti pernah didengar, meski waktu itu kita hanya bertemu sebentar. Wah, jadi malu kalau ingat kejadian itu”. Masih tetap lembut kata-katanya teralun ramah.
(Pak Ato membimbing Nia duduk di kursi yang berada disebelahnya. Selanjutnya dalam ruangan ini tidak hanya terjadi perbincangan antara dua sosok, aku dan pak Ato, tetapi juga mengalir obrolan lepas bersamanya).
Aku tahu, apa yang terjadi hari ini memang harus dialami. Waktu jualah yang berperan, hingga akhirnya tiba saat seperti ini. Mungkinkah ada diantara kami yang mengetahui tentang “alam bawah sadar”?.
Bahwa pertemuan ini sebenarnya telah tersimpan dalam memori masa depan yang telah digariskan, kisah yang merupakan tahap perubahan hidupku. Bermula dari perasaanku terhadap dia. Atau ada yang menyadari, bahwa dengan sendirinya kami harus melewati torehan takdir ini.
(Sebenarnya, segala keterbatasan yang ada pada diri setiap manusia membuat mereka tidak bisa menetapkan secara pasti kehidupan apa yang akan diarungi esok nanti, hanya bisa mengalir sesuai dengan takdirNya. Layaknya Nia yang sama sekali tidak menyadari bahwa perkenalan ini yang menjadi tonggak perubahan hidup ku).
Seandainya dia tahu, “dirinyalah yang menjadi inti dari alur kisah ini”.
(Dan dalam perbincangan istimewa di hari itu, akhirnya ku dapatkan sebuah jawaban, yang dalam tanya ku sekalipun tidak pernah terlintas. Bukan pula dari cerita-cerita yang mengalir. Tapi dengan menyaksikan sendiri segala kondisi yang ada pada dirinya).
Nia adalah seorang ‘gadis buta’.

Lantas, apakah aku akan bersikap “egois”, setelah aku tahu semua itu?. Karena sebelumnya, telah ku ujarkan pandangan bahwa “keegoisan”merupakan kodrat yang telah melekat pada diri setiap manusia. Lantas “Disebut egoiskah”?, jika seorang manusia menginginkan yang terbaik buat hidupnya ?
(Perasaan itu memang tercipta semenjak awal perjumpaanku dengannya, aku memang lebih mengutamakan penglihatan sebagai tolak ukurnya. Sempurna parasnya yang mampu meluluhkan hatiku hingga tak kuasa menahan gejolak rasa. “Tapi bukankah semua itu hanyalah penilaian akan raga luar nya saja, “sebelum aku tahu bahwa dia adalah seorang gadis buta”…)
Pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, sudah bulat tekadku untuk meninggalkan masa lalu sebagai manusia “sendiri”. Mungkin karena kekuatan niat itu yang mengantarkan aku ke tahap kehidupan yang merubah segalanya.
Perubahan yang diawali dengan perkenalan dengan Pak Ato, kisah-kisah hidup yang diceritakanya menyadarkan aku bahwa “aku tidak sendiri”, dan perlahan mensirnakan “Keegoisan”ku yang terlalu.
(Maka, apa yang menjadi pilihanku sekarang ?).
Setiap manusia memang menginginkan yang terbaik buat hidupnya, dan keinginan itu merupakan pilihan yang didasarkan pada tingkatan hakiki moral mereka. “Oleh karena itu, aku berhak menentukan pilihan ku sendiri dan biarlah waktu yang menilai sikapku”.
“Aku tidak perduli, walaupun dia gadis buta !”.
(“Kemanakah aku yang dulu?”, bukankah adalah suatu kebodohan jika aku tetap memiliki perasaan, setelah tahu dia hanyalah seorang gadis buta?).
Dulu, pemikiranku adalah karya yang berasal dari nalar, tak ada alasan untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nuraniku. Hingga sekarang ”aku tetap seperti itu”, meski perubahan telah terjadi, semuanya tetap dari apa yang kupikir.
Asalkan masih dari nuraniku, biarlah aku disebut “Egois” karena menyimpang dari pemikiran normal manusia lain (seandainya mereka dihadapkan untuk memilih gadis “buta). Daripada “egois” aku berpaling dari perasaan hati hanya karena “takdir” yang memang telah tercipta seperti itu untuk dia.
Perasaan tulus ini disebabkan misteri rumit yang ada di relung hati. Nurani tak dapat disangkal, karena itu aku tetap memilih dia. Atau mungkin aku terlalu berlebihan mendeskripsikan perasaan yang ada, hingga begitu bersemangat memberikan alasan.
Bisa saja penilaianku ini adalah cara terbaik untuk meyakinkan diri, sebagai pembelajaran agar tidak salah dalam mengambil keputusan. Tapi bagaimana jika keputusan ini berpengaruh pada masa depanku nantinya?.
Intinya, aku hanya yakin bisa berpikir bijak, menguraikan berbagai alasan yang mendorong ku untuk meyakini keputusan yang kupilih, meninggalkan sifat ‘egois’ yang memenangkan diri sendiri, maka terserah, bagaimana orang lain memahami sikap ku ini.
Yang terpenting bagiku, telah memberikan jawaban “Mengapa aku memilih Dia?”.

(Atau memang terlalu cepatkah ku utarakan semuanya ?. Seakan sebagai suatu pilihan yang telah pasti. Persuaan yang terjadi kini memang bukan sekedar perkenalan lagi, karena tak perlu lagi berbagai tanya. Akan tetapi masih merupakan sesuatu yang baru terjalin, dan belum diketahui apa yang terjadi nanti. Seharusnya ”Niatku ini masih tersimpan di relung hati, dan biarlah kutunjukkan nanti, setelah jawaban yang ditunggu pasti adanya.
Pertanyaan-pertanyaan membingungkan ini terus saja bergelayut dalam pikiranku..

















8

Keseharianku di kota ini masih bergulir seperti biasanya, menetap di sebuah kontrakan sederhana dan lingkungan yang semakin kusukai, seiring dengan kegiatan perkuliahan yang menjadi lebih sibuk dengan kenaikan semester.
Begitu juga dengan kebiasaanku yang selalu menyempatkan diri ke toko bunga “Kembang Setaman”, bahkan menjadi lebih sering. Mungkin setelah ku tahu ada seseorang lagi selain Pak Ato yang menjadi tujuan bertandang.
(Kekurangan dan kelebihan adalah sesuatu yang alami tercipta, syukur terhadap karunia merupakan kelumrahan, tapi mengapa sering kekurangan diri malah mengkerdilkan jiwa).
Tidak begitu dengan Nia, “kebutaan indera” tidak menjadikan dia pesimis, hanya keceriaan yang terlihat semenjak aku mulai mengenalnya. Tidak pula membuat dia rendah diri dan menutupi keramahan untuk berkenalan dengan orang baru seperti diriku. Hal itu yang menghilangkan rasa segan, aku tidak perlu lagi menjadi manusia yang kaku untuk memulai perkenalan.
Bahkan sikap dan suasana hati yang ditunjukkanya itu membuat aku lupa kalau dia...
Dengan bergulirnya waktu, kedekatan kami sebagai orang yang baru kenal semakin bertambah. Bahkan perbincangan yang terjalin sering diiringi canda.
Entah kenapa dalam jangka waktu yang singkat, aku merasa sebagai manusia yang menyenangkan. Atau mungkin talenta itu memang sudah lama ada, hanya saja kehidupan lampau yang membuatnya terpendam dan menunggu situasi yang tepat untuk kembali.
“Aku tidak tahu”, yang jelas aku senang dengan sikapku yang sekarang

Menyingkat cerita…
Setiap perjumpaan kami dimaknai dengan perbincangan akrab, perlahan kedekatan itu membuat aku setulus mungkin menyempatkan diri untuk menghiburnya di setiap pertemuan.
(Terimakasih Allah, telah kau hadirkan perguliran waktu ini, semoga saja akan terus terjalin).
Aku memang bukan seorang yang baru lagi di toko bunga “Kembang Setaman”. Seringnya bertandang membuat aku mengetahui denah yang membentuk bangunanya, begitu juga keadaan sekitar yang melingkupi.
Diantara toko bunga dan rumah Pak Ato masih terdapat sebuah taman kecil. Tidak jauh berbeda keindahan yang tampak, karena juga dikelilingi aneka bunga dan semerbaknya. Taman ini yang sering menjadi tempat perjumpaan kami, setelah aku tahu waktu keseharianya lebih banyak dihabiskan disini.

Seperti disaat senja itu..
“Apa kabar gadis cantik…?”. ( Kalimat “ganjil” yang menggelikan. “Kenapa tidak”?. Tentunya semua orang yang mengenalku, akan terheran-heran jika tahu kalimat “genit” itu terlontar dari mulutku. Tapi itulah perubahan yang telah terjadi, setidaknya rasa canggung sudah tidak hadir dalam setiap pertemuan kami ).
“eh, mas Gibran, Alhamdulillah keadaan Nia baik-baik saja”. Senyum manis mengiringi jawabanya.
“Sudah dari tadi ya mas?. Nia lagi ngelamun, enggak sadar kalo ada yang datang he..he..” lanjut kalimatnya kemudian .
“enggak ko’, baru aja nyampai. (Sebenarnya aku sudah cukup lama menyempatkan diri melihat dia yang termenung sendiri).
Emang lagi ngelamunin apa? Ngelamunin saya ya?”candaku
“ah, mas Gibran bisa aja” jawabnya sambil tersenyum.
(Seperti itu awal percakapan lumrah yang sering terjadi, apa saja dapat menjadi bahan pembicaraan kami ketika bertemu, masing-masing sepertinya selalu menganggap pertemuan yang terjadi adalah waktu yang tepat untuk menuangkan berbagai kisah. Semakin hari keakraban itu semakin bertambah ).
Hingga Pak Ato pun mulai merasa ada sesuatu yang terjalin antara kami berdua, yang secara diam-diam ataupun tidak sengaja sering diperhatikan olehnya. Kami memang mudah menjadi perhatian, keseharian di dalam toko bunga hanya dihuni oleh beberapa pekerja yang datang dan pergi, selebihnya hanya kami bertiga yang saling memperhatikan layaknya keluarga.
Siang itu, aktifitas jual-beli di dalam toko “Bunga Kembang Setaman” terlihat lengang. Aku baru saja pulang dari kampus, dan seperti biasa datang bertandang, kemudian berpapasan dengan pak Ato yang seperti sudah menunggu kedatanganku, kamipun saling menyapa dan terjadilah perbincangan itu.
“ Gimana kuliahnya dik Gibran ? Tanya Pak Ato.
“Alhamdulilah lancar-lancar saja pak, emang sih sedikit lebih sibuk, soalnya kenaikan semester menambah mata kuliah baru yang harus saya ambil. Tapi, untung saja saya tidak mengulang mata kuliah semester lalu” jawabku santai.
(Pak Ato tersenyum mendengar jawabanku, kemudian melanjutkan pembicaraan ).
“Baguslah kalau begitu, ngomong-ngomong sebenarnya ada yang ingin bapak bicarakan sama dik Gibran, ada waktu kan?” Lanjut Pak Ato .
“Oh iya, emang ada hal penting apa yang ingin dibicarakan pak?. Tanyaku
“Enggak ko’, cuma pingin ngobrol saja” Jawab Pak Ato.
(Kami berdua mencari tempat ngobrol yang terletak di sudut ruangan toko. Suasana yang terasa lebih santai, apalagi diiringi semilir angin yang berhembus pelan dan merembes ke dalam ruangan. Selang beberapa waktu kemudian, yang terjadi adalah keheningan sesaat. Pak Ato memikirkan kalimat pembuka apa yang akan mengawali obrolan kami di siang ini).
“Ehm,…begini dik Gibran, akhir-akhir ini bapak lihat kamu sudah semakin akrab dengan Nia”. ( kalimatnya diiringi senyum ).
“Bapak sangat senang melihatnya, sudah lama enggak tampak keceriaan seperti sekarang ini di wajah Nia. Makanya bapak sangat berterimakasih sama dik Gibran“.
( Sedikit tersanjung setelah aku mengetahui maksud kalimat itu, walaupun awalnya terbersit rasa malu, karena ternyata keakraban kami selama ini juga diperhatikan Pak Ato).
“Ah, biasa saja lah pak, apa bedanya dengan bapak yang udah saya anggap seperti keluarga sendiri. Dan semenjak kenal Nia, kaya’nya dia emang nyambung aja buat diajak ngobrol”.
(Pak Ato masih tetap tersenyum mendengarkan kalimat-kalimatku, bukanlah suatu hal yang baru, karena “senyuman” adalah sesuatu yang sering ditampakkan pada setiap pertemuan kami).
(Tapi akupun sudah hafal betul ekspresi wajahnya ketika berbincang, seperti saat ini, raut mukanya tiba-tiba berubah serius seperti akan mengutarakan kalimat yang cukup penting… ).
“Tapi kalau boleh jujur, sebenarnya bapak melihat sesuatu yang lebih dari perkenalan kalian”
( “Apa maksud kalimatnya ?”… )
“Entah benar atau tidak, tapi perasaan bapak mengatakan dari keakraban kalian itu, sepertinya dik Gibran juga menaruh hati kepada Nia”. Ujar pak Ato yang kembali mencoba santai dengan senyumnya.
(Suasana kembali hening, karena aku langsung terdiam setelah mendengar kalimat terakhir itu. Tahukah Pak Ato bahwa kalimat itu membuat aku terkejut?, membersitkan pertanyaan dalam hati “apakah sangat terlihat seperti itu sikap ku selama ini ?”).
“Ha..ha..emang bapak ngeliat kedekatan kami seperti itu ya ?, hanya berteman biasa saja ko’ pak, engga’ sampai sejauh itu”. (Aku gugup dan sedikit terbata-bata ketika berkata, tapi sengaja kututupi dengan ocehan yang kubuat canda. Sekian detik kalimat itu terujar, makna kalimat yang baru terucap adalah sanggahan yang kubuat sendiri. Tapi kenapa ada rasa ragu dalam kalimat itu ?, belum sempat aku coba memikirkan kembali tapi kemudian Pak Ato melanjutkan pembicaraan…).
“ kamu enggak usah segan jika perasaan itu memang benar, enggak ada salahnya ko’, kalian kan memang sudah saling kenal. Bapak juga sudah tau benar dik Gibran orangnya seperti apa, apalagi Nia selalu senang kalau ketemu dik Gibran “.
( sejenak kalimatnya terhenti, kemudian…).
‘‘Tapi, bapak juga enggak perlu menutupi apa yang sudah diketahui. Dik Gibran sudah tahu semua ceritanya, Nia kan hanya seorang,…”
(Perbincangan tiba-tiba terhenti sesaat .“Aku tidak menyangka jika setelah itu ada raut sedih di wajahnya “).
“enggak tahu bapak harus mulai darimana. Sebenarnya bapa sudah dapat menduga akan terjadi seperti ini. Ketika mengenalkan Nia kepada dik Gibran, dari cara adik memandangnya sudah dapat terlihat. Bukankah pandangan tidak bisa menipu ?.
(Aku tetap menyimak semua kalimat yang sedari tadi mengalir, perlahan ku mulai tahu arah pembicaraan, meskipun terputus-putus oleh kalimat pak Ato yang sering terucap tidak sampai selesai. Yang terlihat adalah raut wajah memerah dan matanya yang berkaca-kaca, menahan sedih. Aku mengerti dan turut merasakanya, tapi hanya bisa menanti kalimat selanjutnya).
“Bapak hanya tidak ingin ada kekecewaan diantara kalian berdua. Bapak terlalu menyayangi Nia meskipun dia harus menerima nasip sebagai gadis yang buta. Tidak ingin hatinya tersakiti untuk yang kedua kali. Sedangkan dik Gibran sudah bapak anggap sebagai keluarga sendiri, bapak mengerti dari kisah-kisah kehidupan keluarga bapak yang pernah diceritakan pasti membuat dik Gibran ikut merasakan sedih. Tapi, merupakan kesalahan jika dik Gibran menaruh hati kepada Nia hanya dikarenakan perasaan iba semata. Masih banyak gadis yang lebih sempurna di luar sana yang bisa dijadikan penambat hati buat dik Gibran. Jangan karena kasihan, dik Gibran harus memilih keputusan yang akan mengecewakan dikemudian hari”.
(Kalimat yang cukup panjang, terujar lancar dari mulut Pak Ato. Sedikit tegas cara bicaranya kali ini. Aku pun tetap terdiam untuk memahami kata demi kata dari kalimatnya itu. Tidak pun ingin mencoba menyanggah kalimat yang diutarakan. Mungkin karena aku tidak bisa lagi berpura-pura santai, terasa kaku raut wajahku yang sedikit tertunduk. Tapi isi perasaan ku tidak ikut diam, perlahan suara hatiku mulai berbicara sendiri…).
Aku bahkan belum mengakui secara nyata kebenaran akan perasaan itu. Tidak bisa dipungkiri akhir-akhir ini keakraban antara aku dan Nia memang telah terjalin. Tapi dimana salahnya jika hubungan itu terjalin?.
Bagaimana jika yang terjadi sebenarnya, hanya karena Nia adalah orang yang bisa diajak berbagi kisah. Memang apa salahnya keakraban antara aku dan dia, apakah hanya karena dia seorang gadis buta?.
Bagaimana jika aku malah merasa ada sesuatu dalam kedekatan kami itu?. “Sungguh masih ‘egois’nya aku, jika harus menafikan hubungan yang memang telah terjalin akrab, hanya karena dia memiliki kekurangan diri”.
Lalu kenapa aku terus saja menambah rumit masalah ini dengan berbagai pertanyaan yang mengambang, kesimpulanya “bagaimana sebenarnya perasaanku kepada Nia”?.
Suara hatiku terus saja bergelut untuk menemukan jawaban atas perasaanku. Ini memang masalah yang rumit dan membutuhkan berulang kali jawaban untuk menemukan sebuah kepastian. Ataukah aku hanya bisa pasrah menunggu, membiarkan pikiranku menemukan kejujuran yang nanti harus ku utarakan. Bahwa aku…..
“Baiklah pak, saya akan berkata jujur, bapak memang benar, perasaan itu ada di hati saya. Sudah lama dipendam semenjak pertama kali bertemu dengan Nia. Tapi, emang apa salahnya pak ?”.
“Saya sudah tahu kekurangan yang ada pada Nia, tapi kenapa bapak menyangka saya akan mempermasalahkan hal itu. Toh, saya juga merasa yang sedang kami jalani sekarang masih pertemanan biasa saja”.
(Kalimat ku terucap dengan intonasi sedikit tinggi. Bukan berkurang rasa hormatku, tapi aku hanya ingin Pak Ato merasakan kesungguhan hatiku menyatakan kejujuran ini).
“Bapak bisa mengerti. Tapi, bagaimana jika dikemudian hari perasaan dik Gibran itu benar-benar terjadi ? ( raut wajahnya kembali sedih…).
“Maafkan bapak, bukanya tidak suka dengan kedekatan kalian, tapi sebenarnya apa yang bapak katakan ini adalah yang terbaik buat kalian berdua”.
(Kali ini, aku tidak bisa lagi berkata. Kalimat terakhir yang diucapkan Pak Ato adalah maksud utama yang tersimpan dalam pembicaraan ini. Aku kembali bimbang terhadap jawaban terakhir yang kuutarakan, karena apa yang dikatakan pak Ato seakan menegaskan diriku untuk berpikir, gunakan logika layaknya manusia dewasa).
(Kini, aku hanya bisa termenung, entah sanggahan apa lagi yang bisa kuberikan. Tapi aku malah berpendapat, seharusnya aku membiarkan nurani yang mencari dan menemukan jawabanya, bukan logika yang justru membuat aku terus saja bimbang dengan kenyataan).
( Sejenak kubiarkan helaan nafas kembali teratur, riak perasaan yang tadi meluap berangsur tenang. Setelah merasa siap, aku mulai berbicara lagi).
“Jadi, apa yang harus saya lakukan pak? harus menjauh dari Nia?. Padahal semenjak kenal Nia, hidup saya jadi lebih bahagia. Tiap kali bertemu, saya juga selalu berusaha bisa buat dia tersenyum. Bukankah dengan menjauh, malah bisa membuat masing-masing dari kami merasa kehilangan “.
“Bapak sama sekali tidak melarang dik Gibran untuk bertemu dengan Nia. Bapak juga mengerti, kalau keceriaan Nia ada semenjak kenal dik Gibran. Tapi…
( Sepertinya pak Ato tidak tega mengatakan kalimat selanjutnya…)
“Sekali lagi bapak mohon maaf. Tapi, sebaiknya kedekatan kalian kedepanya lebih sebagai hubungan kakak beradik. Bukankah kita memang sudah seperti keluarga?. Cobalah dik Gibran melihat kenyataan yang ada. Sebagai orang yang berusia lebih tua, bapak mengerti kalau usia muda penuh dengan gejolak. Tapi berpikirlah matang-matang dalam menentukan keputusan, agar tidak menyesal di kemudian hari “.
( Hanya sesaat setelah kalimat terakhir itu, aku beranjak dari tempat duduk dan berniat terlebih dahulu mengakhiri pembicaraan).
“ Baiklah pak kalau begitu, saya sudah mengerti. Sekarang saya mohon pamit dulu, ada tugas kuliah yang harus saya kerjakan…”
(Aku masih menyisakan sedikit senyum ketika berpamitan, walaupun galau perasaan yang sebenarnya enggan untuk berbasa basi. Pak Ato pun sepertinya mengerti, dia membalas senyum ku disertai sedikit kalimat penutup perbincangan kami).
“Oh iya, enggak terasa sudah cukup lama kita ngobrol, terima kasih ya sudah mau meluangkan waktunya…”
(Aku hanya mengangguk pelan kemudian melangkah pergi,…).






