My Adsense

23 Des 2009

satu titik

Dirimu memang hanya sekedar satu titik di dalam proses perubahan hiduku, tetapi dirimu merupakan awal dari proses perubahan besar tersebut.
Hanya dengan orang yang tepat perubahan yang akan terjadi dapat berarti. Lantas hanya dengan perubahan yang demikianlah pastinya akan ada kehidupan yang bahagia.
Selanjutnya semoga aku tinggal tersenyum melewati semuanya.
Inilah sebuah proses yang masih harus kulalui. Proses yang mungkin panjang atau singkat, tergantung kapan hadir kematangan jiwaku.
Sebab sebenarnya dipundakku sendiri Tuhan menitipkan nasip.

Tapi dari kenyataan yang kualami hingga sekarang, semuanya memang hanya drama yang harus kumainkan. Gonjang-ganjing kehidupan yang kualami berulang-ulang, sesungguhnya berasal dari satu skenario.
Tanpa mengubah skenario tersebut, sudah tentu aku kembali memainkan cerita yang sama, kemudian kembali terpuruk. Disinilah kesalahan, aku tidak belajar dari pengalaman, baik pengalamanku atau orang lain.
Sebenarnya Tuhan tidak akan mengubah nasipnya jika hambanya tidak mau berusaha mengubah nasipnya tersebut. Tiap perubahahan tidak mungkin sekali jadi, tapi perubahan yang berjalan lambat juga dapat merugikan kita sebagai manusia. Karena itu harus ada evaluasi pada setiap langkah yang kita tapaki, bahkan sebelum kita melangkah.

Dan apabila kurang puas dengan perubahan yang sudah terjadi, harus ada upaya agar tidak tetap terpuruk dalam keadaan.
Memang inilah resiko hidup, yang terbaik belum tentu dapat tercapai. Masih ada interaksi nilai dan kepentingan yang mengahasilkan norma yang harus disepakati.
Namun dibalik semua itu, tetap hak kita untuk berprilaku sesuai dengan jati diri kita. Karena aku adalah aku.

Hanya dari kedalaman jurang kejatuhan, aku dapat melihat puncak kekuasaan.
Selalu berikan yang terbaik dan jangan putus asa.
Memang akan selalu ada yang membencimu, tapi mereka hanya akan menang apabila kita juga membencinya.

Dan dengan begitu kita hanya akan mengancurkan diri kita sendiri.

Aku akan berusaha sebaik mungkin dengan daya yang aku bisa

Pantaslah jika globalisasi bagiku adalah kolonialisme bentuk baru.

Globalisasi pada dasarnya memang tidak mungkin dihindari, tetapi sekali masuk ke dalamnya sesungguhnya kita seperti memasuki kurungan yang bersangkar emas.
Tahukah kita bahwa globalisailah yang membuat seorang Michael Jordan berpendapatan 40 juta dollar pertahun, karena t-shirtnya dibeli anak-anak dari moskow hingga Jakarta. Dan tahukah kita bahwa sebagian dana tersebut digunakan untuk sumbangan pajak pada AS. Masih banyak contoh-contoh seperti produk waralaba asing lainya yang berarti kitapun secara tidak langsung ikut membayar pajak pada pihak luar. Bukankah sebenarnya itu merupakan cara mengeruk uang dari kantong kita, kenapa uang itu tidak jadi pemasukan bagi Negara kita sendiri ??

Dan disamping itu, adapaun masalah yang bukan sepele dan sebenarnya jika kita pikirkan secara dalam cukup krusial dampaknya…..
Seperti permasalahan HAM di dalam bangsa kita sendiri, masih saja ada campur tangan dari dunia Internasional. Kita harus menghukum orang Negara kita sendiri dengan standar universal. Memang masuk di akal, tapi bukankah bangsa kita sendiri juga punya nurani untuk menentukan mana hukum yang pantas.
Selanjutnya mengenai permasalahan ekonomi, meskipun sudah tidak terang-terangan kelihatan, sistem perekonomian luar masih saja mengatur sitem perekonomian Negara kita. Padahal uang yang sengaja dipinjamkan adalah tetap utang yang tetap harus dibayar kembali pada mereka.

