My Adsense

15 Agu 2010

GIE dan aku

Menonton film GIE membuat aku menautkan kesimpulan yang sangat dalam. Meski mungkin itu hanya dimaknai sebilah pihak oleh diriku sendiri. Setiap menonton film yang dirasa menarik, aku pasti ingin benar-benar mengikuti alur cerita film itu. Dan untuk film GIE, ketika aku mulai perlahan memahami sosok dan alur yang diceritakan, aku merasa seperti ada yang sama, tapi apa benar sama ? dan tentang siapa yang kumaksud ini ?.

Sebenarnya tulisan ini terlalu banyak menyimpang dari inti paragraph pertama yang sepertinya ingin menceritakan tentang kesamaan dari sosok seorang GIE. Tapi biarlah hanya tulisan ini yang tahu tentang apa yang diperbuatnya.

Dulu sebelum aku menjadi seorang mahasiswa dan menginjak ibukota ini. Aku sudah punya bayangan versi sendiri tentang bagaimana dan seperti apa seorang mahasiswa itu. Bayangan itu adalah, jika nanti aku berangkat dengan tujuan untuk menjadi seorang mahasiswa, maka harus kampus ternama yang menjadi tujuanku. Karena sepertinya disanalah aku bisa benar-benar mendapatkan kehidupan sebagai seorang mahasiswa yang berada dalam dunia kampus. Seperti juga dengan apa yang terlihat dulu, disana aku hanya menyaksikan lewat televisi dan kabar angin lainya, bagaimana mereka yang menjadi mahasiswa sebuah kampus ternama benar-benar dapat memberi arti dari nama mereka sebagai seorang mahasiswa.

Waktu itu yang kumengerti dari mahasiswa adalah orang-orang hebat, mereka adalah cikal bakal para pemimpin, politikus, pengacara, orang-orang pandai yang kukagumi dan sering memenuhi layar kacaku disana. Selama menjadi mahasiswa, mereka tentunya lebih sering mengisi hari dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat yang tidak lepas dari dunia kampus. Dunia kampus yang isinya anak-anak muda pandai gemar membaca, jadi panutan dan disegani masyarakat biasa, pintar berorganisasi dan memimpin, hebat dalam bicara dan berdebat, gemar berkreatifitas dan menuangkan ide liar intelek mereka. Tentunya mahasiswa-mahasiswa seperti mereka berasal dari kampus ternama.

Belum lagi dengan menjadi mahasiswa kampus yang terletak di kota besar, akan banyak sarana dan prasarana yang mendukung segala kebutuhan mereka sebagai mahasiswa. Ditambah lagi seperti apa yang kulihat dalam sinema elektronik pada laya kacaku disini, membuat aku sering berimajinasi, kehidupan seorang mahasiswa yang hebat di kampusnya akan selalu beriringan indah dengan kehidupan asmara dan masa depan cemerlang dia nantinya. Kisah seorang mahasiswa perantau yang akhirnya berhasil meraih semua yang diinginkan oleh masa depanya. Waktu itu terkadang aku berpikir ingin hidupku nanti dapat terjadi seperti sinetron yang pernah kutonton.

Begitulah pandangan gamblangku tentang seperti apa mahasiswa, hanya menurut pikiran yang memang banyak dipengaruhi kabar, tapi memang hanya bisa seperti itu yang tersampaikan di tempat ku dulu nan jauh disana. Waktu itu kami yang belia berkeinginan, dan akhirnya salah satu sumber untuk menemukan mimpi dari keinginan kami itu adalah melalui media visual. Itupun hanya untuk kami yang mempunyai mimpi, dan hanya untuk diantara kami yang niatnya begitu menggebu hingga pandai menautkan sendiri kesimpulan dari mimpinya, tentang seperti itu seharusnya kehidupan kami nanti di ibukota sana. Dalam hal ini adalah sebagai seorang mahasiswa.

Jauh sebelum menonton film GIE, aku yang waktu itu sama sekali belum mejadi seorang mahasiswa, tapi sudah berimajinasi seperti apa yang terjadi pada GIE dengan dunia kampusnya. Jika jadi mahasiswa nanti, aku harus bisa masuk ke kampus yang ternama. Bukan hanya dari segi pengetahuan yang akan kudapat tapi aku juga harus bisa masuk kedalam segala sisi beluk dunia kampus, organisasi, politik, kegiatan extrakulikuler, apapun itu yang berhubungan dan mencitrakan aku sebagai seorang mahasiswa. Harus seperti itu !.

Waktu pun berlalu, akhirnya sampailah saat dimana aku harus berangkat ke kota besar ini dengan tujuan untuk menjadi seorang mahasiswa. Kampus ternama, itu tujuan pertamaku. Harus bisa kubuktikan, seperti pada kakakku yang sering kuremehkan di depan orang tuaku karena hanya bisa masuk ke kampus yang biasa saja. Terkadang aku memang orang yang congkak jika itu berhubungan dengan ambisi, dan mungkin saja sama dengan kalian. Tapi jika diantara kalian tetap ada yang bisa membuktikan apa yang kalian ambisikan, pada akhirnya itu tidak terjadi dengan diriku pada saat itu.

Aku gagal masuk kampus ternama karena kecongkakanku. Hingga tidak menyadari bahwa ketika mulai menginjak kota besar ini aku telah semakin dewasa dan resmi disebut perantau, dan jika benar pikiranku telah dewasa dan sadar perantau itu adalah pejuang, seharusnya aku mempersiapkan secara matang tujuan utamaku ke kota besar ini. Tapi waktu itu aku tanpa persiapan apapun, masih ada bau manja meski sebenarnya aku telah terlepas jauh dari keluarga, yakin karena dulu disana aku selalu dibanggakan, membuatku tetap yakin dan semakin congkak. Tapi ternyata di sini aku bukan belum ada apa-apanya, tapi tidak ada apa-apanya. Aku gagal masuk kampus ternama.

Perlu waktu yang cukup lama untuk menghilangkan kesedihanku, bahkan sampai sekarang aku menulis ini, masih ada sedikit rasa penyesalanku. Seharusnya aku tetap bisa masuk di kampus ternama itu. Dari sekian banyak penjurusan ilmu yang ada, kenapa waktu itu aku tidak sadar akan minat, yang ternyata kedepanya baru kutahu hingga menjadikan aku begitu cinta terhadap duniaku yang sekarang ini. Aku pasti bisa jika dulu tidak salah menjatuhkan pilihan !. Memang dasar aku yang masih saja congkak dalam berambisi.

Sudahlah, tidak masuk kampus ternama bukan berarti aku tidak bisa menjadi mahasiswa seperti apa yang kuinginkan. Aku percaya takdir, dan mungkin untukku takdir ini akan sedikit berubah di awalnya. Aku tetap masuk dalam dunia kampus, tetapi bukan kampus yang ternama. Dan setelah resmi menjadi mahasiswa, dimulailah perjuanganku untuk menjadi mahasiswa yang benar-benar mahasiswa seperti apa yang kuimpikan dulu. Dari awal aku tahu, kampusku yang ini akan sangat berbeda dengan kampus yang kuimpikan dulu, tapi ya sudahlah, kenyataan yang ada memang hanya seperti ini.

Meski aku bukan mahasiswa kampus ternama itu, aku tetap bisa merasakan seperti apa kehidupan di kampus mereka, selalu berusaha agar bisa menjadi bagian dari mereka meski secuil, apapun kulakukan untuk bisa mengambil pengalaman positif dari dunia kampus mereka. Apalagi setelah aku semakin tahu bahwa di kampusku sendiri, benar-benar bukan kampus untukku.

Awalnya kampusku tidak bisa menjadikan aku sebagai mahasiswa seperti yang selama ini aku impikan. Aktifitas kekampusan di kampusku berjalan secara pasif, karena mungkin merasa sadar akan mahasiswanya yang juga pasif. Tapi aku tidak pasif !, memang aku sadar tidak mampu untuk masuk ke kampus ternama itu dan terpaksa berada di kampus biasa ini, tapi bukan berarti aku tidak ingin seperti mereka yang ada di kampus ternama itu. Apa yang mereka dapatkan setidaknya sama dengan apa yang kuimpikan sebagai seorang mahasiswa. Tetapi kenapa kampusku tidak bisa mengerti tentang hal tiu.

Selama aku tetap berada di kampus biasa ini, terpaksa sebagian mimpiku direlakan mati bersama kepasifan yang dibangun di kampusku sendiri. Apa yang bisa kuperbuat jika dikampus ini kami dibiasakan untuk pasif. Terbitlah tujuan besarku, jika di kampus ini aku tidak bisa menjadi benar-benar mahasiwa seperti apa yang kuimpikan maka kenapa aku tidak mendapatkan apa yang bisa kuambil di kampus ternama itu. Dimulailah perjuanganku sebagai seorang mahasiswa untuk dapat merasakan kehidupan kampus. Segala macam kegiatan pengetahuan dari kampus ternama yang bisa ditujukan untuk mahasiswa kampus lain, sering kuikuti selama sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

Aku mencoba bergabung sebisa mungkin dalam organisasi yang diadakan oleh mahasiswa kampus ternama tersebut. Itu semua tidak lain hanya untuk mewujudkan mimpiku dulu. Dan memang dari hal itu aku cukup bisa melihat semuanya, dunia kampus mereka yang selama ini ada dalam mimpiku sebagai seorang mahasiswa, membuat aku semakin kagum terhadap orang-orang muda intelek yang dicerminkan melalui cara berpikir dan bersikap, wajarlah jika ahirnya aku kembali menyesal dan sedikit iri.

Tapi dari semua itu juga akhirnya menimbulkan kesadaran yang dalam pada diriku. Itu semua memang mimpiku tapi aku tetap tidak bisa jadi seperti mereka. Merekalah yang telah terpilih di kampus ternama itu karena memenuhi kriteria yang dicari oleh dunia kampus mereka, berbagai seluk beluk organisasi kepemimpinan yang memerlukan pemikiran dari orang-orang bijak dalam bertanggung jawab, bahasa-bahasa perdebatan politik pelik yang untuk mengertinya haruslah terisi banyak pengetahuan dan sanggup berpikir rumit untuk menghadapi segala kemungkinan.

Sedangkan aku tetap dengan diriku yang pada dasarnya memang hanya begini. Jikapun ada sedikit kelebihan itu adalah dari apa yang kudapat selama ini, yang coba kucari dari dunia kampus mereka. Sudah cukup jika aku yang begini dapat sedikit dianggap, tapi apa benar pernah dianggap. Dengan pernah dekat dengan mereka, cukuplah sedikit ilmu karena memang hanya seperti itu yang dapat kumengerti. Itu dunia mereka dan biarlah cukup sebagai pengalamanku dan mengendap dalam mimpiku dulu.
Sebaiknya cukuplah bagiku mengejar mimpi di kampusku yang biasa saja, meski cendrung pasif tapi aku masih dapat bergerak dan dianggap oleh kampusku sendiri, kampusku yang mahasiswanya jarang berkoar tentang hal politik atau apapun, tapi cukup dengan pengalaman yang sudah kudapat membuatku mengerti akan lurus atau keloknya arti, jika mahasiswa sudah berbicara politik.

Tinggal tersisa satu lagi mimpiku sebagai mahasiswa yang harus aktif dengan dunia kampus, itu diluar sisi organisasi, politik dan segala tetak bengek lainya. Aku harus aktif mengembangkan bakat dan hasrat liarku sebagai seorang muda dan mahasiswa. Untuk hal ini aku tidak perlu jauh-jauh melihat dari kampus ternama diseberang sana, meski menurutku mereka tetap mempunyai nama untuk segala hal yang berhubungan dengan dunia kampus apapun. Tapi untuk bidang yang satu ini, sebenarnya adalah tergantung dari niatku sendiri karena kampus tidak beperan secara keseluruhan selain sebagai prasarana, karena ini meski bergerak atas nama mahasiswa tapi tetap dinaungi kampus. Aku harus jadi mahasiswa yang aktif dalam kegiatan extrakulikuler kampus.

MAPALA, tujuan pertamaku. Dari artinya saja, mahasiswa pencinta alam, sudah membuat aku sangat tertarik. Dan dari arti nama itu juga aku sudah dapat menebak kegiatan-kegiatan apa saja yang mereka lakukan. Mendaki gunung, lewati lembah yang menglir sungai-sungai indah. Bagaimana aku tidak tertarik, jika sejak kecil adrenalinku sudah bisa terpacu dengan kegiatan-kegiatan menyongsong alam seperti itu. Ketika kecil kami disana lebih tertarik mendaki bukit, berjalan jauh melewati terjal dan curam, atau berenang merasakan dinginya mata air sungai, dibandingkan duduk manis layaknya anak rumahan dengan permainan modern mereka. Tanpa disadari, sebenarnya hati kecil kita menyadari bahwa keindahan murni dari alam takkan pernah ada bandinganya dengan kemajuan zaman apapun, karena dari itu kita bersyukur akan kebesaranNya.

Tapi dalam hal ini kenyataanya tidak sama dengan cerita dalam film GIE. Yang pada akhirnya aku tidak jadi masuk sebagai anggota MAPALA. Dan tidak juga ada rasa penyesalan seperti yang sudah-sudah, karena ini dari keinginanku sendiri. Setelah aku tahu bahwa dengan kegiatan ini, mungkin harus banyak mengorbankan mimpi lainku sebagai seorang mahasiswa. Tentunya aku harus memilih salah satu yang terbaik dan tidak ingin kuliahku terbengkalai karena salah memilih. Akupun masih tetap bisa mensukuri keindahan alamNya tanpa menjadi anggota MAPALA resmi di kampusku, hatiku tetap saja tergerak jika ada niat bersama-sama teman untuk menyongsong alam, sampai sekarang tak ada kegemaran yang melebihi hal yang satu ini. Hanya saja aku tetap harus menyesuaikan dengan kegiatan utamaku yang lain.

Suatu saat nanti aku ingin sendiri meresapi keindahan alamNya, puaskan adrenalin yang terkadang bisa sangat liar, mendaki gunungnya semampuku, merasakan curamnya lembah dengan kemenangan atas rasa takutku, dan menyelam di kejernihan mata air sungai untuk menenggelamkan segela kebisingan dalam otakku.