9

( Sendiri aku di keremangan ruangan. Seperti biasa, terduduk di kursi panjang itu. Redup cahaya lampu, menyetarakan keadaan di luar rumah yang sama sepi ketika diliputi malam. Dua buah buku tebal tergeletak di lantai, sudah lelah kubaca sedari sore. Pengertian-pengertian sulit dari ilmu filsafat yang tersirat dalam buku itu, menambah letih pikiran di kepala. Tidak dapat lagi kupaksakan kedua mata untuk terus membaca, perlahan kesunyian suasana menggiring ku melamun jauh, bersama isi hati yang sedang sendu).
Dua pekan terlewati, setelah perbincangan dengan Pak Ato. Aku sudah jarang bertandang ke toko bunga miliknya. Kalaupun singgah, hanya sepintas menegur sapa.
Tidak bisa menyembunyikan perasaanku yang masih segan, atau berpura-pura seperti biasanya. Apalagi aku orang yang tidak pandai berbasa-basi. Situasi yang menjadikanku serba salah, membuat aku kembali pada keseharian yang membosankan.
Mungkin kegiatan perkuliahan dapat membuat aku sedikit beraktifitas, tapi setelah itu, kembali hidup sendiri. Jika sebelumnya, rasa bosan sehari-hari mudah sirna dengan bertandang ke toko bunga ‘’Kembang Setaman’’, sekarang aku seperti tidak mengenal tempat itu. Dan tidak tahu pasti alasanya.
Keputusan dari perbincangan waktu itu telah menimbulkan kegalauan. Hidupku yang mulai tersenyum, kembali berganti murung. Apakah aku memang tercipta, sebagai insan yang tidak pantas mengenal kebahagiaan?.
Sejak pertama bertemu, aku selalu memikirkanya, hingga sosok itu sering bersemayam dalam khayalku, kemudian terbit keinginan untuk mengenal dia. Mungkin kesungguhan niatku didengar uluran waktu, yang mengantarkan pada persuaan nyata. Keadaan yang akhirnya terjalin, hadirkan ceria yang sebelumnya susah kutemui.
Tapi haruskah waktu itu cuma sesaat, dikala aku belum pantas menyebut itu sebagai penemuan. Penemuan akan rasa yang selama ini kunanti, rasa yang dapat mencairkan beku hatiku. “Aku adalah manusia normal yang tidak sanggup lagi menahan derita sepi”.

’’Eh, dik Gibran,ko’ sekarang udah jarang singgah ke toko bapak?.
“ Lagi sibuk kuliah Pak ” Jawabku.
“ Oh gitu, bapak cuma ngerasa ada yang beda aja, biasanya dik Gibran sering jadi teman ngobrol bapak“ Lanjut Pa Ato.
“ Nanti kalau ada waktu lenggang, saya juga pasti kesini Pak” ( Kalimat terakhir ini, diiringi senyum yang kupaksakan. Tidak ingin ku perlihatkan raut kecut di depan Pak Ato, walaupun seperti itu yang pantas mewakili perasaan hatiku saat ini).
“Kalau begitu, saya berangkat ke kampus dulu Pak.”.
“Oh iya, hati-hati ya dik”Jawabnya kemudian
(Percakapan yang terjadi di pagi hari, saat aku hendak berangkat menuju kampus dan tak sengaja berpapasan dengan pak Ato di muka tokonya. Melewati tokonya adalah satu-satunya jalan yang bisa kutempuh untuk menuju kampus).
(Dari kalimatnya, sepertinya Pak Ato sudah merasa ada kejanggalan dengan sikapku akhir-akhir ini, dan dia pasti tahu apa penyebabnya. Walaupun masing-masing dari kami menyikapi seperti biasa, seakan tidak terjadi apa-apa).
Aku sendiri sebenarnya merasa tidak enak hati dengan tingkah laku beberapa pekan ini. Toko bunga “Kembang Setaman” yang sering menjadi tempat persinggahan dan berbincang-bincang, kini hanya kulalui sepintas ketika berangkat dan pulang dari kampus. Entah kenapa, aku seakan menghindar dari tempat itu.
(Tapi, mungkin sikap seperti itu yang diharapkan oleh Pak Ato, bukankah dengan begitu bisa mengurangi kedekatan ku dengan Nia. Sikap ini, kupilih berdasarkan perenungan malam itu, saat berada di kontrakan. Tapi belum kuceritakan, berurai air mata untuk meyakini keputusan itu).
(Masalah benar atau tidaknya keputusan ini, masih menyiratkan kebimbangan. Mungkin saja di kala perbincangan waktu itu, aku sedang terbawa perasaan, hingga tidak memandang permasalahan dari berbagai sisi. Haruskah aku menghindar dari Pak Ato, hanya karena dia merasa berbuat yang terbaik. Sedangkan selama ini, tulus dia menganggap ku seperti keluarganya).
(Membuat aku kembali merenung dalam mencari sebuah kepastian, apakah benar perasaanku pada Nia adalah…..cinta….?).
(Tidak kuingkari, bahwa pernah melewati tahap dimana ingatan akan sosok dia telah mencapai stadium yang membuat aku sangat ingin mengenalnya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan dia, selalu membuat isi dadaku berdegup kencang. Tapi tidak ada salahnya jika aku hanya ingin memastikanya lagi).
Bukan ‘cinta’ jika hanya dipengaruhi perasaan sesaat, oleh karena itu tidak pantas tergesa-gesa menyatakanya. Terpesona oleh paras adalah hal lumrah yang bisa sirna,jika tanpa disertai ‘cinta’.
Hanya jika kekurangan dapat diterima seutuhnya,maka rasa itu akan abadi. Itulah yang dinamakan “cinta”…
”Apakah aku sungguh-sungguh dapat menerima kekurangan yang ada pada diri Nia,…”?.
Manusia bimbang ini, untuk kesekian kali menaut kesimpulan hati. Dan yang kuputuskan sekarang adalah, “biarlah semua mengalir adanya dan kembali seperti sedia kala”. Sungguh salah jika aku mengacuhkan Pak Ato yang telah berbaik hati padaku.
Hal itu hanya akan berujung pada aku yang akan kembali menjadi manusia sepi. Dan seharusnya, tidak ada yang pantas disalahkan, selain perasaan ku yang tak jelas arah.
(Mungkin karena diriku ini terlalu lama menderita sepi, hingga begitu menggebu mencari cinta. Kerasionalanku dalam berpikir hilang. Jika dunia ini luas, tentu masih banyak wanita lain untuk diriku di luar sana. Biarkanlah waktu yang mengantarkan aku untuk kembali mencari dan menemukanya).
Nia tetap menjadi wanita yang pantas kukagumi, karena keanggunan paras dan sikapnya. Sampai saat kisah ini, dia tetap menjadi penyemangat hidupku. Wanita yang pertama kali membuat aku merasa sebagai manusia menyenangkan. Tapi, aku memang tidak boleh memiliki perasaan yang berlebih, karena untuk yakin akan rasa itu saja, diriku masih diliput kebimbangan.
(Dalam dunia logika, keadaan kami sangat berbeda dan akan banyak tentangan jika berani melawan kenormalan itu. Bukankah aku dan dia hidup di dunia nyata?, tidak dalam mimpi yang kuturut sesuka hati bersama imajinasi khayalku sendiri. Hanya dalam bualan romantis semua kisah ini dapat berarti. Aku harus berhenti bermimpi untuk menjadi seorang pahlawan cinta “Mencintai seorang gadis tuna netra, dan bersedia hidup semati bersamanya”).

(Menjumpainya di taman, tempat biasanya kami berbincang)
“Assalamualaikum”. Sapa ku
(Hening sejenak)
“Walaikumsallam”, Mas Gibran yach…?. (Tergurat senyum riang diwajahnya, ketika menyadari kehadiranku. Seperti seseorang yang sudah sangat lama menanti perjumpaan ini).
“Uuhh, kemana aja?”. (Suaranya terdengar manja, bersamaan gerakan tubuhnya untuk beranjak dari tempat duduk).
“Udah berapa minggu ini Nia selalu bertanya-tanya, mas Gibran ko’ engga’ pernah lagi datang ?” (tatapan matanya menerka-nerka pandangan yang tepat kearah ku).
“Sorry-sorry, lagi banyak tugas kuliah neh. Nah, sekarang aku udah datang buat ketemu nona Nia yang cantik. He..he..”(Seperti biasa, ternyata aku belum kehilangan gaya bicara dan candaan yang sering terlontar kalau bertemu denganya).
“Ah, Gombal, he..he…apa kabar mas?. Gimana, ada cerita seru apa nih?. Udah lama enggak ngedengarin suara mas Gibran ” .
“Baik-baik aja non, cerita seru? Eh iya, kemarin ada nenek-nenek berantem di mall, gara-gara ngerebutin brondong, he..he….” Candaku
“Wah, nenek-nenek gaul dong..ha..ha….”
(Berdua kami tertawa bebas, menggambarkan begitu lepas keceriaan yang tampak dikala itu.)
Suasana dan keceriaan seperti ini yang sebenarnya membuat aku selalu ingin bertemu denganya. Dalam setiap pertemuan, selalu diiringi perbincangan hangat dan senyum canda.
Hanya bersama dia, aku bisa tertawa lepas dan menyirnakan sementara penat dalam keseharian. Seorang lelaki seperti diriku, memang susah memungkiri bahwa cukup dengan keanggunan seseorang gadis, dapat menimbulkan cita tersendiri yang meredakan semua masalah di hati.
Apalagi diriku adalah manusia yang sangat jarang memberikan kesan yang berarti bagi orang lain. Jika dalam setiap pertemuan, aku dapat mengguratkan senyum bahagia di wajahnya, bukankah itu adalah salah satu nilai tambah yang sangat istimewa.
Nia, adalah gadis berparas anggun dengan sisi kepribadian yang dapat membuat aku lupa akan diriku yang terdahulu. Akan tetapi, keceriaan dan perubahan itu tetaplah menyiratkan sesuatu layaknya hubungan kakak beradik. Karena aku harus berusaha menganggap itu adalah hal yang biasa saja, tidak lebih.
Meskipun sebelumnya, setiap pertemuan denganya sering dibayangi oleh berbagai pikiran sendiri. Kini aku harus sadar, hal itu dapat tumbuh menjadi asa dalam mimpi yang mengharap nyata suatu saat nanti. Namun hal itu sangat tidak mungkin dan aku harus yakin akan kesalahan itu .
Begitulah alur yang harus kujalani, jika ingin meyakinkan orang-orang dekat diseitar kami, seperti pak Ato.
“Meskipun sudah jengah terhadap sepi, aku tak akan terbuai oleh mimpi bodoh untuk mendambakan seorang gadis buta”.
(Sungguh memilukan sekaligus membingungkan ketika aku mengucapkan kalimat tadi. Kalimat pilu yang berputar-putar diantara kebimbangan hingga menunjukkan kepongahan yang begitu tega. Ini semua karena tak jelas apa isi suara hatiku yang sebenarnya).
(Tapi, memang seperti itulah yang kurasakan. Aku sempat serampangan berpikir tentang “cinta”, dan jika memang di dalamnya ada “keajaiban”, sanggupkah itu tercipta dalam kehidupanku yang rumit sekarang ini, kehidupan yang harus tunduk dan terkukung oleh aturan dunia logika. Ataukah kebimbangan ini adalah bagian dari keajaiban yang akan memberikan jawaban benar-benar pasti suatu saat nanti ?).


10

Kini, Pak Ato tak perlu lagi ragu akan hubungan yang terjalin antara diriku dengan Nia. Hatinya cukup lega untuk meyakini, bahwa aku tidak lagi memendam perasaan berlebih terhadap Nia, selain hanya sebagai hubungan kakak beradik yang memang telah terlihat seperti itu diantara kami. Aku sendiri, perlahan harus dapat menerima semuanya terjalin seperti itu.
(Entahlah, menurutku memang itu yang dibutuhkan untuk tetap membuat hidup ku ceria. “Rasa peduli dan mempedulikan”. Karena sesungguhnya, manusia hanya bisa menghargai hidup, jika ada manusia disekeliling yang turut menghargai dia).
(Jadi, untuk apa lagi aku susah seperti manusia-manusia lain dalam mencari hasrat yang dinamakan “Cinta”?. Bukankah arti dari cinta itu sendiri adalah perasaan nyaman karena saling memberi kebahagiaan).
(Dengan kehidupan ku yang sekarang, ada segelintir orang yang dapat membuatku selalu tersenyum dan bahagia. Walaupun hanya segelintir, setidaknya dengan orang-orang seperti Nia dan pak Ato, aku merasa telah meraih “cinta” itu. Lalu, apa lagi yang kucari ?).
(Setiap manusia tidak akan bahagia, jika tak pernah berlapang hati dan selalu merasa tidak pernah puas. Aku juga akan seperti itu, jika terus berharap menggapai mimpi dan perasaan hati terhadap Nia, sedangkan jelas sama sekali aku tidak dapat mewujudkanya. Dengan berlapang hati, berarti menanti hal itu jika benar dapat menjadi nyata, cukuplah dengan kepasrahan pada alunan waktu sang takdir).


Waktu itu, di kala sore..
(Aku berdiri sambil memperhatikan mereka berdua, disamping pintu masuk ke dalam toko bunga “Kembang Setaman”, berdekatan dengan tempat duduk pak Ato, Nia berdiri tidak jauh darinya. Aku juga sudah tahu, ada yang ingin diutarakan Nia kepada pamanya).
(Pa’ Ato menyadari kehadiran kami, tetapi masih saja serius membaca nota-nota transaksi pembelian bunga yang terhampar di meja kerjanya. Selang beberapa saat, dia baru menengadahkan kepala, tersenyum kepada kami, dan mulai berbicara).
“Ada apa nehh. Ada yang ingin dibicarakan ya ?. Kata pak Ato
(Nia tersenyum menanggapi kalimat pamanya, sambil mencari arah pandangan mata yang tepat…). Iya nih Pa, Nia mau minta ijin pergi jalan-jalan sama mas Gibran “.
(Pa’ Ato terdiam sejenak, seperti ingin memahami kalimat itu). “Jalan-jalan ?. Emang mau jalan-jalan kemana ?”. Tanya pa’ Ato kemudian
“Dekat ko’ pa, cuma ke taman kota yang di sebarang jalan itu, Nia pingin “Refreshing” aja, bosan di rumah melulu”. Lanjut Nia.
(Pak Ato hanya tersenyum dan memandang ke arahku, seakan ingin mencari suatu kepastian. Akupun hanya bisa mengira-ngira dalam hati, kemudian membalas senyumanya. Meskipun sebenarnya, kala itu aku benar-benar salah tingkah. Bagaimana seandainya pak Ato salah paham terhadap apa yang telah dikatakan Nia. Tetapi, aku tetap berusaha berdiri dengan tenang.)
(Meskipun telah jarang berbincang lama, tetapi dengan sikapku akhir-akhir ini, aku rasa sudah cukup menyakinkan pak Ato, bahwa aku sudah benar-benar paham akan maksud pembicaraanya waktu itu. Dengan sebuah kesimpulan, aku akan menganggap hubungan yang terjalin dengan Nia layaknya seperti kakak dan adik).
“Ya udah, enggak papa kalau perginya memang sama dik Gibran, tapi pulangnya jangan kesorean ya” . Ujar pak Ato bijak. (Diiringi senyum yang tetap mengalun khas dari bibirnya).
“Iya pa, kalau begitu Nia ke kamar dulu, mau siap-siap” . (Nia membalikkan badan ke arahku dan melangkah pelan menuju kamarnya. Aku meraih tangan yang sedang mereka-reka sesuatu di hadapanya, sedikit membantu arahkan langkah kakinya, selanjutnya Nia berjalan sendiri, hafal kemana kakinya harus melangkah).
(Setelah melihat Nia masuk ke kamarnya, pandangan mata ku kembali tertuju ke arah tempat duduk pak Ato. Dia tetap tersenyum melihatku, dan seperti ingin berkata sesuatu).
“Ehm, dik Gibran, ada yang mau bapa’ bicarakan sebentar”.
“Oh iya pak”.Jawabku kemudian
(Langkah ku bergegas menuju ke arahnya).
“Terimakasih ya dik Gibran, selama ini Nia tidak pernah mau kalau bapak ajak jalan-jalan keluar dari rumah ini. Kalaupun dulu sempat, itu juga sudah lama sekali. Sekarang, waktu bapak banyak tersita dengan kegiatan jual-beli di toko. Tidak ada orang yang bisa bapak percayakan untuk mengajak Nia berjalan-jalan, tapi untung saja ada dik Gibran. Terima kasih ya”.
“Mengenai pembicaraan bapak waktu itu, bapak rasa dik Gibran sudah dapat memahaminya. Waduh, enggak tahu bapak harus ngomong apa, sepertinya bapak akan banyak balas budi ke dik Gibran”. Lanjut pa’ Ato lagi. (Dari raut wajahnya, aku dapat tahu bahwa rasa terima kasih itu benar-benar tulus diungkapkan).
( Ungkapannya itu aku dengar dengan seksama, tidak juga aku sangat bangga, walaupun sedikit tersanjung. Yang jelas, sikap ku terhadap Nia memang tulus, tanpa pamrih, karena berasal dari lubuk hatiku).
“Ah, biasa aja lah pak. Kan saya sudah menganggap Nia seperti adik saya sendiri. Selagi saya bisa, akan saya lakukan apapun untuk menyenangkan hati dia”.Jawabku dibarengi senyum.









11

(Bukan hanya kami berdua yang berada di taman ini, banyak muda-mudi yang bercengkrama, berjalan-jalan atau hanya duduk-duduk sambil bercerita dan menikmati suasana. Ada juga yang sedang berkumpul bersama keluarga diiringi canda. Angin yang berhembus pelan di sore itu, menemani keceriaan, ada celoteh keriangan anak-anak yang sedang bermain dan berlari kecil di taman).
(Aku berjalan pelan disamping Nia, tangannya memegang tanganku yang membimbing dia. Sambil berjalan, sekali kami berbicang santai, membicarakan apa saja yang membuat hati kami merasa nyaman, ditambah suasana yang memang menyejukkan hati. Setelah cukup lama berjalan, aku melihat bangku panjang yang terletak di bawah pohon rindang).
“Disana ada tempat duduk, gimana kalau kita istirahat dulu sebentar?”.Kata ku.
“Iya deh mas, kaki Nia juga sudah pegel nehh…”. Ujar Nia
(Dengan langkah perlahan, aku membimbing Nia menuju ke tempat duduk itu. Waktu yang berlanjut kemudian, dilewati dengan berbagai obrolan lepas antara kami berdua).
Terima kasih Tuhan, telah kau berikan sore yang begitu indah di hari ini. Sekarang ini aku sedang duduk disebelahnya, mengobrol santai tentang apa saja yang membuat kami bertambah akrab dan dekat, layaknya sepasang keluarga atau sahabat tentunya.
Tapi disela obrolan kami, tiba-tiba terbit pertanyaan dalam pikiranku. Sebenarnya sudah lama aku ingin menanyakan tentang hal ini. Karena belum pernah aku diberitahu, meski sudah diceritakan oleh pak Ato tentang kehidupanya yang termasuk juga tentang Nia. Maka disaat obrolan kami sedang terhenti, aku memberanikan diri untuk bertanya.
“Nia, boleh enggak kalo mas bertanya tentang masalah yang mungkin agak pribadi buat Nia?”.
“Masalah tentang apa mas ?.(Sepertinya Nia bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang akan kutanyakan).
“Kalo emang bisa menjawabnya, pasti Nia akan jawab. (Nia tersenyum).
“Tapi mas takut Nia tersinggung’. Kataku lagi.
“Enggak ko’, lagipula enggak mungkin kan mas Gibran sengaja bertanya untuk menyinggung perasaan Nia ?.”(Masih tetap tersenyum)
“Iya juga seeh.” Jawab ku.
“Ehm, kalau boleh tahu, bagaimana awalnya sampai bisa ini terjadi sama Nia?’. (Aku sangat canggung untuk menanyakan ini. Tapi karena ini juga keingintahuanku yang tulus tanpa bermaksud apa-apa, maka cukup menguatkan niatku untuk bertanya).
“Maksud mas tentang kebutaan yang sekarang Nia alami”.
“Iya, maaf ya. Engga’ usah dijawab kalau emang Nia enggak mau jawab”. (Aku masih tak enak hati).
“Ceritanya panjang mas…”
(Tiba-tiba Nia diam, keadaan menjadi hening)
(Akupun masih menanti kelanjutan dari kalimatnya, tapi biarkan saja, itu juga kalau Nia memang ingin melanjutkan ceritanya kembali).
“Yang jadi sebab utamanya karena kejadian itu, tepatnya empat tahun yang lalu, kedua mata Nia terkena cairan obat tanaman yang jatuh dari atas lemari. Karena kecerobohan Nia yang kurang berhati-hati”.
(Nia masih bisa menceritakan runutan kejadian pilu yang pernah dialaminya itu dengan santai. Meski yang diceritakan hanya sepintas , tapi bukankah ini adalah kejadian yang sangat mempengaruhi kehidupanya. Tapi kenapa sama sekali tidak tampak raut kesedihan di wajahnya, atau mungkin karena kejadian ini sudah terjadi beberapa tahun yang lalu, bisa saja merupakan waktu yang cukup baginya untuk menguatkan ketabahan. Meski menurutku, tetap sangat pahit bagi gadis seperti dia untuk menerima kenyataan sebagai orang buta).
(Jarang ada orang seperti dia, aku saja yang lelaki mungkin tidak sanggup setabah gadis ini. Dan dari perkataan Nia tadi, aku dapat menyimpulan masih ada runutan lain di belakang kejadian itu. Tapi menurutku Nia mungkin sengaja tidak ingin menceritakan semuanya. Ya sudahlah, aku dapat memakluminya. Cukuplah apa yang kuketahui kini).
Setelah itu kami kembali berbincang mengenai pembicaraan yang lain. Seperti sebelumnya, yang kami bicarakan hanya topik obrolan santai, membuat kami berdua bisa tersenyum bersama.
Tapi kemudian disela pembicaraan kami itu, Nia kemudian mengutarakan sesuatu…
“Mas, kalau sekarang Nia yang nanya, boleh enggak?”.
(Aku berpikir sejenak, kira-kira apa yang ingin ditanyakan Nia kepadaku)
‘Oh, tentu saja boleh, ayo Nia mau nanya apa”. (Akupun menjawabnya santai dengan masih sedikit bercanda).
“Selama ini mas Gibran rasanya sudah dekat banget sama Nia, Nia sudah menganggap mas Gibran seperti kakak atau sahabat sendiri. Tapi…”
(Pembicaraanya terhenti…).
“Tapi, kenapa ?” Tanyaku.
“Kenapa, mas Gibran mau dekat dengan Nia yang buta ini?.” Lanjut Nia
(Pertanyaan itu sedikit membuatku terkejut, apakah ini saatnya untuk menjawabnya secara langsung kepada dia. Tapi darimana aku harus memulainya?).
“Kenapa Nia bertanya seperti itu ?. Mas mau dekat dengan Nia tentu saja karena Nia orangnya baik dan enak untuk diajak ngobrol. Itu saja. Sama sekali enggak ada dalam pikiran mas mempermasalahkan tentang apa yang dialami Nia”.
(Kejadian selanjutnya, kami sama-sama diam. Aku asyik memperhatikan keadaan di sekitar taman ini, sedangkan Nia terdiam dengan lamunanya sendiri . Sebelum akhirnya dia berujar kembali..).
“Nia tidak ingin mas Gibran dekat sama Nia karena kasihan aja…..”
(Kalimatnya mengalir tiba-tiba, suaranya terdengar sedikit serak, seperti disertai isakan yang tertahan. Dan aku bertanya-tanya sendiri, apa maksud kalimatnya?).
“Nia sebenarnya udah tahu apa yang dibicakan papa ke mas Gibran waktu itu”.
(Pembicaraan mana yang dimaksudkan oleh Nia. Apakah yang waktu itu, lantas).
“Ya, tanpa sengaja Nia mendengarkan semuanya. Dan menurut Nia apa yang dikatakan papa emang benar. Nia enggak perlu dikasihani, kalau emang karena hal itu yang buat mas Gibran ingin mendekati Nia”. (Nia tetap berbicara dengan santai, tapi aku tahu ada kesedihan dari kalimatnya itu).
“Udah, Nia enggak usah berpikiran begitu, emang selama ini sikap mas Gibran keliatan seperti itu ?. Enggak kan, Mas Gibran udah menganggap Nia juga sebagai adik, sahabat, dan segalanya..he..he..
(Terlihat sekali aku sengaja menyiratkan canda, agar suasana pembicaraan kami yang terasa sedikit kaku dapat kembali mencair).
(Gadis ini tidak tahu bahwa untuk meyakinkan kata hatiku ini, hingga sekarang aku masih bergelut dengan perasaan dan egoku sendiri. Hingga sekarang, dimana aku masih belum kalah dan juga belum menjadi pemenang terhadap kata hatiku sendiri).
Tak terasa hari sudah sore, sudah cukup lama kami berdua di taman ini. Sekarang waktunya untuk pulang, akupun harus mengantarkan Nia kembali ke rumahnya tepat waktu seperti yang telah dijanjikan ke pak Ato.