Ada yang lebih parahnya lagi, demokrasi Negara kita sampai sekarang tetap dipantau. Hal yang dianggap mereka melenceng akan mengurangi legitimasi pemerintah kita.
Lantas apa masih ada ruang gerak kemerdekaan kita dalam mengatur Negara sendiri.
Pantaslah jika globalisasi bagiku adalah kolonialisme bentuk baru.

21 Des 2009

Itulah yang harus kita pahami dari dunia ini...

Jari-jari manusia di dunia ini ingin menunjuk dengan emas.
Sedangkan hal itu membiarkan mata-mata manusia lain akan memandang emas tersebut dengan penuh kekaguman.
Dan jika pemilik emas berbicara, manusia lain akan mendengarkan,
jika pemilik emas melakukan intervensi, upaya mereka akan diterima.
jika pemilik emas memberikan kesaksian, mereka akan diterima.
Pemilik emas tidak akan dipersalahkan karena tidak kompoten,
bahkan rambut putih mereka akan dianggap lebih muda daripada kemudaanya sendiri.
Itulah yang harus kita pahami dari dunia ini...

Penyair

Penyair adalah manusia yang pandai mempermainkan kata-kata agar menjadi indah dan menarik hati, atau syair pilu yang menyayat hati, mereka berteriak melalui tulisan yang isinya kadang tentang pembangkangan terhadap aturan kehidupan. Mungkin mereka dikatakan pembual karena berkata tentang apa yg tidak dapat diraihnya, hanya bisa mengumbar perasaan cengeng tanpa dapat berbuat apapun, berteriak-teriak tak jelas arah dan tujuan. Tapi dibalik semua itu, tidak semua orang dapat menjadi penyair sejati, penyair adalah manusia istimewa karena dapat hidup dalam dunia yang normanya dibuat sendiri melalui syair-syair mereka.
Bagaimanapun hanya jiwa yang dapat berbicara melalui hati yang dapat menjadi seorang penyair.

13 Des 2009

Hanya kau yang tahu siapa dan bagaimana dirimu

Hanya kau yang tahu siapa dan bagaimana dirimu.
Meski mereka mencaci seakan kamu adalah dungu.
Untuk apa terbelenggu dendam karena prasangka mereka yang semu.
Bukankah kemenangan bagi yang benar tak perlu diragu.
Wajar mereka terus berceloteh, karena mereka memang tak gagu.
Jika cercaan palsu itu tertuju kepadamu secara tak jemu,
anggaplah angin lalu, tak perlu malu dan ragu untuk maju.
Ini bukan tulisan menggurui untuk memenangkan diri selalu.
Tapi ungkapan pembelaan bagi kita yang selalu dianggap tak perlu.
Namun tulisan ini memang hanya akan dianggap palsu dan berlalu,
jika hati kita ternyata memang sekeras batu,
yang sebenarnya memang dungu dan tak pantas membela diri yang palsu.
Namun jika sedikit saja bermakna di hatimu,
Berarti kata kita sama dalam kalbu.
Lihatlah juga masih ada diantara kita yang kaku dan tak berani berseru
jadi tak menentu dalam sikap dan dipermainkan waktu.
Untuk itu, jika dulu masih menyikapi hidup dengan galau
marilah sekarang bersama-sama memaknai hidup dengan jiwa yang baru.

Dia yang menentukan apa yang akan terlaksana

Siapa yang menanam harus memetik,
demikian pribahasa terpekik.
Karena itu hendaklah diingat,
oleh mereka yang sudah berbuat khianat.
Bertindak licik sembunyi-sembunyi,
meski kadang mengupayakan kebenaran, tapi kenapa harus memaki.
Mencari selamat, tapi sewenang-wenang.
Berhati-hatilah jalanmu yang diawang-awang,
sebab bukan aku yang akan berkarya,
hanya Dia yang menentukan apa yang akan terlaksana.

