Aku yang semakin rapuh, kini di hadapMu bersimpuh.
Kupanjatkan doa di atas sejadah lusuh diiringi sembah sujud dengan hati yang luluh.
Hanya kepada Mu aku pasrah, memohon ampun atas dosa yang telah membuat lusuh.
Menyesal akan arah hidup yang selama ini telah kutempuh,
aku selalu berkubang dalam tindakan yang berasal dari hati yang keruh.
Mungkin itulah takdir yang harus kuhadapi,
atau waktu sengaja membiarkan aku menemukan sesuatu dari pengalaman yang teresapi.
Mungkin juga karena aku selalu mendapati kehidupan yang galau dalam sepi,
yang membuat bimbang hingga menyirnakan semangat yang dulu berapi-api.
Namun sesungguhnya aku tidak ingin hidup sendiri dan menyepi.
Lantas apa yang harus kuperbuat untuk hidupku yang sekarang,
tentu saja aku tidak ingin terus hidup sebagai manusia jalang,
terombang ambing dalam jiwa yang bimbang dan terkekang.
Sekarang ini aku harus berusaha untuk dapat jadi pemenang,
melupakan segala tabiat kehidupan terdahulu yang tidak pantas dikenang.
Takdir memang telah tergurat abadi,
namun tidak ada yang dapat tahu secara pasti bagaimana kehidupanya nanti.
Keputusan kekal tetap ada pada Ilahi Robi.
Yang bisa kulakukan adalah harusnya dapat keluar dari kubang yang kubuat sendiri,
dan salah besar jika pasrah untuk menyerah terlalu dini.
Dia tidak akan memberi cobaan yang tidak bisa dilalui hambanya,
dan semuanya tergantung bagaimana usaha yang kita bisa.
Yakinlah takdir itu memang ada,
seperti kita juga percaya bahwa karena akal dan nurani kita disebut manusia,
maka takdir adalah seperti apa kita memandang hidup dengan akal dan nurani kita.
Selama Tuhan pemilik langit dan bumi masih memberikan kita nafas, dan selama Tuhan yang maha pemberi ilmu masih memberikan kita ilmu pengetahuan, maka janganlah ragu untuk menulis. Tuliskan saja, dan editlah belakangan. Dengan begitu, kamupun menulis tanpa beban. PLONG!. Lega rasanya..
18 Nov 2009
17 Nov 2009
Meski beda rupa, kasta dan agama tapi itu bukan dosa.
Kalian hanya membaca apa yang kalian raba dari muka...
Tapi sesungguhnya kalian buta untuk merasa pakai jiwa.
Segalanya asal terka agar tercapai niat untuk mencerca,
bohong belaka untuk mencari fakta dalam nyata,
karena niat utama kalian tidak lebih untuk menghina.
Ada saja yang kalian cari supaya beda,
entah dari rupa, kasta, atau agama.
Yang akhirnya norma,
kalian buat dengan segala rupa yang kalian bisa.
Yang beda dianggap tercela, lantas kalian mengumbar dusta biang cela.
Semakin lama keadaan ini semakin menganga,
kalian menggila di awang-awang dengan norma yang sebenarnya dosa kalian puja.
Aku bukan siapa-siapa dan tidak berasal dari mana-mana....
tapi mataku punya rasa untuk melihat mana yang pantas menjadi kawan.
Kawan yang tak peduli akan beda karena merasa semua sama.
Meski beda rupa, kasta dan agama tapi itu bukan dosa.
Karena kita tetap manusia milikNya jua.
Tapi sesungguhnya kalian buta untuk merasa pakai jiwa.
Segalanya asal terka agar tercapai niat untuk mencerca,
bohong belaka untuk mencari fakta dalam nyata,
karena niat utama kalian tidak lebih untuk menghina.
Ada saja yang kalian cari supaya beda,
entah dari rupa, kasta, atau agama.
Yang akhirnya norma,
kalian buat dengan segala rupa yang kalian bisa.
Yang beda dianggap tercela, lantas kalian mengumbar dusta biang cela.
Semakin lama keadaan ini semakin menganga,
kalian menggila di awang-awang dengan norma yang sebenarnya dosa kalian puja.
Aku bukan siapa-siapa dan tidak berasal dari mana-mana....
tapi mataku punya rasa untuk melihat mana yang pantas menjadi kawan.
Kawan yang tak peduli akan beda karena merasa semua sama.
Meski beda rupa, kasta dan agama tapi itu bukan dosa.
Karena kita tetap manusia milikNya jua.
14 Nov 2009
Tak terkira...Tak ada yang mengira
Tak terkira banyaknya kawan berbudi yang pergi,
bahkan cintaku mati karena tak sanggup menderita dalam sunyi.
Mereka tak sudi dengan aku yang begini,
penuh teka-teki yang terkadang aku sendiri sulit memahami.