12

Sore itu ketika jarak menuju toko bunga “Kembang Setaman” tinggal beberapa hitungan langkah, gerak kakiku tertahan oleh apa yang kusaksikan. Dari jarak yang tidak terlalu jauh aku melihat Pak Ato sedang berbicara dengan seorang pemuda.
Perbincangan mereka sepertinya serius, dari kejauhan aku melihat ada emosi yang terlihat dari wajah pak Ato. Mereka juga tidak menyadari bahwa aku sedang memperhatikan. Entah kenapa dari hal itu aku jadi mengurungkan niatku untuk bertemu dengan Nia, tidak jadi bertandang ke toko bunga “Kembang Setaman”.
Apa mungkin karena tidak ingin mengganggu perbincangan serius mereka, sepertinya bukan karena itu juga, entahlah aku sulit menjelaskan kenapa, fellingku saja yang berperan untuk situasi ini. Ahirnya aku pulang…
(Meski sebenarnya terbersit juga tanya dalam hatiku, apa yang sebenarnya mereka perbincangkan).
(Pemuda itulah yang bernama Liyas Mayusra. Lelaki yang sebelumnya penah disebutkan mengenai peranya dalam cerita ini. Siang tadi dia sampai ke negeri ini, setelah empat tahun lamanya tinggal luar negeri. Dia pergi menuntut ilmu dan menyelesaikan pendidikanya untuk meraih gelar dokter).
Kedatanganya yang tak terduga membuat Pak Ato sangat terkejut. Sekian lama mereka tidak bertemu, beberapa saat mereka saling terdiam, tidak ada yang ingin berkata-kata terlebih dahulu.
Liyas sendiri sebenarnya sudah tak dapat memendam kerinduan terhadap tempat ini, dulu dia sering kesini, dan gadis itu tentunya menjadi tujuan kerinduanya yang lebih tak terkira. Gadis yang hingga sekarang masih sangat dicintainya, meski dia sama sekali belum tahu bagaimana keadaanya sekarang. Gadis itu adalah Nia.
Pak Ato juga adalah sosok yang tidak bisa dilupakan, dia adalah satu-satunya orang terdekat Nia yang secara tulus ramah terhadapnya. Tapi mungkin itu dulu.
Karena sekarang, entah bagaimana juga perasaan pak Ato terhadap pertemuan ini, sangat sulit diperkirakan. Adakah dia merasa kerinduan yang sama terhadap orang yang dikenal dan sekian lama tidak berjumpa, atau itu masih berbalut benci dan dendam yang lama dipendam.
Meski seharusnya pak Ato tidak pantas menganggap dia sebagai pihak yang patut disalahkan dalam pristiwa itu, Liyas layaknya Nia hanya menjadi korban masa lalu yang tidak mereka mengerti. Namun, semuanya memang berubah semenjak kejadian itu…..
(Setelah beberapa tahun lamanya, sebenanya kini Liyas telah tahu semuanya. Seperti yang telah diceritakan, tentang pak Ato yang pernah menjadi sobat karib dari lelaki yang juga suami ibunya, juga berbagai pristiwa yang akhirnya menjadi biang permusuhan antara mereka. Dan bagaimana kelanjutan hubungan persahabatan mereka, masih terkesan kabur sampai dengan kisah yang ini).
(Masih ada rahasia tersembunyi lainya. Semuanya disimpan Lias, dia yang lebih banyak mengetahui semua itu. Mungkin saat ini dia akan mengungkapnya).
“Apa kabar pak”. Liyas memulai pembicaraan. Seakan-akan tidak merasa kehadiranya cukup membuat kejutan di ruangan ini.
(Pak Ato yang masih belum dapat menyembunyikan keterkejutanya, masih terdiam dan memandangi wajah pemuda ini. Setelah cukup tenang baru dia dapat berbicara. Tapi bukan menjawab apa yang ditanyakan, melainkan balik bertanya dengan intonasi seakan menyelidiki). ’‘Kapan kamu datang?”.
“Siang tadi, apa kabar pak ?. Liyas kembali mengulang pertanyaanya. (Entah mungkin karena liyas sebenarnya juga gugup untuk memulai pembicaran ini).
“Baik”. Pak Ato hanya menjawab singkat dengan acuh.
(Kemudian pak Ato melanjutkan kalimatnya. Tapi kali ini intonasi suaranya lebih tinggi, seakan tidak senang dengan kedatangan Liyas). “Untuk apa kamu datang kesini lagi”.
(Liyas hanya terdiam kecut mendengarkan kalimat pak Ato, kemudian dia memberanikan diri untuk menjawab). “Saya sudah lama tidak kesini pak. Sudah lama tidak bertemu bapak, dan juga… Nia”
“Saya rasa kamu sudah tahu, bahwa semenjak kejadian itu, saya tidak pernah mengijinkan kamu untuk datang kesini. Itu sudah bertahun-tahun lamanya, bahkan kami sudah berusaha melupakan segala yang berhubungan dengan kamu dan keluargamu. Lantas secara tiba-tiba, sekarang kamu datang, apa maksudnya?, jangan usik kehidupan keluarga kecil saya ini. Sebaiknya sekarang juga kamu pergi”.
(Intonasi kalimat pak Ato semakin tinggi).
(Dengan ekspresi wajah yang tulus mengiba, Liyas melanjutkan bicaranya) “Saya mohon. Beri saya kesempatan untuk bertemu Nia pak. Saya tidak bermaksud apa-apa, dengan pristiwa waktu itu saya tahu hubungan kami tidak akan pernah bapak restui. Tapi saya hanya ingin bertemu untuk meminta maaf kepada Nia. Waktu itu saya pergi tanpa sempat memberi tahu dia, karena memang seperti itu juga yang bapak inginkan. Bapak tidak memberikan ijin pada saya waktu hendak berpamitan, sebelum saya harus berangkat karena menerima beasiswa studi ke luar negeri. Jujur, semenjak hari itu hingga sekarang saya selalu terkurung dalam rasa bersalah. Jadi, tolong ijinkan saya pak”.
(Pak ato terdiam. Mukanya merah seperti ingin meluapkan emosi yang tertahan. Situasi seperti ini yang biasa dipahami oleh Gibran jika mereka sedang bercerita. Pak ato pasti akan meluapkan semua emosinya melalui kalimat-kalimat yang akan diutarakan).
“Jadi!, kamu ingin bertemu Nia?!......”
(Pak Ato menghentikan sebentar kalimatnya, dia menarik nafas dan menenangkan diri, kemudian melanjutkan kalimatnya lagi). ”Tapi kamu harus berjanji satu hal. Jika hari ini saya pertemukan kamu dengan Nia, itu adalah yang terakhir kali. Dan kamu tidak boleh menyapanya, hanya boleh melihat saja. Karena saya tidak ingin menambah pedih luka di hati keponakan saya yang kini sudah berangsur pulih. Kamu juga akan tahu bagaimana dia sekarang setelah melihatnya nanti!”.
(Pak Ato kemudian masuk ke dalam ruangan rumahnya, dia seperti memberi isyarat agar Liyas mengikutinya. Kemudian dia menuju ke halaman itu. Disana ada Nia. Pak Ato berdiri cukup jauh supaya tidak diketehui kehadiranya oleh Nia. Lias berada tepat di belakangnya, berdiri memandang orang yang sama, Nia).
Perasaan kerinduan itu memang sudah lama terpendam, detik ini Liyas sungguh tidak dapat menahan perasaan itu. Air matanya jatuh…
Hal itu diperhatikan oleh pak Ato. Sepertinya dia paham akan perasaan pemuda ini, tapi itu tidak lantas membuat dia tunjukkan sikap yang melunak. Akhirnya pak Ato berkata lagi dengan intonasi suara yang sedikit rendah agar tidak sampai terdengar Nia.…
“ Sudah kamu lihat dia, sekarang kamu ingin tahu satu hal lagi, Nia sekarang sudah tidak dapat melihat”.
“Apa??!!” (Liyas sangat terkejut mendengar berita itu. Matanya semakin berkaca-kaca selain raut wajah yang menyiratkan kekalutan hati, dalam waktu yang cukup lama dia terus saja memadang wajah pak Ato seakan tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya).

Sedangkan di taman itu, Nia duduk dengan tenangnya. Entah apa lagi yang dilamunkanya. Nia juga sama-sekali tidak menyadari bahwa Gibran tak akan datang sore ini. Tahukah dia kalau sekarang pamanya sedang berbincang dengan pemuda yang telah lama jadi tambatan kerinduannya, perasaan hati yang juga berbalut duka perih untuknya.
Kenangan itu menyiratkan tanpa sebab yang jelas mengapa pemuda itu pergi meninggalkanya. Hingga Nia selalu menghabiskan waktunya untuk menangisi kepergian seseorang yang sudah dianggapnya sebagai kekasih sejati.
Hari-hari yang dilalui sendu kelabu. Semenjak pristiwa itu, dia seperti menjadi gadis yang sedang digundah kebingungan, sering melamunkan kepergian kekasihnya, kian pemurung dan kehilangan konsentrasi dalam setiap aktifitas keseharinya.
Suatu hari tanpa sengaja dia menyenggol lemari yang biasa digunakan untuk menaruh obat-obatan kimia tanaman di toko bunga “Kembang Setaman”, botol- botol obat itu jatuh, kedua matanya terkena cairan kimianya, itulah yang menyebabkan kedua matanya tidak bisa melihat lagi.










13

Di sore itu, kondisi toko bunga “Kembang Setaman” lengang dari kegiatan transaksi jual beli, di dalam ruanganya masih terjadi perbincangan seru antara Liyas dan pak Ato.
“Sekarang apa lagi yang kamu tunggu, bukankah kamu sudah melihat Nia. Sekarang kamu sudah tahukan bagaimana keadaan dia. Saya rasa kamu sudah boleh pergi, dan ingat! ini untuk yang terakhir kalinya kamu ke sini’. (Berulang kembali kalimat berintonasi tinggi yang diarahkan pak Ato terhadap Liyas).
“Baiklah pak, tapi sebelumnya ijinkan saya untuk mengatakan sesuatu pada bapak. Ini adalah janji saya terhadap almarhum Ibu…..” (Liyas mengucapkan kalimat itu dengan mata yang tiba-tiba kembali berkaca-kaca. Sepertinya banyak kesedihan dialaminya hari ini, tak pelak itu merupakan endapan kejadian yang terjadi dalam kehidupan di waktu sebelumnya).
“Apa!! jadi Ibumu”(Pak Ato tercengang mendengar kabar itu, lebih terkejut dibandingkan mengetahui kedatangan Liyas sore ini. Biar bagaimanapun perempuan itu pernah menjadi orang yang sangat dicintainya, atau bahkan sekarang rasa itu masih ada. Betapa dalam rasa cinta sejati, sulit untuk dilupakan meski kita telah tersakiti, karena memang itulah sebenarnya pengertian murni dari cinta)
(Kemudian hanya sendu yang tiba-tiba terlihat dari raut wajah pak Ato. Dia tak kuasa menahan air mata. Pandanganya jauh seperti mengenang kembali semua kisah yang pernah terjadi bersamanya, termasuk kejadian pahit yang mengakhiri semuanya. Liyas pun turut sedih melihat sosok di depanya ini. Dia tahu bahwa pak Ato sebenarnya juga sangat mencintai Ibunya).
“Iya pak, Ibu pergi dikarenakan penyakit yang lebih dikarenakan siksanan batin yang lama dipendamnya. Semasa hidup, dia meninggalkan orang yang sangat dicintainya, untuk dipaksa masuk ke dalam kehidupan pahit bersama lelaki lain yang sangat dia benci, kemudian hidup sendiri membanting tulang demi membesarkanku. Puncak kesedihanya pada saat kejadian itu, disaat Ibu tahu aku menjalin hubungan dengan Nia, keponakan dari mantan suami yang sampai akhir hayat tetap dicintainya”.
(Dengan raut wajah yang masih sedih, kalimat terakhir Liyas tadi membut pak Ato semakin terpaku untuk terus mendengarkan apa yang dikatakanya. Tidak ada lagi kesan kemarahan yang sedari tadi ditujukanya kepada liyas. Karena biar bagaimanapun tabiat aslinya bukanlah seorang pembenci).
“Ibu juga menceritakan suatu rahasia yang bertahun-tahun disembunyikanya. Ini bukan hanya tentang kehidupan saya,….(Liyas mengehentikan kata-katanya sejenak)…tapi juga tentang bapak sendiri”
“Apa maksud kalimatmu” Kata pak Ato
“Sebelum meninggal Ibu akhirnya menceritakan sebuah rahasia, tentang saya yang sebenarnya bukan anak dari lelaki itu, dia yang hari ini akan keluar dari penjara dan kembali menghirup udara bebas”.
“Apa!!”
(Ada apalagi ini, terungkap lagi sebuah rahasia dalam kisah ini. Kali ini pak Ato yang yang dibuat tidak mengerti akan kerumitan jalinan cerita yang berhubungan dengan hidupnya sendiri).
“Lantas, siapa ayahmu” Pak Ato melanjutkan kalimatnya, terlihat keingintahuanya yang sebegitu besar.
“Ayahku adalah suami Ibuku sebelumnya….”

















14

(Dalam perbincangan sore itu, ahirnya terungkaplah inti semua rahasia yang ternyata selama ini disimpan rapat oleh Tiara Febriyanti, Ibu dari Liyas Mayusra. Dialah sebenarnya yang mengetahui simpul yang mengikat kisah ini dalam belitan kisruh yang membingungkan).
(Hingga berujung pada kisah lain yang menaut garis nasip pak Ato bersama keponakanya Nia. Ada pula sesosok pemuda yang awalnya tidak tahu apa-apa, namun terdorong oleh perasaan sejatinya hingga terpaksa melebur pula dalam jalinan kisah ini. Meski dia lebih pantas disebut pendengar atau mungkin saja dia yang menceritakan kisah ini pada kalian).

Kedatangan liyas di sore itu adalah saat yang sudah lama dinantikanya, dia masih sangat mencintai seorang gadis yang pernah ditinggalkan karena bukan atas keinginannya, itu bermuasal dari lika-liku kehidupan sebelumnya yang dia sendiri tidak paham. Untuk itu dia datang kembali dengan maksud meluruskan semuanya, setelah betapa tak kuasa menahan rasa bersalah yang selama ini selalu membayangi.
Adapun waktu ini dianggap tepat, setelah dia menunaikan janji suci terhadap sang Ibu, wanita tangguh yang telah membesarkanya seorang diri tanpa kehadiran seorang ayah. Janji untuk menyelesaikan pendidikanya di bidang kedokteran.
Wanita yang dia panggil Ibu itu juga tidak dapat menolak datangnya waktu untuk dipanggil olehNya, terjadi disaat anak tercintanya sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir dalam dunia pendidikan yang sedang dijalani. Wanita itu tidak sempat melihat anak kebangganya menepati janji, menjadi seorang sarjana kedokteran.
Anaknya juga tak pernah mengenal ayah secara utuh dalam hidupnya, yang dia tahu hanya lelaki yang telah mendekam dalam penjara semenjak dia masih bayi. Lelaki yang tidak pernah dia lihat rupanya secara langsung, dan di hari ini juga dia bermaksud untuk bertemu denganya, menuntaskan janji lain yang pernah diikrarkan pada Ibu.
Di hari ini lelaki itu dinyatakan bebas secara hukum, setelah berpuluh-puluh tahun lamanya terkurung dalam ruangan pengap berjeruji. Dialah Bayu Arianto, seorang sahabat yang lebih pantas disebut musuh, karena kenyataanya dia punya niat yang tersembunyi, menikam sahabatnya sendiri dari belakang. Pak Ato tentu sangat mengenalnya.
Tentulah hanya Ibu yang tahu ayah dari anaknya sendiri. Walau bagaimanapun rahasia itu pasti akan terungkap, Ibu mana yang tega biarkan anaknya terus terpenjara dalam kebingungan karena tidak mengetahui sang ayah. Tapi Liyas juga tidak pernah membayangkan jika ayahnya yang sebenarnya adalah pak Ato.
(Rahasia yang terungkap setelah liyas menemukan secarik kertas yang tersimpan rapi didalam kotak warisan peninggalan Ibunya. Di kertas itu tertulis semuanya, bahwa lelaki yang berada di penjara itu tidak lebih dari seorang penjahat yang pantas untuk dilaknat. Bersyukur Liyas merasa tidak pernah memanggilnya dengan sebutan ayah).
Ibunya dipaksa untuk meninggalkan suami yang dicintai. Bayu memaksa dia menikah dengannya dibawah ancaman bahwa sang suami akan dibunuh jika dia tidak menuruti. Lagipula saat itu, siapa yang tidak mengenal Bayu, anak dari keluarga kaya raya dan ternama. Bisa dan pernah melakukan apa saja dengan harta mereka.
Karena rasa cinta yang tulus terhadap suaminya yang membuat Tiara Febriyanti akhirnya terpaksa menuruti kemauan Bayu. Meski akhirnya hal itu yang merubah jalan kehidupan dan tujuan masa depan yang selama ini diimpikanya. Suami yang dicintainya justru balik menistanya, dia dianggap tak lebih sebagai perempuan yang rela menjual tubuhnya demi harta.
Kebencian sang suami terhadap dirinya terus tumbuh seakan tak termaafkan, hingga perlahan dia mencoba jadi wanita yang harus tegar untuk menerima semua ini. Meski dia tetaplah seorang wanita, yang akan jatuh terhadap perasaan hati mendalamnya sendiri, wanita kerap terpuruk kalau dia sudah merasa sangat nista.
Tiara merasa tidak guna hal sebenarnya terungkap jika tidak lagi ada kecusian yang pantas diserahkan pada orang yang dicintainya. Akhirnya jadikan dia tabah menerima jalan hidup yang sudah ditentukan.
Bayu, lelaki laknat itu juga akhirnya dipenjara karena kebusukannya yang telah tercium, tapi meski begitu Tiara tetap menyimpan rahasia ini rapat. Disaat itu dia sedang menanti kehadiran seorang buah hati yang telah beberapa bulan dikandunganya, benih cinta yang ada sebelum pristiwa pilu ini terjadi, itu adalah anak dari suaminya yang sebenarnya. Anak dari pak Ato.