Tak menjadi anggota MAPALA, tapi aku masih punya satu minat yang cukup besar terhadap satu kegiatan di kampus ku ini. Rasanya keinginan ini dapat berjalan lancar karena tidak akan mengganggu aktifitas lainku sebagi mahasiswa, aku juga masih bisa memuaskan semua adrenalin liarku disini. Keinginan yang terbit dari hobby dan sampai sekarang terus rutin kulakukan. Jika tubuh kita kuat, maka jiwapun begitu. Aku yang sering berpikir kerap dilanda kejenuhan, semuanya bisa terlampiaskan total melalui kegiatan fisik mengolahkan raga. Maka aku menjadi anggota olahraga beladiri di kampusku. Tapi ini tidak pernah menjadi mimpiku, karena aku benci kekerasan. Meski perlahan aku mendalami sendiri filosofinya dan menemukan apa yang kucari selama ini. Arti dari kekuatan, ketenangan, keluwesan, kecepatan, pertahanan, ketahanan, kesabaran, yang semuanya itu tidak lepas dari filosofi perjuangan dalam menjalani hidup.

Apalagi yang ingin diceritakan dalam tulisan ini, sedangkan intinya sudah sangat jauh melenceng. GIE adalah mahasiswa sebuah kampus ternama dengan segala aktifitas yang akhirnya dapat menjadi sejarah dan menoreh namanya sebagai salah satu mahasiswa bersejarah di negeri ini. Dia yang puitis sering menulis setiap hal yang dianggap penting dalam hidupnya, kata-kata dalam tulisan tingkat tinggi yang begitu mengena di hati, meski hanya tentang kejadian sehari-hari yang biasa atau terkadang konyol, tapi ada juga luapan kemarahan atas ketidak adilan, ketimpangan keadaan sosial dan panasnya situasi politik yang waktu itu dia rasakan. Segala yang dia rasa berarti maka ditulis oleh dia, dan kini dari tulisanya yang berarti itu dia dikenal.

Dalam filmnya, dia adalah mahasiswa yang paham dan gencar menyuarakan kebenaran melalui politik, dan dia termasuk salah satu orang yang ikut berperan dalam sejarah politik bangsa ini. Film ini sebagian besar juga tidak terlepas dari penceritaan tentang dia yang merupakan anggota mahasiswa pencinta alam di kampusnya. Banyak inspirasi tentang alam yang dia ungkpkan melalui tulisan-tulisanya. Hingga kisah yang paling tragis adalah hidupnya yang ternyata berakhir di tangan alam yang sangat dia cintai.

Dan ada satu hal yang hampir terlupa dari tulisan ini, namun sebenarnya merupakan hal penting tentang sosok dia. Dia adalah lelaki yang mungkin terlalu banyak berpikir, hingga dalam kehidupan, urusan perkawanan bahkan asmara cendrung terlihat kaku. Meski ketulusan dan kelurusan hatinya tidak bisa tersamarkan oleh semua itu.

Aku sekarang bukanlah mahasiswa lagi, Alhamdulillah segala urusan dunia kampus itu dapat kuselesaikan dalam waktu yang sewajarnya. Mimpiku tentang menjadi mahasiswa akhirnya kujalani apa adanya saja. Aku sempat dianggap dalam dunia kampus tempat ku dulu, atau mungkin juga tidak sama sekali, ah aku sudah aku semua tentang hal itu. Aku juga tidak terlalu intelek layaknya seorang mahasiswa yang telah menjadi sarjana, buktinya sekarang apa yang menjadi pekerjaanku sama sekali tidak berlatar belakang dari jalur pendidikanku. Tapi sesuai dengan mimpi dan apa yang kucita-citakan, pekerjaan yang tidak menjadi rutinitas tapi kebiasaan yang sangat kucintai. Kebebasan, kebersamaan, petualangan, emosi, fisik , bersatu membaur dalam pekerjaanku ini.

Aku tidak sama dengan GIE yang jadi sejarah atau mungkin aku belum menjadi sejarah, setidaknya nanti untuk anak cucuku sendiri. Aku selalu memohon agar tidak mati muda sepertri GIE, dan tidak mengerti tentang tulisan GIE yang akan berbahagia dengan mati muda. Aku tak pernah takut dan lari dari masalah kehidupanku, karena salah satu alasan aku hidup adalah memang untuk menyelesaikan itu. Maka, inilah aku…

Lantas apanya yang sama ?.

Isi puisi itu tak selalu indah. Dan berpuitis tak selamnya jauh dari kenyataan. Aku dan GIE atau mungkin juga kalian, sama-sama mencoba menghargai kehidupan nyata yang dialami dengan berpuitis secara tulus dari hati. Cukup kita sendiri yang terlebih dahulu puas setelah isi hati lunas terungkap tuntas.

BEGINI RAMADHANKU

Beda sekali rasanya suasana ramadhan kali ini. Apa karena banyak yang pada pulang kampung ya?. Di lingkungan ini banyak terdapat kos-kosan mahasiswa dan biasanya sampai tiga minggu di bulan Ramadhan, di mesjid yang biasa jadi langganan tempatku berbuka puasa ini, ketika menjelang magrib kami penghuni kosan selalu ramai berkumpul untuk berbuka puasa bersama. Tapi Ramadhan kali ini, baru dihari puasa yang keempat mesjid sudah lengang. Sedikit sekali mahasiswa yang datang, kebanyakan hanya para pekerja bangunan apartemen yang hendak dibangun di sebelah mesjid ini.

Bukanya tidak mensyukuri, tapi hidangan berbuka puasa yang disajikan rasanya juga sudah mulai berkurang menunya. Selama berbuka puasa di mesjid ini, tidak pernah minuman yang disajikan hanya Aqua gelas saja, tapi itu terjadi dihari ini. Mungkin saja karena bapak yang selalu rutin mengantarkan minuman buah dingin juga sudah dua hari ini tidak kelihatan. Biasanya dia yang rajin untuk membuat dan mengantarkannya ke mesjid. Orang tua yang ramah, selalu dia yang kuingat pertama kali di mesjid ini jika Ramadhan sudah tiba. Terimakasih ya pak.

Ah sudahlah, Ramadhan kali ini memang juga bertepatan dengan libur kampus, jadi wajar jika teman-teman mahasiswa pada pulang kampung. Dan apapun makanan berbuka puasa yang disajikan, perutku juga biasanya hanya cukup menampung air dua gelas dengan sedikit makanan alakadarnya. Jadi kelengangan ini wajar dan makanan berbuka puasa yang sedikit juga tetap cukup untukku, Alhamdulillah. Ingin gratis memang harus terima apa adanya.

Setelah selesai shalat Maghrib, baru waktu yang tepat agar perutku ini dapat terisi secara normal. Warung di samping mesjid yang menjadi tujuanku. Warung ini baru dibangun, pemiliknya juga baru kukenal, dan menu mie ayam serta jus alpukatnya yang selalu menjadi hidangan favoritku selama empat hari di bulan puasa ini. Ada kejadian yang kuanggap lucu selama beberapa hari aku menyinggahi warung ini. Setiap kali aku datang, pasti si pemilik warung sedang menonton acara film anak-anak “ipin dan upin”. Padahal dari segi umur, si pemilik warung sudah dewasa bahkan berusia lebih tua dariku, tampangnya pun gahar dan rasanya kurang pantas untuk menggemari film “upin dan ipin”. Warungnya pun belum terlalu ramai didatangi pengunjung, maka setiap selesai maghrib kami berdualah yang menjadi penonton setia film “upin dan ipin” di warung ini.

Setelah sekitar setengah jam aku berada di warung tersebut, waktu shalat Isya pun tiba. Aku segera bergegas menuju mesjid, tentunya setelah membayar makanan dan minuman yang sudah kusantap, cukup murah, selalu lima belas ribu setelah ditambah dengan rokok djarum super setangah bungkus.

Kemudian aku Shalat Isya yang dilanjutkan dengan shalat taraweh dua puluh rakaat, serta shalat witir tiga rakkat. Setelah itu kembali ke kosan tercinta, yang harus ditempuh dengan kendaraan umum lagi. Jika dulu, lokasi kosanku memang disekitar lingkungan mesjid ini, tapi sekarang aku sudah pindah ke tempat lain. Karena aku merasa bukan sebagai mahasiswa lagi, dengan tetap tinggal di tempat ini membuat aku rindu dengan kehidupan mahasiswa dulu.

Rindu dengan kegiatan utang piutang ku di setiap warung dan warteg yang ada di lingkungan ini, rindu dengan masyarakat sekitar yang sudah gerah dengan sikap cuekku tapi selalu saja menganggap aku sebagai keluarga, rindu dengan sebagian anak-anak kampung yang seakan selalu megajak ribut tapi tak pernah mau untuk ribut benaran, rindu dengan kenanganku yang selalu pulang tengah malam seperti pencuri meski untuk kekamarku sendiri, rindu dengan kamar sumpekku karena kelebihanya adalah bersebelahan dengan kamar mahasiswi cantik tapi jutek, rindu dengan suara mesin laptop jadul yang selalu membuat berisik pada saat masa-masa skripsiku dulu, rindu dengan pemilik kosanku yang sudah seperti kelurga kandung. Aku rindu dengan mereka semuanya, yang tampak kehilangan pada saat aku mulai memindahkan barang-barang ketika hendak pindah.

Setelah sampai di lorong masuk ke kosanku yang sekarang, aku menyempatkan lagi untuk mampir ke warung terdekat langgananku. Selama beberapa hari di bulan Ramadhan ini, aku memang selalu membeli makanan untuk sahur terlebih dahulu. Cukup murah juga, nasi ayam dan es teh manis selalu hanya sepuluh ribu. Penjaga warung itu seorang gadis manis yang kerap senyum setiap kudatang, tapi mulai cemberut jika aku mulai memesan makanan. Karena dia harus bertanya sampai lebih dari sekali padaku, menurut dia suara dari ucapanku selalu terdengar kurang jelas. Ah tidak mungkin, telinga gadis manis itu yang sepertinya terganggu. Mangkanya aku sering enggan untuk segera memesan makanan jika di warung itu sedang banyak pengunjung, apalagi jika mereka adalah tukang-tukang ojek yang kukenal dan sering menimpali ucapan gadis itu terhadapku. Kusempatkan duduk sebentar ditemani sebatang rokok dan segelas air putih yang kutuang sendiri, mencoba berbasa-basi hingga mereka pergi dan warung sudah sepi. Mungkin dengan begitu gadis penjaga warung tersebut bisa lebih leluasa menyindirku, atau memang dia sengaja karena merasa hanya dengan begitu aku bisa lebih banyak bicara. Mungkin saja.

Kalau sudah sampai di kamar kosanku ini, sepertinya apa yang terjadi selanjutnya adalah kegiatan biasa yang selalu terulang-ulang tiap malam di bulan Ramadhan ini. Kecuali jika teman-teman kosanku itu ada disini, tapi mereka semua memang sedang pulang ke kampung mereka masing-masing. Setelah aku meletakkan apa yang kubawa ke tempat yang mestinya aku letakkan, tas ransel, sepatu, kantong berisi makanan dan minuman. Maka, sekarang waktunya berleha-leha.

Dengan bertelanjang dada, serampangan aku berbaring di lantai ubin kamarku ini. Letak kamarku berada di tingkat dua, jadi lantainya tidak terlalu dingin. Aku bahkan bisa tertidur sampai pagi di lantai, tidur di kasur empuk pemberian pemilik kos ini malah membuat aku tidak nyaman, seperti tidur diatas lumpur hisap, tengah malam aku sering sekali terbangun karenanya. Biasanya aku juga ditemani segelas susu elmen, roti dan beberapa batang rokok. Setelah itu semua sudah siap, mulailah aku mengidupkan PC, memasukkan satu folder lagu kesayanganku ke dalam playlist winamp, phonepun sudah siap terpasang di telinga, Microsoft word terpampang di layar monitor, dan akupun mulai mengetik tentang apa saja. Seperti tulisan remeh temeh yang sedang kalian baca ini.

Jika sudah lelah mengetik atau inspirasiku sudah mulai buntu, tetap kubiarkan komputer ini tetap menyala agar lagu-lagu itu tetap mengalun di telingaku. Segelas susu dan roti telah tandas dari tadi, rokok biasanya tersisa dua batang untuk sahur nanti. Kusingkirkan asbak dan abu rokok, matikan lampu, dan biarkan diri tertidur di lantai sambil mendengarkan lagu. Harapku esok sebelum subuh terbangun tepat waktu, sahur sampai imsyak dan kemudian Shalat shubuh.

Astagfirullah, aku terbangun tapi sepuluh menit lagi akan imsyak. Bergegas aku buka plastik berisi makanan dan minuman itu. Lupa aku hangatkan malam tadi, sedikit basi, dan es telah lama mencair. Nikmati saja apa yang ada setelah niat, lima menit semua pun tandas. Masih ada lima menit lagi buatku mengepulkan asap rokok, itupun selesai dengan meninggalkan puntung seperempat. Imsyak telah dikumandangkan, terlalu cepat rasanya atau memang aku yang terlalu lambat. Kusingkirkan lagi apa yang telah menjadi sampah. Lalu bergegas ke kamar mandi, cuci muka, berangkat ke mesjid untuk shalat subuh.

Sahur terburu-buru seperti ini rasanya akan kerap terjadi selama bulan Ramadhan ini.

Pesan untuknya

Aku masih disini, menyimpan kasih yang tersembunyi.
meski kau telah pergi, tinggalkan aku yang tak pernah di hati.
Tak ada yang merasa tersakiti, tak ada juga yang perlu disesali.
Biarlah aku tetap disini, meski menanti sesuatu yang tak pernah memberi arti.
Aku hanya ingin sepi ini tetap berarti, untuk orang yang pernah kukasihi.
Ingin tetap menjadi saksi segala tentang dirimu ketika melewati hari.
Sesekali cemburu bergelayut di hati, karena kini kau tak lagi sendiri.
Tapi aku bukanlah lelaki tak tahu diri yang ingin jadi duri dalam kisah ini,
karena itu hanya membuat kau semakin membenci aku yang tak sadar diri.
Cukuplah dalam sepi ini aku berjanji sendiri, bahwa kau kan selalu tetap di hati.
Kini kisah kalian sedang bersemi, pasangan serasi yang saling mencintai.
Biarlah aku disini, rela menjadi saksi kau yang sedang berkasih.
Agar rindu hati tetap dapat terobati, meski dengan kau yang tak harus kumiliki
Pesanku, jangan sampai kau tersakiti.