Lalu aku berpikir...
Kenapa takdir menggiringku secara pandir,
hingga menyendiri untuk mencari jati diri secara getir.
Pantaslah jika hidupku kini bagai kisah roman satir.
Tak ada yang mengira, aku yang begini punya ilusi tingkat tinggi.
Di urat nadi mengalir darah sang pengimajinasi.
Lalu...Kalin pikir aku senang begini!!
terus bermimpi dan menjadi manusia yang tak pasti!!!??
Teka-teki ini tidak boleh terus menjadi misteri,
karena takdir bukanlah untuk diratapi.
Orang yang punya banyak mimpi bukanlah manusia pandir!!
Karena dari mimpilah cita-cita besar itu hadir.
bahkan cintaku mati karena tak sanggup menderita dalam sunyi.
Mereka tak sudi dengan aku yang begini,
penuh teka-teki yang terkadang aku sendiri sulit memahami.
Lalu aku berpikir...
Kenapa takdir menggiringku secara pandir,
hingga menyendiri untuk mencari jati diri secara getir.
Pantaslah jika hidupku kini bagai kisah roman satir.
Tak ada yang mengira, aku yang begini punya ilusi tingkat tinggi.
Di urat nadi mengalir darah sang pengimajinasi.
Lalu...Kalin pikir aku senang begini!!
terus bermimpi dan menjadi manusia yang tak pasti!!!??
Teka-teki ini tidak boleh terus menjadi misteri,
karena takdir bukanlah untuk diratapi.
Orang yang punya banyak mimpi bukanlah manusia pandir!!
Karena dari mimpilah cita-cita besar itu hadir.
12 Nov 2009
Tuhan maha tahu
"Tuhan maha tahu, dan kita hanya menanti kebahagiaan akan datang disaat yang tepat". Tetapi sebagai manusia yang berakal, usaha kita juga turut berperan dalam garis nasip meskipun tidak sepenuhnya merubah garis takdir. Tapi apakah kita tahu, Dia membiarkan kita untuk dapat berkreasi lebih dahulu terhadap hidup kita sebelum menentukan. Dan siapa ... Read moreyang tahu, kalau apa yang ditentukanNya nanti adalah sesuatu yang juga tidak terlepas dari karma yang kita lakukan. Kebahagiaan hanya dapat diraih dengan perbuatan baik yang dimulai dari sekarang
7 Nov 2009
Apa emang battle cuma untuk mencaci
Apa emang battle cuma untuk mencaci,
karena kta sejarah, rap hadir dari kaum yang dicaci.
Tapi sobat, kita disini bukan untuk membenci,
jadi coba cari cara yang berarti.
Aku memang baru disini,
tapi yang sekedar ku tahu rap itu tidak mesti begini.
Banyak masalah yg menuntut arti kita kini,
jika kita cinta bangsa dan negeri ini.
pikirkan, resapi dan beri arti dalam nyanyi.
walaupun meski hanya lewat syair yg dianggap kiri.
Atau kita sendiri tidak malu pada diri sendiri,
hanya bisa teriak-teriak, unjuk gigi, dan tunjukkan punya nyali.
Atau bernyanyi yang sebenarnya tak punya arti.
Berkreasi melalui lirik memang seni,
tapi coba yang menyentuh hati.
Sadarkan mereka yang sering berkelahi dan benci pada diri sendiri.
Jiwa yang enggan hidup dan matipun tak berani,
karena terombang ambing mencari jati diri.
Para pendosa yang rela menjual harga diri bangsa dan umat negeri.
Kaum munafik yang bertameng tulus hati.
Dan masih banyak lagi,
jika kita mau berpikir untuk bernyanyi dengan nurani.
Tidak salah jika kita berani mencaci yang menyakiti hati.
tapi harus tepat dan mengerti kenapa kita memaki.
Agar jangan sampai dibilang aliran musiknya orang iri.
Ingatlah ini,
apabila kita benar-benar mencintai daya dan karya sendiri,
serta bilang hip-hop sudah menjadi urat nadi.
Hanya itu, pesan singkat dari saya yang harusnya juga sadar diri.
Thanks a lot.
karena kta sejarah, rap hadir dari kaum yang dicaci.
Tapi sobat, kita disini bukan untuk membenci,
jadi coba cari cara yang berarti.
Aku memang baru disini,
tapi yang sekedar ku tahu rap itu tidak mesti begini.
Banyak masalah yg menuntut arti kita kini,
jika kita cinta bangsa dan negeri ini.
pikirkan, resapi dan beri arti dalam nyanyi.
walaupun meski hanya lewat syair yg dianggap kiri.
Atau kita sendiri tidak malu pada diri sendiri,
hanya bisa teriak-teriak, unjuk gigi, dan tunjukkan punya nyali.
Atau bernyanyi yang sebenarnya tak punya arti.