15

Banyak sudah rahasia yang terungkap di hari ini. Sedari sore mereka berbincang dan kini hari telah menjelang malam. Ahirnya banyak kesedihan yang tak terelakkan dari kisah-kisah itu. Pak Ato dan Liyas terpaku dalam endapan perasaan pilu masing-masing, ada yang mendengarkan dan ada yang menceritakan rahasia tentang hidup yang selama ini sudah mereka jalani sendiri. Terungkaplah semua.
Liyas sudah pergi beberapa waktu lalu, berpamitan dengan sedu sedan. Pak Ato kemudian juga tidak lagi bersikap kasar seperti saat kedatangan Liyas sore tadi. Justru ketika Liyas pamit, ditanggapi pa Ato dengan diam seribu bahasa. Tak ada ekspresi apapun. Perasaanya diselubungi kegundahan akan kebingungan hatinya sendiri. Benarkah semua kisah ini….
Meskipun dia akhirnya meminta Liyas untuk jangan pergi, tetap disini dan menemukan kembali bagaimana seharusnya hubungan ini kembali terjalin, jika Liyas memang benar anaknya, hasil dari rasa cinta terhadap seorang wanita yang sampai akhir hayatnya menderita akibat kesalahpahaman mereka.
Wanita itu yang paling menderita dalam kisah ini, dia sanggup berkorban menahan kepedihan perasaan yang menahun demi rasa cintanya sejatinya terhadap orang-orang yang dikasihi. Begitulah wanita dan karena itu mereka diciptakan untuk menjadi seorang Ibu.
Dengan kembali membayangkan Tiara, membuat perasaan hati pak Ato semakin perih.
Tapi Liyas tetap membulatkan tekadnya untuk pergi, meski ini mungkin bukan terakhir kalinya dia disini. Karena masih ada satu janji terhadap Ibunya yang harus ditunaikan di hari ini, yaitu bertemu dengan lelaki itu.
Lantas bagaimana dengan Nia?. Dia belum meminta maaf terhadap gadis itu, tapi apa gunanya? dengan melihat keadaan Nia yang sekarang saja malah semakin membuat dia merasa bersalah, lantas bertemu hanya akan menambah masalah. Meski itu membuat hatinya semakin perih.
(Luluh lantak perasaanya melihat semua kenyataan ini, ada perasaan berdosa karena dia merasa ikut ambil andil terhadap kebutaan yang dialami Nia. Gadis itu tetap dicintainya, meski dengan cara yang lain. Dia akan menghilang, membawa semua perasaan dan kenangan itu, semoga dengan begitu cintanya akan tetap abadi).
Di dalam kontrakan, seperti biasa, saat sore menjelang malam aku sering mengisi waktu dengan membaca buku-buku filsafat yang berjajar rapi di rak buku dalam ruangan ini. Namun hatiku sebenarnya tidak tenang, entah kenapa…
Sore tadi aku tidak jadi bertandang ke toko bunga “Kembang Setaman”, tidak menepati janji untuk bertemu Nia, tapi bukan karena itu yang membuatku tidak tenang kali ini.
Aku juga baru saja menerima telpon dari kedua orang tua yang berada jauh di ujung timur negeri ini, memintaku agar liburan semester depan mau pulang untuk bertemu mereka.
Akupun mengiyakan permintaan mereka. Jika tak berhalangan, dilibur semester depan aku akan pulang bertemu orang tua dan anggota keluargaku yang lain. Terakhir pulang waktu itu aku masih kelas dua SMA, sudah lama sekali, pantaslah sekarang ini aku memendam kerinduan yang dalam terhadap mereka.
Dan disela asyiknya membaca buku, perutku mulai terasa lapar. Biasanya tidak seperti ini, bukankah sekarang belum waktunya untuk makan malam. Tapi apa yang mau dikata jika situasi menghendaki seperti itu. Aku menghentikan bacaan, hendak keluar untuk membeli makan malam di warung langganan yang lokasinya terletak diantara kontrakan dan toko bunga “Kembang Setaman”.
Sesampainya di warung, tanpa banyak basa-basi aku langsung memesan sebungkus porsi makanan. Sambil menunggu penjaga warung membungkus makanan, aku menyaksikan siaran berita televisi di warung itu
Di layar televisi menyiarkan berita tentang pembebasan seorang Napi kasus narkoba yang terjadi sore tadi. Dia dipenjara karena menjadi pelaku utama penyeludupan narkoba terbesar yang pernah ada di negeri ini. Sekitar dua puluh tahun dia dipenjara dan hari ini adalah waktu baginya untuk menghirup udara bebas kembali. Bayu Arianto nama orang itu.
Aku terkejut mendengar nama itu. Sepertinya aku pernah mendengarnya, tapi dimana dan kapan?. Setelah coba mengingat-ngingat kembali akhirnya aku menemukan jawabanya, tapi apakah benar bayu yang dimaksudkan adalah dia. Bayu Arianto yang pernah menjadi sobat karib pak Ato dan juga tertangkap karena kasus narkoba. Apakah dia Bayu Arianto yang pernah diceritakan oleh pak Ato waktu itu?.
Setelah membayar sebungkus porsi makan malam, aku pergi. Tapi bukan kembali ke kontrakan melainkan menuju toko bunga “Kembang Setaman”. Ada yang harus kuberitahukan kepada pak Ato, jika Bayu yang dimaksud oleh penyiar televisi tadi memang Bayu seperti yang kuperkirakan. Mungkin saja pak Ato juga tidak menyaksikan berita televisi hari ini. Selain itu aku juga dapat sekaligus bertemu Nia, meski mungkin hanya sebentar setidaknya menggantikan waktu yang harusnya sore tadi.







16

Tapi aku menyaksikan pemadangan yang mengejutkan setelah hampir sampai di depan toko bunga “Kembang Setaman”. Melihat pak Ato sedang bertengkar hebat dengan seorang lelaki. Tampang dan pakaian yang dikenakan lelaki itu sepertinya sangat tidak terurus, dia seperti baru keluar dari tempat yang sangat terpencil.
Disana juga ada pemuda yang sedang berbincang dengan pak Ato sore tadi. Dia tidak kalah tegangnya menyaksikan pertengkaran pak Ato dengan lelaki itu. Akupun berjalan mendekati mereka secara perlahan, dan sayup-sayup mendengar suara diantara mereka.
“Waktu ini yang sudah lama kunantikan, bertemu dengan kau Ato!, menuntut pembalsan dendamku” Ujar lelaki itu dengan penuh kemarahan. (Tangan kananya tersembunyi di sebalik baju, seperti ingin mengambil sesuatu).
(Kemudian dia menoleh ke pemuda yang berada tidak jauh disampingnya). “Dan kau anak haram!! Jangan kau pikir aku tidak tahu semuanya, kau bukan anakku dan pastinya juga ingin membalas semua perlakukanku terhadap Ibumu. Kau sama nistanya dengan kedua orang tuamu. Ayahmu adalah orang yang berdiri di hadapanku ini dan Ibumu tidak lebih dari seorang pelacur jalanan. Kalau saja dia belum tewas, mestinya dia juga menyaksikan kejadian malam ini.ha..ha….
(Lelaki itu tertawa lepas. Tapi apa maksud perkataanya, aku hanya dapat mencernanya dari jarak dan pandangan yang tersembunyi oleh mereka. Suasana dan gelap malam sedikit menutup kehadiranku disini).
Mendengar ucapan lelaki itu, pak Ato dan pemuda tadi tiba-tiba menjadi marah besar. Melihat gelagat itu, dengan cepat lelaki tadi mengeluarkan benda yang ada disebalik bajunya. Ternyata itu adalah senjata api, dia menodongkan senjata itu ke arah pak Ato yang sudah siap menerjangnya.
Tapi, mungkin dia kalah cepat, pemuda disampingnya segera menendang tangannya yang sedang memegang senjata dan cepat menghujamkan pukulan telak kearah wajah lelaki itu. Dia tersungkur dan senjatanya jatuh tidak jauh darinya.
Pak Ato yang juga sudah melancarkan serangan dengan sigap coba meringkusnya. Setelah melihat kejadian itu akupun berlari kencang kearah mereka. Ternyata lelaki itu masih sanggup bergerak dan dengan tangkas meraih senjatanya kembali, dia menodongkan kembali kearah pak Ato.
Disaat itu aku sudah berlari mendekati mereka, dan mereka sama sekali tidak memperhatikan kehadiranku. Senjata yang sudah siap ditembakkan ke arah pak Ato membuatku dengan reflex melompat dan mendororong tubuh pak Ato.
Door!!!senjata itu meletus. Pak Ato tersungkur ke sebelah kanan. Dadaku terasa perih tak tertahankan, seperti ada besi panas yang menikam hingga ke jantung.
(Tiba-tiba kesadaranku sepertinya perlahan menghilang, tapi sempat menyaksikan sekilas pemuda itu dengan cepat menghajar lelaki tadi secara bertubi-tubi, setelah menghempaskan jauh senjata api miliknya. Kemudian aku tidak tahu apa-apa……….)

“Bangsat!!!Aku juga tidak akan pernah memanggilmu ayah. Rasakan ini…..”(Liyas menghajar Bayu secara bertubi-tubi seperti orang yang sedang kesetanan, itu terjadi setelah senjata api yang diletuskan Bayu telak mengenai dada Gibran).
“Kau benar, inilah janjiku pada Ibuku, aku harus menuntut balas atas apa yang selama ini kau lakukan kedalam kehidupan kami, Ibuku (Liyas memukul wajahnya), Pak Ato (memukul lagi), Aku (sekali lagi), Nia (lagi), dan juga pemuda ini (pukulanya terakhirnya yang paling keras di ulu hati)”.
(Perkelahian yang tak seimbang buat mereka berdua, Bayu hanya menjadi sasaran kemarahan Liyas yang sudah tak kuasa memendam amarah. Itu dilakukan sambil tak kuasa menahan derai air matanya, karena kalut dan mengingat masa-masa sedih yang pernah dilalui dia bersama Ibunya, juga apa yang dialami pa Ato dan Nia)
Disudut lain pak Ato sedang berteriak meminta pertolongan kepada warga kampung, dia tidak sempat melihat Bayu yang dihajar habis-habisan oleh Liyas. Gibran luka terkena tembakan. Di dadanya mengalir darah segar, batas kesadaranya juga sudah mulai hilang, pak Ato hanya mendengar dia mengucapkan sepatah kata yang itu-itu saja “ Nia’.
Bayu telah terbujur berdarah-darah di tanah, pukulan telak Liyas yang telak mengenai ulu hatinya membuat dia tak sadarkan diri. Tak lama berselang, polisi yang dihubungi warga sekitar datang bersamaan dengan dua mobil ambulance.
Bayu dimasukkan ke dalam mobil ambulance ditemani beberapa orang polisi yang akan memeriksanya nanti, berdasarkan kesaksian sementara, dia mungkin akan kembali dinyatakan sebagai tersangka untuk kasus yang berbeda dari sebelumnya, pristiwa yang terjadi malam ini adalah upaya pembunuhan…
Dan entah bagaimana dengan keadaan Gibran.
Gibran ikut ke dalam mobil ambulance yang satunya lagi, turut serta pak Ato dan Liyas yang menemaninya.
Tapi dimana Nia….
(Pak Ato sudah mempunyai prasangka atas kejadian ini semanjak kedatangan Liyas sore tadi, karena itu dia sengaja menelpon istri dari seorang temanya yang cukup dekat untuk mau mengajak Nia bermalam di rumahnya beberapa hari, dengan alasan dia harus pergi ke luar kota untuk mengurus bisnis penjualan bunganya. Jadi segala pristiwa yang terjadi mulai sore tadi sama sekali tidak diketahui oleh Nia, mungkin itu lebih baik tapi bagaimana dengan akhir kisah ini nanti ?.).



17

(Ketika tersadar, sepertinya aku sedang berada dalam ruangan sempit yang sedang melaju kencang, samar-samar penglihatan dari kedua mata yang kubuka perlahan. Wajah-wajah buram itu makin lama dapat kulihat dengan jelas, ada pak Ato, pemuda tadi, dan dua orang mengenakan pakaian serba putih seperti perawat, dan akhirnya aku menyadari keberadaanku yang sekarang ini di dalam mobil ambulance).
(Pak Ato sedang menanangis melihatku, pemuda tadi hanya memandangku dengan penuh iba sambil memegang botol infus. Aku sempat melihat tubuhku yang sudah tidak berbaju, dadaku dililit ferban putih dan ada bercak merah darah banyak sekali).
“Sabar ya dik, kamu pasti akan sembuh” Kata pak Ato.
(Aku tidak tahu ingin menjawab apa karena masih diliputi ketakutan terhadap apa yang sedang kulihat, apa yang baru saja kualami ?, kenapa bisa begitu ngeri aku melihat tubuhku sendiri).
(Tapi ada sesuatu yang aneh kemudian terjadi, pikiran dalam otakku seperti berputar ke masa lalu. Aku mengingat semua kejadian yang kulewati di kota ini. Rasa sakitku hilang. Aku ingat bagaimana pertama kali datang ke kota ini, kontrakanku dan seluruh isinya, Toko bunga “Kembang Setaman”, Pak Ato, taman itu……Nia, dan hal tak jelas lainya).
(Semua hal itu silih berganti, beberapa kali berkelabut dalam ingatanku, kemudian hilang. Selanjutnya aku kembali ke kejadian malam tadi, melihat lelaki yang menembakku….Kemudian gelap, semuanya gelap).
(Tiba-tiba datang seorang wanita di hadapanku, aku mengenal rupanya, dia adalah ibuku. Dia tersenyum tapi tak berkata apa-apa, kemudian hilang. Aku melihat Nia, tapi dia tidak memandangku, seperti sedang dalam kesedihan, dan terus memanggil namaku).
Aku kembali sadar, sekarang masih berada di dalam mobil ambulance ini. Pak Ato dan pemuda tadi sepertinya sedikit senang karena aku telah kembali sadar. Di hadapanku, ada seperangkat alat kedokteran yang dipegang pemuda itu, aku pernah melihat alat ini sebelumnya, meski tak tahu apa namanya.
Sepertinya itu untuk memompa jantung dengan cara ditekankan ke dada, pemuda itu mungkin tahu caranya dan baru saja menggunakanya di tubuhku. Semua hal itu masih bisa kubayangkan dalam pikiran, meski hanya sekelebat dengan pemandangan kabur secara silih berganti.
Tiba-tiba…..
(Apa itu, aku melihat cahaya terang di atas kepalaku. Mahkluk apa ini, terus mendekat dan membentuk wujud seperti manusia, tapi jika benar, seumur hidup aku baru melihat manusia yang seperti ini).
(Sulit untuk dijelaskan, dia tersusun dari cahaya yang menyilaukan, membuat aku sulit untuk melihat rupa yang sesungguhnya. Seharusnya aku terkejut tapi tidak, hanya terpaku dalam suasana yang tidak kupahami, itu terjadi ketika akhirnya aku tahu mahkluk ini juga bisa berbicara. Bukan bahasa yang selama ini biasa kugunakan, tapi kenapa aku dapat memahaminya, kalimat itu ditujukan padaku).
“Sebutkan permintaan terakhirmu pada mereka”. Hanya itu kalimatnya…
Setelah itu, tiba-tiba semuanya kembali kulihat denga jelas. Pak Ato, pemuda itu dan kedua perawat masih berada di depan pandanganku. Mereka sepertinya sudah tahu dan menanti apa yang akan kukatakan.
(Kalimat ini mengalir saja dari tenggorakan, aku mengucapkanya dengan terbata-bata, seperti tertahan oleh napas yang kian sesak).
“Tolong bilang ke orang tua saya, ibu saya…..” (kini aku baru bisa merasakan sakit yang perih di dadaku. Setelah berusaha menahanya, kemudian aku berkata lagi..) “juga sumbangkan dua mata saya ini untuk Nia”…….
Napasku tersengal-sengal, dadaku melonjak kuat beberapa kali turun naik, mereka tak mampu menahanku, aku seperti memberontak terhadap tarikan yang sangat kuat, sebelum akhirnya aku tenang dengan sendirinya.
Berawal dari ujung kuku hingga ke sekujur tubuh, akhirnya seluruh tubuhku membiru dan dingin sekali.
Ini kalimat terakhir yang sempat ku ucapkan…..

“Ashaduallaillahaillallah..
waashaduannamuhhamadarasullah”…..


















18

Lahan yang cukup luas ini kelihatan seperti ladang yang baru saja habis dibabat secara tidak merata. Dataranya ditumbuhi rumput-rumput tipis, tapi masih tersisa belukar, dan tanaman-tanaman liar yang tumbuh tak beraturan.
Dengan datangnya musim panas, kegersangan tambah terlihat, meski ada beberapa pohon besar yang cukup rindang tapi itu tidak banyak. Kerikil-kerikil terhampar pastinya terasa panas jika dipijak bertelanjang kaki.
Keheningan suasana di tempat ini sangat terasa, tapi mungkin lebih pantas disebut tempat yang suram. Semilir angin hembusanya terasa berbeda, sesekali ada suara kicau burung dan sekelompok manusia yang berdatangan, namun tetap saja tempat ini dekat dengan sepi.
Pagi mungkin sama cerah tapi tetap saja ada yang terasa berbeda, siangpun tetap sama mencirikan suasana janggal terlepas dari terik ataupun tidak. Apalagi saat malam tiba, membawa kelam yang menambah suram tempat ini.
Padahal sebenarnya lahan ini berada di tengah-tengah kota dan bersebelahan dengan jalan ramai, sekelilingnya berpagar besi yang yang mudah tampak dari jalan umum tersebut. Namun tetap saja tempat seperti ini sejak dulu menyimpan misterinya sendiri dalam sunyi.
Di sanalah batu-batu nisan bertuliskan nama berderet rapi dengan berbagai ukuran tubuh yang pernah ditimbun di dalamnya. Mereka sudah tidak bernyawa lagi, entah bertahun-tahun atau mungkin masih segar dengan bau tanah yang belum lama. Semua itu bisa diperkirakan dari corak nisan pemiliknya, sudah usang, mulai pecah-pecah, atau masih terlihat baru dengan tinta nama yang masih jelas terbaca.
Siang ini, jumat 17 desember 2010, empat tahun yang lalu di hari dan tanggal yang sama pristiwa itu terjadi. Sepanjang waktu itu juga wanita yang sekarang ini berdiri di depan batu nisan itu rutin mengunjungi setiap minggu dan selalu saja di hari jumat.
Ini sudah seperti kebiasaan untuknya, jika datang dia selalu menyempatkan diri untuk berdoa, membersihkan sepetak tanah yang bernisan ini, atau berbicara tentang apa saja, namun entah dengan siapa dia berbicara.
‘Gibran Sasongko. Jakarta, 3 maret 1986 - 17 desember 2006”. Di sini, empat tahun lalu tubuhnya yang telah tak bernyawa terkubur, ditimbun dan terurai tanah hingga kini mungkin tinggal tersisa tulang. Tapi sosok dia tidak mungkin dilupakan oleh wanita tadi, dan beberapa orang terdekat yang diceritakan dalam kisah ini.
Mungkin kalian tahu siapa wanita yang sekarang ini sedang berdiri di depan batu nisan Gibran, dia adalah Nia. Pristiwa penembakan itu telah merenggut nyawa orang yang kini sangat berarti untuknya.
(Waktu itu Nia belum benar-benar mengenal dia, karena bagaimana rupanya hingga kini hanyalah misteri bagi Nia. Kisah yang pernah terjadi bahkan belum pantas disebut permulaan, dan seandainya pristiwa itu tak terjadi mungkin tidak akan seperti ini perasaan Nia terhadap dia).
(Gibran pernah hadir dalam kehidupan Nia secara tiba-tiba, kemudian perkenalan mereka sebatas kedekatan sewajarnya saja, layaknya saudara ataupun keluarga. Keramahan dan kebaikanya memang menimbulkan rasa simpatik di hati Nia, tapi belum menampakkan apa-apa karena ada suatu keadaan yang harus membuat masing-masing dari mereka menahan rasa).
(Nia telah menyadari keadaanya. Ihklas untuk takkan pernah menerima sebuah rasa jika hanya dikarenakan iba semata, meski sebenarnya penilaian seperti itu tidaklah tepat untuk Gibran, dari awal sampai akhir hayatnya dia tetap menyimpan rasa yang ketulusanya hanya dia yang lebih tahu).
(Hingga akhirnya dengan kejadian itu, Nia baru mengerti arti dari perasaanya yang sejati. Itu bukan cinta, jika diartikan lebih dari sekedar rasa ketertarikan semata. Cinta yang dimiliki manusia kadang masih bermain dengan ego, tidak mau menerima kekurangan pasanganya. Kekuatan cinta terkadang hanya dikarenakan balutan semu fisik).
(Jikalaupun ini dikatakan cinta, adakah cinta yang tidak mengagungkan kiasan klise, keihklasan berkorban demi cinta meski tanpa harus memiliki. Gibran selama hidup tidak pernah tahu arti cinta, tapi justru di penghujung nafasnya dia dapat membuktikan itu melebihi pengertian cinta yang selama ini diyakini banyak orang).
(Itu karena persembahan terakhir yang dia berikan, kematian adalah batas pengorbanan tertinggi yang diberikan manusia selama hidup. Dan disaat ajalnya itu, dia tetap mengingat gadis yang selalu ada di hatinya, dia merelakan jasadnya bersemayam tanpa raga yang lengkap, memberikan kedua matanya untuk Nia, menyiratkan cintanya yang tak lekang oleh waktu).
(Meski rasa sejati itu didapatkan setelah dia pergi, dan dia tak dapat mengecapnya secara nyata, namun karena itulah cintanya dikatakan abadi. Gibran tetap diingat dan didoakan oleh orang yang mencintainya, kisahnya menjadi sejarah tentang cinta sejati yang pernah terjadi.

Jika dulu sering aku bertanya, “kenapa begini kehidupan”?, sekarang telah kutemui tempat berlabuh. Aku pernah terdampar di tanjung kelam, karena tapakku jauh melangkah mencari tanda deburan takdir.
Hidup ku dulu bagaikan buih diantara ombak. Kini kutahu itu sebuah kesalahan, “jiwaku selama ini pongah”. Kemudian hidup yang terus berjalan membuat aku sadar, aku harus berarti dalam kehadiran di bumi yang hanya untuk sekejap.
Dia yang pernah ku mohon untuk merasakan sesuatu yang bisa merubah segalanya. Kisah persuaan yang kuyakini hadir karena perantaraan takdir Ilahi.
Segala sesuatu telah tergurat rapi didalam buku takdirNya. Aku sebagai pemain yang diharuskan memainkan permainan sesuai dengan tata peraturan kekal yang sudah ada, apa daya mengelak dengan segala pembangkangan, jika ‘pulang’ adalah kepastian yang abadi.
Semuanya tergantung bagaimana kita ingin berpindah dari fana ini. Untuk memahami semua itu kembalilah ke anugerah nalar yang tercipta untuk hidup bijak dan tidak dipecundangi diri sendiri.
Mahkluk bernurani memang sudah dikaruniakan berbagai perasaan naluriah. Iba nestapa dan kasih bahagia adalah karunia terindah. Tanpa salah satunya kehidupan hanya akan diam, dipenuhi kehambaran dan kita tidak akan pernah mengerti pemahaman dari semuanya itu.
Keuntungan dari derita adalah agar kau tahu betapa pentingnya berusaha meraih bahagia. Selama masih bernafas maksud dan tujuan kehidupan hanyalah bekal untuk mati, tapi apalah artinya insan bernalar jika kehidupan dan kematian hanyalah sia-sia. Dan aku bersyukur tidak seperti itu, setidaknya kepergianku tidak lantas membuat rasa itu turut sirna untuk orang yang kukasihi.

Nia, kini sebagian ragaku ada padamu terus sampai nanti. Apa kamu tahu…aku tetap dekat denganmu, membawa rasa yang tetap abadi untukmu.