Pagi dan Malam

Percuma kau harapkan cahaya dari malam,
karena yang bisa dihayati hanyalah kelam,
cukuplah temaram bintang membuat kau tenang.
Dan biarkan waktu berdetak sesuai alunan takdirnya,
hingga esok kau disadarkan pagi,
resapi cahaya mentari yang sudah kau nanti.
Meski itu tak selamanya,
Karena waktu juga yang kembali hadirkan malam,
Tak ada yang perlu disesali,
karena hidup memang seperti itu.
Hayati saja sebijak mungkin apa yang kau bisa,
temukan tenang meski dalam temaram malam,
dan hadirnya cahaya pagi tak membuat kau terlena,
karena malam tetap akan kembali datang.
Kau bukanlah siapa-siapa yang dapat pudarkan malam,
meski jengah karena tenang tak pernah kau dapati dari kelam.
Kau tak bisa berharap agar pagi selamanya,
meski memang itu yang selalu dinantikan hati.
Sebenarnya pagi dan malam sama saja,
karena dengan keduanya kau bisa tahu arti hidup.
Ini hanya masalah waktu,
yang dengan begitu kau dapat menghargai hidup.
Kau sudah beruntung jika dapatkan malam,
karena belum tentu bisa seperti itu terhadap pagi.
Kau boleh berharap ingin selalu ada dalam pagi,
tapi tak bisa memilih jika dimalamlah kau kan tiada.
Bairkanlah waktu berputar dan kau hanya tinggal menghayati,
tak ada yang perlu disesali karena kau hanya tinggal menanti,.
Semuanya akan kembali kepada sesuatu yang pasti.

13 Agu 2010

Aku munafik karena Ramadhan

Dialah maha pengampun dan berkehendak. Jika diberi kesempatan untuk dapat melihat dunia pada usia selanjutnya maka Alhamdulilah di tahun berikutnya itu kita masih dapat bertemu dengan Ramadhan, bulan penuh berkah dan ampunan yang selalu datang menyambangi kita tiap tahun. Di saat bulan suci, banyak manusia zaman sekarang yang sudah menganggap itu seperti tradisi yang mengharuskan mereka berbondong-bondong beribadah, dengan tujuan mensucikan diri dari segala dosa yang pernah terjadi. Tapi, bukankah sebenarnya ibadah adalah sebuah keharusan mutlak tanpa menunggu hadirnya bulan suci Ramadhan. Ya, seperti itu yang kita yakini meski kerap berbeda dengan apa yang terjadi.

Aku sendiri memahami tentang bulan suci ini dengan terlebih dahulu menilik diriku sendiri, dan menaut kesimpulan bahwa dari dulu aku tidak lebih dari orang yang munafik. Ya, aku yang sebenarnya sering tidak menghiraukan hadir tidaknya bulan Ramadhan ini, juga tidak berarti sama sekali bagiku akan ada tidaknya makna dari bulan suci ini. Maka, inilah ungkapan hati yang tak munafik, bermuara tulus dari curahan lubuk hati yang terdalam. Jerit pengakuanku sebagai manusia yang sudah tidak kuat hidup berkubang hina. Dalam Islamku, aku seperti mendustakan ajaran suci agama sendiri. Sebagai muslim, aku sama sekali tidak tahu bagaimana bersikap sebagai seorang muslim.

Beribadah padaNya tidak selalu rutin kulaksanakan. Kalaupun iya, tidak lebih dari keharusan terpaksa yang terikat tata cara dan aturan waktu. Aku tidak mengindahkan hal penting bahwa ibadah sebenarnya adalah sarana yang bisa menjadi jalur komunikasi antara aku dan Dia, maka perlu persiapan lahir batin secara suci setiap kali akan melaksanakanya. Adalah kebenaran, Dia Yang Maha Agung pencipta seluruh manusia beserta alam semesta. Tapi kenapa, untuk ibadahpun terkadang masih kupilah-pilah agar tak mengganggu rutinitasku di dunia milikNya yang fana ini. Itukah yang disebut keyakinan akan KekuasaanNya ?. Sedangkan karena segala yang ada di bumi ini adalah milikNya, maka tak ada yang pantas ditakutkan selain kekuasaanNya.

Sama sekali aku belum memahami makna dari ibadah yang kulakukan dalam penjabaran kehidupan. Ilmu yang pernah kupelajari hanya tertanam sebagai teori dan membekas sedikit saja dalam tabiat, itupun belum benar-benar dipahami dan banyak yang terlupa. Padahal aku sangat meyakini, sadar diri sebagai hambaNya yang lemah. Manusia beserta bumi dan seluruh isinya adalah milikNya yang pasti akan kembali dan musnah. Tapi bahkan kebenaran mutlak seperti itu, masih saja sering disangkal melalui segala tindakanku secara sadar.

Sebagai manusia betapa kecil dan banyak kelemahan yang ada pada diriku ini. Tapi disaat melakukan dosa, aku seakan tak menyadari kecilnya diriku di hadapanNya . Dengan melakukan dosa, aku tidak takut melanggar laranganNya. Maka pantaskah aku disebut hambaNya yang beriman ?. Dia Maha Pemaaf dan karena aku hanyalah manusia, maka aku yakin dosaku yang sekali selalu ada pintu ampunan dariNya Tapi bagaimana jika dosa itu terus berulang kali terjadi, aku selalu tidak bisa mengambil hikmah dari apa yang terjadi, bukankah yang disebut manusia harus dapat mengambil pelajaran agar tidak mengulang kesalahan yang sama untuk kesekian kali ?. Maka pantaskah aku disebut manusia, jika tak dapat memberdayakan akalku ini untuk menuju jalan yang benar?.

Bulan Ramadhan adalah bulan Agung, bulan suci yang penuh ampunan dan berkah. Tapi apa yang kutulis ini adalah cerita tentang apa yang sebenarnya, aku memaknai bulan Ramadhan secara kerdil dengan penuh kemunafikan. Dan secara umum menceritakan tentang bagaimana selama ini aku tak pernah takut melakukan dosa. Ya, hal itu memang benar jika selama beribadah aku belum juga bisa memahami secara keseluruhan tentang maksud dari Ibadah tersebut. Aku yang masih pongah dan selalu ingin kelihatan sebagai orang yang berbudi dari luarnya saja. Kerap kali aku jatuh pada dosa yang sama, mengumbar taubat yang hanya terucap di mulut saja. Apa yang diniatkan hati selalu bertentangan dengan upayaku, meski aku meyakini akan KebesaraNya.

Apakah aku yang seperti ini tidak sendiri ?.

Tapi dengan begininya aku, selalu saja aku mempunyai niat untuk berubah menjadi umatNya yang lebih baik. Meski dalam pembuktianya selama ini, langkah nyataku selalu membuat kesungguhanku itu patut dipertanyakan. Tapi tidak dengan niatku, niat yang tulus selalu berasal dari hati, di situlah sumber rasa cinta dan Keimanan terhadap Dia. Aku masih punya itu....

Bagaimana dengan kalian ?

12 Agu 2010

Kopiah

Bulan ramadhan yang kulalui sekarang memang ada yang berbeda jika dibandingkan dengan yang kualami beberapa tahun kemarin. Sekarang ini aku sudah punya penghasilan sendiri, meskipun secara nominal masih bisa dibilang sedikit. Aku tidak lagi seperti masa kuliah dulu, perlu berbagai spekulasi dalam mengkalkulasi uang untuk jatah makan sehari-hari, agar kiriman nominal perbulan dari orang tua dapat mencukupi. Begitupun dibulan Ramadhan ini, Alhamdulillah dengan keadaan yang sekarang, aku tinggal memilih hidangan berbuka puasa sekaligus makan sahur apa yang ingin kusantap.
Aku juga punya ongkos yang cukup jika ingin bertaraweh di mesjid kebanggaan Ibu kota, Istiqlal. Jika dulu, karena masih memikirkan jarak dan ongkos serta lain sebagainya, keinginan itu selalu tertunda. Teringat masa dulu, hal itu adalah salah satu keinginan terbesarku jika sampai menginjak Jakarta, yang mungkin dianggap sepele untuk mereka yang sudah lama mendiami ibukota ini.
Aku juga bisa membeli sendiri alat-alat perlengkapan shalat yang selama ini sebenarnya bisa kudapatkan, tapi akunya yang tidak pernah menggenakan. Entah kenapa ketika menjelang ramadhan, terbersit sebuah niat kecilku, aku ingin selalu menggenakan kopiah bundar.setiap kali shalat. Bahkan hampir saja aku bernazar akan menggunakanya kemana saja aku pergi selama dibulan ramadhan dan semoga sampai seterusnya. Tapi niatku urung, mungkin itu hanya keinginan yang tak penting dan menggebu sepintas saja, tak usahlah di setiap waktu, cukup diwaktu sedang shalat saja.
Dan jika boleh bercerita, dari kecil setiap kali shalat aku paling enggan mengenakan kopiah dan sarung. Meski dibelikan, tidak pernah aku pakai, hal itu terbawa sampai aku dewasa. Rasanya ada yang ganjil dalam setiap gerakan jika shalat mengenakan kain sarung. Dan jika dibelikan kopiah, selalu kucoba terlebih dahulu. Hanya saja dari sekian kalinya dibelikan, kopiah tersebut lebih sering sesak dan tidak sesuai di kepala. Mungkin karena ukuran kepalaku yang sedikit melebihi ukuran normal.
Sampai akhirnya menjadi kebiasan dan merasa lebih sesuai jika aku shalat tanpa menggunakan kedua benda tersebut. Entah benar tidaknya pendapatku ini, karena memang sering kulihat mereka yang shalat di mesjid kebanyakan menggunakan kopiah dan kain sarung. Aku juga tidak menganut paham apapun, ini hanya faktor kebiasaan yang mungkin bagi sebagian orang kurang berkenan. Tapi InsyaAllah selama tidak menyalahi syarat wajibnya shalat, kopiah dan sarung itu semoga juga hanya kebiasan dan pelengkap shalatnya orang-orang terdahulu.
Jadi itulah niatku, dibulan ramadhan ini aku ingin sekali shalat menggunakan kopiah, tapi tidak dengan kain sarung. Mungkin itu hanya niat yang bisa dianggap sepele, meski kalau boleh dibilang besar artinya bagiku. Karena keinginan memakai kopiah itu diiringi niatku juga agar shalatku yang sekarang InsyaAllah bisa memenuhi syarat waktu dan kekhusyuanya. Aku ingin membeli kopiah yang terbuat dari bahan yang nyaman dipakai, kopiah yang bisa muat di kepala besarku ini.
Sore sepulang kerja aku ingin mampir sebentar ke pusat perbelanjaan untuk membelinya, tapi apa niatku itu akhirnya jadi setengah-setengah atau mungkin karena dikejar waktu shalat taraweh pertama diRamadhan ini. Akukan harus menempuh perjalanan cukup lama dengan kereta ekonomi yang waktunya juga kadang tak pernah tepat. Perkiraanku selanjutnya pun salah, karena di sekitar stasiun juga tidak ada yang menjualnya. Ah, sudahlah, masih ada niatku yang lain, taraweh pertama ini aku harus shalat di mesjid Istiqlal. Dan kereta ekonomi mengatarkanku ke stasiun terdekat menuju ke sana.
Tapi ketika sampai di depan gerbang mesjid istiqlal, aku melihat seorang pak tua yang sedang menjajakan kopiah daganganya. Entah mungkin karena aku kasihan, bapak tua itu sangat berharap aku membeli satu saja kopiah yang dijualnya. Kopiah yang murah, hanya lima ribu rupiah. Setelah kucoba, bahanya cukup nyaman dan sesuai juga di kepalaku. Ya sudah, kopiah bapak tua itu yang akhirnya kubeli. Hanya kopiah yang murah meski awalnya aku sudah menyisihkan sedikit uang untuk membeli kopiah yang lebih mahal. Apa mungkin niatku ini kembali jadi setengah-setengah hingga akhirnya ingin berhemat dan membeli yang murah saja. Ah sudahlah, kopiah tetaplah kopiah. Memangnya apa tujuan utamaku dengan kopiah yang hanya kopiah ini. Mungkin karena begitu inginya mengenakan kopiah dibulan ramadhan, maka niatku jadi berlebihan. Yang penting semoga lima ribuku tetap berarti buat pak tua tadi.
Dan ada sepintas cerita waktu aku membeli kopiah si pak tua. Kalau aku perkirakan, usia si bapak itu bisa disekitar kepala tujuh. Entah kenapa, diantara sekian banyaknya penjual kopiah lain, pilihanku adalah menyinggahi tempat dia. Tempat dia menjajakan kopiah-kopiahnya hanyalah diatas kain selembar, tempatnya juga yang paling sepi pembeli dibandingkan yang lain. Dari logat bicara, aku sudah kenal dari mana daerah dia berasal, daerah yang sama dengan kedua orang tuaku.
Bapak tua itu ramah, mungkin karena berharap aku membeli barang daganganya, terlihat dari apa yang dia katakan “ belilah satu ajak dik, itung-itung beramal”. Ya, mungkin saja karena ingin beramal, aku membeli sebuah kopiah yang dijualnya. Kopiah yang satunya hanya lima ribu rupiah saja. Tapi itu bisa membuat dia sangat senang, atau kalian mengganggap kata “Alhamdullilah” adalah biasa saja bagi penjual yang sudah renta seperti dia. Yang sebenarnya aku juga mengira bahwa pak tua itu tidak lebih adalah gelandangan di depan mesjid istiqlal ini. Semua kopiah-kopiah dijual oleh banyak penjual, sepertinya hanya dimiliki oleh satu orang yang menyalurkanya. Orang itu yang mungkin iba terhadap pak tua dan menyuruh dia ikut menjajakan kopiah-kopiahnya.
Ada kelanjutan dari cerita tadi. Setelah kata “Alhamdullilahnya” itu, pak tua mengeluarkan sebilah cermin usang dari balik bajunya. Apa mungkin cermin yang dikeluarkan dari sebalik baju yang tak kalah usangnya itu memang telah disiapkanya untuk para pembeli. “Coba lihat nehh dik, pantas sekali kopiahnya. Udah kaya’ ustad”. Terima kasih pak tua, aku tahu kalimat itu tulus meski mungkin tidak sesuai dengan kenyataanya. Hanya dengan lima ribu rupiah, sudah tercapai keinginanku mengenakan kopiah yang cukup pantas seperti apa yang telah dibuktikan cermin pak tua tadi.
Dan ada satu pelajaran penting yang saya dapatkan, bahwa karena kenyataan hidup di kota besar ini, orang renta seperti dia lebih memilih mencari nafkah dibandingkan beribadah dibulan paling suci yang hanya sekali setahun ini, karena mungkin dianggap hanya itu yang bisa dilakukan untuk melanjutkan hidup esok hari. Saya yang masih muda ini juga mungkin sama sekali tidak bisa membayangkan kenyataan hidup apa lagi yang pernah dilalui si pak tua. Tapi pak tua yang tulus ini sepertinya tahu bahwa meski dengan kopiah murahnya, anak muda dihadapanya sekarang ini begitu semangat untuk baribadah menyambut bulan suci Ramadhan.
Tapi apakah mungkin jauh di hati kecil pak tua itu juga terbersit prasangka “Anak muda tetaplah anak-anak yang masih suka terombang-ambing oleh berbagai keinginan mereka sendiri. Sekarang begini, bukan tidak mungkin nanti bisa lain lagi. Suatu saat, jika sampai di suatu takdir penentu, tapi mereka tidak bisa menemukan apa yang seharusnya dipilih. Maka itulah apa yang harus mereka terima sampai usia tua mereka nanti”.
Ya, jika seperti itu maka ada benarnya juga ungkapan yang dapat sangat mengena di hatiku ini. Aku yang masih berusia muda, atau mungkin juga kalian kawan-kawanku disana. Terkadang kita berniat sungguh-sungguh pada sesuatu hanya karena ada keinginan lain disebaliknya. Bahkan itu juga terjadi pada saat kita beribadah kepada Dia, Sang Pencipta Yang Maha Suci. Yang seharusnya itu disertai niat tulus dan ihklas, karena sesungguhnya Dialah Yang Maha Tahu.
Apa karena bulan suci ini saja aku begitu menggebu-gebu untuk beribadah padaNya, kemudian nanti kembali mengulang dosa seperti yang sudah-sudah. Atau karena Dia Yang Maha Memberi Petunjuk, maka hanya melalui kopiah murah ini, tersampaikan hidayah terhadap niatku agar mulai detik ini aku benar-benar dapat membuktikan sebagai umatnya.
Semua kembali padaNya Yang Maha Tahu, aku adalah anak muda yang sadar hidup dalam kenyataan dunia fana tapi masih saja dapat terombang-ambing dalam arusnya yang selalu berubah-ubah.
Seperti itulah cerita singkatku tentang di awal bulan Ramadhan ini, mungkin tak berarti tapi semoga tidak begitu bagiku. Setidaknya aku belajar menulis permasalahan kecil yang kualami, tapi dapat dikembangkan menjadi cerita yang panjang. Dan mencoba bijak dengan berusaha menemukan makna apapun dari setiap hal kecil tersebut, sehingga semoga benar-benar bijak jika makna tersebut dapat terus kupahami sepanjang hidupku ini. Hanya Dia Yang Tahu.
Ada yang hampir terlupa sebelum aku menutup tulisan ini. Ada satu lagi yang sedikit berbeda dalam Ramadhanku kali ini, tetapi itu sangat berpengaruh bagiku. Baru Ramadhan kali ini aku benar-benar sepi, biasanya ada kakakku menemani setiap aku berbuka puasa dan sahur. Biasanya dia yang menyiapkan segalanya, jika memang aku tidak ada uang untuk membeli sendiri. Dari awal tinggal di Jakarta, memang hanya dia keluarga sedarahku yang paling dekat. Tapi sekarang, dia sudah pindah ke daerah tempat seluruh keluarga kandungku berada. Mereka semua sedang berkumpul disana, tanpa aku seorang. Sedih memang.
Aku masih punya keluarga lain yang tidak sekandung disini, tapi untuk bertemu dan berkumpul juga kadang terbentur dengan kesibukan kerja masing-masing. Jadilah ini Ramadhan yang berbeda karena aku benar-benar seorang diri. Kebersamaan hanya dapat kurasakan ketika menjelang berbuka aku menyempatkan diri ke mesjid dan berbuka puasa bersama mereka yang ada di sana. Itu juga hal berbeda yang kumaknai dari Ramadhan kali ini, “kebersamaan sesama umat Islam”.
Jika boleh menyisipkan satu hal lagi yang mungkin sedikit melenceng dari tulisan ini, semoga di Ramadhan ini aku juga mendapatkan satu lagi hal berbeda yang selama ini selalu kunantikan. Aku ingin dia datang dalam hidupku di bulan penuh berkah ini. Amien Ya Allah.