Berkreasi melalui lirik memang seni,
tapi coba yang menyentuh hati.
Sadarkan mereka yang sering berkelahi dan benci pada diri sendiri.
Jiwa yang enggan hidup dan matipun tak berani,
karena terombang ambing mencari jati diri.
Para pendosa yang rela menjual harga diri bangsa dan umat negeri.
Kaum munafik yang bertameng tulus hati.
Dan masih banyak lagi,
jika kita mau berpikir untuk bernyanyi dengan nurani.
Tidak salah jika kita berani mencaci yang menyakiti hati.
tapi harus tepat dan mengerti kenapa kita memaki.
Agar jangan sampai dibilang aliran musiknya orang iri.
Ingatlah ini,
apabila kita benar-benar mencintai daya dan karya sendiri,
serta bilang hip-hop sudah menjadi urat nadi.
Hanya itu, pesan singkat dari saya yang harusnya juga sadar diri.
Thanks a lot.
5 Nov 2009
Bukan salahMu jika aku sering dianggap dungu.
Kadang sulit memahami arti hadirku disini,
jika hingga kini aku tetap tak peduli.
Pernah aku berbakti kemudian dinanti,
tapi akhirnya aku pergi bersama duniaku sendiri.
Bukanya aku tak punya nyali,
tapi aku benci untuk dicaci.
Meski itu mungkin bisa membuat aku lebih berarti.
Pengalaman adalah guru,
tapi terkadang dapat menjadi peluru,
menderu menembus jantung hati orang yang keliru.
Aku yang selalu keliru bahwa tujuan haruslah satu.
Ujung-ujungnya aku tetap membatu dalam dunia yang kulihat palsu.
Duhai Ibu,
bukan salahMu jika aku sering dianggap dungu.
jika hingga kini aku tetap tak peduli.
Pernah aku berbakti kemudian dinanti,
tapi akhirnya aku pergi bersama duniaku sendiri.
Bukanya aku tak punya nyali,
tapi aku benci untuk dicaci.
Meski itu mungkin bisa membuat aku lebih berarti.
Pengalaman adalah guru,
tapi terkadang dapat menjadi peluru,
menderu menembus jantung hati orang yang keliru.
Aku yang selalu keliru bahwa tujuan haruslah satu.
Ujung-ujungnya aku tetap membatu dalam dunia yang kulihat palsu.
Duhai Ibu,
bukan salahMu jika aku sering dianggap dungu.
Buaya sama cicak

Kata sapa antara Buaya sama cicak, yang 'lebih' adalah buaya??
Cicak bisa merayap sesuka hati kaya' spiderman....buaya engga'!!
Cicak hidupnya damai - ga' pernah mengancam dan rusuh, malah hewanya sabar dan kalem
sedangkan buaya?? ga' punya teman karena sering mengancam.
Saking baek dan bersahabat, untuk mengenang cicak...anak-anak punya lagu sendiri buat cicak...
Trs, ga' macing bgt klo ada lagu "Buaya-buaya di dinding"...yg ciptain pasti org gila!!wkwkkwkw
Ehm...Emang seeh buaya nyeremin, tapi ga'penting....
zaman skrg yg banyak yg kuat dan yg diam2 itu yg malah makan dalam!!!!
Cicak lebih cerdik dan dapat berada di berbagai lini....buaya engga'!!!
Kesimpulanya di zaman sekarang ini, mau ga' mau buaya 'kalah' jika dibandingkan Cicak.
Hukum rimba memang masih berlaku, tapi kemenangan bagi yang cerdik...
Hidup Cicak!!!! I love u pulll..wkkkwwkkw
4 Nov 2009
Diriku seutuhnya

Hari ini masih sama dengan hari yang kemarin,aku masih terhuyung sebagai anak manusia yang sedang mencari jati diri.
Pantaslah jika kegalauan masih membayangi.
Aku yang galau untuk menjadi diri sendiri, meski segala pemahaman telah kucoba sejauh daya yang kubisa.
Sungguh sulit terasa, karena ujung dari apa yang kucari memang bukan untuk diriku sendiri.
Mereka yang kusayangi yang membuat aku selalu ingin persembahkan yang terbaik.
Dan sebelum itu tercapai, biarlah aku tidak memperdulikan bagaian lain dari sisi hatiku sendiri.
Hingga datang saat itu, dimana aku dapat memberikan diriku seutuhnya.
1 Nov 2009
Semoga nantinya aku dapat bahagia di dunia seperti ini
Aku sudah sulit menemukan keindahan melalui keheningan malam, syair syahdu, khayalan dan lamunan yang dulu sering menggiring nalarku untuk menulis. Meski yang kutulis waktu itu hanyalah untaian hampa dari mimpi-mimpi, kuakui itu sangat berarti.
Karena dari mimpi itulah terbit cita-cita dan harapan.