Samakah Iman Kita

MALDALIAS
SAMAKAH IMAN
KITA
Aku menjadi korban dari pemahaman orang yang mengaku seiman, kawan baikku sendiri. Kami meyakini kebenaran suci dari agama yang sama, namun kenapa nyawaku direnggut oleh saudaraku sendiri dengan satu alasan yang katanya ajaran agama. Benarkah itu…

Penerbit
Maldaz Prosa
SAMAKAH IMAN KITA
Oleh Maldalias
Copryght @ 2011 by Maldalias

Penerbit
Maldaz prosa
mxforefer.blogspot.com
mxforefer@hotmail.com

Desain Sampul
Maldalias







Diterbitkan melalui :
www.nulisbuku.com


1

Dikala shubuh aku terlahir ke dunia ini, tepatnya pada hari ketiga dibulan juni, dua puluh lima tahun yang lalu. Dalam cerita ini aku tidak ingin menyebutkan dimana daerah tempat aku dilahirkan, karena rasanya itu tidak perlu, hanya salah satu desa kecil yang ada di negeri ini. Biarlah aku sendiri yang menyimpan kebanggan terhadap tanah kelahiranku.
Dalam keluarga, aku adalah anak satu-satunya. Hingga sekarang ayahku masih seorang petani yang hanya memiliki sepetak sawah sebagai lahan utama untuk menghidupi keluarga. Tapi, dia belum melupakan pekerjaan serabutan yang lain, karena dari dulu dia cukup cekatan untuk melakukan berbagai pekerjaan yang sering dilakukan oleh laki-laki.
Kalau untuk yang satu ini mungkin bukan pekerjaan ayah, lebih pantas dikatakan panggilan hati dan kewajiban yang harus dia tunaikan. Ayah juga seorang ustad yang cukup dihormati di desa.
Sedangkan mengenai Ibu, dia hanya seorang Ibu rumah tangga biasa, pekerjaan yang sering dilakukan adalah membantu ayah di sawah. Namun yang sangat berarti dari sikapnya adalah jiwa penyayang dan penyabarnya terhadap keluarga, dia Ibu yang sekaligus menjadi istri soleha dalam keluarga kami. Aku dan Ayah sangat menyayanginya.
Dari segi ekonomi aku menilai kami adalah keluarga yang sangat sederhana, meski tidak juga dikatakan berkekurangan. Cukuplah sepetak sawah dan beberapa kerjaan serabutan ayah untuk menafkahi kami, keluarga kecilnya.
Rumah kami kerap terlihat sepi, hanya dihuni ayah, Ibu dan aku sebagai satu-satunya anak mereka. Tapi menilik latar belakang ayah dan Ibu, sebenarnya mereka berasal dari keluarga yang besar, aku punya banyak sanak famili yang sama-sama tinggal di desa ini, dan sebagian lagi ada juga yang sudah merantau ke kota. Kami biasanya berkumpul pada saat Idul Fitri atau acara keluarga tertentu.
Dalam hal agama, keluarga kami sangat menjunjung tinggi itu. Sejak berusia muda ayah sudah dikenal sebagai ustad di desa, dan tentunya sebagai Imam keluarga, dia juga disiplin memberikan pendidikan agama kepada kami. Sedari kecil aku sudah diajarkan tentang disiplin dan Islam. Shalat, mengaji, dan berprilaku sebagai seorang muslim. Aku diberi pemahaman tentang kewajban mutlak manusia hidup di dunia ini melalui kebenaran agama yang kuyakini.
Suatu ketika ayah pernah berkata padaku “Belajar agama dari kecil seperti mengukir di atas batu, sedangkan jika di usia tua sama saja seperti mengukir di atas air. Meski sebenarnya tidak pernah ada kata terlambat untuk memahami agama, tapi lebih baik jika dimulai dari usia dini”.
Seperti ini rutinitas yang biasa kulakukan tiap hari, pagi mengantarkan sarapan ayah ke sawah, yang selepas shubuh ayah sudah berada di sana, kemudian baru berangkat ke sekolah. Di sore harinya kembali ke sawah untuk membantu ayah atau melakukan pekerjaan apa saja yang bisa dilakukan di rumah, kadang juga mengisi waktu kosong dengan mengerjakan tugas sekolah dan bermain bersama teman-teman.
Menjelang maghrib aku dan ayah sudah berada di mesjid, shalat dan mengaji, hingga setelah isya baru kami pulang kerumah. Di rumah, Ibu sudah menunggu kami dengan makan malam yang sudah dia sediakan.
Malam hari adalah waktu untuk kami berkumpul, berbincang tentang kejadian apa saja yang seharian ini kami alami. Sebenarnya tetap seperti malam-malam biasanya, tidak ada yang berubah, tapi nilai yang terasa dari saat-saat seperti itu adalah moment kedekatan antara ayah, ibu dan aku yang kian bertambah hari demi hari.
Di sekolah aku bisa dikatakan sebagai siswa yang pandai, jika itu dilihat dari nilai raportku yang selalu mendapat peringkat lima besar. Aku bersekolah di satu-satunya sekolah dasar negeri yang ada di desa. Mungkinkah karena aku anak dari seorang ustad yang dihormati, juga termasuk siswa yang dikatakan pandai, maka guru, teman-teman dan masyarakat desa banyak yang senang padaku?.
Tapi yang jelas, itu bukan menjadikan aku sombong. Aku merasa waktu itu hanyalah seorang anak kecil yang masih lugu, coba menjadi bocah baik sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh kedua orang tuanya.
Setelah melewati beberapa tahun, akhirnya aku menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar, begitu besar niatku untuk dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya. Itu juga menjadi keinginan dari kedua orang tuaku, khususnya mereka mengharapkan aku bisa masuk ke pesantren.
Mungkin saja karena di pesantren biaya pendidikanya lebih murah, atau mungkin mereka tidak mampu membiyayai sekolahku di SMP umum lainya. Tapi rasanya itu sama sekali bukan menjadi alasanya.
Dari dulu ayah berharap agar nanti aku dapat memperdalam ilmu agama di pesantren, selain itu menurutnya sekarang ini pesantren bukan hanya lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama saja, sehingga dengan bersekolah disana artinya aku bisa mendapatkan manfaat yang lebih dibandingkan sekolah umum lainya.
Dengan keinginan sendiri, aku menyetujui pendapat ayah. Bukan berarti aku menurut saja apa katanya, lagipula ayah tipe orang yang demokratis dalam keluarga, bukan orang tua yang suka memaksakan kehendak. Lebih dari semua itu, aku yakin pastilah kedua orang tuaku selalu ingin yang terbaik untuk anaknya.
Di desa kami waktu itu hanya ada dua sekolah dasar, dua sekolah menengah pertama, satu sekolah menengah atas, dan tidak ada pesantren yang termasuk di antaranya. Maka ayah harus pergi ke luar desa untuk mencari pesantren bagiku, menuju kesana harus menempuh perjalanan selama empat jam menggunakan bus umum.
Rasanya tidak perlu juga aku menyebutkan nama pesantrenku. Diantara banyaknya pesantren yang ada di negeri ini, pesantrenku mungkin tidak terlalu dikenal, lokasinya terletak di pelosok, santrinya pun tidak terlalu banyak. Maka biarlah pesantren itu tetap kukenang sendiri sebagai tempat pertama kali aku mencari ilmu agama dan pengalaman hidup.

Cerita yang begulir selanjutnya, adalah aku yang mulai hidup dalam dunia santri. Berteman dengan sesama santri dan secara khusus belajar tentang segala hal yang berhubungan dengan agama Islam.
Mungkin itu bukanlah hal yang baru, karena sejak kecil aku memang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat. Tapi ada yang sedikit berbeda, ilmu agama yang kutemukan di pesantren diajarkan secara lebih mendetail, santri tidak hanya dibimbing oleh satu orang guru, tapi beberapa orang yang paham akan agama.
Tingkat pengetahuan agama ustad-ustad disana bahkan mungkin lebih dari ayahku, pernah ayah bercerita bahwa salah satu guru di pesantren ini adalah guru yang pernah membimbing ayah juga, hanya saja waktu itu ayah tidak sempat mengecap pendidikan di sekolah pesantren, diwaktu muda dia belajar agama hanya secara otodidak dengan mencari guru yang mau secara sukarela membagi pengetahuanya.
Menurutku memang begitu seharusnya ilmu agama disebarkan, itu termasuk dalam metode dakwah yang harusnya tak kenal pamrih dan tandeng aling-aling. Ayahku sama seperti Ibuku, hanya tamatan sekolah dasar saja. InsyaAllah dengan niat dan kesungguhan yang tulus aku dapat menjadi semakin mengerti tentang kebenaran Islam melalui pendidikan di pesantren ini.
Tentunya kita semua tahu bahwa pesantren memang institusi pendidikan yang lebih identik dengan pendidikan agama selain pendidikan formalnya, tapi kehidupan di dalam pesantren tidak terlepas dengan berbagai tingkah laku kami sebagai santri yang turut mewarnai institusi pendidikan ini.
Pesantren tempat sekolahku tidak semewah pesantren lain atau sekolah-sekolah yang juga menyediakan asrama bagi siswanya. Sama halnya jika dibandingkan dengan sekolah umum, sekolah pesantrenku ini terdiri dari tingkatan SMP hingga SMA. Bangunanya tidak seluruhnya terbentuk dari coran semen, sebagian dinding kelas masih terbuat dari anyaman bambu dan beratap rumbia.
Asrama tempat kami menginap juga sekedar menjadi tempat yang aman buat tidur dan berteduh saja, kadang kami terlelap beralaskan tikar jika bosan tidur di atas ranjang bambu. Ruangan kamar kami mungkin bisa dikatakan cukup luas, tapi bisa terlalu sesak karena dihuni oleh sepuluh hingga lima belas santri.
Hanya untuk urusan mandi, cuci atau buang air yang mungkin tidak terlalu dipersoalkan, ada tempat permandian umum yang terletak di belakang asrama, terdapat dua sumur dan dua kakus disana. Jika ingin lebih leluasa lagi melakukan semua aktifitas keseharian itu, lokasi asrama kami juga sangat dekat dengan sungai, hingga disana bisa bebas untuk mencuci, mandi, atau buang hajat, yang tentunya tetap dengan cara yang benar.
Sehari-hari kami terbiasa melakukan segalanya secara bersama-sama, shalat, mengaji, belajar, mengerjakan tugas, tidur, makan, dan hal umum lainya. Untuk makan, kami memiliki ruang khusus yang sekaligus menjadi dapur umum di pesantren ini. Pihak pesantren mengupah tukang masak yang bertugas untuk mengurus segala hal yang berhubungan dengan ketersediaan makanan di pesantren.
Didalam ruangan makan berjejer bangku-bangku dan meja-meja panjang. Pada saat jadwal makan, tiap bangku harus ditempati sesuai dengan orang-orangnya, ada yang ditempati oleh guru atau para ustad, dan yang lainya ditempati santri-santri yang dibedakan dari angkatan masuk ke pesantren ini. Waktu makan hanya akan dimulai sesuai jadwal, dan didahului dengan doa bersama yang tiap harinya dipimpin secara bergantian dan teratur oleh masing-masing santri.
Jadwal makan adalah termasuk saat yang paling ditunggu oleh para santri, ada kebersamaan dalam acara santap bersama ini. Sebenarnya ketika dalam ruangan itu, kami masih terikat oleh peraturan tentang adab makan yang benar, namun sebagai santri muda kamipun masih saja kerap bersenda gurau. Peraturan jadi tidak terlalu diindahkan, karena tidak terlalu digubris juga oleh para ustad atau senior kami, mungkin selagi itu masih dalam batas yang normal.
Jika mengenang kisah waktu di pesantren dulu, aku menjadi sadar bahwa tidak semua orang tua memilki tujuan utama menyekolahkan anaknya di pesantren untuk memperdalam ilmu agama. Kadang pesantren dianggap sebagai tempat penampungan untuk anak mereka yang berulah, atau nakal. Hingga dengan belajar agama mungkin orang tua mereka berpendapat tabiat dari anaknya tersebut dapat berubah.
Dipesantren aku bertemu dengan para santri yang memiliki beragam sikap dan tabiat, tapi biar bagaimanapun jika memang ada kenakalan, diantaranya ada yang masih tetap menjadi kawajaran di usia kami, meski ada juga santri yang sudah keterlaluan. Tabiat asli memang sulit untuk dirubah tapi perlahan-lahan kami dapat mengambil faedah dari tujuan utama menempuh pendidikan di pesantren.
Banyak kisah yang terjadi, menceritakan bagaimana prilaku keseharian kami sebagai anak santri yang keseharianya tidak terlepas dari adab dan tata tertib, aturan mengikat supaya kami bisa disiplin berdasarkan ajaran agama
Di dalam pesantren kami adalah keluarga, makan, tidur bahkan mandi sering beramai-ramai. Kisah suka duka, bagaimana kami saling berbagi di dalam satu asrama, meski terkadang tetap ada silang sengketa kecil untuk masalah-masalah sepele.
Kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan dan akan mendapat sanksi yang sangat keras adalah menjalankan shalat lima waktu, mengaji dan mengkaji ajaran agama berdasarkan bimbingan ustad pesantren kami.
Kedisplinan aturan pesantren kadang juga pernah menjadi kisah konyol yang pernah terjadi, rambut kawan-kawanku pernah digunduli secara sembarangan oleh para senior karena kedapatan merokok. Ada juga santri yang sedikit pelit, menyembunyikan makanan dalam lemari hingga busuk dan dikerubungi semut, kalau sampai ketahuan sudah pasti dia akan jadi bahan pergunjingan.
Unsur senioritas berperan dalam kehidupan selama di asrama, kami harus menuruti apa yang mereka katakan. Beberapa diantara mereka ada yang benar-benar pantas untuk dijadikan panutan, tapi sebagian lagi ada yang menganggap kami hanya junior yang pantas dijadikan kacung dan bulan-bulanan mereka.
Selama di pesantren, para santri tidak hanya dididik menjadi pandai dalam hal ilmu agama atau pengetahuan umum lainya saja, tapi juga harus menjadi manusia yang sehat, karena tanpa itu semuanya rasanya tidak berarti. Kegiatan extrakurikuler yang paling kugemari adalah olahraga silat. Sebenarnya sejak usia tujuh tahun aku sudah mulai berlatih silat, guru silatku adalah ayah sendiri.








2

Pagi ini setelah mandi dan beres-beres kamar asrama, aku bersiap-siap menuju ke kelas. Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, karena jaraknya hanya beberapa langkah dari pintu asrama.
Pelajaran pertama adalah bahasa arab yang dimulai pukul delapan pagi, kemudian dilanjutkan dengan biologi. Setelah itu, waktunya istirahat dan makan siang. Pada saat makan siang nanti, aku harus cepat-cepat menghabiskan makananku, agar masih dapat waktu sebentar untuk membaca novel laskar pelangi yang hampir habis kubaca.
Sudah beberapa hari ini, di kala waktu senggang atau tiap malam selesai shalat isya dan mengaji, sebelum tidur ku sempatkan membaca kisah yang tertulis dalam novel itu, isinya begitu menginspirasi, pantas menjadi bahan bacaan generasi negeri ini.
“Ikhsan, PR bahasa arab udah ente kerjakan?” Tanya fachrul yang berpapasan denganku ketika hendak menuju kelas.
“Udah dong…” Jawabku.
“Baguslah” Ujarnya kemudian, yang selanjutnya kami sama-sama masuk ke dalam ruangan kelas.

Fachrul adalah teman sekelasku, dahulunya di asrama dia sekamar denganku. Tapi karena penghuninya semakin penuh, akhirnya dia minta pindah ke kamar sebelah. Alasanya karena kurang suka dengan kegaduhan. Mungkin dia berbeda denganku, aku sudah terbiasa atau lebih tepatnya terpaksa dengan keadaan yang seperti itu. Satu kamar dihuni oleh sepuluh santri dengan sifat yang berbeda-beda.
Tapi sebagai kawan-kawan sekamarku, sebenarnya mereka memiliki solidaritas yang tinggi, meskipun tidak terlepas dari beberapa sikap konyol dan kebiasaan mereka yang suka membuat gaduh. Di kamar itu, mungkin aku yang lebih sering diam. Tapi segala keadaan itu sama sekali bukanlah gangguan berarti untukku, semuanya tergantung bagaimana cara aku beradaptasi terhadap semua.
Ada satu lagi kawan sekamarku yang berasal dari timur negeri ini, dia cukup dekat denganku, sering menjadi teman cerita dan bertukar pendapat. Safei Nasrullah namanya. Entah kenapa, sepertinya dia sangat menaruh hormat padaku, tapi itu tidak jadikan aku berbangga hati, akulah yang lebih menghormati dia atas sikapnya itu.
Menilik sifat dia berdasarkan penilaian kebanyakan santri lain, safei adalah anak yang nakal dan sering membuat kegaduhan. Tapi berbanding terbalik dengan semua itu, kami berteman baik, dan di dalam kelas aku juga selalu bersaing denganya dalam hal nilai mata pelajaran.

Aku memang paling suka dengan pelajaran bahasa arab, hampir tidak pernah absen terkecuali ada halangan yang berarti. Yang mengajarkan bahasa arab di kelas kami adalah ustad Mustafa, guru yang terkenal paling kalem dan baik terhadap para santri.
Usianya masih muda, hingga kami menganggap dia seperti abang sendiri. Dia juga sering berkumpul bersama kami diluar kegiatan belajar mengajar, kami kerap main bola bersama atau latihan silat. Pak Mustafa sangat mahir untuk beladiri ini, dia pernah menjadi atlet nasional dan juga menjadi guru silat di pesantren kami.
Akupun hampir tidak pernah absen mengikuti jadwal latihan silat, ini bukan sekedar hobby tapi juga hidupku, aku sudah mencintai olahraga ini semenjak kecil. Meski ini hanya kegiatan extra diluar mata pelajaran, tapi hampir seluruh santri di pesantren ini menjadi peminatnya.
Seorang lelaki harus mahir beladiri, bukan hanya sekedar untuk melindungi dari tapi yang terpenting adalah untuk kesehatan. Dan di pesantren kami mendapat satu petuah penting mengenai beladiri. Seorang praktisi beladiri tidak boleh congkak, justru harus semakin tunduk atas kelebihan yang dia miliki, sebab di atas bumi masih ada langit. Beladiri digunakan hanya untuk membela kebenaran, membela sesama dan juga agama.
Selain pak Mustafa kami juga punya banyak guru silat di pesantren, hampir seluruh ustad yang ada juga mahir beladiri. Dan aku terpilih sebagai ketua latihan diantara banyaknya santri yang lain, kriteria yang membuat pantas mendapat tugas itu karena aku sempat beberapa kali mengikuti kejuaraan silat dan meraih beberapa kemenangan pula.

3

Jika dibandingkan dengan sekolah menengah pertama, sekarang ini di pesantren aku sudah duduk di kelas dua. Dalam lingkungan pesantren, meski termasuk santri yang dianggap pendiam, tapi aku cukup dikenal oleh santri-santri dan para ustad.
Setiap enam bulan sekali para santri berprestasi akan mendapatkan penghargaan atas apa yang telah diraih, dan sudah lebih dari sekali aku mendapatkan penghargaan atas prestasi akademik, baru-baru ini aku juga mendapat penghargaan sebagai santri teladan yang dilaksanakan oleh lingkup intern pesantren.
Belum kuceritakan bahwa di pesantren ini sebenarnya juga ada santri perempuanya. Ruang kelas dan asrama sebenarnya terbagi menjadi dua, untuk santri lelaki dan perempuan. Namun dalam hal ini ada peraturan yang mengikat, seperti santri perempuan dan laki-laki tidak boleh bercampur ketika melaksanakan kegiatan belajar mengajar atau extrakulikuler lainya.
Di dalam agamaku, pergaulan laki-laki dan perempuan sangatlah dijaga. Seperti inilah contoh kewajiban yang sebenarnya harus diterapkan, wanita harus berjilbab, menundukkan pendangan bila bertemu, tidak berduaan apalagi bercampur baur. Itu semua demi menjaga tatanan kehidupan sosial muslim agar terjaga kehormatan dan kemuliaan. Meski jujur, sebagai santri di zaman sekarang kami sangat sulit untuk secara total menerapkanya.
Diantara kami sangat jarang sekali bertemu. Kalaupun iya, hanya sesekali, itupun jika seandainya ada kegiatan dari pesantren yang mengharuskan kami untuk saling bertemu, seperti acara halal bihalal hari besar Islam, dan shalat taraweh yang dilaksanakan pada bulan ramadhan. Di pesantren ini kami hanya memiliki satu mesjid besar untuk kegiatan-kegiatan seperti itu.

Malam ini akan diadakan acara Maulid Nabi di dalam lingkup pesantren, aku terpilih sebagai salah satu panitianya. Kami yang bertugas menjadi panitia terdiri santri-santri berbagai angkatan, dan bukan hanya santri laki-laki saja, santri perempuan juga diikut sertakan dalam kepanitiaan.
Seperti biasa, jika ada acara-acara seperti ini, kawan-kawanku pasti mulai beraksi. Seperti katak yang baru keluar dari tempurung, mungkin wajar karena kami jarang melihat santri perempuan di dalam pesantren.
Aku berkenalan dengan seorang santri yang bernama Rukmana. Malam nanti kami berdua sama-sama mendapatkan tugas dalam kepanitiaan yang akan mengurus konsumsi. Jujur naluri laki-laki ku berani melangkahi jiwa santriku untuk memberikan penilaian lebih akan paras gadis ini.
Wajah manisnya tertutup di balik jilbab putihnya. Nada bicaranya pun halus, membuat orang yang berbicara denganya langsung simpatik. Tapi, astagfirullah, ah sudahlah, jangan sampai bayangan tentang keanggunan Rukmana terlalu berlebihan dan menjadi pikiran yang kurang baik. Terlalu membayangkan keanggunan seorang hawa dalam hati seorang lelaki bisa saja timbulkan hasrat yang salah. Naudzubillahiminzalik..jangan sampai.
Aku langsung cepat-cepat menghilangkan pikiran itu, langsung menunduk dan menjaga pandangan. Bukanya aku menundukkan muka ke tanah, hanya mensiasatinya dengan melihat ujung-ujung jilbab Rukmana, karena pembicaraan antara kami memang tetap berlangsung.
“Jadi gimana neh dik, mengenai persiapan konsumsi untuk acara malam nanti”. Tanyaku.
“Konsumsinya sudah siap semua kak, disesuaikan dengan jumlah para santri, ustad atau ustadzah dan warga sekitar yang akan hadir malam nanti. Dan seperti rencana yang tadi sudah kita susun, semua konsumsi akan dimasukkan ke dalam kotak makanan sebelum dibagi-bagikan. Saya juga sudah meminta tolong beberapa kawan dan orang dapur yang bertugas untuk membagi-bagikan kotak makanan itu nanti”. Jawab Rukmana.
Aku hanya mengangguk tanda setuju setelah mendengar kalimat terakhir Rukmana tadi, sepertinya persiapan konsumsi untuk acara Maulid Nabi malam nanti sudah rampung, InsyaAllah akan berjalan sesuai rencana.
Pembicaraan kamipun selesai sampai di situ, dan akhirnya acara Maulid Nabi yang sepintas di malam itupun berakhir.
4

Berawal dari perbincangan itu yang akan menciptakan romansa dalam cerita ini. Ihksan ahirnya kenal dengan seorang santri wanita yang sebenarnya sudah lama mengagumi dia. Sudah beberapa kali acara seperti Mulid Nabi malam itu diadakan, Rukmana dan Ihksan juga beberapa kali menjadi panitia. Tapi baru kali ini mereka bertemu bahkan berada dalam satu kepanitian.
Yang tidak diketahui oleh ihksan bahwa sebenarnya di waktu-waktu sebelumnya itu Rukmana sering menyempatkan pandanganya padanya. Malam tadi bukan baru pertama Rukmana berjumpa dengan Ihksan, dia sudah tahu siapa ihksan, karena dengan segala kelebihanya yang ada, santri mana di pesantren ini yang tidak kenal ihksan.
Entah apa maksud dari semua itu….tapi mungkin dikarenakan ada perasaan yang bermain dalam jiwa santri perempuan itu. Salahkah hal itu bagi ahkwat seperti Rukmana, sedangkan dia sama sekali tidak melecehkan hijabnya. Dia hanya tak bisa mengelak sebagai perempuan yang juga punya perasaan suka.
Dan adakah rasa yang sama tersimpan dalam hati Ihksan, karena dari perjumpaan malam itu sebenarnya dia juga menyiratkan kekaguman pada Rukmana…
Seandainya rasa itu memang terjadi di kemudian hari, mereka harus mengingat satu hal, apalagi sebagai santri mereka harusnya lebih mengerti dan dapat menjadi panutan.
Bahwa menjaga pergaulan dengan lawan jenis memang bukanlah hal yang mudah karena fitrah laki-laki adalah mencintai wanita dan begitulah sebaliknya. Hanya dengan keimanan yang kokoh dan mujahadah sajalah yang membuat mereka dapat istiqomah menjaga batas-batas itu.