Seiring sembah sujudku.

Seiring sembah sujudku padaMu,
terujar doa dari hamba yang selalu meminta.
Keringkah sudah wujud malu padaMu,
mengejar asa diri tanpa sadar akan dosa.

Seiring sembah sujudku padaMu,
terujarkan pinta berbalut tanya,
sering berkah terpagut benalu.
melebarkan dosa menyulut siksa.

Seiring sembah sujudku padaMu
terujar asa berharap makna.
diiring pasrah tertaut ,
debar rasa menderap karma.

Aku yang menyembah dan sujud padaMu,
Sering berdoa tapi juga berdosa.
Aku yang pasrah dan takut padaMu,
Karena semuanya akan tetap kembali padaMu

7 Agu 2010

Aku siap

Aku yang muda siap melakukan apapun untuk mewujudkan harap dan mimpiku,
berharap dapat berbakti segenap raga adalah mimpiku sebagai anak negeri,
semoga harapan dan mimpi ini tidak hanya menjadi bayangan semu,
karena masa depan kami adalah masa depan negeri yang dinanti Ibu pertiwi.
Semua itu memang berawal dari niat suci yang menggebu,
tapi tak lepas dengan doa kepada Dia sang Ilahi.
Berilah aku yang muda ini waktu untuk tunjukkan bahwa aku mampu.

Aku siap melakukan apapun demi negeri ini, karena aku anak ibu pertiwi.
Kasih Ibu yang selalu abadi, hingga aku akan terus berbakti.
Tapi kenapa aku bersedih hati, itu karena Ibu dirundung duka kini.
Hatinya pilu melihat kedepan jika nanti datang masanya,
akankah sama bangsa ini dengan nusantara yang dulu pernah berjaya.
Karena sekarang kita anaknya tak lagi mengenal antara kita.
Harta lebih bertahta diatas segala-galanya.

Kapolda Jateng lebih berkuasa dari Wasit

Masih ingatkah kita kejadian beberapa waktu lalu yang sempat marak bahkan sampai sekarang masih diperbincangkan di tanah air kita ini. Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Alex Bambang Triatmodjolah yang ramai diberitakan karena tindakannya yang hendak mengganti wasit Final Piala Indonesia. Dan terdengar kabar bahwa sekarang dia dimutasi dan tak lagi menduduki posisi tersebut.

Mungkinkah ini berkaitan dengan insiden di final?

Kejadian yang terjadi dalam pertandingan Final Piala Indonesia di Solo, Minggu (1/8) lalu, Irjen Alex Bambang turun ke lapangan di waktu turun minum dan mempertanyakan kepemimpinan wasit Jimmy Napitupulu yang jadi pengadil lapangan laga tersebut. Dia juga minta agar Jimmy diganti.
Setelah tertunda selama hampir satu jam, pelaksana pertandingan akhirnya memutuskan menolak permintaan Alex. Jimmy tetap melanjutkan tugasnya sampai selesai. Sriwijaya FC menang dengan skor 2-1 dan tampil sebagai juara.
Tak genap sepekan setelah insiden tersebut, Irjen Alex Bambang ternyata dimutasi. Tak ayal muncullah tanda tanya apakah mutasi itu disebabkan oleh kasus yang terjadi di final Piala Indonesia.
Namun begitu, Mabes Polri menampik spekulasi tersebut. Alex dimutasi karena bagian dari proses pembinaan di Polri.
“Tidak (terkait), mutasi ini reguler,” ujar Wakil Kadiv Humas Mabes Polri, Kombes Untung Yoga Ana, saat jumpa pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Jumat (6/8).
Untung menjelaskan mutasi adalah bagian dari proses pembinaan di Mabes Polri. Mutasi ini merupakan bagian dari upaya untuk mempromosikan jabatan baru kepada perwira tinggi dan menengah.
“Semua proses pembinaan di Mabes Polri seperti itu. Mutasi regulernya dalam rangka kebutuhan organisasi dan memberikan peluang promosi jabatan,” terang Untung.
Alex Bambang bukan satu-satunya yang dimutasi. Setelah tak lagi menjadi Kapolda Jawa Tengah, rencananya Alex Bambang akan ditarik ke Mabes Polri sebagai staf ahli Kapolri.(detiksport/ r)

Terlepas dari permasalahan apa penyebab dimutasikanya Irjen Pol Alex Bambang, dalam tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya mengenai apa sebenarnya yang menyebabkan Irjen Pol Alex Bambang waktu itu ingin mengganti wasit meski dalam pertandingan yang masih berlangsung.

Berdasarkan apa yang dikemukakan di media massa, secara jelas Irjen Pol Alex Bambang mengatakan hal itu dikarenakan untuk mengantisipasi jangan sampai terjadi kericuhan yang dilakukan oleh para seporter kedua belah pihak karena kepemimpinan wasit yang dianggap curang. Dari pernyataan tersebut sebenarnya secara logis kita sudah dapat mengetahui apa alasanya sehingga Irjen Pol Alex Bambang melakukan tindakan itu. Tapi kemudian permasalahan ini menjadi tambah ramai karena para pecinta sepakbola menganggap tindakan Irjen Pol Alex Bambang tersebut dapat mencoreng sportifitas dan dunia sepak bola tanah air kita. Tambah bingung jadinya, di satu sisi dengan alasan Irjen Pol Alex Bambang seperti itu bisa saja tindakanya dibenarkan secara hukum namun dari sisi peraturan olahraga tindakanya jelas-jelas dinyatakan salah.

Tapi bagaimana seandainya apa yang diantisipasi oleh Irjen Pol Alex Bambang waktu itu benar-benar sampai terjadi ?. Para seporter dari kedua belah pihak benar membuat kericuhan akibat kepemimpinan wasit yang dianggap curang. Tentu saja jika hal itu benar terjadi, akan banyak masalah dan korban yang timbul. Dan bagaimana kalau kita berpikir dari sisi Irjen Pol Alex Bambang yang seperti itu.

Kalo saya sendiri, tentu akan membenarkan tindakanya itu. Sebagai aparat negara, polisi tentunya sudah dididik dan terlatih untuk mengantisipasi segala situasi yang dianggap dapat menimbulkan kekacauan. Dan kekacauan bisa terjadi kapan dan dimana saja, sedangkan masyarakat luas menurut saya juga sudah tahu bahwa sepak bola termasuk olaharaga yang paling sering terjadi kericuhan dari para sporternya.

Ada juga pendapat dari sebagian orang bahwa masalah ini dapat memalukan bangsa kita di mata dunia, karena sepak bola di negara lain tersebut tidak pernah ada kejadian seperti yang kita alami ini. Lantas dari hal itu saya ingin bertanya, sebagai rakyat Indonesia tentu kita tentunya sudah tahu bagaimana keadaan sepak bola di negara kita ? dan bagaimana tingkah yang sering dilakukan sporter sepak bola di negara kita ?. Semuanya masih jauh jika dibandingkan dengan yang terjadi di luar negeri sana. Lantas kenapa kita harus membandingkan situasinya dengan negara lain yang jelas-jelas keadaanya berbeda. Bisa saja apa yang menjadi alasan Irjen Pol Alex Bambang itu adalah untuk mengantisipasi kejadian karena dia sudah benar-benar mengerti bagaimana keadaan persepakbolaan dan sporter di tanah air kita ini.

Ada juga yang mengatakan tindakan ini jelas-jelas mencoreng sisi sportifitas persepakbolaan di tanah air kita. Untuk masalah ini, saya ingin berpendapat bahwa pada dasarnya sportifitas memang merupakan hal yang terpenting dari sebuah pertandingan olahraga apapun itu. Tapi sebenarnya untuk menilai kadar sportifitas dari suatu pertandingan tentunya kita tidak dapat menilai dari satu pihak saja. Semua yang menjadi satu kesatuan pendukung pertandingan tersebut haruslah tetap diperhitungkan nilai kesportifitasanya. Contohnya dalam pertandingan sepak bola, yang harus sportif bukan hanya pemainya saja tetapi juga para sporter, wasit, juri, bahkan sampai komentatornya sekalipun.

Dan jika dilihat dari permasalahan ini, sebenarnya dapat kita kaitkan dengan pernyataan di atas bahwa apakah tindakan Irjen Pol Alex Bambang tersebut tetap dinilai akan mencoreng sportifitas pertandingan apabila justru dengan tindakanya itu dapat mencegah para spoter melakukan tindakan yang tidak sportif. Meski sebagai aparat keamanan, bisa saja tindakan antisipasi yang dilakukan lebih cendrung untuk mencegah timbulnya korban dan kerusuhan, tapi walau bagaimanapun menurut saya itu adalah tetap masalah yang paling penting dan harus segera diantisipasi.