Dan keadaan ini juga tidak mengartikan aku yang sekarang telah menemukan kebahagiaan dari sisi lain yang lebih nyata. Karena aku masih suka berangan-angan dan menyimpan harapan serta cita-cita dari mimpiku tersebut.
Hanya saja, kemana perginya imajinasiku??
Imajinasi yang membuat aku selalu bersemangat dalam berkreatifitas, mengalirkan ide-ide gila yang tak takut akan cemoohan,menemukan banyak pengalaman melalui dunia maya yang memperkaya diriku sebagai aku.
Sepertinya aku hanya berpindah ke dunia baru yang merasa sudah pantas aku singgahi. Dunia yang mengharuskan aku sadar apa arti 'nyata' menurut mereka. Masuk dalam kompetisi meraih 'hidup' menurut mereka. Aku harus sama seperti mereka, agar pantas hidup dalam dunia mereka.
Setidaknya di dunia ini aku juga manusia yang sama seperti mereka, jadi kehidupan seperti ini adalah tahap yang memang harus kulalui pula. Aku juga bukan munafik untuk mengatakan tidak menyukai dunia seperti ini, untuk itu tidak ada salahnya berupaya dan berlomba meraih kejayaan menurut dunia mereka.
Semoga nantinya aku dapat bahagia di dunia seperti ini, tentunya setelah dapat meraih mimpi yang ada dalam angan-angan duniaku terdahulu.
Karena dari mimpi itulah terbit cita-cita dan harapan.
Dan keadaan ini juga tidak mengartikan aku yang sekarang telah menemukan kebahagiaan dari sisi lain yang lebih nyata. Karena aku masih suka berangan-angan dan menyimpan harapan serta cita-cita dari mimpiku tersebut.
Hanya saja, kemana perginya imajinasiku??
Imajinasi yang membuat aku selalu bersemangat dalam berkreatifitas, mengalirkan ide-ide gila yang tak takut akan cemoohan,menemukan banyak pengalaman melalui dunia maya yang memperkaya diriku sebagai aku.
Sepertinya aku hanya berpindah ke dunia baru yang merasa sudah pantas aku singgahi. Dunia yang mengharuskan aku sadar apa arti 'nyata' menurut mereka. Masuk dalam kompetisi meraih 'hidup' menurut mereka. Aku harus sama seperti mereka, agar pantas hidup dalam dunia mereka.
Setidaknya di dunia ini aku juga manusia yang sama seperti mereka, jadi kehidupan seperti ini adalah tahap yang memang harus kulalui pula. Aku juga bukan munafik untuk mengatakan tidak menyukai dunia seperti ini, untuk itu tidak ada salahnya berupaya dan berlomba meraih kejayaan menurut dunia mereka.
Semoga nantinya aku dapat bahagia di dunia seperti ini, tentunya setelah dapat meraih mimpi yang ada dalam angan-angan duniaku terdahulu.
30 Okt 2009
'mungkin'....Ragu, ragu dan selalu ragu...
Kemana perginya cahaya Hati ini,
jika yang dinamakan cahaya itu memang ada, seperti yang selama ini mereka rasakan...
Lantas, apakah selama ini hatiku hanya diliputi temaram ?
Mungkin memang begitu, karena aku sepertinya tidak sebahagia mereka...
Hati tanpa cahaya dikatakan hati yang temaram,
tanpa ada perasaan bahagia yang belebih.
Tapi apa benar begitu naas keadaan diriku?
Jika yang kukatakan ini hanyalah prasangka dan keraguan..
"kemana" "seperti" "mungkin" "tapi"...
Bukankah itu semua adalah kata-kata keraguan...
Aku yang ragu akan diriku, ragu akan penilaian terhadap diriku sendiri, atau ragu dengan cara kalian yang menilai diriku.
Ragu, ragu dan selalu ragu...
Seharusnya tidak ada alasan untuk ragu pada diriku sendiri,
karena aku adalah aku, tidak akan bisa jadi kalian atau mereka
tapi mungkin pantaslah jika aku ragu terhadap penilaian kalian,
karena sesunguhnya kalian juga ragu akan diri sendiri
masih ada kata 'mungkin' dari jawaban keraguan ini...
maka 'sepertinya' aku tidak akan menemukan jawaban yang pasti,
'mungkin' karena aku, kau dan kita hanyalah manusia..
yang akan selalu ragu dalam kehidupan ini.
'mungkin'....
jika yang dinamakan cahaya itu memang ada, seperti yang selama ini mereka rasakan...
Lantas, apakah selama ini hatiku hanya diliputi temaram ?
Mungkin memang begitu, karena aku sepertinya tidak sebahagia mereka...
Hati tanpa cahaya dikatakan hati yang temaram,
tanpa ada perasaan bahagia yang belebih.