Pagi ini sebelum pelajaran pertama dimulai, di dalam kelas cukup gaduh. Kawan-kawan sedang ramai membicarakan acara halal bihalal tadi malam.
“Subhanallah, akhwat yang berkerudung merah malam tadi cakep banget. Sampai enggak bisa tidur aku bayangin wajahnya…ha..ha..”. Kata si Pardi
“Kalau aku yang berkerudung merah jambu, mukanya kaya’ Aswarya hai” Timpal Mustafa.
Kami pun tertawa mendengar perkataannya, dan salah satu diantara kami, si Yusuf berteriak “Woi boy, aswarya hai kepalamu, salah kamu ngucapinya, Aswarya ray yang benar…”ha..ha…
Aku hanya bisa tersenyum mendengar apa yang mereka bicarakan dalam kegaduhan kelas ini. Pembicaraan seperti ini sudah menjadi hal yang biasa jika kami bertemu dengan santri perempuan. Lantas kenapa aku hanya diam saja, tidak bergabung atau menimpali obrolan mereka. Apakah aku sama sekali tidak menemukan hal yang menarik dari acara halal bihalal malam tadi, bukankah banyak santri perempuan disana yang patut jadi bahan pembicaraan.
Mungkin aku sama seperti kawan-kawanku, turut mengagumi paras-paras dari beberapa santri yang kulihat malam tadi. Namun aku tidak ingin pikiran itu dapat mengurangi makna acara halal bihalal yang baru saja dilaksanakan, jadi cukuplah kawan-kawanku saja yang berbicara dan biarlah aku berusaha menganggap itu sebagai hal yang biasa saja. Meskipun aku menyadari sebuah kewajaran dalam usia kami, membicarakan ahkwat dengan berbagai sisi menariknya.
Tapi aku juga tidak dapat menyembunyikan ingatan itu, malam tadi aku sempat berkenalan dengan seorang santri perempuan. Rukmana…
Rukmana sebenarnya berasal dari daerah yang tidak jauh dari kampungnya ihksan, dan ternyata kedua orang tua mereka juga sudah saling mengenal. Tunggulah sampai akhirnya mereka berdua tahu semua itu.
Yang diawali dari kisah ini…

Sekarang sudah pukul setengah satu, pelajaran fiqih sudah selesai, waktunya istirahat dan makan siang. Setelah keluar kelas, akupun segera bergegas menuju ruang makan. Kali ini aku memilih meja makan yang letaknya tidak jauh dari dapur.
Belum semua ustad dan santri datang ke ruang makan. Sebelum acara makan siang dimulai aku mengobrol dengan bibi Inah, dia sudah sembilan tahun berada di pesantren ini, salah satu dari beberapa orang yang tugasnya memasak dan membagikan makanan di ruangan ini. Ibu ini sangat ramah dan enak diajak ngobrol, tapi hingga sekarang belum juga menikah.
Pernah dia bercerita padaku bahwa ada kisah pahit yang membuat dia trauma untuk menikah, selama di pesantren dia sering menjadi teman ku bercerita atau minta nasehat tentang apa saja, sepertinya dialah yang menggantikan posisi ibuku di sini, tempat aku menumpahkan segala cerita keseharian.
“Bi, makasih ya, udah bantu-bantu waktu acara halal bihalal kemarin itu”. Kataku
“Oh iya, sama-sama dik. Kan emang udah tugas Bibi juga untuk mengurus segala hal yang berhubungan dengan konsumsi”. Jawab Bi Inah.
Dia melanjutkan bicaranya “Eh ngomong-ngomong bagaimana dengan Rukmana?”. Sambil tersenyum dia mengatakan kalimat itu.
Aku sediit heran dengan pertanyaan bi Inah, “Bagaimana apanya?”…..
“Halah, bibi juga tahu, malam itu kalian berdua terlihat akrab berbincang. Diakan suka sama dik Ihksan”. Bibi Inah kembali tersenyum
Aku masih sedikit heran dan kaget dengan perkataan Bibi Inah. Tapi memang seperti itu gaya bicaranya, orangnya santai dan ceplas-ceplos, apalagi terhadap santri-santri yang sudah dekat denganya, kami menganggap dia seperti ibu sendiri.
“Ha..ha..emangnya bi Inah tau dari mana?”. Aku tertawa, melepas keherananku terhadap kalimat bi Inah barusan.
“Sepertinya begitu. Rukmana juga sering ngobrol sama bibi waktu di asrama mereka. Dia banyak nanya tentang dik Ihksan loh…”.
Selain di tempat pesantren laki-laki, bibi Inah dan beberapa temanya memang bertugas memasak di tempat santri perempuan, bergilir dan secara bergantian tiga kali dalam seminggu.
“Emang iya bi? Masa seeh”. Kemudian aku jadi semakin penasaran dengan perkataan Bi Inah tadi.
Tidak terasa semua ustad dan para santri sudah datang ke ruang makan. Acara makan siang akan segera dimulai. Aku berpindah tempat dan duduk di samping safei, juga bersama enam orang kawan sekamarku yang lain. Hari ini aku mendapat tugas memimpin doa makan siang, bi Inah juga sudah sibuk dengan tugasnya membagi-bagikan makanan.
Pembicaraan kami terhenti dengan senyum penuh tanyaku terhadap Bi Inah, Bi inah juga membalasnya dengan raut wajah yang semakin membuatku penasaran.






5

Aku sudah selesai membaca novel Laskar Pelangi, malam juga sudah sangat larut. Kawan-kawan sekamarku sudah tertidur semua, lucu juga melihat mereka jika sedang pulas. Aku memandang rupa-rupa alami dari raut wajah manusia yang sedang tidak sadarkan diri, posisi tidur sesuka hati yang membuat mereka nyaman meski hanya beralaskan tikar pandan dan berselimut kain sarung usang. Hanya aku dan safei yang tetap betah di atas ranjang bambu ini.
Seharusnya aku juga sudah pulas, tidak biasanya aku tidur selarut ini. Apalagi yang harus kukerjakan, shalat telah kutunaikan, tugas dan pekerjaan rumah juga sudah kelar. Jujur, sebenarnya ada satu nama yang terus terbayang-bayang dalam pikiranku sekarang, semenjak kejadian siang tadi di ruang makan, bi Inah telah mengingatkan aku pada Rukmana, tapi kenapa…..

Begitulah ceritanya hingga dimulai keesokan harinya, aku selalu saja memikirkan dia. Semua memang berawal dari cerita singkat bi Inah waktu itu, hingga aku yakin Rukmana juga menaruh hati padaku.
Tapi sudah, cukup sebatas itu saja, karena dari kalimatku tadi kalian juga sudah dapat membaca betapa dangkalnya caraku menaut kesimpulan tentang perasaan hati. Apa mungkin karena aku tidak ingin terlalu banyak mengumbar kata-kata mesra yang terlalu berlebihan dalam cerita ini, aku canggung atau lebih pantas dikatakan malu meski itu berkisah tentang kejujuran hatiku sendiri. Apa mungkin itu dikarenakan aku adalah seorang santri?.
Pada malam berikutnya, di waktu kawan yang lain juga sudah terlelap, aku masih dengan ingatan akan dia, dan justru membuat aku coba berpikir tentang bagaimana sikapku selama ini memahami perasaan-perasaan yang dikatakan cinta. Aku rasa, perlunya para santri yang bertabiat seperti aku menelaah secara kritis akan hakikat dan esensi mengenai perasaan suka terhadap perempuan.
Karena harus diakui bahwa untuk membahas cinta senormalnya yang terjadi di dunia luar, dalam kultur pesantren itu sama halnya melakukan hal yang kurang penting, meski bukan berarti kami lebih menyetujui macam-macam cara bercinta yang dapat ditemui di luar sana.
Hanya saja, konsep, teori dan definisi yang kami mengerti dari cinta dalam dunia santri ini rasanya hampa dan hambar. Dalam pesantren kehidupan kami berjalan dalam dunia sendiri yang terikat oleh aturan berdasarkan pedoman yang hakiki. Itu kami yakini adalah kebenaran, namun ada satu hal yang aku rasa bukanlah kesalahan namun kerap dianggap remeh, meski tetap sangat berarti dalam peralihan usia manusia normal seperti kami, adalah cinta.
Dan dalam hal ini, aku rasa ada sedikit kekeliruan akibat kesan “santri’ yang lebih dianggap sebagai orang alim yang tidak mau mengenal pacaran. Meskipun mereka punya rasa itu, namun ditahan dengan segala cara yang menyesakkan. Akhirnya cinta yang sebenarnya dekat terasa jauh, cinta seakan pergi mengembara tetapi tetap saja akan datang waktunya untuk dicari.
Jika melebur dalam perasaan seperti pacaran dan lain sebagainya, dalam kultur pesantren laksana mencampur barang haram dengan barang halal, atau ibarat barang najis yang jatuh ke tempat yang suci. Padahal, ini tidak berdasar dan tidak benar. Sebab, bukankah cinta itu juga berasal dari Allah SWT lewat perasaan dan jiwa manusia.
Jiwa juga merupakan wilayah yang tidak bisa dibatasi oleh ruang dan waktu, sifat dasar jiwa itu adalah bebas, dan tidak bisa dikuasai apalagi diikat. Tapi jika hanya seperti itu kami boleh mengenal cinta, artinya pesantren seperti memenjarakan tubuh kami, boleh merampas hak dan kemerdekaan kami, namun sebenarnya tetap saja pesantren tidak akan mampu membatasi dan memenjarakan jiwa kami.
Dan sebelum pendapatku ini disalah artikan, tetap inti yang paling penting adalah bagaimana kami memahami hakikat cinta suci. Tidak memahami cinta hanya sebatas arti pacaran, hubungan lawan jenis yang ternodai oleh dosa, dan hubungan cinta-cinta romantik picisan yang hanya untuk kenikmatan semu semata, seperti ciuman, pertemuan, pegangan tangan, pelukan, dan saling merindu secara berlebihan. Cinta adalah anugerah yang Dia berikan juga, maka kita harus mensyukuri dengan memposisikan pada tempat yang benar, hingga tiba saat yang tepat ketika semuanya menjadi halal.
Secara otomatis, apapun usaha dan peraturan buatan manusia yang akan diterapkan, cinta akan selalu singgah dalam jiwa para santri, terutama para remaja seperti kami. Sekarang ini, jika di sekolah umum, aku bisa disetarakan masih duduk di bangku kelas dua SMP, namun karena cinta aku bisa menguraikan pendapatku seperti ini. Aneh dan menarik.











6

Assalamualaikum
Dengan nama Allah SWT yang penuh Ketinggian kuawali sebuah surat yang mengguratkan isi hatiku ini. Semoga kemurahanNya juga senantiasa menyertaimu untuk bersedia membaca surat ini.
Dik Rukmana….
Ini untuk yang keberapa kalinya aku menulis dan menitipkan surat untukmu melalui Bi Inah. Aku rasa dari sekian kalinya aku mengrimkan surat, adik pasti sudah tahu bagaimana keadaan jiwa dan perasaanku. Tidak pernah reda daripada pikiran tentang adik seorang.
Tapi surat ini juga belum sanggup menceritakan bagaimana keseluruhan perasaanku itu, karena aku kehabisan kata untuk menggambarkan betapa besar perasaan hati. Bahkan ini sudah semakin menjadi rindu yang buat aku lupa pada segala sesuatu.
Kadang¬ aku lupa hari apakah hari ini, aku lupa mengerjakan tugas, aku melupakan semua buku-buku yang belum selesai kubaca. Karena menulis surat ini aku bahkan lupa bahwa kawan-kawan sedang menungguku untuk latihan silat di sore ini.
Itu karena hatiku penuh dengan rindu pada adik. Pikiranku penuh dengan gambaran wajah adik yang hanya baru sekali aku temui, namun itu membekas hingga kini, karena aku yakin adik memang beda, mampu menarik hatiku pada pandangan pertama.
Dik Rukmana…
Akhirnya aku ingin sekali menebus segala rindu yang pernah tersirat disetiap surat-surat yang pernah kutuliskan. Betapa aku mulai tidak tenang menahan rasa rindu ini.
Tidak ada cara lain untuk mengobati semua ini selain bertemu dengan adik. Aku tidak punya foto-foto yang dapat mengingatkan adik, apalagi gambar-¬gambar kenangan tentang kita yang sebenarnya belum terjadi apa-apa dalam hubungan tulus ini.
Rasa ini berawal dari apa yang aku lihat pada pandangan pertama, kemudian berlanjut dari cerita bi Inah. Hingga akhirnya aku terkejut bahwa sebenarnya adik juga sudah lama ingin berkenalan denganku, seperti isi balasan surat sebelumnya yang adik kirimkan kembali padaku.
Kesimpulanya rindu semakin menggebu, aku ingin rasa ini dapat menjadi nyata. Begitulah aku, karena memang baru mengenal cinta.
Tapi aku rasa adikpun tahu, bagaimana kehidupan dalam pesantren kita ini. Kita tidak seperti pemuda-pemudi yang ada di luar sana, seperti apa mereka saling memadu kasih memang tidak sepenuhnya patut kita anggap baik dan sesuai dengan ajaran agama kita. Tapi bukan berarti perasaan kita ini salah, karena tetaplah rasa tulus suci ini datang dari Dia juga.
Hanya kita yang mengerti, meski tidak oleh pesantren kita sendiri.
Saking besarnya rasa rinduku ini, aku ingin memprotes tatanan kehidupan pesantren yang terlalu mengekang kita dan usia kita yang baru belajar memahami cinta sejati, tapi tentu aku juga akan salah jika terlalu berlebihan dalam hal ini, tanpa memperdulikan moral dan logika yang dibenarkan oleh agama kita.
Entahlah… aku sering berdoa dan berharap agar akan ada waktu yang dapat lunaskan segala rindu yang terpatri di hatiku kini.
Dik Rukmana…
Ingin sekali aku berada disamping adik senantiasa. Namun keadaan tidak mengizinkan kita bebas berbuat demikian, tapi bukan berarti kita tidak bisa. Masih ada hari minggu, waktu dimana semua santri di pesantren ini mendapatkan kesempatan untuk bisa keluar dari pesantren. Di saat itu aku ingin mengajakmu berjalan-jalan di taman. Aku harap kau membalas permintaaku ini lewat surat balasan.
Dan doaku, semoga Allah SWT sudi meridhoi rasa rinduku ini, hingga asaku dapat menjadi nyata dan semoga seperti itu juga rasa yang ada di hatimu.
Hanyalah dirimu dik Rukmana…..
Wassalam

Aku yang sekarang ini akhirnya kerap menyampaikan perasan hati melalui kata-kata indah dan tulus melalui surat-surat cinta yang kukirimkan secara sembunyi-sembunyi lewat seorang tukang masak yang sudah kuanggap seperti ibu sendiri, bi Inah.
Surat-suratku bukan yang pertama kali, bahkan dik Rukmanapun sudah membalasnya berkali-kali. Dari hal itu maka terbacalah semuanya, seperti kata bi Inah waktu itu, bahwa dik Rukmana sering bertanya tentang aku, dan dari surat-surat balasanya akhirnya aku juga tahu bahwa dia ternyata sudah banyak mendapat informasi tentang aku.
Mungkin egois kalau aku mengatakan dik Rukmanalah yang terlebih dahulu tertarik padaku. Tapi memangnya kenapa, itu bukanlah hal yang pantas disebut tabu, apalagi kemudian perguliran waktupun menghantarkan perasaanku yang sama dengan dirinya.Tak penting siapa yang memulai, tetapi karena aku lelaki, maka setelah semua ini sekarang aku harus terlebih dahulu mengambil inisiatif tentang kelanjutan perasaan kami.
Karena itu, isi surat-suratku selanjutnya semakin berani mengungkapkan kerinduan isi hati dan menginginkan persuaan yang nyata, seperti isi surat yang terakhir tadi.

Selepas makan siang, secara diam-diam surat itu kuberikan ke bi Inah, meski tetap ketahuan juga oleh safei dan nasrul yang kebetulan sedang mencariku. Mereka berdua hanya tersenyum, karena mereka juga sudah tahu akan kebiasaanku yang sering mengirimkan surat untuk dik Rukmana melalui bi Inah. Kepada siapa lagi kubercerita kalau bukan kawan dekat sendiri.
Bi inah, akhirnya dia menerima suratku dengan tersenyum.
Sore itu juga suratku disampaikan bi Inah kepada dia, dan diwaktu itu juga dik Rukmana menulis surat balasan untukku. Kebetulan malam ini bi Inah bertugas untuk menyediakan makanan bagi santri perempuan, hingga dia bisa punya banyak waktu untuk menunggu surat balasan untukku.
Inilah surat balasanya yang kuterima keesokan siangnya….

Assalamu’alaikum
wahai engkau yang melumpuhkan hatiku
Akhirnya kakak tahu bahwa aku sudah lama memendam rasa ini, rasa yang juga ingin segera diutarakan, tapi aku perempuan. Seandainya kakak tahu, selama ini aku selalu berusaha dekat meski dalam kesempatan yang hampir tidak pernah ada. Aku berjanji sendiri untuk berusaha tidak acuh jika bersua, dan itu terjadi dalam pertemuan secara langsung kita yang rasanya baru sekali di malam halal bihalal itu.
Di hadapan kakak waktu itu, aku berusaha tetap berlaku dengan normal, walau perlu usaha untuk mencapainya. Karena aku adalah perempuan.
Takukah juga wahai engkau yang mampu melumpuhkan hatiku?
Entah mengapa kini aku dengan mudah berkata “perasaan ini” kepada kakak meski hanya dalam tulisan. Dalam nyata, lisan ini pasti terkunci dan mengharapkan kakak yang terlebih dahulu memulai. Karena aku perempuan…
Dan aku merasa beruntung dari surat terakhir kakak ini menyiratkan arti itu, meski kita memang masih sama-sama menautkan perasaan lewat tulisan. Untuk itu aku menyetujui permintaan kakak untuk bertemu di hari minggu nanti, aku akan menunggu kakak di taman selepas lohor, atau siapa saja diantara kita yang terlebih dahulu ada di sana.
Jika boleh aku beralasan, apapun pendapat atau aturan yang ada dalam pesantren kita, mungkin itu dikarenakan jangan sampai cinta menjadi “illah” bagi kita.
Karena itu kita diwajibkan mengurung rasa itu jauh-jauh, namun yang dimaksudkan rasa seperti itu menurutku bukan cinta, tapi rasa suka yang hanya dilatarbelakangi hasrat semata hingga bisa sampai tidak perdulikan logika dan moral yang sesuai dengan ajaran agama.
Tapi InsyaAllah bukan itu rasa yang aku punya terhadap kakak sekarang ini, seperti aku juga yakin akan halnya perasaan kakak yang sama terhadapku. Maka tidak ada kesalahan dalam hal ini, karena pesantren dan ajaran agama kita tidak pernah melarang untuk perasaan suci yang seperti ini. Yang terpenting adalah bagaimana nantinya kita tetap kuat dengan keyakinan kita. Insyaallah.
Wahai engkau yang melumpuhkan hatiku, andai aku boleh berdoa kepada Allah SWT, aku ingin meminta agar Dia mempercepat sang waktu, dimana disana ada keyakinanku bahwa aku akan menjadi jodoh kakak yang tepat, InsyaAllah. Inilah ungkapanku yang sangat berani sebagai santri perempuan, tapi aku tidak salah karena rasa suci ini memang sangat menggebu.
Wahai engkau yang sekarang menjadi biang kerinduanku, sebagai perempuan semoga keberaniaku untuk menyimpan rindu ini bukanlah kesalahan.
Wassalam











7

Di taman ini kami berbincang, tidak lagi ada kecanggungan, tapi kami masih tahu batasanya. Kami tidak terlihat seperti cara pemuda-pemudi kebanyakan yang sedang memadu kasih di zaman sekarang, itulah salah satu kesamaan sikap kami sebagai santri yang paham adab pergaulan dari keyakinan agama yang kami anut .
Obrolan yang terjadi juga sewajarnya saja. Kami berbincang tentang sekolah, keluarga, dan cita-cita ke depanya. Tapi sama sekali tidak ada tentang cinta, jika yang dimaksud adalah segala teori ucapan mendayu-dayu penuh rayuan dan remeh temeh puja dan puji.
Kami tidak perlu seperti itu, kedekatan dan keperdulian kami antara satu dan yang lain ada dalam hati yang tulus dan itu cukup ditunjukan dengan perbicangan ini saja. Dengan begitu, kami sudah merasa sangat bahagia di hari ini, dan menjelang sore kami kembali pulang ke pesantren untuk menuju asrama masing-masing.
Hanya sebegitu saja, dan mungkin dianggap tidak ada kisah-kisah romantis sama sekali. Tapi aku rasa itu sudah cukup karena hanya perasaan kami yang tahu.