Hal terakhir yang merupakan kesimpulan dari pendapat saya dalam penulisan ini adalah, marilah kita sebagai masyarakat bangsa ini jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dan sering berprasangka buruk terhadap aparat resmi negara kita sendiri. Mungkin pernah beberapa hal buruk pernah terjadi disekitar lingkungan kita yang dilakukan oleh aparat, tapi itu adalah oknum dan bukan mengartikan keseluruhan dari satu lembaga resmi tersebut. Seharusnya kita mendukung bukan malah mencela, dan untuk permaslahan ini harusnya dapat diselesaikan tanpa harus ada berbagai perbincangan yang saling menyalahkan. Jika kita menyadari secara jujur bagaimana keadaan persepakbolaan bangsa kita sendiri, dan mau coba mengerti tentang alasan Irjen Pol Alex Bambang tersebut untuk melakukan tindakan tersebut.

Saya juga pencinta olahraga dan mengerti tentang nilai sebuah sportifitas yang mempunyai makna yang satu. Namun dalam hal ini, sebagai pecinta sepak bola tanah air seharusnya juga jangan sampai menjunjung tinggi sepak bola di atas segala-galanya hingga apapun yang dianggap dapat mengganggu pertandingan selalu dianggap sebagai tindakan yang tidak benar. Jika ini menyangkut masalah nyawa atau korban yang bisa saja terjadi, maka tentunya merupakan hal yang lebih penting. Dan dalam suatu pertandingan, tentu saja aparat adalah pihak berwenang resmi yang bertugas untuk mengantisipasi semua itu. Kalau tidak percaya kepada mereka, lantas kepada siapa ?. Yang anehnya, demi sepakbola banyak para pendukungnya yang merelakan segala-galanya bahkan nyawa demi team kesayanganya. Ini yang jelas-jelas merupakan tindakan yang salah.





http://hariansib.com/?p=134437

Prosa sinting

Malam ini dingin, karena hujan baru terhenti semenjak turun sedari tadi. Aku sendiri dalam kamar ini, karena tak ada kawan-kawan yang biasanya datang menemani, wi-fi pun sudah dua minggu tak terkoneksi. Kemudian dalam sendiri ini aku bingung ingin berbuat apa lagi, sedangkan aku baru saja tiba setelah seharian pergi. Ternyata setelah kembali dalam ruangan kamarku ini hanya membuat aku kembali berteman sepi.

Kunyalakan PC, dan sambil menunggu loading kubuat secangkir kopi yang nanti akan kuminum ditemani roti yang juga turut kubeli. Setelah itu kubuka folder berisi film-film terkini. Meski sepi, akan tetap kubuat malam ini berseri dengan menyaksikan film yang kusukai ditemani kopi dan roti yang siap dinikmati.

Tak sadar dua jam berselang, film yang kutonton pun usai. Kopi dan roti telah tandas sedari tadi. Sekarang apa lagi, sedangkan kantuk belum juga dapat membuat aku terbuai. Padahal sekarang ini sepi, aku sendiri, lantas kenapa aku tidak dapat menyadari ini. Harusnya aku sudahi saja kegiatan hari ini, biar terbangun besok pagi dan memulai aktifitas baru lagi. Tapi itu tidak juga segera terjadi.

Malah sepertinya aku punya ide lain lagi, ingin mendengar lagu dan bernyanyi-nyanyi sesuka hati. Tindakan yang sebenarnya hati kecilku sendiri tidak menyetujui. Ini adalah tindakan gila. Dengan membangunkan mereka di dini hari, aku bisa membuat tetanggaku emosi, mengambil belati dan mengajak berkelahi. Tapi mungkin memang itu yang kucari, dari pada sepi, mending membuat gaduh sekali. Mencoba adu nyali, menantang berkelahi siapa saja yang berani.

Satu, dua, tiga volume musik sudah tidak kecil dan terus kunaikkan lagi. Musik yang kudengar juga bukan nyanyian dari band-band negeri yang seperti lagu untuk orang banci, tapi ini musik cadas dari negeri seberang yang kurangkai dan kreasi sendiri. Bukan hanya suara bising yang nantinya akan membuat mereka tutup kuping, tapi melodi serasi yang sebenarnya hanya aku yang mengerti sendiri. Ha..ha..ha…musik ini kemudian mengiringi aku bernyanyi sambil tertawa geli, aku terhanyut dalam imajinasi dan membayangkan apa yang akan terjadi beberapa saat nanti.

Tapi kenapa tidak ada yang terjadi. Suara bising ini sama sekali tidak dapat mengundang emosi, tidak ada satupun batang hidung yang ingin mengajak aku berlahi atau membentak aku dengan belati. Padahal aku sudah berusaha bertingkah yang tak bertoleransi. Ada apa ini….

Ternyata ada yang lupa ku timpali dalam cerita ini, percuma segala apapun yang kulakukan ini. Karena disini aku sepi bukan hanya dalam pikiranku sendiri, tapi memang sama sekali tak ada penghuni lain yang masih ada malam ini. Semenjak pagi, mereka mengungsi ke kampung masing-masing karena bulan suci sebentar lagi.

Entah bego atau juga pikun, bukankah aku yang mendapat amanah menjaga kamar-kamar ini selama mereka pergi. Dan sebenarnya aku juga sedikit ngeri, bukan karena takut pencuri tapi katanya suanggi yang beberapa hari terakhir pernah menyambangi. InsyaAllah ayat kursi suci beserta arti masih kuingat dalam benakku ini.

Pemilik jejeran kamar-kamar kami inipun ikut pergi mengungsi. Dan tetangga yang kumaksud adalah kawan-kawan sintingku, jika adapun pasti bertingkah lebih gila dari apa yang kulakukan malam ini. Mereka sering bermain-main dengan belati dan berkelahipun adalah hal biasa, jika ada yang tak suka dengan bising mereka dikala malam yang kerap terjadi.

Malah aku yang sebenarnya bisa dibilang paling santai dan tak suka adu nyali, kalaupun bergabung hanya sesekali. Untuk apa juga, jika bising dalam hati dan perasaanku ini sudah tak kalah ramai. Tiap hari aku harus berkelahi dengan ego dan pikiran negatif ku sendiri. Dan seandainya bisa, ingin kutikam dengan belati semua setan dalam tubuhku kini. Mereka yang selalu menggaduh dan membujukku untuk melupakan akal sehat ini.

Segala isi pikiran dan kata-kataku sendiri ini membuat aku melamun jauh, kemudian tersadar setelah mendengar bunyi pesan masuk dari handphone yang batrenya low dan sebentar lagi harus diisi. Sms dari seorang kawan yang dari kalimatnya seperti sedang pening, dan kesimpulan dari smsnya itu dikiaskan masih seputar obrolan brandy sampai inti sari. “Dasar setan, baru diobrolin udah hadir!!”. Sms dari temanku tadi langsung tak kugubris. Entah benar tak ingin, “ga’ punyab duit”, atau memang karena sudah lama ingin berhenti.

Cukup sudah untuk hari ini, waktunya memejamkan mata biar terbangun segar esok hari. Langkah pertama, matikan PC, tapi tak sengaja kumelihat folder cut Tari dan Miyabi. Setan itu datang lagi, menggerakkan jari-jari untuk mengarahkan mouse dan tuts keyboard. Tapi tiba-tiba terhenti, karena sedari tadi ternyata akal sehatku sudah tak tahan untuk ikut serta. Dia mengenyahkan jauh-jauh si setan yang memang datang kalau aku sedang terpuruk dalam sepi.

Isi pikiranku malam ini memang terombang-ambing dan bisa berubah menjadi niat yang tak benar jika aku tak segera memejamkan mata. Langkah kedua, segera matikan lampu, tapi aku baru ingat jika belum shalat isya. Akhirnya kali ini murni akal sehatku yang bekerja, ternyata dialah yang menjadi pemenang untuk malam ini. Semoga akan terus terulang esok bahkan sampai seterusnya. Amien…

Segera kuambil wudhu dan tunaikan kewajibanku.


4 Agu 2010

Semua kawan-kawanku adalah orang hebat

Dari tulisan-tulisanku ini, kalian semua mungkin sudah dapat menerjemahkanya secara jelas, atau bahkan ada yang sudah bosan hingga sampai muak sekalian, karena aku dianggap sebagai manusia yang teramat sering berkeluh kesah. Tapi bagi kalian yang belum muak dan masih ingin tahu tentang sisiku yang lain, aku ingin memberi tahu bahwa juga dikarenakan aku manusia maka disebalik apa yang kalian perkirakan itu aku sebenarnya masih sering bersyukur terhadap Allah SWT.
Bahkan diantara keluh-keluh yang sering kukesahkan itu pada akhirnya dapat menjadi rasa syukur, karena Allah selalu memberikan cobaan agar hambanya dapat bertambah pengalaman dan kuat dalam mengarungi hidup ke depanya. Aku rasa kalian juga meyakini itu.
Dan dalam tulisan ini, aku ingin mengisahkan satu sisi kehidupan yang paling kusyukuri hingga sekarang. Adalah aku yang selalu saja mendapatkan komunitas pertemanan diantara kawan-kawan yang hebat. Entah karena apa, padahal aku bukan siapa-siapa. Aku memang ingin menjadi seperti apa yang tercita, tapi hingga sekarang aku belum menjadi siapa-siapa. Lantas kenapa Allah menakdirkanku seberuntung ini. Alhamdulillah...
Karena aku yang bukan siapa-siapa dan lantas ingin menjadi seperti apa yang tercita, maka Allah mempertemukan aku dengan mereka, orang-orang hebat yang menjadi kawanku. Dari hal itu akhirnya meyakinkan aku bahwa ini adalah suatu pertanda, hingga aku harus terus maju pantang mundur, cepat bangkit bila terjatuh, jangan menyerah dan putus asa.
Karena apa?. Karena seperti itulah apa yang kulihat dari kawan-kawanku yang hebat.


Aku bukan penulis

Tulisan ini sebenarnya bisa dikatakan hal yang biasa jika aku biarkan sisi kehidupanku ini mengalir saja apa adanya, tanpa perlu banyak perenungan untuk diulas lebih lanjut dalam bentuk tulisan atau apapun juga. Tapi ternyata, aku tidak bisa seperti itu. Menulis kini sudah seperti candu bagiku, kejadian apapun yang menarik atau terlintas dalam pikiran rasanya selalu ingin kutulis. Bahkan jika sedang sakaw dalam menulis, aku seperti memaksakan imajinasiku untuk berpikir tentang hal apapun yang pantas untuk ditulis. Segala yang terlintas dalam pikiran bisa saja menjadi sumber tulisanku, tapi dari awal aku tetap memegang satu prinsip bahwa apa yang kutulis harus dapat bermanfaat setidaknya bagi diriku sendiri.

Dan jika ditanya apa sebenarnya yang kuharap dari semua tulisan-tulisan yang mungkin bagi banyak orang dianggap tidak ada apa-apanya ini?. Maka dengan jujur dan berusaha menekan ego, aku akan menjawab bahwa aku berharap dapat menjadi seorang penulis.
Tapi jika boleh aku menambah jawabanku itu, aku hanya ingin berujar bahwa dari beberapa mimpi dan cita-citaku tidak ada satupun rasanya dalam pandangan masyarakat umum dapat memberikan harta yang berlimpah, termasuk dengan menjadi seorang penulis. Maka artinya, sama sekali bukan karena alasan materi aku mempunyai niat yang besar untuk menjadi seorang penulis. Ada alasan lain yang sebenarnya aku sendiri sulit untuk menjelaskanya.

Hingga sekarang aku sama sekali belum pantas disebut sebagai penulis, tapi kecanduanku terhadap tulis-menulis mungkin bisa disamakan dengan seseorang yang benar-benar penulis. Apa yang kutulis masih jauh dari apa yang pantas ditulis oleh seorang penulis, tapi aku tahu bagaimana rasanya jika telah menyelesaikan sebuah tulisan. Aku memang bukan benar-benar penulis, tapi aku tahu betapa dasyatnya pikiran seorang penulis jika sedang berimajinasi atau mencari ide.
Pikiran seorang penulis pastinya selalu berputar-putar diantara ruang wawasan dan kebebasan dalam berkreatifitas, hingga akhirnya menumpahkan segala apa yang ada dalam imajinasinya tersebut menjadi sebuah cerita atau tulisan yang menarik. Maka aku beranggapan seorang penulis pastilah orang yang berwawasan luas, bebas, kaya akan kreatifitas dan pengalaman. Untuk itu, jika kau orangnya bebas, ingin banyak pengalaman, suka berkreatifitas dan ingin berwawasan luas, maka berusahalah untuk menjadi seseorang penulis.
Ya, mungkin itu alasan utamaku untuk bermimpi dan bercita-cita untuk menjadi seorang penulis.

Tidak terbayangkan bagaimana perasaan seorang penulis yang hanya dengan kata-kata dalam tulisanya itu dapat menciptakan tulisan yang dapat membawa perubahan atau menyentuh hati pembacanya secara emosional. Penulis yang dapat membuat pembacanya menangis, tertawa, bingung, penasaran, terkagum-kagum, atau mengalami campur aduk dari semua perasaan emosional itu, kemudian mereka dapat mengiyakan apa yang ditulis, lantas bangkit dan berubah menjadi lebih baik.

Hingga sekarang aku masih harus banyak belajar, jika niatku memang benar ingin menjadi seorang penulis. Akupun harus terus menulis tentang apapun yang ingin kutulis, meski dengan begitu hanya dapat berarti pada diriku sendiri.
Aku yang masih kurang pengalaman dan wawasan hingga memilih menulis permasalahan gampang dan sederhana tentang sisi kehidupanku sendiri. Aku yang lebih sering berkisah tentang nasip miris, hingga menangis di hati ketika membaca tulisanku sendiri. Kadang tulisanku menceritakan kekonyolan sendiri dalam memandang hidup, hingga aku menertawakan diri sendiri.
Aku juga pernah bingung akan tulisan sendiri, karena apa yang kutulis belum dapat mencerita kan secara sempurna tentang imajinasiku saat sedang liar, itu mungkin karena aku bukan penulis. Ada juga hal yang unik, aku pernah penasaran dan terkagum-kagum akan cerita yang kutulis sendiri, mungkin karena aku yang sekedar suka menulis saja, sebab biasanya orang seperti aku akan cepat bangga terhadap karya yang sebenarnya belum ada apa-apa.
Ya begitulah diriku sekarang ini.
Dan pada saat menulis serta membaca tulisan ini, aku sedang merasakan campur aduk dari semua perasaan-perasaan emosional itu. Kemudian entah kenapa aku sangat mengiyakan isi dari tulisan ini dan akhirnya setuju untuk memberi judul "Aku bukan penulis".