Meski kita tidak akan mungkin mengatur dunia dengan tangan kita sendiri

Manusia dapat menjadi kepribadian yang kuat dan teguh dalam semua keadaan, akan tetapi dia juga dapat menjadi perahu rusak yang dalam samudra kehidupan. Diombang-ambingkan gelombang berbagai macam kenafsuan.
Pengalaman kita sebagai manusia beraneka dan kaya, terentang dari berbagai zaman.
Dalam serpihan pengalaman itu banyak sekali kita menemukan bahwa tanah bumi tempat kita berpijak ini tidak lebih dari sekedar arena pertarungan.
Lantas masing-masing generasi pada setiap zaman hanya akan bertanya...
“ Bagaimana generasi mendatang akan menilai generasi ini”
Dalam titik seperti ini akhirnya tulisan seperti ini terbit, dari kesadaran bahwa sejarah bangsa ini telah turut serta membentuk generasi yang sekarang.
Namun demikian, kita seharusnya tidak lantas menjadi manusia yang tidak berdaya dalam rongrongan masa lalu kita.
Kita harus dalam proses menjadi sesuatu, mengejar tujuan untuk sesuatu yang baik dan pasti.
Meski kita tidak akan mungkin mengatur dunia dengan tangan kita sendiri.

Memang mudah kalau hanya memaki

Memang mudah kalau hanya memaki, mengumbar amarah, merasa benar sendiri, berpegang kepada akal tanpa memikirkan rasa.
Memang enak kalau hanya bicara untuk berbuat baik, yang sebenarnya tidak mudah.
Karena itu, jangan mudah mengobral kata.
Ingat, diri sendiri bisa menjadi korban jika keliru ucapan dan tindakan.
Untuk itu, tidak ada lagi asal buka mulut berdasarkan pikiran yang asal bertaut.
Hanya akan berakhir dengan jalan hidup yang terantuk-antuk
Masuklah ke dalam perasaanmu yang akan memimpin perjalanan menemukan yang sejati.,

Sikap seseorang penulis

Sikap seseorang penulis harusnya terpuji.
Luhur ucapanya sperti kata yang ditegakkanya.
Hati dan lidah menyatu dalam kelakuan.
Tapi memang sudah sifat manusia,
bisa keliru bertindak,
tersesat mengikuti nafsu,
membelakangi kehendakNya.
Akhirnya mendapat malu, sakit hati,
karena tidak dipercaya kawan.
Tetapi semestinya makna ini tidak sambil lalu,
membuat penulis meninggakan sikap satria.
Jangan malu mengaku salah, lantas jangan menambah besar dusta.
Kesalahan jangan ditumpuk, percuma dosa terus disembunyikan.
Karena semua itu kasat mata.
Lebih baik mengingat asal dan tujuan hidup,
datang dan pergi hanya karena kehendakNya.
Jadilah seperti air yang mengalir, atau jalanya angin.
Seperti matahari yang terus bersinar,
menetap dan taat pada hukum kehidupan,
yang berasal dari Ilahi robi.

Banyak yang bingung ketika menjalani hidupnya

Banyak yang bingung ketika menjalani hidupnya,
pagi mengangguk, sore menggeleng...
maju-mundur sikap dan prilakunya.
Penuh keraguan tekadnya.
Jika berani, karena lupa.
Jika takut, karena tidak punya pegangan.
Kepercayaanya hanya pada otak,
tetapi perasaanya gersang.
Sebab kehilangan kiblat,
kemudian memaki sekenanya,
marah-marah bisanya.