Tidak terasa, sudah beberapa bulan aku tidak bertanya kabar tentang ayah dan ibuku di desa. Selama ini aku memang rutin mengirimkan surat untuk mereka tiap bulanya, aku terakhir pulang di liburan semester kemarin. Dan jika disamakan dengan tingkat pendidikan sekolah menengah pertama, tidak terasa sekarang aku sudah hampir memasuki ujian akhir di kelas tiga.
Memang seperti ini cara berkomunikasi yang paling mudah bagiku terhadap orang-orang yang dirindukan namun jauh dari pandangan, seperti dik Rukmana yang meski satu pesantren namun susah untuk kutemui, seperti juga kedua orang tuaku yang berada jauh di desa.
Aku coba mengguratkan kata-kata dalam secarik kertas surat ke kedua orang tuaku. Meski hanya melalui surat, mereka pastinya tahu bahwa anak satu-satunya ini selalu cinta dan ingin keadaan mereka baik-baik saja. Melalui surat ini aku juga ingin berbagi tentang kebahagiaanku saat ini.

Assalamualikum
Salam hormat dari anakmu.
Bagaimana kabar ayah dan Ibu di desa, ananda selalu berdoa agar ibu dan ayah selalu diberikan kesehatan dan ridho dari Allah SWT. Adapun kabar ananda disini Alhamdulillah sehat-sehat saja.
Rasanya sudah cukup lama ananda tidak memberikan kabar melalui surat yang biasanya selalu sempat dikirimkan tiap bulan.
Mungkin karena kesibukan di pondok yang akhir-akhir ini semakin bertambah menjelang ujian akhir. Tapi meski begitu tiap hari ananda selalu berdoa untuk ayah dan ibu yang juga sebagai penambat kerinduan ananda disini.
Kegiatan sehari-hari ananda di pesantren ini tetap seperti biasanya, belajar agama, mengkaji, mempelajari pelajaran umum, latihan silat, dan lainnya.
Tapi ada satu cerita yang ingin ananda ceritakan. Bahwa ananda telah kenal dengan seorang santri perempuan di pesantren ini. Mungkin ayah dan ibu kenal kedua orang tuanya, karena Rukmana berasal dari desa tetangga kita.
Sebenarnya ananda tersenyum ketika menulis surat ini, dan mungkin seperti itu juga ayah dan ibu. Ananda hanya ingin sekali menceritakan ini, karena ananda rasa ayah dan ibu juga mengerti jika usia ananda sudah pantas memasuki tahap-tahap itu.
Dia perempuan yang baik, santri yang termasuk pandai di pesantren kami. Hanya itu saja yang ananda ingin ceritakan tentang dia, kesimpulanya ananda sangat bahagia bisa berkenalan dengan dia, dan ingin membagi rasa bahagia itu terhadap ayah dan ibu. Semoga ibu dan ayah ikut merasakan betapa bahagianya ananda saat ini.
Sekian surat dari ananda, ananda selalu berdoa agar ayah dan Ibu selalu dilindungi oleh Allah SWT.

Wassalam

Ananda Ihksan.



8

Hari-hari terus berlalu dalam kehidupan kami sebagai santri di pesantren ini. Tidak terasa itu sudah berlangsung menahun. Jika diibaratkan dengan sekolah umum, aku yang sekarang sudah duduk di bangku kelas 2 SMA.
Sudah berkali-kali aku pulang ke desa setelah mengirimkan surat terakhir tadi. Dan cerita disebalik itu, adalah tentang aku yang juga sudah mengenal dik Rukmana dan keluarganya. Seperti yang telah diceritakan, akhirnya akupun tahu bahwa dik Rukmana dan orang tuanya tinggal di desa yang bertetangga dengan desa kami.
Yang membuatku sedikit terkejut akan kebenaran perkiraanku adalah ternyata kedua orang tuaku juga kenal dengan orang tua Rukmana. Bahkan sebelumnya mereka pernah bertemu, hanya saja aku dan Rukmana tidak mengetahui hal itu, seperti kami yang sebelumnya juga tidak pernah tahu akan dipertemukan dalam hubungan ini.
Tapi hubungan kami tetap tidak seperti kisah pemuda-pemudi kebanyakan di zaman ini, seperti apa yang dikenal dengan istilah pacaran. Bukan dikarenakan kami menyandang predikat santri, tapi pelajaran dan pemahaman yang kami dapat selama ini dengan sendirinya menyadarkan kami bahwa ada peraturan dan kaidah yang tetap harus dijaga dalam hubungan muda-mudi seperti ini.
Itupun berdasarkan keihklasan dari agama benar yang diyakini, bukan paksaan dan kepura-puraan. Kami berdua memang punya rasa itu, tapi menunjukkanya dengan kewajaran sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh agama.

Menyingkat cerita ini…
Hubungan ku dengan dik rukmana terus berlanjut hingga kami selesai menamatkan pendidikan di pesantren. Kami kerap berkirim-kirim surat melalui Bi Inah, dan rutin berjumpa di taman pada hari minggu. Di luar itu, kami bisa berjumpa pada saat acara interen pesantren yang memperbolehkan pertemuan antara santri perempuan dan laki-laki. Kami juga sering bertemu di desa jika bersama-sama sedang libur, pasti di saat itu aku menyempatkan diri bertamu ke rumahnya.
Hubungan kami bukan lagi menjadi hal yang ditutup-tutupi diantara santri-santri lain, apalagi beberapa diantara kawan-kawanku juga sama, ada yang memiliki hubungan dengan santri perempuan lainya.
Disebalik itu, kalian pasti hanya mengetahui kisah hubungan kami ini sebagai hal yang membosankan, tidak menarik, jika diibaratkan dengan istilah pacaran pemuda-pemudi zaman sekarang. Dapat menjadi anggapan hanya sebatas inilah kisah romantis dari kebanyakan santri.
Tapi apakah itu patut dipermasalahkan, sedangkan sebenarnya bukan tentang itu yang ingin kuangkat dalam cerita ini. Kalaupun iya, hanya sedikit kisah pemanis saja. Aku justru lebih suka membiarkan kisah tentang pesantren lebih dikenal dengan sejarahnya yang melahirkan para santri teladan, mereka yang faham dan fasih tentang ajaran agama Islam demi kepentingan umat manusia.
Lagipula, untuk kisah masa muda kami yang seperti itu, takaran maknanya tetap hanya hati kami yang bisa merasakanya. Seperti juga kalian yang pernah atau sedang mengalaminya. Hanya saja jika ada perbedaan, itu terletak pada keyakinan orang yang menentukan pilihan atas hubungan itu, di atas jalan yang benar atau malah tidak sesuai dengan ajaran agama.
Selain itu, selama dipesantren, kisahku tidak banyak menceritakan kawan-kawan yang lain. Hanya beberapa nama saja yang pernah kusebutkan. Begitupun ada seseorang yang dalam awal cerita ini juga tidak terlalu penting mengambil peran. Dia hanya dikisahkan sebagai santri yang dikenal nakal dalam asrama, seorang yang termasuk kawan sekamarku.
Belum keceritakan bahwa dia suka membantah terhadap siapa saja di pesantren ini, selain kerap juga membuat gaduh di kamar asrama kami. Tapi dia salah satu kawan baikku, termasuk salah satu santri pandai di pesantren ini. Dialah Safei Nasrullah.

Aku akan menceritakan awal runutan kisah ini. Jika diibaratkan sekolah umum lain, itu terjadi ketika kami sudah mulai memasuki jenjang pendidikan sekolah menengah pertama di pesantren. Pada tingkatan ini, artinya para santri sudah mulai memasuki tahap kedewasaan, baik secara usia maupun pemikiran.
Dengan sendirinya kami sadar untuk mulai berusaha mamahami ilmu yang diajarkan di pesantren secara lebih mendalam, khususnya tentang agama. Banyak diantara kami yang sudah menunjukkan jati diri sebagai seorang santri berdasarkan cara pikir yang diyakini masing-masing. Secara gamblang dapat dikatakan, diantara para santri mulai muncul rasa fanatik yang berlebihan, dan aku lebih ingin mengatakan itu sebagai rasa cinta kami yang mendalam terhadap Islam.
Ditambah lagi dengan situasi pada saat itu, dimana berita-berita media masa banyak yang memberitakan tentang permasalahan yang terjadi sehubungan dengan keterkaitan umat muslim. Para ustad di pesantren ini juga sering menyampaikan pesan-pesan dan amanat-amanat yang dihubungkan dengan permasalahan itu.
Jika diibaratkan waktu itu aku duduk di kelas dua sekolah menengah petama, pesantren kami pernah terkena imbasnya, dicurigai sebagai tempat yang mengajarkan pendidikan Islam secara salah.
Ada seorang ustad pesantren kami, ustad Mahmudi, yang dituduh pemerintah sebagai orang penting dalam jaringan Internasional. Organisasi itu telah mendunia dan salah satu yang menjadi akar masalah yang terjadi di negeri ini. Anggotanya dianggap sebagai biang terror yang telah buruk mencitrakan umat muslim di mata umat lain. Anehnya, tindakan mereka selalu mengatasnamakan kebenaran agama Islam.
Kebenaran apa yang mereka sampaikan jika itu melalui tindakan meneror manusia lain, mengancurkan segala asset kepentingan umum. Sangat kejam karena mereka juga tidak takut untuk menghabisi nyawa manusia lain dengan cara yang sangat brutal. Tubuh-tubuh meregang nyawa dengan hancur terluluh lantak diantara puing-puing benda sekitar yang ikut hancur, tak perduli siapa dan mengapa yang harus menjadi korban.
Yang aku tahu Agamaku bahkan seluruh agama yang ada di dunia ini tak pernah mengajarkan itu, maka mereka tidak pantas membawa-bawa ajaran agama dalam tindakan mereka. Menurutku itu murni kejahatan dengan alasan yang hanya diketahui oleh mereka sendiri. Tindakan mereka salah dan InsyaAllah takkan pernah mendapat ridho dari Allah SWT.
Secara tidak langsung itu juga membuat citra buruk bagi pesantren dan kami sebagai santri yang menuntut ilmu di dalamnya. Ustad Mahmudi sempat ditangkap, namun dibebaskan kembali karena petugas tidak mendapat cukup bukti.
Kami juga sangat tidak mempercayai hal itu. Ustad seperti dia, yang selama ini kami kenal sangat ramah terhadap siapa saja, termasuk ustad terbaik yang ada di pesantren ini, tidak pernah kami melihat gerak gerik dia yang mencurigakan dan bersikap keras terhadap para santri.
Apa mungkin seorang ustad seperti dia bisa dituduh menjadi otak dari tindakan yang sama sekali tidak manusiawi. Satu hal lagi, dia ustad yang akhir-ahir ini sangat dekat dengan Safei Nasrullah. Dan dari kejadian itu sempat membuat safei bersedih dan tiba-tiba menjadi pendiam. Meski akhinrya ustad mahmudi dibebaskan kembali, tetap ada yang berubah pada diri Safei.
Dia tidak lagi suka membantah dan membuat gaduh, predikat santri nakal seakan pudar dengan sendirinya, dia semakin rajin mengaji dan mengkaji ajaran Islam bersama ustad Mahmudi. Selain dia, ada beberapa kawanku yang juga ikut dalam pengajian itu.
Hal seperti itu sudah biasa di pesantren ini, para santri membuat kelompok pengajian dengan seorang ustad yang mereka pilih. Maka tentu hal ini tidak dilarang dalam pesantren kami, karena apa yang dikaji dan disampaikan juga sesuai dengan ajaran agama Islam. Lagipula tidak diketemukan bukti bahwa ustad Mahmudi pantas dinyatakan bersalah.
Tapi aku tidak ikut kelompok pengajian itu, meski banyak diantara mereka adalah kawan-kawan dekatku, seperti Safei Nasrullah. Aku sering diajak, namun ada rasa enggan setelah kejadian itu. Entah kenapa, tapi aku hanya meyakini perasaan hatiku saja.
Sepuluh hari menjelang ujian terakhir di pesantren ini, tak terasa sebentar lagi penentuan kelulusan kami, dan ada berita duka yang menimpa SafeI. Ayahnya meninggal karena sakit jantung.
Berita itu sangat mengguncang perasaannya, dan yang lebih memilukan hati karena safei tidak bisa pulang ke kampungnya yang jauh di timur negeri ini, sedangkan ujian akhir penentuan kelulusan kami hanya tinggal menghitung hari. Aku melihat ada ketabahan luar biasa dari seorang kawanku ini, meski disebalik perasaan hatinya itu sedang terguncang hebat, akibat ditinggalkan dan tidak bisa melihat ayah yang dicintainya untuk terakhir kali.
Kami berhasil menamatkan pendidikan di pesantren ini, seluruh kawan-kawan seangkatanku dinyatan lulus. Semua yang telah lulus dijemput dan pulang kembali ke rumah masing-masing. Kecuali safei yang tetap ingin tinggal di pesantren. Mungkin setelah lulus, pesantren dapat menerima dia sebagai salah satu guru, apalagi ilmu yang telah dia dapat sudah lumayan cukup untuk mengajarkan ilmu agama dasar bagi santri yang akan baru masuk. Mungkin disini dia akan tinggal dan terus belajar dengan ustad Mahmudi.
Ayah yang menjadi satu-satunya orang tua yang tersisa dalam hidup Safei telah dipanggil, adik-adiknya harus tinggal bersama kakaknya yang pertama. Mungkin Safei tidak ingin tambah merepotkan, dia ingin mandiri. Berita kematian ayahnya itu membuat dia semakin berubah, tidak lagi seperti safei yang dulu.
Keinginanya yang bertambah kuat untuk semakin memperdalam agama membulatkan tekadnya untuk tetap tinggal di pesantren bersama ustad Mahmudi. Namun sebenarnya ada keraguanku, apalagi semenjak permasalahan itu.
Meski ustad Mahmudi adalah ustad yang baik, tapi sepertinya dia berbeda dengan ustad yang lain, baik dari cara bersikap atau ajaran yang diajrakan olehnya. Tapi ya sudahlah, siapalah aku yang bisa memperkirakan semua itu.
Sampai disitu saja kehidupanku sebagai seorang santri, karena akhirnya au juga harus kembali ke desa, pulang ke rumah dan entah kapan akan ke pesantren ini lagi. Begitu juga dengan rukmana.
9

Setelah lulus dari pesantren, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan membantu ayah di sawah. Usianya semakin lanjut, rasanya dia sudah tidak harus bekerja yang terlalu berat lagi. Dia juga hanya mempunyai aku sebagai anak semata wayangnya.
Tapi sejak aku di pesantren hingga sekarang, ada seorang pemuda, susno namanya, seorang sepupu jauhku yang bersedia membantu ayah dan pekerjaanya yang lain. Susno ditinggal pergi oleh istrinya tanpa seorang anak, tak ada lagi keluarga yang paling dekat selain ayah, hingga dia memutuskan untuk tinggal bersama kami.
Ayah merasa sangat terbantu, orangnya ulet dan jujur, namun pemalu. Akupun senang dengan kehadiran sepupuku ini di rumah. Kadang ayah memberi dia upah dari hasil sawah, yang digunakan untuk biaya hidup sehari-harinya. Kini ayah sedang mencarikan wanita yang sesuai untuk dijadikan istri olehnya.
Aku juga sudah mempunyai aktifitas baru yang telah menjadi kewajibanku bersama ayah di desa ini, tiap selesai maghrib hingga menjelang Isya mengajarkan anak-anak desa ini mengaji. Sebenarnya aku dan ayah juga mendapat upah dari warga masyarakat, tapi itu hanya mereka berikan seihklasnya dan tidak terlalu kami harapkan jika hanya akan mengurangi nilai ibadah kami.
Aku kini telah dikenal sebagai ustad muda di desaku, dan yang ada dalam pikiranku sekarang adalah ingin membuat pesantren kecil-kecilan bagi mereka tiap minggunya. InsyaAllah ilmu yang pernah kudapatkan dipesantren tidak akan kusia-siakan. Semuanya tidak akan ada arti bila tidak dibagi kepada yang lain.
Usia Ibuku juga sudah semakin lanjut, tapi dia masih tangkas mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Hanya satu yang terus ada dalam pikiranya sekarang ini, kapan aku akan berumah tangga dan dapat memberikanya cucu yang akan meramaikan rumah kami. Perbicangan tentang itu selalu ada ketika kami sedang berkumpul malam harinya.
Bertandang ke rumah Rukmana juga bukan hal yang baru untukku. Keluarganya dan keluargaku sudah merestui hubungan kami. Meski itu bukan berarti aku terlalu menunjukkan hubungan kami terhadap warga sekitar. Aku ingin membiarkan mereka tahu secara sewajarnya.
Rukmana juga menjadi ustadzah di desanya, mengajarkan anak-anak perempuan mengaji dan kerap sebagai pembicara di acara pengajian ibu-ibu. Pastinya yang selalu menjadi pertanyaan dari kedua keluarga kami adalah kapan hubungan kami ini akan diresmikan, supaya menjadi halal di mata masyarakat dan diridhoi oleh Allah SWT.
Aku dan Rukmana memang telah mengikrarkan janji, apalagi telah didapat persetujuan. Sudah ada pembicaraan antara keluarga kami. Dalam agama pernikahan memang harus segera dilangsungkan jika kedua pasangan telah merasa mampu lahir dan batin.
InsyaAllah aku memang berjodoh dengan wanita berjilbab yang baik dan kukenal sejak di pesantren dulu, dia yang setia dan taat beribadah, dik Rukmana.
Tapi, meski kami sudah yakin akan perasaan kami, aku merasa masih ada satu syarat lagi agar aku bisa dikatakan mampu untuk masuk ke jenjang itu. Adalah kesadaran yang kuyakini secara dewasa,bahwa pernikahan ini sebaiknya terjadi jika aku sudah mempunyai pekerjaan. Tidak perlu mapan, tapi setidaknya mendapat pekerjaan yang lebih baik daripada bekerja di sawah dan mengharap upah dari kewajibanku sebagai seorang ustad yang seharusnya dilakukan dengan ihklas.
Hubungan kami cukup lama hingga enam tahun lamanya, pembicaraan antara dua keluarga juga sudah mulai serius, akhirnya akupun memberanikan diri untuk mengutarakan niatku merantau ke kota. Aku meminta waktu kepada dik Rukmana dan kedua keluarga kami agar aku diberi kesempatan mencari kerja di kota.
Awalnya susah mencari pekerjaan dengan modal pendidikan yang kumiliki, apalagi ijazah pesantren hanya dirasa pantas menjadi guru agama saja. Tapi, atas ijin Alllah akhirnya aku diterima bekerja sebagai pelayan hotel yang sekaligus restoran di dalamnya. Hotel itu termasuk salah satu hotel besar di kota.
Sedikit kebaikan yang kuterima dari pemilik hotel itu, dengan ijazah pesantrenku, dia tahu bahwa aku pernah menjadi seorang santri dan dianggap bisa jujur dalam mengemban tanggung jawab kerja nantinya. Alhamdulillah jika pendapat seperti itu yang kuterima dengan pernah menjadi seorang santri.
Awalnya aku sedikit canggung berkerja di hotel itu. Belum pernah aku bekerja sebagai pelayan, merapikan kamar hotel, melayani tamu restoran, membantu di dapur hotel, atau apa saja yang diperintahkan oleh atasan. Tak mengapa asalkan halal, dan bukankah dengan melayani aku sama saja menolong, jika secara ihklas itu juga merupakan ibadah.
Dari awal aku sudah berniat agar penghasilan yang kudapat dari bekerja di hotel ini sedikit demi sedikit harus bisa ditabung. Tiga bulan setelah bekerja, aku masih mengrimkan surat untuk kedua orang tuaku dan dik Rukmana, meminta agar dia mau sedikit lagi bersabar. Aku sudah bisa menyewa sebuah kontrakan murah yang cukuplah untuk ditempati jika kami menikah nanti.
Bekerja di kota dan memboyong dia kesini memang sudah rencanaku dari awal. Pernikahan kami nantinya juga tidak perlu dirayakan secara mewah, cukuplah seadanya dengan dihadiri oleh warga desa, kerabat dan kawan dekatku. Dengan ihktiar, InsyaAllah dalam waktu yang sebentar lagi aku bisa mendapatkan biaya untuk itu.
Sekarang sudah enam bulan aku di kota, lingkungan dan orang-orang sekitar membuat aku semakin betah dengan pekerjaan dan tempat tinggalku. Dan sepertinya kinilah saatnya…
Pemilik restoran tempatku bekerja, mau mengerti dan memberikan aku cuti selama seminggu. Aku sudah mengutarakan niatku itu kepada atasan dari jauh hari, dan beberapa minggu sebelumnya kabar itu sudah kusampaikan kepada kedua orang tuaku di desa. Mereka membutuhkan kepastian itu agar segera membuat persiapan untuk acara pernikahanku.
Akhirnya aku pulang ke desa dan melangsungkan pernikahan dengan rukmana. Doaku terkabul, wanita yang pertama dan terakhir kucintai itu dapat menjadi jodohku. Teringat kembali masa-masa di pesantren dulu, surat-surat yang sering kukirimkan secara sembunyi-sembunyi melalui seorang ibu yang jasanya takkan perah kulupakan.
Bi Inah juga hadir ke acara pernikahan kami, dia menangis terharu meilhat kami berdua bersanding di pelaminan. Ada beberapa kawan-kawan baik semasa di pesantren yang juga turut hadir, tapi itu masih kurang karena tanpa kehadiran Safei. Menurut cerita mereka, safei sudah setahun lalu tidak menjadi guru di pesantren, dia pergi bersama ustad Mahmudi. Sepertinya mereka mendapat pekerjaan lain di luar pesantren. Tapi tidak ada yang tahu mereka kemana.


10

Dalam shalat aku selalu berdoa, agar Allah membimbingku. Meski masih keluarga kecil, aku akan berusaha membuat istriku bahagia, hingga InyaAllah tercipta kehidupan dalam keluarga kami yang sakinah dan mawardah. Amien.
Setelah Rukmana kuboyong ke kota, aku kembali melanjutkan pekerjaanku sebagai pelayan hotel. Dirumah, Rukmana hanya menjadi Ibu rumah tangga biasa, tapi terkadang dia juga menerima cucian dari tetangga. Jika tabungan kami sudah mencukupi, aku juga ingin membeli sebuah mesin jahit, menerima jahitan akan jadi pekerjaan sambilan lain yang ingin dikerjakan Rukmana nanti.
Agama tetaplah harus menjadi tonggak dalam kehidupan kami. Segala kesederhanaan yang ada dalam keseharian akan kami syukuri. Hingga satu setengah tahun kemudian, akhirnya kami dikaruniai seorang anak perempuan, aku memberi dia nama Aisyah putrini Ihksan. Nama yang kupilih menyerupai nama istri Rosulullah.


