Hal terakhir yang ingin kusampaikan dari tulisanku sendiri "Aku bukan penulis" ini adalah, setelah membacanya aku menautkan kesimpulan bahwa tulisanku kali ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Yang hanya berkutat dalam kisah aku dan kehidupan diri sendiri.
Tapi jika tulisan ini memang sama dengan tulisan-tulisanku sebelumnya, maka maksud yang tersiratpun masih tetap sama, bahwa "aku yang sama manusianya seperti kalian, tentunya memiliki kisah hidup yang hampir sama pula seperti apa yang pernah kutulis. Jika aku selalu berusaha menulis untuk dapat mengambil faedah dari apa yang kutulis sendiri, maka kenapa kalian tidak mencoba hal yang sama meski hanya dengan membaca saja.
Setidaknya "mungkin kalian mendapat pelajaran berharga bahawa jangan sampai menjadi manusia dengan tabiat dan cara pikir seperti aku ini".


3 Agu 2010

Aku masih menjadi penonton, masih berbahagia dengan apa adanya diriku, dan masih berusaha untuk meraih mimpiku sendiri.

Satu persatu Sahabat ada yang mulai beranjak, mereka meraih apa yang selama ini ingin digapai atau yang memang sewajarnya harus dicapai. Entah apa itu, mungkin cinta, cita dan karya. Sedangkan aku masih berada di tempat ini dan hanya menjadi penonton. Sebenarnya aku tidak stagnan, hanya saja jarak yang kubuat belum terlalu jauh, jejak yang sudah ditapaki bukanya tidak berarti hanya saja belum dapat memberi arti.
Secara tulus aku turut berbahagia untuk mereka, jika merekapun benar-benar berbahagia atas peranjakkan jalan yang telah mereka pilih. Karena salah besar jika aku berbahagia, sedangkan jauh di hati kecil mereka masih ada keraguan dan gamang akan apa yang telah diraih, artinya aku tidak mau berbahagia atas kegalauan yang sebenarnya terjadi pada sahabat-sahabatku itu.
Ya, setiap orang tentu mendefinisikan kebahagiaan menurut versi mereka masing-masing, oleh karena itu kita harus berani untuk menentukan kebahagiaan yang dikecap oleh kita sendiri tanpa tergantung versi menurut orang lain.
Yang jelas aku hanya berharap, semoga saja sahabat-sahabatku tersebut benar-benar berbahagia atas apa yang telah mereka raih, hingga aku disini dapat turut tersenyum bahagia. Kemudian semoga ketulusanku dapat menjadi doa dan setidaknya menghilangkan murung dan penat di hatiku ini.
Ya aku benar-benar tulus, karena yang kuceritakan ini benar tentang sahabat-sahabatku Mereka yang selama ini dalam persahabatan tak ada cela yang cukup berarti, hingga tak ada alasan bagiku untuk berburuk hati atas apa yang mereka raih. Karena jika tidak begitu tentu saja mereka hanya pantas disebut teman bukan sahabat, adalah manusia yang benar menjadi teman tapi pada akhirnya aku tahu tak pernah bisa menjadi sahabat.
"Kau bisa berteman dengan siapa saja, tapi hanya sahabat yang mengerti dalam suka dan duka. Lebih baik kau juga hanya memiliki satu orang sahabat daripada seratus orang yang hanya pantas disebut teman".
Aku sangat mengargai persahabatan dengan sahabat-sahabatku yang hanya sedikit, tapi akupun tetap menghargai mereka-mereka yang menjadi teman meski ada yang tidak pantas kusebut sahabat. Dari hal itu aku sudah bersyukur hidupku dikelilingi sahabat dan teman, karena tak pernah ada niatku untuk mencari musuh.
Mereka yang kusebut sahabat, adalah kami yang pernah sama-sama bergelut dalam suka dan duka demi berharap perlahan dapat meraih mimpi. Entah apapun mimpi kami, yang jelas kami pernah bersama berjuang meski untuk mimpi yang berbeda. Mereka bukan seperti teman yang hanya mengerat dan jadi benalu, tidak juga yang menjadi pagar makan tanaman, atau seperti musuh dalam selimut. Tidak sahabatku tidak seperti itu....
Sahabatku adalah orang yang tangguh hingga pantas diantara mereka dapat meraih mimpinya, sejak dulu meski dengan mimpi yang dianggap kecil tapi kami memperjuangkanya bersama dengan semangat yang besar. Tapi mimpi kami memang berbeda, hingga semua memang tak harus sama-sama tercapai.....

Aku turut berbahagia untukmu sahabat, untuk mimpimu sendiri yang kau raih.
Aku masih menjadi penonton, masih berbahagia dengan apa adanya diriku, dan masih berusaha untuk meraih mimpiku sendiri.



2 Agu 2010

aku pernah mundur selangkah itu selalu untuk maju beberapa langkah

Setelah cukup lama aku coba melupakan gadis yang kini tak ingin mengenal ku iagi itu, entah karena apa kemarin aku dengan sengaja mengunjungi facebooknya lagi. Dan betapa terkejutnya aku, ternyata ada yang berubah semenjak aku tak lagi pernah mengganggu dia lewat berbagai sms dan status-status yang ku tulis di facebooknya.

Aku memang mengenal dia melalui seorang teman dan kami hanya pernah berbincang melalui jalur pertemanan dunia maya saja. Tapi ada kisah yang sangat berarti dari awal perkenalan maya kami itu, tak tahu mengapa aku bisa langsung mengagumi gadis ini. Meski perbincangan yang pernah terjadi antara kami tak pernah secara langsung, tapi aku seperti sudah pernah bertemu dan mengenal dirinya. Aneh, bahkan lambat laun hal itu menimbulkan perasaan suka dan sangat ingin mengenalnya lebih dekat.
Tentang Dia, adalah gadis yang biasa dan sederhana saja, tapi memiliki semua kriteria fisik yang selama ini aku cari, dan untuk mengenal secara lebih jelas tentu saja aku harus dapat mengenalnya secara langsung.
Lebih tepat dikatakan aku harus memberanikan diri untuk dapat bertemu dengan dirinya, karena sebelumnya berkali-kali aku selalu menjadi lelaki bodoh yang tak pernah berani mengungkapkan perasaan cinta, bahkan jika blog ini dapat berbicara mungkin dia akan berteriak "aku sudah bosan selalu disisipi kisah-kisah pilu yang menceritakan lelaki yang begitu bodohnya dalam mengenal cinta". Ya...mungkin saja bisa sampai begitu.
Kemudian, setelah hadir perasaan itu, aku menjadi seorang pemuja yang sedang dimabuk asmara begitu dalam. Tiap detik dalam keseharianku lebih sering membayangkan tentang dia, sudah berangan-angan terlampau tinggi bagaimana seandainya dia benar menjadi milik hatiku. Segalanya terlihat indah dalam benak dan pikiranku, aku melewati hari-hari dengan tersenyum seakan dirinya benar telah menjadi milikku.
Sebenarnya sampai saat itu, aku belum menemukan situasi yang tepat untuk bertemu dengan dirinya, apalagi jarak cukup jauh memisahkan lokasi tempat tinggal kami berdua. Yang ada, aku hanya masih berkutat dengan tradisi lama yaitu melalui sms atau status-status facebooknya. Anehnya, kenapa aku juga tidak pernah menelpon dia. Dan untuk kalian yang membaca tulisan ini pasti jawabanya sudah jelas, ternyata tidak ada perbedaan yang jelas antara aku benar-benar "berubah" atau "berkilah", mana yang disebut berani untuk mengenal dia secara langsung jika tak ada bukti yang pasti?. Ternyata aku tetap bodoh!.
Aku dianggap hanya berusaha mendapatkan jawaban dari dia melalui komunikasi semu, seakan mengumbar asa tanpa dapat menunjukan rasa. Lantas gadis baik-baik mana yang dapat memahami hal seperti ini?. Jika dulu, dengan segala keramahanya, cara dan apa yang kami perbincangkan seperti abang dan adik dalam dunia maya ini. Tetapi setelah aku secara tiba-tiba mengungkapkan perasaanku terhadap dia yang juga melalui dunia maya ini, sepertinya malah membuat dia takut dan semakin menjauh. Mungkin dia merasa aku aneh dan hanya membuat dia terusik.
Aku mungkin dianggap aneh oleh dia karena hampir setiap hari selalu mengirimkan pesan-pesan singkat tentang perasaanku, status facebook dan blogku selalu diisi dengan kata dan kalimat-kalimat tentang hal yang sama. Jika memang begitu adanya pandangan dia, ada yang saya sesalkan. "Apakah dapat sedikit terbersit rasa mengerti jika seandainya waktu itu dia tahu bahwa saya sendiri juga sangat merasa aneh dengan tabiat saya ini".
Aneh karena sebelumnya tidak pernah saya memilki perasaan yang begitu dalam, hingga tiap hari hanya memikirkan sosok seseorang yang itu-itu saja. Apakah dia percaya bahwa saya ini sangat perasa untuk masalah hati yang sungguh-sungguh, hingga ketika menulis berbagai kalimat yang mungkin oleh dia dianggap usil, harus meluapkan segala rasa yang hampir menyamai kerinduan saya terhadap seorang Ibu. Tapi bukankah kebijakan cinta terhadap seorang kekasih adalah dengan menempatkan dia pada urutan kedua setelah rasa sayang terhadap seorang Ibu, karena dalam dunia ini hanya Ibu yang benar-benarku sayang
Belum juga saya ceritakan dalam tulisan ini, bahwa cukup memikirkan tentang dia yang belum saya kenal saja dapat membuat saya perlahan merubah sikap buruk dan nyeleneh anak muda kebanyakan yang ada pada diri saya. Karena waktu itu saya merasa, tentunya saya harus dapat merubah segala sikap yang mungkin dianggap buruk jika ingin mendapati gadis seperti dia. Sebenarnya dengan begitu saya sudah rencanakan sebagai tahap persiapan untuk dapat mendekati dia. Di balik sisi roman yang dimengerti sendiri, saya juga mengutamakan logika yang unik dan hanya dimengerti oleh saya sendiri pula. Yakni entah dalam perkara hidup apapun semuanya harus dipersiapkan secara matang, meski untuk urusan cinta ini cara saya itu mungkin dianggap tak masuk akal. Kasarnya saya dianggap "sekali pecundang tetap saja pecundang".
Apa guna juga saya menyimpan berbagai alasan yang telah saya utarakan, saya berkilah yang seakan hanya untuk membenarkan diri sendiri, jika akhirnya keputusan yang dinanti juga tergantung dari jawaban si gadis.
Untuk menyingkat cerita ini, "pada akhirnya saya ditolak dengan berbagai alasan yang kurang lebih sama seperti apa yang tertera di atas, tentang bagaimana gadis itu menganggap saya, aneh dan menakutkan". Bahkan jawaban dia sama sekali tidak bergeming meski dengan terpaksa saya merubah rencana persiapan saya, mempercepat waktu untuk segera bertemu dan berbicara langsung dengan dia. Dengan maksud agar kisah tulus saya ini tidak untuk kesekian kalinya menjadi penyesalan akibat keterlambatan diri. Tapi apa daya, jika memang sudah itu keputusan pastinya.
Dan ada satu hal utama yang terlupakan dari semua itu, "dari awal ternyata saya sama sekali tidak pernah bercermin diri". Kenapa saya bisa lupa dan tidak berpikir bahwa hal itu yang paling penting dari semua alasan yang saya reka-reka menjadi penyebab penolakan ini. Hingga akhirnya jawaban yang sebenarnya itu saya temukan dari diri saya sendiri, "saya hanyalah pungguk yang tidak menyadari perbedaan bumi dan langit".

Begitulah ceritanya, hingga dengan jawaban terakhir itu dapat membuat saya benar-benar mengerti. Perasaan hati saya mungkin sakit, tapi hanya sebentar. Saya memang harus ihklas untuk kepergian sang pujaan ini dari sisi hatiku, karena dia hanya sekelebat lewat tanpa bermaksud singgah untuk menghuni. Berbagai kenangan yang sebenarnya saya buat sendiri harus saya tutup sendiri jua. Tidak ada penyesalan, karena dengan pernah mengenal perasaan ini menjadi satu lagi pelajaran dan perubahan yang juga berarti dalam diriku. Aku menghapus semua jejak, nomor handphone dan acount facebooknya yang pernah disimpan....

Dan kemarin, setelah cukup lama aku coba melupakan gadis yang kini tak ingin mengenal ku lagi itu, entah kenapa dengan sengaja aku mengunjungi facebooknya lagi. Aku terkejut, ternyata ada yang berubah semenjak aku tak lagi pernah mengganggu dia lewat berbagai sms dan status-status yang ku tulis di facebooknya. Sudah ada yang menjadi kekasih hatinya sekarang, dan cukup dengan melihat foto profile itu aku sudah mendapat gambaran yang cukup jelas.
Memang lelaki seperti itu yang sangat pantas untuknya, keseluruhan raga yang sangat berbeda dengan apa yang ada pada diriku. Ya, mungkin memang benar.....


Tapi aku bukan manusia yang tak bersyukur!!!. Aku tidak merendahkan diriku ini, aku masih punya banyak kelebihan yang diciptakanNya, karena Dia Maha Adil!!!. Aku yakin tiap apa yang dicoba pasti kan menuai makna, bagaimanapun adanya diriku yang seperti ini pastinya diciptakan untuk didampingi oleh dia yang sesuai pula untukku. Dan pastinya perasaan ini masih tersimpan sejati tanpa berkurang sedikitpun rasa tulusnya, hanya tinggal menunggu aturan waktuNya yang tepat untuk hadir bagi dia yang tepat pula. Aku lupa atau bahkan mungkin hampir tidak pernah tahu, kapan pernah terpuruk yang tidak bisa bangkit. Yang sering kuingat, jika aku pernah mundur selangkah itu selalu untuk maju beberapa langkah.