Pemuda bangsa ini di zaman sekarang

Pemuda bangsa ini di zaman sekarang,
muda lahir, muda batin, hingga yakin untuk bertarung...
Beradu kekuatan, beradu suara,
memang begitu ceritanya!!!
Tetapi namanya juga satria yang masih muda,
tersandung, terseok-seok langkah dan keliru ucapanya.
Hingga terkesan sia-sia apa yang telah dikurbankan.
Tetapi, tidak demikian sesungguhnya.

18 Nov 2009

takdir adalah seperti apa kita memandang hidup dengan akal dan nurani kita

Aku yang semakin rapuh, kini di hadapMu bersimpuh.
Kupanjatkan doa di atas sejadah lusuh diiringi sembah sujud dengan hati yang luluh.
Hanya kepada Mu aku pasrah, memohon ampun atas dosa yang telah membuat lusuh.
Menyesal akan arah hidup yang selama ini telah kutempuh,
aku selalu berkubang dalam tindakan yang berasal dari hati yang keruh.

Mungkin itulah takdir yang harus kuhadapi,
atau waktu sengaja membiarkan aku menemukan sesuatu dari pengalaman yang teresapi.
Mungkin juga karena aku selalu mendapati kehidupan yang galau dalam sepi,
yang membuat bimbang hingga menyirnakan semangat yang dulu berapi-api.
Namun sesungguhnya aku tidak ingin hidup sendiri dan menyepi.

Lantas apa yang harus kuperbuat untuk hidupku yang sekarang,
tentu saja aku tidak ingin terus hidup sebagai manusia jalang,
terombang ambing dalam jiwa yang bimbang dan terkekang.
Sekarang ini aku harus berusaha untuk dapat jadi pemenang,
melupakan segala tabiat kehidupan terdahulu yang tidak pantas dikenang.

Takdir memang telah tergurat abadi,
namun tidak ada yang dapat tahu secara pasti bagaimana kehidupanya nanti.
Keputusan kekal tetap ada pada Ilahi Robi.
Yang bisa kulakukan adalah harusnya dapat keluar dari kubang yang kubuat sendiri,
dan salah besar jika pasrah untuk menyerah terlalu dini.

Dia tidak akan memberi cobaan yang tidak bisa dilalui hambanya,
dan semuanya tergantung bagaimana usaha yang kita bisa.
Yakinlah takdir itu memang ada,
seperti kita juga percaya bahwa karena akal dan nurani kita disebut manusia,
maka takdir adalah seperti apa kita memandang hidup dengan akal dan nurani kita.

17 Nov 2009

Meski beda rupa, kasta dan agama tapi itu bukan dosa.

Kalian hanya membaca apa yang kalian raba dari muka...
Tapi sesungguhnya kalian buta untuk merasa pakai jiwa.
Segalanya asal terka agar tercapai niat untuk mencerca,
bohong belaka untuk mencari fakta dalam nyata,
karena niat utama kalian tidak lebih untuk menghina.
Ada saja yang kalian cari supaya beda,
entah dari rupa, kasta, atau agama.
Yang akhirnya norma,
kalian buat dengan segala rupa yang kalian bisa.
Yang beda dianggap tercela, lantas kalian mengumbar dusta biang cela.
Semakin lama keadaan ini semakin menganga,
kalian menggila di awang-awang dengan norma yang sebenarnya dosa kalian puja.
Aku bukan siapa-siapa dan tidak berasal dari mana-mana....
tapi mataku punya rasa untuk melihat mana yang pantas menjadi kawan.
Kawan yang tak peduli akan beda karena merasa semua sama.
Meski beda rupa, kasta dan agama tapi itu bukan dosa.
Karena kita tetap manusia milikNya jua.

14 Nov 2009

Tak terkira...Tak ada yang mengira

Tak terkira banyaknya kawan berbudi yang pergi,
bahkan cintaku mati karena tak sanggup menderita dalam sunyi.
Mereka tak sudi dengan aku yang begini,
penuh teka-teki yang terkadang aku sendiri sulit memahami.