11

Pagi ini indah seperti biasanya. Di ruangan tamu, sambil menyeruput secangkir kopi hangat, kupangku Aisyah, putri semata wayangku yang sedang asyik bermain dengan boneka yang kuberikan beberapa hari yang lalu, itu hadiah ulang tahunya. Wanita yang paling kucintai juga duduk disampingku, merekah senyum kami ketika melihat tingkah lucu putri kami.
Tidak dapat pula kusembunyikan keceriaan akhir-akhir ini, kecintaan tiada tara pada isteriku semakin bertambah setelah kutahu dia sedang hamil untuk yang kedua kalinya. Kami sedang menanti kelahiran satu lagi benih cinta dalam keluarga kecil kami.
Begitulah kebiasaan yang wajar terlihat dikala pagi sebelum aku berangkat kerja. Berusaha menyempatkan diri bercengkrama bersama, bercerita sejenak tentang apa saja yang mungkin akan dilewati hari ini.
Mereka berdualah cinta sekaligus asaku, selayaknya aku yang tulus mereka cintai dan tempat menumpukan harapan. Meskipun aku hanyalah seorang karyawan restoran yang berpenghasilan seadanya.
Pagi ini, akupun tidak memiliki firasat apapun tentang kejadian yang akan kulalui. Karena seperti biasa, aku berusaha membiarkan hidup mengalir sesuai kehendaknya. Bagi orang biasa sepertiku, hanya doa dan kerja keras yang menjadi modal untuk dapat bertahan hidup.
Setelah berkeluarga dan menjadi seorang ayah, aku giat berusaha, kulakukan pekerjaan dengan ihklas dan sungguh-sungguh, semua itu demi menafkahi keluarga yang kucintai. Menjadi tulang punggung keluarga adalah kewajiban dan kebahagianku, selain tersirat pula keinginan untuk dapat membahagiakan kedua orang tua di usia senja mereka. Sesekali ayah dan ibu berkunjung ke rumahku ini.
Kalau boleh bercerita, dalam waktu dekat ini, yang paling kunanti hanyalah satu. Atas izin Yang Maha Kuasa, maka akan tiba saat yang kunantikan itu. Andai saja waktu dapat bergulir cepat, ingin aku memohon segera hadir saat itu, dimana aku dapat menyaksikan kehadiran satu lagi benih cintaku di muka bumi ini.
Andai saja….

Dilokasi yang berbeda…
Pagi itu, dia tampak berkonsentrasi atas apa yang sedang dikerjakanya. Beberapa komponen keelektrikan yang berbeda ukuran dan jenisnya, berutas-utas kabel berwarna-warni bertebaran di lantai.
Sepertinya dia begitu cekatan merangkai komponen-komponen itu menjadi satu kesatuan peralatan yang fungsinya diatur menggunakan jam digital. Entahlah, hanya dia yang benar-benar paham apa yang sedang dikerjakan.
Lelaki itu sedang berada dalam kamar hotel tempat Ihksan bekerja. Sudah sekitar tiga bulan dia menginap, dan menurut rencana hari ini adalah hari terakhirnya di sini.
Semua barang-barang bawaan telah rapi dimasukkan ke dalam dua buah tas yang direbahkan di atas ranjang. Masih ada satu pekerjaan lagi yang harus diselesaikan olehnya, peralatan itu sepertinya begitu penting untuk segera dirangkai sebelum keberangkatannya dari hotel ini.
Penampilanya kali ini seperti biasanya, cukup menarik untuk dipandang. Raut wajah yang tetap tenang, menandakan kesopanan budi pekerti dan halus tutur katanya. Prasangka yang sudah menjadi kelumrahan masyarakat di negeri ini, untuk menilai seseorang dari penampilan luarnya terlebih dahulu.
Ada sekelumit sejarah yang patut diketahui tentang dia yang belum diceritakan dalam kisah ini. Cukup lama dia pergi meninggalkan keluarganya yang tersisa, kawan-kawan, tanpa kabar berita dan dengan sebuah alasan yang hingga sekarang hanya dia yang tahu.
Sempat dia sekali berpamitan pada keluarganya, namun itu hanya melalui surat. Dan karena begitu besar keyakinan keluarga padanya, membuat mereka rela dan mendukung niat lelaki itu untuk mengembara demi niat yang tertanam dalam hati.
Semenjak lulus dari pesantren, dia begitu dalam menuntut ilmu agama, dan entah dimana keberadaan seorang ustad yang pernah menjadi gurunya itu, dia juga cukup berperan dengan perubahan lelaki itu sekarang ini.
Ustad itu yang menanamkan pemahaman, atau lebih tepatnya dikatakan orang yang menjadi penyebab lelaki tadi terpahamkan. Pemahaman yang mengantarkan dia menemukan kawan, kelompok yang sama-sama memperjuangakan apa yang mereka pahami dan benarkan sendiri tentang keyakinan.

Di hotel tempat aku bekerja ini, hari masih sangat pagi, aku baru saja sampai dan belum banyak pengujung yang datang. Namun sebentar lagi, seperti biasanya pada saat penghuni hotel mulai beranjak melakukan aktifitas, kebanyakan dari mereka akan sarapan di restoran ini.
Apalagi pagi hari ini merupakan agenda rutin mingguan dari sekelompok pengusaha penting Negara. Jika mereka mengadakan pertemuan dipagi hari, itu sekaligus untuk sarapan di restoran ini.
Tentu saja, merupakan keharusan jika keamanan dalam hotel sekaligus restoran ini sangat diperhatikan, apalagi hotel tempatku bekerja merupakan salah satu yang paling mewah, maka sewajarnya jika pengunjungnya pun sebagian besar adalah orang-orang penting. Tidak sedikit juga yang berasal dari luar negeri.
Ketika restoran sudah mulai ramai oleh pengunjung, akupun mulai disibukkan dengan pekerjaan rutin, melayani dengan ramah para pengunjung yang ingin mendapatkan sarapan pagi.
Para pengusaha penting itu juga sudah menempati meja khusus yang sengaja disediakan. Aku berjalan menghampiri salah seorang dari mereka yang sudah cukup kukenal, bos besar pemilik salah satu perusahaan termuka di negeri ini. Terlebih dahulu kuawali dengan senyum dan tegur sapa, sebelum melaksanakan tugasku untuk mencatat pesanan yang mereka inginkan.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, sosok seorang lelaki berjalan perlahan memasuki pintu penghubung antara hotel dan restoran. Sambil menenteng sebuah tas dan menyandang ransel di pundaknya, dia berjalan semakin mendekat.
Ternyata, jadi juga dia check out pagi ini, dan mungkin saja dia ingin terlebih dahulu sarapan sebelum pergi. Aku mengenal dia, kawan lamaku di pesantren dulu, Safei.
Wajah yang memang sudah tidak asing bagiku, meski sebelumnya aku sempat terkejut pada saat perjumpaan kami setelah sangat lama tidak bertemu, dia sudah menginap sekaligus menjadi pengunjung tetap di restoran ini selama tiga bulan terakhir.
Aku bahkan sudah hafal kebiasaanya setiap datang, setelah memesan makanan dan minuman, dia langsung memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela, mungkin agar dapat melihat pemandangan yang terlihat di luar restoran. Selain itu, dia juga kerap mengamati keadaan sekitar di dalam restoran.
Penampilanya yang sekarang kelihatan nyentrik, kami sempat bercerita tentang kenangan kami dulu ketika masih menjadi santri di pesantren. Namun, dia sepertinya bukan Safei yang dulu pernah kukenal, sekarang dia sudah jarang bicara, menjadi lebih ramah dan banyak tersenyum dalam setiap pembicaraan kami.
Beberapa hari yang lalu, ketika dia sedang menuggu datangnya pesanan makan siang di meja yang biasa dia tempati, aku melihat dia sedang memandang sebuah foto, ada wajah seorang gadis kecil berkerudung putih dalam bingkai foto itu.
Pembicaraan pun terjalin, akhirnya aku tahu yang di foto itu adalah anak gadisnya yang sudah lama tidak dijumpai. Namun entah kapan dan dengan siapa dia menikah?, aku hanyalah seorang kawan lama yang tidak tahu bagaimana kehidupanya setelah lulus dari pesantren.
Kemudian mulailah aku juga bercerita tentang kehidupan dan keluargaku, tentang anak gadisku yang sepertinya juga seumuran dengan anaknya. Perbincangan selanjutnya, dia kembali tidak banyak bicara, lebih banyak menyimak dan mengguratkan senyuman ketika aku bercerita.
Tapi ada yang menarik dalam perbincangan waktu itu. Ketika makan siang yang dia pesan telah tiba, dia ingin mengakhiri pembicaraan kami sambil mengeluarkan sebuah boneka dari saku jaketnya yang berukuran cukup besar. Boneka itu diberikan kepadaku, “Berikan ini sebagai hadiah untuk putri kecil mu”.
Serba kebetulan karena ternyata beberapa hari lagi anakku memang akan berulang tahun, dan boneka itu akan kuberikan sebagai hadiah ulang tahunya. Begitulah aku menceritakan tentang lelaki itu, dia yang merupakan kawan lamaku, namun sekarang aku menganggap dia sedikit misterius.

Saat ini aku menghampirinya, dia sedang berjalan menuju ke arah meja tempat diadakanya pertemuan oleh para pengusaha itu. Di meja pertemuan, tampaknya si bos yang kukenal tidak berada di tempatnya, terakhir aku melihat dia berjalan kearah toilet.
Namun, selang beberapa detik setelah itu, aku tidak ingat kejadian selanjutnya !.

Aku baru tersentak sadar, ketika kepala bagian kananku terasa sangat ngilu, seperti terkena hantaman benda keras yang sangat kuat. Ketika membuka mata, terkejut melihat seluruh bajuku bersimbah darah, dan aku terkapar di samping trotoar. Aku tahu tempat ini adalah jalan di depan restoran aku bekerja, tetapi kenapa aku disini ?.
Seluruh anggota tubuhku yang lain seperti mati rasa, kedua tangan dan kakiku tak dapat bergerak, seperti tidak melekat di tubuhku lagi. Aku belum sempat memastikan apa yang terjadi pada tubuhku, sebelum akhirya kembali tidak sadar. Hanya sayup-sayup mendengar suara seseorang sebelum aku sepenuhnya tak sadarkan diri, itu adalah suara si bos tadi. “Restoran telah di bom”.

Aku menjadi korban dari pemahaman orang yang mengaku seiman, kawan baikku sendiri. Kami meyakini kebenaran suci dari agama yang sama, namun kenapa nyawaku direnggut oleh saudaraku sendiri dengan satu alasan yang katanya ajaran agama. Benarkah itu…

5 Mei 2009

Pendidikan Bangsa ku

Baru berselang beberapa hari di bulan ini, kita memperingati hari penting dalam sejarah pendidikan nasional. Setelah kesekian kalinya memperingati hari pendidikan nasional, seharusnya dapat diiringi berbagai bukti yang telah dicapai dalam dunia pendidikan bangsa kita. Tapi, seperti apa kenyataanya?. Jika kita peduli dan kritis terhadap pendidikan bangsa ini, tentu kita dapat menjawab pertanyaan itu secara jujur.

Dari tahun ke tahun, sistem pendidikan di Negara kita memang menjadi polemik dan menimbulkan pro dan kontra di hampir setiap kalangan masyarakat. Seperti kurikulum pendidikan contohnya. Dari pengamat pendidikan, mahasiswa, bahkan sampai masyarakat pinggiran pun ikut berkomentar tentang hal ini.

Dalam sistim pendidikan di negara kita, sering terjadi bongkar pasang kurikulum. Hal tersebut berdampak tidak baik, karena yang sering terjadi adalah belum lagi tujuan kurikulum yang satu diwujudkan, datang lagi kurikulum yang baru. Sebagai contoh, pernah diberlakukan kurikulum yang berbasis kompetensi, sebagaimana yang digunakan di sekolah-sekolah beberapa tahun lalu. Namun entah kenapa, saat ini sudah diganti lagi dengan kurikulum yang baru.

Selain itu, terdapat pula aspek lain yang timbul dari bongkar pasang kurikulum tersebut. Hal itu dimulai dari proses sosialisasi, hingga pelatihan guru atau tenaga pendidik. Dengan sendirinya, dana pun terus menguap untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut.

Kita pun dapat menilik sejarah pendidikan Indonesia dari masa ke masa. Berbagai kepentingan pernah bahkan sampai sekarang masih menjadi penumpang gelap dalam dunia pendidikan bangsa kita. Pendidikan kita pernah diboncengi oleh kepentingan politik, atau dipinjam sebagai kedok industrialisasi pendidikan yang memiliki pemahaman kapitalis bahwa pendidikan adalah uang.

Jika ditanya pendapat saya sebagai seorang mahasiswa teknik. Selama ini saya melihat bahwa penerapan kurikulum seakan-akan lebih memprioritaskan kepada pengetahuan yang dijejali berbagai teori saja, daripada mengutamakan pengenalan secara langsung dalam praktek di lapangan. Selain itu, penjuruan terhadap salah satu bidang pengetahuan secara khusus, belum tercapai secara maksimal.

Sistem pendidikan memang perlu dirancang sedemikian rupa menjadi lebih baik. Dan untuk itu, diperlukan semacam tim khusus yang melibatkan semua kalangan masyarakat baik kalangan pejabat, pendidik, orang tua, maupun cendekiawan muda, dalam artian pendidikan ini adalah milik kita bersama. Kemudian tidak lupa pula dengan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dari pemerintah. Dan pada akhirnya, Semoga saja di hari pendidikan nasional kali ini, tidak sekedar diperingati tanpa ada intropeksi atas apa yang telah dilakukan, melainkan disertai keinginan untuk selalu memajukan pendidikan bangsa.

26 Apr 2009

Aku bukalah Superman


Aku bukalah Superman,
Aku juga bisa nangis, jika kekasih hati pergi meninggalkan aku.

Ayahku selalu berkata padaku,
Lelaki tak boleh nangis,
Harus selalu kuat, tangguh dan tahan banting.
Tapi ternyata sakitnya cinta, buat aku menangis

Ternyata aku bukanlah superman,
Karena aku juga bisa nangis.

Ayahku masih selalu memarahiku
Jika jatuh air mataku,
Kata ayah air mata adalah tanda kelemahan.
Tapi ternyata, air mata ku tetap saja jatuh juga.

Ayahku tersayang maafkanlah aku,
Jika aku masih menangis.
Aku masih belum bisa menjadi seperti apa yang ayah mau.
Sekarang aku berjanji…
Untuk tidak lagi menagis karena cinta.

Titip pesan kami melalui Dhany

Jika di Negara ini kita dapat hidup dan bekerja,
Berarti di Negara ini kita pantas berbahagia.
Jika ini tanah yang indah dan dapat bersemi cinta yg abadi,
Kenapa Negara ini juga dikatakan busuk dan ada yang tersenyum benci

Kita berbicara kenyataan dalam dunia yang sebenarnya tak dimengerti,
Kita bicara kepasrahan dalam spektrum dunia hitam dan putih.
Kita merasa benar-benar pintar, dan memasyararakatkan kebodohan itu.
Intinya, Kita membicarakan kenyataan yang hanya ada dalam dunia fantasi

Jika tahu akan seperti ini, ingin rasanya aku memilih,…
“tidak ingin menjadi bagian dari sejarah yang kau torehkan untuk anak cucu mu”.
Aku bersyukur akan kehidupanku yang sekarang ini, karena aku diciptakan sebagai manusia yang selalu saja berusaha untuk berpikir bagaimana

"aku hanya ingin dapat menangis dan tertawa di saat yang tepat saja".

Kadang aku memang sering meratapi nasipku ini, menyangkal takdir, hingga sesekali tersesat pada pemikiran yang tak jelas arah.
Tapi, jauh di lubuk hati ini, aku bersyukur akan diriku. Karena perlahan akupun sadar, telah diciptakan sebagai manusia yang selalu saja berpikir.
Berpikir apa itu kehidupan, alam dan isinya. Dari berpikir, aku coba memahami sikapku dan sikap mereka yang ada di sekitarku. Diantara kami ada yang sepaham, ada yang berselisih, berpura-pura baik atau terus terang menunjukkan siratan hatinya.
Tapi akhirnya aku tahu, itulah bagian dari kehidupan yang harus kujalani...
Bahkan, jika aku memang ingin benar-benar paham akan kehidupan, aku masih harus banyak belajar dan berpikir tentang dari mana tawa dan air mata itu berasal.
Mereka pasti jarang melihatku mengeluarkan air mata, tetapi mudah-mudahan saja hatiku ini tidak dianggap sekeras batu, karena sesungguhnya akupun pernah pilu karena tersakiti.
Isi hatiku semakin sulit tertebak, karena senyum dan tawa juga jarang tersirat di wajahku. Akan tetapi, siapalah manusia di dunia ini yang tidak mengharap 'senyuman' mengisi kehidupan mereka, begitu juga aku.

"aku hanya ingin dapat menangis dan tertawa di saat yang tepat saja".

Jika kini, dikatakan saat yang tepat bagiku untuk menangisi nasip, itu bukanlah suatu penyesalan. Tetapi hanya cara untuk bercermin diri.
Semoga dengan begitu perlahan dapat memugar tabiat, dan aku nantinya dapat pula 'tertawa' di saat yang tepat. Nantikan aku masa depan.
Semoga saja.........

12 Apr 2009

Kisah Malang Temanku

Aku akan bercerita tentang malangnya nasip temanku yang satu ini.
Mengenai Jodoh, dia termasuk manusia yang tidak pernah letih dalam mencari. Tapi kenapa lebih sering patah hati?.
Hingga pernah suatu saat, dia menemukan kutipan kalimat indah dari buku yang sangat dicintainya. Puisi itu sangat tepat menggambarkan tentang dirinya.
Kurang lebih isinya begini :

"Ada orang-orang tertentu yang memendam cinta demikian rapi, bahkan sampai mereka mati. Sekelilingpun mereka tidak memperlihatkan getas hatinya. Cinta mereka sesepi stambul lama nan melankolis, dengan pengarang yang tidak pernah dikenal.
Jika malam tiba mereka mendengus meratapi rindu, menampar muka sendiri karena jengkel tak berani mendeklarasikan cinta yang mengelitik nadinya. Cintanya tak pernah terungkap, karena ngeri membayangkan resiko ditolak. Lama-lama seperti seorang narsis, mereka menyukai seseorang di dalam hatinya sendiri.
Cinta satu sisi, “indah” tapi merana tak terperi.
Mereka hidup dalam bayangan, mengungkapkan cinta agaknya mengandung daya tarik paling misterius dari cinta itu sendiri".

Mungkin seperti itu pula yang dirasakan temanku.
Begitu malang nasipnya, akan adakah satu pembuktian bahwa selama ini masih ada yang menaruh hati padanya.
Ataukah semua itu harus menunggu waktu terakhir yang akan merenggut raganya. Apakah di kala raga dari kawanku itu telah tiada, jawaban itu baru akan hadir.

wahai kawan,
akan adakah orang yang menangisimu nanti?
adakah yang akan mengungkapkan penyesalan, karena selama ini telah menyia-nyiakan kehadiranmu?.

atau bahkan di saat pergi pun, kau hanya tetap sendiri dan penasaran dalam sepi.
Hidup yang pernah kau jalani, seakan tak pernah ada arti buat mereka di sekelilingmu.
semua itu hanya mereka yang dapat menjawabnya.

yang dapat kutitipkan, hanya satu pesan buatmu
"Jalani saja hidupmu, seperti apa yang sudah digariskan"
Kau mungkin tidak dapat menggapai dunia yang fana. Tapi kau masih punya Dia, yang dapat membantumu raih selamat di alam yang kekal nanti.

aku adalah lumpur

Mungkin keanggunan seorang wanita, bagaikan tembok megah yang memagari lingkup hatinya dengan keangkuhan.
Hal itu tak mengapa bagi kita, lelaki yang sabar tersakiti.

Meskipun perasaan tulus kita, hanyalah dianggap seonggok lumpur.
seonggok lumpur,memang tidak dapat meruntuhkan tembok yang berdiri kokoh,
namun setidaknya dapat terus membekas....

6 Apr 2009

Suara kita, Menentukan Masa Depan Bangsa

Pemilu memberikan kita kesempatan untuk bersuara dan bebas menyalurkan pilihan, terhadap wakil-wakil yang akan menjadi jembatan aspirasi kita di parlemen atau pemerintahan nantinya. Itu semua tidak lain dalam rangka meneruskan kelangsungan hidup negara tercinta kita ini.

Sayangnya meskipun begitu, di negara kita ini masih ada sekelompok masyarakat yang kurang mengerti akan pentingnya memberikan suara dalam pemilu. Karena merasa tidak puas dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah maupun parlemen, mereka memutuskan untuk menjadi Golput dalam pemilu.

Seandainya Golput hanya dilakukan oleh satu kelompok saja, mungkin tidak terlalu berpengaruh. Tetapi jika kelompok-kelompok lain juga mengikuti hal yang serupa, hal itu dapat mengancam jalanya pelaksanaan Pemilu, yang turut pula mengganggu kelangsungan hidup negara tercinta kita ini.

Kelompok Golput seharusnya menyadari, bahwa hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara, harus diiringi dengan tanggung jawab untuk memajukan masa depan bangsa. Salah satunya dengan menggunakan hak pilihnya dalam Pemilu. Sangatlah sia-sia, jika Golput merupakan pilihan yang dimaksudkan untuk menunjukkan rasa ketidakpuasan mereka terhadap situasi perpolitikan bangsa ini, karena pilihan seperti itu hanya akan menimbulkan kekecewaan yang lebih besar di masa yang akan datang.

Begitupun sebaliknya, dengan memilih secara bertanggung jawab berarti kita sebagai warga negara telah ikut menentukan orang-orang yang kita percayai untuk memimpin bangsa ini. Tentunya pilihan tersebut disertai ketelitian dan harapan, agar mereka yang dipilih dapat mewujudkan masa depan bangsa ke arah yang lebih baik Jadi kesimpulanya, suara kita dalam Pemilu ikut menentukan masa depan bangsa.

Dan patut pula dipahami bahwa semua hal di atas, tidak lepas dari peran serta seluruh komponen bangsa, baik komisi yang mengurusi Pemilu, partai politik, Calon-calon wakil rakyat, tokoh masyarakat dan agama, serta instansi terkait lainya. Merekalah yang sangat berperan dalam menanamkan kepercayaan dan memberikan nuansa pendidikan politik yang demokratis kepada rakyat bangsa ini.