Bukanlah sebuah kecongkakan jika dapat membuat kita lebih baik dan bermakna dalam hidup.
Amien Ya Allah...

1 Agu 2010

Reinkarnasi

Sore tadi selepas kerja, seperti biasa selalu ada perbincangan ringan yang terjadi antara kami rekan sekerja. Dalam perbincangan itu, tiba-tiba ada suatu pertanyaan dari teman saya yang kemudian menerbitkan niat saya untuk membuat tulisan ini. Pertanyaan ini berawal dari kejadian yang terjadi pada dirinya. Dia mengenal seorang gadis tapi tidak pernah menjumpainya, dan gadis itu menyimpan perasaan terhadap dirinya meski mereka belum pernah berjumpa. Mereka hanya sering berkomunikasi melalui sms atau telpon. Awal perkenalan merekapun cukup unik, melalui jejaring pertemanan dunia maya.

Dan yang menjadi awal hingga muncul pertanyaan dari temanku tersebut adalah akhir-akhir ini sepertinya perasaan suka si gadis makin berlebih terhadap temanku. Peraaan hatinya semakin tidak tenang jika sedang memikirkan sosok temanku, hal itu diceritakan si gadis melalui pembicaraan mereka di telepon. Pertanyaan ini juga ada karena suatu hal yang sangat unik telah terjadi dari kejadian ini.

Dari pembicaraan telpon mereka beberapa hari kemarin, kata temanku “dari firasat-firasat dan kerinduan gadis itu, sepertinya membuat dia bisa mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh temanku”. Tak perlu disebutkan apa itu, tapi apa yang diprasangkakan gadis itu memang mirip atau benar - benar dilakukan oleh temanku.

“Aneh bukan” kata temanku.

Nah, yang menjadi inti dari pertanyaan temanku tersebut adalah "apakah benar reinkarnasi itu ada?, apa mungkin gadis itu adalah reinkarnasi dari kehidupan mereka sebelumnya. Mungkin saja dulu mereka berdua adalah pasangan suami istri, atau pasangan sejati seperti apalah namanya…..“. Karena dengan kejadian itu akhirnya malah membuat perasaan hati temanku juga semakin suka terhadap si gadis.

Kejadian itu menjadi tanda tanya yang selalu dia pikirkan dan berusaha untuk mencari jawabanya, “kenapa bisa begitu? Dan kenapa akhirnya dia bisa mempunyai perasaan suka sebesar ini terhadap gadis yang sama sekali belum pernah dijumpainya”. Tapi, di sisi lain dia juga seperti sudah lama mengenal gadis itu. Bisa dibilang dia seperti merasakan chemistry yang sulit untuk dijlaskan secara logika”.

Setelah mendengar cerita temanku tersebut, saya mulai paham maksud dari pertanyanya. Sebenarnya dari awal mendengar cerita dia, saya sudah mulai tertarik. Karena topik pembicaraan seperti ini termasuk dalam topik yang saya suka. Dari dulu, entah kenapa saya sendiri juga selalu berpikir tentang masalah-masalah serupa yang kerap terjadi dalam kehidupan saya. Sebagai contoh, pernah disaat saya sedang melakukan suatu aktifitas di tempat dan waktu tertentu, tiba-tiba saya merasakan sesuatu bayangan pikiran yang unik, bahwa apa yang sedang saya lakukan ini sepertinya sudah pernah saya lakukan sebelumnya.

Pernah juga ketika saya sedang memikirkan sesuatu, mengingat atau merindukan seseorang secara dalam, nantinya pikiran ingatan dan kerinduan itu sampai-sampai bisa terbawa dalam mimpi ketika sedang tidur. Atau disaat rasa rindu saya terhadap Ibu dan keluarga, rasa rindu yang tiba-tiba sangat lebih dan tidak seperti biasanya, mungkin dikarenakan sedang jauh berada dan tidak tahu bagaimana keadaan mereka. Tiba-tiba akan datang kabar melalui telpon atau sms bahwa ada suatu kejadian yang terjadi pada Ibu atau keluarga saya. Hal ini juga pernah terjadi bersamaan atau sebaliknya, disaat Ibu saya juga sedang memikirkan dan merindukan saya maka ada sesuatu yang sedang saya alami.

Banyak lagi contoh-contoh lain, seperti kebenaran dalam mengikuti kata hati. Banyak kejadian-kejadian yang saya alami pada akhirnya membawa keberuntungan bagi saya, dikarenakan berawal dari mengikuti kata hati. Meskipun sebelumnya saya sama sekali belum ada bayangan kedepan tentang benar salahnya pilihan saya tersebut.

Dari cerita seorang temanku dan pengalaman hidup serupa yang saya alami sendiri tersebut, maka saya coba memberikan pendapat yang seadanya, berdasarkan pengetahuan saya yang tidak seberapa. Karena dalam memberikan pendapat terhadap orang lain, saya lebih mengutamakan apa yang saya tahu atau pernah alami sendiri dibandingkan mengutip sesuatu yang sebenarnya belum benar-benar saya pahami. Mungkin pendapat yang saya utarakan terhadap teman saya ini bukanlah jawaban yang benar dan tepat, tapi hanya lebih pantas disebut sebagai tukar pendapat antar teman saja.

Awalnya saya coba memberikan pendapat bahwa dalam agama Islam tidak ada yang dinamakan reinkarnasi. Karena jika sebelumnya memang pernah terbersit dalam pikiran saya tentang “apa itu reikarnasi dan apakah memang benar adanya” maka saya mulai coba belajar dan mencari tahu untuk memahami arti dari reinkarnasi tersebut. Banyak sisi ilmu pengetahuan formal dan informal yang menelaahnya, berangkat dari hal itu adapun beberapa pemahaman lain yang sehubungan dengan reinkarnasi tersebut. Beberapa diantaranya seperti pengalaman saya yang diceritakan di atas tadi, istilah teorinya yang berhubungan dan sudah cukup dikenal seperti rendezvous, alam bawah sadar, dan masih banyak makna dengan istilah lain lagi.

Tapi pemahaman yang mutlak paling benar adalah “tidak ada yang namanya reinkarnasi di dunia ini”, jika yang dimaksudkan reinkarnasi itu adalah kejadian hidup yang dialami manusia zaman sekarang berhubungan dengan kejadian yang pernah terjadi pada saat dia pernah juga hidup di zaman yang telah lampau. Artinya tidak ada manusia yang pernah hidup lebih dari sekali dalam zaman yang berbeda. Saya meyakini bahwa ajaran agama saya benar dan tidak ada satupun manusia yang hidup lebih dari sekali semenjak bumi ini diciptakan. Hal itu mutlak kebenaranya, tak perlu diragukan dan dipertanyakan untuk mencari-cari jawabanya.

Sebagai manusia, kita memang mahkluk sempurna yang diciptakan dengan akal dan nurani. Sehingga dengan perangkat-perangkat istimewa tersebut membuat kita semakin pintar dalam mengakali peradaban selama kita hidup di bumi ini. Banyak penemuan-penemuan yang mempermudah cara hidup kita, hal-hal yang bahkan tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Tapi disebalik itu ada juga diantara kita yang lupa bahwa pendayaan akal tersebut belumlah sempurna jika tanpa dibarengi dengan nurani. Secara gamblang dengan melihat keadaan sekarang ini, saya berpendapat bahwa dengan akal kita bisa tahu apa yang harus diperbuat kita sebagai manusia, sedangkan dengan nurani kita bisa tahu apa arti kita sebenarnya sebagai manusia. Namun jika yang ada hanya akal tanpa nurani, kita hanya dapat berbuat tapi bukan sebagai manusia. Begitupun sebaliknya, nurani tanpa akal menjadikan kita benar berjiwa manusia tapi tak tahu apa yang harus diperbuat sebagai manusia.

Dalam dunia ini, manusia yang lebih mengutamakan akalnya untuk memahami kehidupan cendrung untuk mengutamakan daya pikiranya sendiri sebagai manusia yang dikatakan sempurna. Dia selalu bertanya untuk membutuhkan jawaban yang harus selalu dapat diterima akal. Atau pemahaman kehidupan yang menurut dia benar, adalah apa yang sesuai atau paling tidak dapat direka-reka oleh akal dia sendiri. Padahal secara sederhananya saja, akal dia tersebut sudah dapat membaca dari perjalanan kehidupanya semenjak terlahir di dunia ini, bahwa tidak ada manusia yang benar-benar sempurna, yang tidak pernah salah, yang benar-benar kuat, dan tidak ada manusia yang tidak akan mati.

Untuk itu diperlukan nurani, karena nurani menyimpan makna kodrat terciptanya manusia di bumi ini. Dengan nurani kita dapat memahami setiap aspek kehidupan yang dapat ditemukan dari bagian terkecil sekalipun. Dengan nurani kita dapat memahami betapa sempurnanya segala penciptaan kehidupan kita dan alam semesta ini. Dengan nurani kita yakin bahwa pada suatu saat semua yang ada akan berakhir dan musnah untuk selamanya, tak terkecuali akal kita yang pernah diagung-agungkan sebagai kesempurnaan mansuia. Secara sederhana juga saya berpendapat, kesempurnaan kejadian lahirnya manusia di bumi dan perhitungan unsur-unsur penyusun bagian tubuh kita sebagai manusia adalah hal-hal yang sangat tidak mungkin dapat dijelaskan oleh akal. Tapi dengan nurani, dapat muncul kesadaran bahwa segala yang maha sempurna itu tidak mungkin secara kebetulan tercipta dengan sendirinya.

“Betapa indah benda yang sedang kau genggam kini, tak perlu diragukan lagi bahwa kau sangat yakin ada yang membuatnya, meski kau sama sekali tak tahu rupa dari orang yang membuatnya”. Intinya segala yang tercipta pasti ada yang menciptakan. Dan pedoman yang mutlak paling benar adalah apa yang tersirat dari ajaran agama yang di dalamnya sama sekali tidak ditemukan kesalahan, ketimpangan, kebohongan. Agama yang dapat mengajarkan cara hidup yang paling baik dan dapat dilihat dari aspek manapun, adalah Islam.

Sepertinya saya menjelaskan topik “reinkarnasi” ini dengan berbagai uraian yang cukup panjang lebar, tapi saya rasa ini sama sekali tidak menyimpang. Karena penting bagi saya untuk berusaha menjelaskan secara lebih terperinci. Karena jika yang ditanya adalah “apakah saya percaya dengan reinkarnasi”, maka jawaban saya adalah tidak!. Dan maksud dari uraian panjang tadi adalah, jangan sampai dikarenakan mempunyai akal, kita terlalu jauh berpikir tentang kehidupan ini hingga melenceng dari ajaran agama, namun tidak sadar dan memganggap itu hal yang biasa saja.

Ilmu agama saya memang belum seberapa, tapi saya ingin untuk perlahan mempelajarinya terus. Dan karena agama saya mutlak kebenaranya, maka saya berpendapat bahwa sebenarnya untuk masalah “reinkarnasi” ini kenapa harus terlalu memaksa menggunakan akal hingga sampai terbolak-balik dan tersamar-samar bahwa reinkarnasi itu bisa saja benar. “Apa mungkin manusia bisa hidup lebih dari sekali, sedangkan belum ada kenyataanya di bumi ini bahwa ada orang yang pernah mengalaminya. Melainkan yang benar adalah seluruh manusia berakal di bumi ini sudah sangat paham bahwa suatu saat nanti pasti akan mati”.

“Cukup itu saja dulu sudah cukup menjadi jawaban”. Jika masih saja terus mencoba tuntaskan ego akal untuk bertanya secara logika, maka kita akan selalu terombang ambing dalam keraguan untuk apa yang disebut jawaban namun sebenarnya tidak pernah menjadi sebuah jawaban. Karena Dia juga mempunyai misteri yang sama sekali tak akan pernah terjangkau oleh daya pikir akal manusia meski manusia disebut mahkluk yang sempurna. Jika “reinkarnasi” dikatakan manusia yang pernah hidup lebih dari sekali di zaman yang berbeda, maka itu tidak benar. Tapi karena kita manusia, maka jika ada hal luar biasa yang pernah terjadi dalam kehidupan kita dan untuk menemukan jawabanya tak terjangkau oleh akal, maka itu mutlak adalah rahasiaNya, karena Dia Maha Mengetahui apa yang tidak mesti kita ketahui.

Tapi dalam cerita pengalaman saya sebelumnya tentang ingatan dan kerinduan akan seseorang, Ibu, keluarga hingga sampai pertanda terjadinya sesuatu, saya berpendapat bahwa itu adalah pristiwa yang berhubungan dengan alam bawah sadar. Untuk masalah yang satu ini, alam bawah sadar memang benar adanya dan termasuk salah satu anugerahNya yang disadari atau tanpa disadari dapat dimunculkan sebagai kekuatan yang istimewa. Saya percaya dan juga pernah membuktikan tentang alam bawah sadar ini. Maka pertanyaan dari cerita teman saya ini, sepertinya lebih tepat dikatakan sebagai pristiwa yang berhubungan dengan alam bawah sadar.

Kekuatan alam bawah sadar ini banyak bentuk dan cara terjadinya. Pada intinya merupakan kekuatan dari dalam diri yang dibangkitkan dari daerah di luar batas kewajaran kita sebagai manusia normal adanya. Secara normal dan wajar manusia tidak dapat melihat jika indra penglihatanya tertutup, normalnya manusia tidak dapat melihat apa isi yang terselubung dan tertututp pandangan mata terbuka, manusia sewajarnya tidak bisa membaca isi hati orang lain, dengan keadaan normal kau tidak tahu apa yang sedang dilakukan orang lain dalam jarak yang berjauhan, tapi dengan kekuatan alam bawah sadar semua itu bisa. Dan masih banyak contoh lainya lagi.