Tapi apa benar begitu naas keadaan diriku?
Jika yang kukatakan ini hanyalah prasangka dan keraguan..
"kemana" "seperti" "mungkin" "tapi"...
Bukankah itu semua adalah kata-kata keraguan...
Aku yang ragu akan diriku, ragu akan penilaian terhadap diriku sendiri, atau ragu dengan cara kalian yang menilai diriku.
Ragu, ragu dan selalu ragu...
Seharusnya tidak ada alasan untuk ragu pada diriku sendiri,
karena aku adalah aku, tidak akan bisa jadi kalian atau mereka
tapi mungkin pantaslah jika aku ragu terhadap penilaian kalian,
karena sesunguhnya kalian juga ragu akan diri sendiri
masih ada kata 'mungkin' dari jawaban keraguan ini...
maka 'sepertinya' aku tidak akan menemukan jawaban yang pasti,
'mungkin' karena aku, kau dan kita hanyalah manusia..
yang akan selalu ragu dalam kehidupan ini.
'mungkin'....
Terkasih
Hidup jauh dari rileks, bingung antara motivasi dan ambisi, terasa jauh dari keramaian,...
tapi aku tahu semuanya tetap ada dan tersedia bagiku selama di hati kecil ini masih ada kalian2 orang yang kukasihi....
tapi aku tahu semuanya tetap ada dan tersedia bagiku selama di hati kecil ini masih ada kalian2 orang yang kukasihi....
26 Okt 2009
hidup yang juga mimpi
Coba menunjuk satu bintang, yang ingin diraih dalam mimpi....
Jangan hiraukan bintang yang selalu di langit dan tetap terlalu tinggi untuk dapat diraih, karena ini semua tetap mimpi....
Seperti hidup yang juga mimpi, hingga terbit kesadaran bahwa yang nyata setelah kau mati.
Ataukah kalian yang hidup di jaman sekarang lebih memuja dunia yang tampak seperti nyata, dan mengganggap kehidupan setelahnya hanyalah mimpi dari orang-orang terdahulu.
Jangan hiraukan bintang yang selalu di langit dan tetap terlalu tinggi untuk dapat diraih, karena ini semua tetap mimpi....
Seperti hidup yang juga mimpi, hingga terbit kesadaran bahwa yang nyata setelah kau mati.
Ataukah kalian yang hidup di jaman sekarang lebih memuja dunia yang tampak seperti nyata, dan mengganggap kehidupan setelahnya hanyalah mimpi dari orang-orang terdahulu.
21 Okt 2009
[Kiat Menulis] Tak Ada Istilah “Tulisan Fals” Posted in Dunia Penulisan, Motivasi

Anda mungkin sering melihat sebuah iklan kopi di televisi yang menayangkan sosok suara pria bersuara fals. Lalu muncul si narator dengan ucapan, “Enggak semua orang bisa bermain musik.”
Ya, di dunia musik, memang suara merdu banyak ditentukan oleh bakat alam. Ada orang yang ditakdirkan bersuara merdu, sehingga dia berpotensi besar menjadi seorang penyanyi sukses. Sementara ada orang (termasuk saya) yang bersuara fals, pas-pasan, sehingga nyaris tak mungkin menjadi penyanyi sukses.
Ada seorang teman yang pernah berkata pada saya, “Penyanyi dan penulis pada dasarnya sama. Ada orang yang suaranya fals, sehingga tak mungkin jadi penyanyi. Ada juga orang yang tulisannya jelek, sehingga tak mungkin menjadi penulis.”
Pendapat seperti ini bukan hanya dilontarkan oleh orang awam. Bahkan Stephen King – penulis cerita horor paling ngetop sedunia – pun, dalam bukunya On Writing, menjelaskan bahwa ada penulis luar biasa seperti Kahlil Gibran atau Ernest Hemingway, ada pula penulis yang biasa-biasa saja seperti kita-kita ini. Menurut King, seorang penulis yang biasa-biasa saja tak mungkin “naik status” menjadi penulis luar biasa.
Walau Stephen King termasuk salah seorang penulis yang paling terkenal sedunia, saya SANGAT TIDAK SETUJU dengan pendapatnya ini.
Di dunia penulisan, tidak ada istilah “tulisan fals”. Dunia penulisan SANGAT BERBEDA dengan dunia musik.
Pada dasarnya, siapa saja bisa menjadi penulis. Siapa saya bisa menjadi penulis yang luar biasa. Termasuk Anda dan saya!
Yang Anda butuhkan untuk “naik status” menjadi seorang penulis yang luar biasa adalah seperti yang pernah saya jelaskan di sini.
Itu saja. Tak lebih dan tak kurang.
Dunia penulisan tidak mengenal istilah “tulisan fals”.
Salam Sukses!