Lalu aku berpikir...
Kenapa takdir menggiringku secara pandir,
hingga menyendiri untuk mencari jati diri secara getir.
Pantaslah jika hidupku kini bagai kisah roman satir.

Tak ada yang mengira, aku yang begini punya ilusi tingkat tinggi.
Di urat nadi mengalir darah sang pengimajinasi.
Lalu...Kalin pikir aku senang begini!!
terus bermimpi dan menjadi manusia yang tak pasti!!!??

Teka-teki ini tidak boleh terus menjadi misteri,
karena takdir bukanlah untuk diratapi.
Orang yang punya banyak mimpi bukanlah manusia pandir!!
Karena dari mimpilah cita-cita besar itu hadir.

12 Nov 2009

Tuhan maha tahu

"Tuhan maha tahu, dan kita hanya menanti kebahagiaan akan datang disaat yang tepat". Tetapi sebagai manusia yang berakal, usaha kita juga turut berperan dalam garis nasip meskipun tidak sepenuhnya merubah garis takdir. Tapi apakah kita tahu, Dia membiarkan kita untuk dapat berkreasi lebih dahulu terhadap hidup kita sebelum menentukan. Dan siapa ... Read moreyang tahu, kalau apa yang ditentukanNya nanti adalah sesuatu yang juga tidak terlepas dari karma yang kita lakukan. Kebahagiaan hanya dapat diraih dengan perbuatan baik yang dimulai dari sekarang

7 Nov 2009

Apa emang battle cuma untuk mencaci

Apa emang battle cuma untuk mencaci,
karena kta sejarah, rap hadir dari kaum yang dicaci.
Tapi sobat, kita disini bukan untuk membenci,
jadi coba cari cara yang berarti.
Aku memang baru disini,
tapi yang sekedar ku tahu rap itu tidak mesti begini.
Banyak masalah yg menuntut arti kita kini,
jika kita cinta bangsa dan negeri ini.
pikirkan, resapi dan beri arti dalam nyanyi.
walaupun meski hanya lewat syair yg dianggap kiri.
Atau kita sendiri tidak malu pada diri sendiri,
hanya bisa teriak-teriak, unjuk gigi, dan tunjukkan punya nyali.
Atau bernyanyi yang sebenarnya tak punya arti.

Berkreasi melalui lirik memang seni,
tapi coba yang menyentuh hati.
Sadarkan mereka yang sering berkelahi dan benci pada diri sendiri.
Jiwa yang enggan hidup dan matipun tak berani,
karena terombang ambing mencari jati diri.
Para pendosa yang rela menjual harga diri bangsa dan umat negeri.
Kaum munafik yang bertameng tulus hati.
Dan masih banyak lagi,
jika kita mau berpikir untuk bernyanyi dengan nurani.

Tidak salah jika kita berani mencaci yang menyakiti hati.
tapi harus tepat dan mengerti kenapa kita memaki.
Agar jangan sampai dibilang aliran musiknya orang iri.
Ingatlah ini,
apabila kita benar-benar mencintai daya dan karya sendiri,
serta bilang hip-hop sudah menjadi urat nadi.

Hanya itu, pesan singkat dari saya yang harusnya juga sadar diri.
Thanks a lot.

5 Nov 2009

Bukan salahMu jika aku sering dianggap dungu.

Kadang sulit memahami arti hadirku disini,
jika hingga kini aku tetap tak peduli.
Pernah aku berbakti kemudian dinanti,
tapi akhirnya aku pergi bersama duniaku sendiri.
Bukanya aku tak punya nyali,
tapi aku benci untuk dicaci.
Meski itu mungkin bisa membuat aku lebih berarti.

Pengalaman adalah guru,
tapi terkadang dapat menjadi peluru,
menderu menembus jantung hati orang yang keliru.
Aku yang selalu keliru bahwa tujuan haruslah satu.
Ujung-ujungnya aku tetap membatu dalam dunia yang kulihat palsu.
Duhai Ibu,
bukan salahMu jika aku sering dianggap dungu.