Tulisan ini masih terlalu panjang untuk menelaah tentang alam bawah sadar. Karena topik ini benar adanya dan banyak teori yang mendukung untuk latihan atau bagaimana cara kita memunculkan kekuatan alam bawah sadar kita. Meskipun sebenarnya alam bawah sadar adalah anugerah alami yang ada pada setiap diri manusia dan dapat muncul tanpa kita sadari. Tapi tak ada salahnya bukan jika kita mencari tahu dan belajar segala sesuatu yang akan menambah rasa syukur kita sebagai mahkluk yang diciptakanNya secara sempurna dengan akal dan nurani.


28 Jul 2010

"kabar itu"

Aku tidak harus bersedih setelah mendengar "kabar itu". Karena aku tahu, tak akan ada artinya sama sekali...meski aku terisak sekalipun. Apalagi angin-angin tentang kabar ini, sudah mulai terdengar di kuping, kemudian menjadi perkiraanku sejak beberapa bulan yang lalu. Kurasa itu waktu yang cukup untuk merenung, kembali berpikir seksama, kemudian ihklas untuk menerima apapun yang akan terjadi. Lantas jika akhirnya sekarang terjadi juga, aku sudah dapat menerimanya....
Bodohnya diri ini jika mau terpuruk untuk hal yang sebenarnya sepele. Sedangkan sejak dulu, Alhamdullilah aku selalu dapat bangkit jika tertimpa masalah yang lebih besar.
"Ya, ini adalah masalah sepele", dan sebenarnya semua masalah yang terjadi dalam hidup ini secara logika dapat dikatakan sepele.
Jangankah cuma masalah seperti ini, pada dasarnya masalah paling utama bagi setiap manusia adalah ketakutan akan mati, tapi seandainya"jika kau hampir mati karena ditikam pencopet di jalanan"pun sebenarnya juga adalah masalah yang sepele, kalau kau sadar bahwa "kematian" akan datang kapan saja. Hanya yang "bukan masalah sepele" adalah sudah siapkah kau mempertanggungjawabkan segala hal yang kau lakukan di hidup ini kepada Dia di sana.
Begitupun juga untuk masalah hidup remeh temeh lainya yang bisa dibilang masih kurang menakutkan dibanding "kematian".
"Lo ga' punya duit, klo cuma bengong emang bakalan datang sendirinya?!. Lo lagi emosi, kemudian marah besar...emang dengan begitu juga bisa nyelesiin masalah?!. Ga' punya teman, ga' punya segalanya, ga' punya ini..itu..ga' bisa ini dan itu.....?!!!lantas gimana????apa semua bisa diselesain jika kau hanya menenggelamkan diri dalam masalah!!!. Padahal 'otak' lo sendiri udah tau klo kita bisa menganggap semua itu adalah hal yang memang harus dilalui dalam hidup, susah-senang, suka-duka....maka akhirnya bisa lebih santai dan berpikir tenang untuk menemukan solusi yang tepat dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Itu aja seeh menurut saya intinya......dan hal ini sebenarnya adalah jawaban sederhana yang begitu luas maknanya, jika kita secara sadar dengan niat yang tulus mau menggali lebih dalam sisi spritual kita, tentu saja dengan cara yang benar!! namun pencapainya tergantung dari sisi pribadi kita masing-masing.

Sepertinya saya sudah terlalu panjang lebar berbicara, tapi tak apalah, setidaknya dapat berarti terutama buat diri saya sendiri. Lantas sebenarnya masalah remeh apa seeh yang saya ceritakan ini......???
ha..ha..ha....saya hanya ditinggal tunangan oleh seorang gadis yang saya kenal. Ya, hanya yang saya kenal dan sepertinya perkenalan kami juga tidak terlalu dekat.
Tapi, lantas kenapa ini harus diceritakan. Rasanya tidak ada yang menarik, biasa saja.."kalo emang sekedar kenal, ya ga' papalah..kan ga' ada hubungan apa-apa".
Ya, saya memang cuma sekedar kenal. Tapi jujur deh, biar ga' dibilang munafik. Saya juga sempat menaruh hati kepada gadis itu.
Lantas???
Seperti biasa.....dari awal saya tidak berani untuk mengungkapkanya. Dan entah apa gadis itu tahu atau tidak isi perasaan saya tersebut, ehm...tapi rasanya mungkin dia sedikit tahu dan sudah membaca gelagat saya. Kalo begitu, ya sayanya yang kurang cekatan....
Sampai akhirnya dia mendapatkan orang yang lebih pantas, dan saya tulus ihklas mengucapkan selamat untuk hal itu....

Ah....sudahlah, malah bisa ngurangin keihklasan saya klo cerita ini terus dilanjutkan. Saya berbahagia untuk mereka, mendoakan untuk dia orang-orang baik, turut senang untuk dia yang termasuk teman terbaik saya. Amienn...

Lagian, emang gw yakin dari dulu gadis itu juga sama menaruh hati....pretttttt....
wkkwkwkwkwk...........

16 Jul 2010

Dalam hidup jangan berpikir, tetapi rasakan

Dalam hidup jangan berpikir, tetapi rasakan. Seperti sebuah jari yang menunjuk ke arah bulan. Jangan berkonsentrasi pada jari atau engkau akan kehilangan keindahan bulan. Jadi jangan berkonsentrasi kepada jari yang menunjuk ke bulan, tetapi mata kita arahkan kepada apa yang ditunjuk oleh jari, yaitu bulan. Sehingga kita bisa merasakan dan menikmati keindahan bulan. Dengan begitu kita dapat merasakan sesungguhnya betapa indahnya hidup jika kita tidak mempersulit dengan pikiran-pikiran rumit yang hanya dapat menjadi beban.

Tapi yang namanya perasaan dan pikiran itu seharusnya juga seimbang. Meskipun sesekali ada saatnya menggunakan perasaan itu lebih baik daripada berpikir. Misalkan, ketika kita harus mendahulukan perasaan kita terhadap hal-hal yang berhubungan dengan sisi kemanusiaan kita, cinta dan rasa kasih sayang terhadap sesama manusia yang terkadang memang tak mengenal logika.


Dengan menggunakan perasaan adalah sesuatu yang bersumber dari relung jiwa, tulus dan polos berasal dari sisi lahiriah kita sebagai manusia, tanpa diiming-imingi oleh dunia luar yang selalu berubah tergantung dari situasi dan kondisi. Pada akhirnya segala hal yang berhubungan dengan perasaan dan pikiran itu tentunya harus diaplikasikan secara selaras agar tercapai keseimbangan dalam menjalani waktu kehidupan.


Adapun perbandingan dari keduanya, keistimewaan dari segala tindakan yang menggunakan perasaan adalah dapat lebih cepat daripada pikiran negatif yang menyerang. Dengan perasaan tindakan kita dapat mengabaikan pikiran negatif dan terus bertindak. Dengan perasaan akan terbit cikal bakal tindakan positif, tidak terbebani oleh proses yang dijalani tetapi melihat tujuan yang akan didapatkan di suatu saat nanti. Dengan perasaan kita akan bersabar dan disiplin serta menikmati proses yang dijalani. Sama seperti tulisan pada paragraph pertama, tentang sebuah jari yang menunjuk ke bulan .


Jangan berkonsentrasi pada jari, lihatlah keindahan bulan.

Bukan ga’ pede, cuma ga’ mau kelewatan pede aja.

Bukan ga’ pede, cuma ga’ mau kelewatan pede aja.

Pengalaman mengajarkan bahwa unsur dalam diri gw yg paling berbahaya adalah kesombongan meskipun sebenarnya belum ada yang pantas gw sombongkan, untuk itu sampe sekarang gw selalu menjauhkan diri dari hal-hal yang bisa menjadi cikal bakalnya.
Tapi InsyaAllah gw juga tahu kapan pede itu bisa digunakan secara bijak, hingga semoga nantinya yang ada memang sebuah keharusan dan bukan kesombongan.

Kalo lo brani atau pernah tampil di hadapan beribu orang, udah termasuk pede belum????

Kayanya satu kalimat ini bisa berbuntut makna panjang lebar..

Gw cuma mau jadi diri gw sendiri, ya inilah gw!!

Asal selama ini semoga dgn diri gw sendiri ini ga' kehilangan arah dalam mencari masa depan. klo masalah sepele2 biasa lah, biar tahu dunia itu seperti apa, itung nambah pengalaman untuk menjadi lebih baik. Lagi pula semua itu adalah takdir yg digariskan dan berbeda pada tiap manusia.

Tapi yg ingin ditekankan disini, gw hanya tidak ingin berpura-pura mengenal hidup hanya dari satu sisi, jika sebenarnya jiwa gw ga' mau stagnan dalam dunia yg tiap detik terus bergerak, sementara nantinya hanya ada kata terlambat setelah sadar bahwa kita tidak boleh terkukung dalam teori-teori yang mengucilkan diri sendiri dalam peradaban.

Dengan membuka mata terhadap dunia luar, kau akan memiliki jiwa yang bebas, meski dengan susah berusaha secara bijak agar tidak kebablasan, tapi bukankah itu gunanya akal diciptakan.

Kau hanya tahu makna kebenaran secara paham setelah kau tahu kenapa bisa dikatakan salah. Tapi kau tak perlu seberuntung itu, jika memang tidak seperti itu hidupmu yang telah digariskanNya. Kau juga jangan juga merasa merugi, jika hidup yang telah digariskan bagimu adalah setenang air dan hanya beriak sesekali saja. Semua adalah kehendakNya.

Yang terpenting sisi kehidupan kita yang mungkin lebih baik dimata norma tidak menjadikan kita sombong, seakan menjadi manusia satu-satnya yang paling mengerti krama.

Gw yakin ada misteri dan arti tersendiri dariNya jika kita melalui garis hidup yang lebih berliku. Kau tidak bisa menjadi sekuat baja, tanpa ditempa. Kau bukan dan tidak bisa menjadi orang lain, tapi kau bisa dan lebih baik dari orang lain dalam sisi kehidupan apapun. Itu tentu tergantung niat dan usaha total yang sungguh-sungguh, meski sampai kau memahami kadar kelelahanmu sendiri, cukup dgn beristirahat sejenak kemudian kembali berjuang dgn api semangat yang lebih membara.

Semua pernah salah karena kesalahan adalah kewajaran manusia. kau belajar dari kesalahan itu, melalui pedoman yang wajib dan benar atau petuah dari manusia-manusia bijak sekitarmu. Tapi untukku, sulit meresapi kalimat yg mungkin senada tapi artinya melenceng karena terkesan menggurui dan berasal dari ocehan takabur manusia yg seakan merasa bijak.

Sekarang ini ada terbersit kesedihan karena banyak kawan-kawan yang pergi, mereka yang secara jujur dapat menjadi orang bijak bagiku dan pernah banyak memberi petuah yang berarti hingga sekarang. Kalau kalian bukan termasuk dari diantara mereka, maka aku sangat berharap agar kalian dapat mencoba dan berusaha.

Secara jujur jadilah orang bijak untuk banyak orang termasuk diriku yang banyak kesalahan ini, karena dengan begitu kalian telah menulis satu lagi amal baik dihadapaNya.

15 Jul 2010

Maka berubahlah…...

Seorang anak manusia yang usinya masih begitu muda, begitu seringnya dia berkhayal dan bermimpi ingin merubah dunia. Tapi dengan perangsuran usinya yang semakin dewasa, dia kecewa karena sadar bahwa dunia tak kan bisa dia rubah. Maka cita-cita dari impianya itu pun agak dipersempit, lalu memutuskan untuk hanya mengubah negerinya. Namun nampaknya, hasrat seperti itu pun begitu jauh untuk tercapai.

Kemudian dia berkeluarga setelah usianya semakin senja. Dengan semangat yang masih tersisa, dia memutuskan untuk merubah keluarga, serta orang-orang terdekatnya.
Tapi merekapun tidak mau diubah !.

Kisah terakhir ini yang paling memilukan. Kini dia berbaring menjelang ajal yang datang secara tiba-tiba. Pada saat seperti itu, dia baru menyadari bahwa "Seharusnya semenjak dulu, yang pertama-tama dia rubah adalah dirinya sendiri." Karena dengan begitu, dapat menjadikan dirinya sebagai panutan. Selanjutnya secara perlahan hal tersebut bisa mengubah keluarganya. Lalu berkat inspirasi dan dorongan dari keluarganya, bukan tidak mungkin dapat memperbaiki negerinya. Lantas kemudian siapa yang tahu, kalau dari hal itu diapun bisa mengubah dunia.

Ahirnya dia menutup mata dengan masih menyimpan rasa sesal yang mendalam. Sampai akhir sisa hidupnya sama sekali belum tercapai niat dan cita-citanya. Semuanya terjadi karena datangnya kesadaran yang terlambat bahwa “Jika kau menginginkan perubahan yang besar, seharusnya itu dimulai dari hal yang paling kecil yaitu diri sendiri”.

Segala penyesalan baginya sudah tidak ada artinya lagi, namun apakah kita juga ingin seperti dia yang membawa penyesalan sampai akhir hayatnya.

Maka berubahlah…...

11 Jul 2010

membicarakan kenyataaan dalam dunia fantasi sendiri

Dalam khayal dan imajinasiku kalian ada disini dan kita berbahagia,
dalam khayal dan imajinasiku ini bersemi kasih kita yang abadi.
Tapi dalam khayal dan imajinasi semua juga dapat berubah menjadi pahit.
Dalam realita aku tak dapat membicarakan kenyataan,
sadar dunia yang tak kumengerti.

Aku membicarakan kepasrahan,
dalam garis hitam dan putih.
Aku merasa benar-benar pintar,
ternyata hanya mengumbar kebodohan ini.
Aku membicarakan kenyataaan dalam dunia fantasi sendiri.

Persetan,
aku tak butuh pengertianmu
Aku bukan bagian dari norma yang kalian mengerti sendiri.
Kalian hanya bingkiskan aturan yang semakin menyisihkan diri.

Maka aku tak butuh penjelasanmu,
karena aku bukan bagian dari kebanggaan yang ingin kalian raih.
Yang membuat ambigu tidak menjadi diri sendiri.

Toleransi adalah kata yang kita junjung,
tapi toleransi untuk kita adalah pertanyaan
Krama sudah mulai goyah menuju kehancuran,
kebebasan menuntun kita menjadi saling benci.