Jonru
20 Okt 2009
Suara Mahasiswa Koran Sindo
KALAU ditanya soal bentuk,tidak ada lagi bentuk yang bagus selain “lingkaran”. Seperti halnya anting, gelang, cincin,kalung,dan jam tangan,atau bahkan roda kendaraan bermotor, semuanya diciptakan “beraroma” lingkaran.
Jika sudah berbentuk lingkaran, maka apa pun itu akan mudah berputar. Lingkaran itu tidak abstrak,lingkaran itu jelas dan tidak melengos. Bahkan burung garuda pun sebisa mungkin berpose semirip lingkaran, sesaat sebelum dipastikan menjadi lambang. Lingkaran itu harus aktif, tidak boleh pasif atau bahkan stop di tengahtengah jalan.
Lihat saja akuarium di rumah,di samping layar kaca.Air akuarium harus terus berputar agar ikan-ikan kecil selalu segar bugar.Air kotor masuk ke dalam kotak penyaringan melalui mesin penyedot, lalu diproses sedemikian rupa agar keluar kembali ke dalam akuarium dalam bentuk air yang bersih. Ikan-ikan kecil pun senantiasa hidup segar, tidak lumpuh atau sakit kepala.Apalagi di negeri ini,semua harus bersifat lingkaran.
Saat ini kita ramai berbicara mengenai menteri, saya jadi ingat ungkapan “wakil presiden dan para menteri hanyalah pembantu presiden”. Itu memang terdengar wajar saja. Ada dua kasus yang beraroma “pembantu”.Pertama,mobilisasi: andaikata genteng rumah kita bocor dan kita giring penduduk, termasuk yang uzur,merangkak-rukuk naik ke atap untuk membetulkannya hingga keringatnya menetes deras di teras rumah dan matanya berkunang-kunang, itu artinya kita memobilisasi mereka.
Kedua,partisipasi: bilamana saluran air mampat dan kita ajak mereka baikbaik untuk membersihkannya hingga lingkungan tidak jadi kubangan, itu artinya kita buka pintu mereka berpartisipasi. Kedua kasus tersebut membuat penduduk tersebut terlihat seperti pembantu.Namun,sebenarnya terdapat jurang harga yang curam di antara kasus pertama dan kedua.Ibarat perhiasan,penduduk pada kasus pertama bagaikan kantong plastik kresek.
Adapun pada kasus kedua,para penduduk ibarat tas kulit buaya. Berhubung pemerintahan yang mantap bukanlah mereka yang berurusan dengan genteng bocor atau bahkan saluran air mampet,maka satu-satunya urusan yang tersedia baginya adalah masalah pembangunan.Kedua jenis kasus tersebut bisa saja mencapai hasil yang sama, maka kemungkinan berhasilnya pembangunan fisik baik lewat mobilisasi atau partisipasi pun sama besarnya.
Kabinet yang baik itu haruslah berbau lingkaran,“dari rakyat untuk rakyat”.Tak peduli orang-orang di dalamnya,percuma saja peduli kalau kami tidak akrab dengan orang-orang itu.Peduli setan! Kami hanya ingin hasil dari keringat kami yang disedot mesin pemerintahan. Lingkaran harus terasa di dalam kehidupan kami,sirkulasinya harus jelas dan tetap bersih, sebersih potongan janji yang keluar dari dalam mulut gua.
Kata kakekku,“Peranan pemimpin bukanlah faktor penentu mutlak karena bagaimanapun faktor massa yang dipimpinnya pada saat-saat tertentu merupakan faktor yang amat dominan.”Ternyata....(*)
Hagiant Rassinata
Mahasiswa Fakultas Seni Rupa,
Institut Kesenian Jakarta
Jika sudah berbentuk lingkaran, maka apa pun itu akan mudah berputar. Lingkaran itu tidak abstrak,lingkaran itu jelas dan tidak melengos. Bahkan burung garuda pun sebisa mungkin berpose semirip lingkaran, sesaat sebelum dipastikan menjadi lambang. Lingkaran itu harus aktif, tidak boleh pasif atau bahkan stop di tengahtengah jalan.
Lihat saja akuarium di rumah,di samping layar kaca.Air akuarium harus terus berputar agar ikan-ikan kecil selalu segar bugar.Air kotor masuk ke dalam kotak penyaringan melalui mesin penyedot, lalu diproses sedemikian rupa agar keluar kembali ke dalam akuarium dalam bentuk air yang bersih. Ikan-ikan kecil pun senantiasa hidup segar, tidak lumpuh atau sakit kepala.Apalagi di negeri ini,semua harus bersifat lingkaran.
Saat ini kita ramai berbicara mengenai menteri, saya jadi ingat ungkapan “wakil presiden dan para menteri hanyalah pembantu presiden”. Itu memang terdengar wajar saja. Ada dua kasus yang beraroma “pembantu”.Pertama,mobilisasi: andaikata genteng rumah kita bocor dan kita giring penduduk, termasuk yang uzur,merangkak-rukuk naik ke atap untuk membetulkannya hingga keringatnya menetes deras di teras rumah dan matanya berkunang-kunang, itu artinya kita memobilisasi mereka.