Buaya sama cicak


Kata sapa antara Buaya sama cicak, yang 'lebih' adalah buaya??
Cicak bisa merayap sesuka hati kaya' spiderman....buaya engga'!!
Cicak hidupnya damai - ga' pernah mengancam dan rusuh, malah hewanya sabar dan kalem
sedangkan buaya?? ga' punya teman karena sering mengancam.
Saking baek dan bersahabat, untuk mengenang cicak...anak-anak punya lagu sendiri buat cicak...
Trs, ga' macing bgt klo ada lagu "Buaya-buaya di dinding"...yg ciptain pasti org gila!!wkwkkwkw

Ehm...Emang seeh buaya nyeremin, tapi ga'penting....
zaman skrg yg banyak yg kuat dan yg diam2 itu yg malah makan dalam!!!!

Cicak lebih cerdik dan dapat berada di berbagai lini....buaya engga'!!!
Kesimpulanya di zaman sekarang ini, mau ga' mau buaya 'kalah' jika dibandingkan Cicak.

Hukum rimba memang masih berlaku, tapi kemenangan bagi yang cerdik...
Hidup Cicak!!!! I love u pulll..wkkkwwkkw

4 Nov 2009

Diriku seutuhnya


Hari ini masih sama dengan hari yang kemarin,aku masih terhuyung sebagai anak manusia yang sedang mencari jati diri.
Pantaslah jika kegalauan masih membayangi.
Aku yang galau untuk menjadi diri sendiri, meski segala pemahaman telah kucoba sejauh daya yang kubisa.
Sungguh sulit terasa, karena ujung dari apa yang kucari memang bukan untuk diriku sendiri.
Mereka yang kusayangi yang membuat aku selalu ingin persembahkan yang terbaik.
Dan sebelum itu tercapai, biarlah aku tidak memperdulikan bagaian lain dari sisi hatiku sendiri.
Hingga datang saat itu, dimana aku dapat memberikan diriku seutuhnya.

1 Nov 2009

Semoga nantinya aku dapat bahagia di dunia seperti ini

Aku sudah sulit menemukan keindahan melalui keheningan malam, syair syahdu, khayalan dan lamunan yang dulu sering menggiring nalarku untuk menulis. Meski yang kutulis waktu itu hanyalah untaian hampa dari mimpi-mimpi, kuakui itu sangat berarti.
Karena dari mimpi itulah terbit cita-cita dan harapan.
Dan keadaan ini juga tidak mengartikan aku yang sekarang telah menemukan kebahagiaan dari sisi lain yang lebih nyata. Karena aku masih suka berangan-angan dan menyimpan harapan serta cita-cita dari mimpiku tersebut.


Hanya saja, kemana perginya imajinasiku??

Imajinasi yang membuat aku selalu bersemangat dalam berkreatifitas, mengalirkan ide-ide gila yang tak takut akan cemoohan,menemukan banyak pengalaman melalui dunia maya yang memperkaya diriku sebagai aku.
Sepertinya aku hanya berpindah ke dunia baru yang merasa sudah pantas aku singgahi. Dunia yang mengharuskan aku sadar apa arti 'nyata' menurut mereka. Masuk dalam kompetisi meraih 'hidup' menurut mereka. Aku harus sama seperti mereka, agar pantas hidup dalam dunia mereka.


Setidaknya di dunia ini aku juga manusia yang sama seperti mereka, jadi kehidupan seperti ini adalah tahap yang memang harus kulalui pula. Aku juga bukan munafik untuk mengatakan tidak menyukai dunia seperti ini, untuk itu tidak ada salahnya berupaya dan berlomba meraih kejayaan menurut dunia mereka.

Semoga nantinya aku dapat bahagia di dunia seperti ini, tentunya setelah dapat meraih mimpi yang ada dalam angan-angan duniaku terdahulu.