Kedua,partisipasi: bilamana saluran air mampat dan kita ajak mereka baikbaik untuk membersihkannya hingga lingkungan tidak jadi kubangan, itu artinya kita buka pintu mereka berpartisipasi. Kedua kasus tersebut membuat penduduk tersebut terlihat seperti pembantu.Namun,sebenarnya terdapat jurang harga yang curam di antara kasus pertama dan kedua.Ibarat perhiasan,penduduk pada kasus pertama bagaikan kantong plastik kresek.
Adapun pada kasus kedua,para penduduk ibarat tas kulit buaya. Berhubung pemerintahan yang mantap bukanlah mereka yang berurusan dengan genteng bocor atau bahkan saluran air mampet,maka satu-satunya urusan yang tersedia baginya adalah masalah pembangunan.Kedua jenis kasus tersebut bisa saja mencapai hasil yang sama, maka kemungkinan berhasilnya pembangunan fisik baik lewat mobilisasi atau partisipasi pun sama besarnya.
Kabinet yang baik itu haruslah berbau lingkaran,“dari rakyat untuk rakyat”.Tak peduli orang-orang di dalamnya,percuma saja peduli kalau kami tidak akrab dengan orang-orang itu.Peduli setan! Kami hanya ingin hasil dari keringat kami yang disedot mesin pemerintahan. Lingkaran harus terasa di dalam kehidupan kami,sirkulasinya harus jelas dan tetap bersih, sebersih potongan janji yang keluar dari dalam mulut gua.
Kata kakekku,“Peranan pemimpin bukanlah faktor penentu mutlak karena bagaimanapun faktor massa yang dipimpinnya pada saat-saat tertentu merupakan faktor yang amat dominan.”Ternyata....(*)
Hagiant Rassinata
Mahasiswa Fakultas Seni Rupa,
Institut Kesenian Jakarta
19 Okt 2009
lirik kami

Wahai kalian yang membenci lirik kami,
Jangan lo pikir nulis lirik itu gampang,
Karena untuk nulis ga’ sama dengan ngoceh sembarang.
Kecuali apa yang pingin lo tulis emang nyeritain isi otak lo yang terbelakang
Lo yang cuma bisa melonglong dengan tabiat yang merongrong
Lebih suka sombong padahal hanya seperti kambing ompong
Tapi tidak dengan kami,
meski kami pembangkang, kami ingin berjuang dan berkembang
dengan lagu yang mungkin terdengar sumbang.
syair kata-kata yang kunyanyikan dengan terbata-bata

Wahai sobat, dengarkanlah syair kata-kata yang kunyanyikan dengan terbata-bata
Bukan untuk mengumbar kata demi karya, tapi hanyalah daya dari aku yang nestapa
Aku memang tak pandai memainkan nada, tapi rasa yang membuat aku bisa
Tak perduli kalian bilang aku gila, karena nanti juga kan sirna apa yang kalian hina…
Setelah tahu yang pantas dipuja adalah yang tak mengiba terhadap duka.
Sebenarnya aku risih untuk bercerita tentang apa yang membuat aku tersisih,
Karena ini hanya masalah situasi yang belum menerima kenyataan yang pasti.
Bahwa apa adanya aku adalah pasti apa yang ada dalam pikiranku sendiri,
Percuma kalian berisik jika hanya mencaci aku yang memang pasti begini.
Tak ada guna berselisih karena kau, aku dan kita pasti mati.
Wahai sobat, mungkin apa yang kurasa juga sama dengan yang kalian rasa
Karena raga kita sama-sama muda dan pernah galau untuk mengartikan dunia.
Tapi yang utama adalah bagaimana cara kita menyimpan asa, yang dapat menjadi usaha untuk kita berjaya.
Jangan pedulikan makna maya dari dunia kita, yang lebih mengutamakan kasta ataupun harta.
Bahkan cinta dapat menjadi tipu daya demi puaskan dahaga durjana
Tetaplah yakin sobat, agama yang utama.
Syair ini hanyalah apa yang kurasa di dalam hati,
Kutulis sendiri agar dapat menemukan arti,
Sekali lagi…janganlah kalian mencaci
Aku bernyanyi hanya untuk menghibur diri
Diri sendiri yang sedang mencari jati diri
Semoga nurani dapat menghayati apa yang hakiki
17 Okt 2009
aku ingin pulang
Kabinet

Dalam pemerintahanya kali ini, inisiatif dari SBY dikatakan unik karena lain dari biasanya. SBY tidak mengikutsertakan ketua partai dalam penyusunan pemerintahan koalisi. Terlepas dari benar atau tidaknya yang dilakukan SBY ini, tetap tak sedikit orang yang menyatakan agar dalam penyusunan kabinet SBY jangan bersikap semena-mena dan mengabaikan aspirasi masyarakat.
Inisiatif SBY untuk tidak menempatkan orang-orang parpol dalam jabatan strategis, seperti menteri pertahanan, kepala badan usaha milik negara, jaksa agung dan Kepala Badan Intelijen Negara juga patut diberi acungan jempol. Namun, kita juga patut bertanya, apakah seorang presiden yang terpilih bukan berasal dari parpol? Apakah benar mereka yang berasal dari kelompok independen non-parpol bebas dari kepentingan politik dan uang? Polemik semacam ini bukan hal yang baru.
Dan dari hal di atas, dapat diketahui bahwa bentuk pemerintahan yang akan dibentuk SBY ini adalah pembentukan koalisi besar nasional. Ada beberapa dampak yang dapat diuraikan dari pembentukan koalisi tersebut, di satu sisi ini positif karena menyatukan berbagai komponen bangsa di dalam kabinet. Di sisi lain, ini juga berbahaya mengingat 'aturan main koalisi' yang dibuat dapat menafikan aspirasi politik rakyat karena rendahnya kekuatan penyeimbang di DPR terhadap eksekutif. Jika hal kedua yang lebih mengemuka, DPR hanya akan menjadi pengikut kebijakan saja dan tidak dapat mengemban peranan eksekutifnya secara total.
Jika itu memang benar terjadi, fenomena politik semacam itu dapat menjurus pada sistem pemerintahan otoriter. Parpol tentunya tak dapat berbuat banyak karena terbelenggu oleh 'Aturan Main Koalisi' tersebut. Sedangkan pertanyaan bahwa akankah kabinet lebih efektif dan syarat dengan keberhasilan, juga masih tanda tanya besar, mengingat berbagai pakta politik hanyalah aturan yang ada di atas kertas.
Efektivitas dan keberhasilan kinerja kabinet akan sangat ditentukan apakah Presiden dapat mengarahkan langkah apa saja yang harus dilakukan secara cepat dalam mengejawantahkan program dan rencana aksi 5 tahunan kabinet, serta langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan secara lambat tapi pasti.
Kesimpulanya semoga saja anggapan bahwa kabinet SBY merupakan kabinet penuh keragu-raguan tidak akan ada lagi, tentunya jika pada periode kedua pemerintahannya ini SBY lebih sigap dan berani mengambil keputusan yang cepat dalam situasi yang tepat pula. Karena tidak ada pula yang perlu diragukan lagi oleh SBY untuk berbuat yang lebih cepat dan tepat bagi rakyat, mengingat kekuatan politiknya yang sekarang sangat dominan baik di eksekutif maupun legislatif. Bila SBY ingin mewariskan suatu yang positif, inilah kesempatan terakhir. Namun jika ia tetap ragu-ragu untuk melakukannya secara radikal, kesempatan itu tidak akan datang dua kali.
Just opini

Kata para kritisi yang ada di negeri ini, ada dua ciri manusia Indonesia yang sangat relevan dengan kondisi kekinian bangsa kita.
Pertama, manusia Indonesia senang dengan kepura-puraan alias hipokrit.Sejak lama mereka dipaksa untuk menyembunyikan atau paling tidak menahan sesuatu yang dirasakan.Sikap yang tidak berterus terang seperti ini menghilangkan sifat untuk proaktif sehingga berakibat seolah-olah keadaan buruk yang mereka alami tidak bisa diubah dengan tangan mereka sendiri.
Kedua, manusia Indonesia enggan bertanggung jawab dan sering merasa tidak berkepentingan terhadap suatu hal. Pimpinan melemparkan kesalahan atau kegagalan ke bawahan dan bawahan melakukan ke bawahannya lagi. Banyak pemimpin Indonesia yang cenderung mencari kambing hitam atas kesalahan yang dilakukan.
Sedangkan jika kita mau ikut berpikir kritis, ada korelasi yang sangat dekat antara kepemimpinan dan kemajuan sebuah bangsa, sebab tak mungkin sebuah bangsa menjadi bangsa yang besar jika tidak memiliki pemimpin yang hebat dan sumber daya manusia yang berkualitas. Sebut saja Amerika Serikat, Jepang, dan China yang memiliki manusia-manusia luar biasa.
Jadi, walaupun Indonesia kaya akan sumber daya ekonomi,itu saja tidak cukup jika sumber daya manusianya tak dikembangkan. Bangsa ini perlu membangun manusia dan mengoptimalkan kemampuannya. Hal ini penting dan harus menjadi prioritas utama,terutama dalam hal pembangunan watak dan karakter.
Just opini
Langganan:
Postingan (Atom)

