My Adsense

30 Nov 2008

(IMAJINASI)“Maldalias” itulah namaku.


“Maldalias” itulah namaku.
(Untaian kata singkat yang sama sekali tidak menyerupai nama seorang pujangga terkenal).
Tidak pernah aku membayangkan kehidupan yang dilewati berbagai rintangan tak jelas. Oleh sebab itu, aku tidak yakin untuk menyukai cara hidup seorang pujangga. Kehidupan mereka selalu ditorehi kelokan alur yang mewarnai perasaan dan cara berpikir.
Namun bila tetap disangkutkan dengan namaku, mungkin abstraknya kehidupan yang kualami hanyalah sebuah kebetulan. Kalaupun ada rentetan kesamaan, itupun hanya caraNya yang telah dipilih untuk ku.
Berbagai masalah yang mendera, terkadang membuat ku hilang bersama pikiran-pikiran sendiri. Mereka yang tidak perduli, menjadikan aku tidak sepenuhnya ada di dunia ini. Kasarnya aku dianggap manusia“Abnormal” yang sengaja memenuhi otak ku dengan pikiran dasyat.

“Semua itu Fitnah!! Karena berseberangan dengan kenyataan sebenarnya”
(Merekalah yang “Abnormal”, bahkan dapat menjadi sinting untuk mengerti isi pikiran yang melebihi batas kenormalan mereka).

Basa-basi tak perlu hanyalah perbuatan rendah,“Aku tidak bodoh untuk merendahkan diri sendiri”.…diam memang jalan terbaik, biarlah aku bermain dengan isi kepala yang peraturanya dibuat sendiri, ”Mengomentari manusia awam hanya akan menghasilkan sampah perdebatan yang mengotori pikiran”.
Terdengar egois memang !
Tapi, “Egois” adalah kodrat, kadang diperlukan sebagai “tameng” bila harkat sering direndahkan. Akhirnya lumrah menjadi pilihan, jika ingin menang dalam keterasingan dunia.

Entah apakah juga “egois”, jika aku pun tidak pernah menganggap hidup yang kujalani adalah kutukan dari sebuah nama, tanggal lahir dan ilmu ramalan apapun.
“Tidak ada makna berharga yang tersirat dalam nama ku,…”
“Masa bodo! , tapi aku menghargai arti dari sebuah nama yang sederhana dan aneh ini…”

Yang aku tahu, aku bangga mengakui keadaan diri ku. Tidak perlu malu dengan aku yang tidak tampan, kurang pintar, hanya sedikit sopan dan tertib, serta berbagai kekurangan lain yang “Egois” ingin kusimpan sendiri. …“Semuanya sudah cukup untuk ku”…

“Persetan..!”, aku yakin hidup dapat dituntun dengan segala daya dan pikiran dasyat yang ada dalam otakku.
“Angin lalu”!, mereka yang menganggapku “aneh bahkan sinting”.
Selama norma-norma itu masih dibuat oleh mereka, tidak ada gunanya mereka tahu kalau akulah yang paling normal. Karena untuk menjadi seorang normal dalam dunia mereka, memaksa aku mengikuti segala tingkah yang bertentangan dengan pikiranku.
Pernah kumerasa ada baiknya menyenangkan hati mereka, ku ikuti segala peraturan dan berlagak semuanya baik. Tapi karena berawal dari keterpaksaan, aku menjadi tidak betah dan memilih konsekuensi terdahulu…“berteman sepi”...,

(Tapi tetap ku tunggu sebuah pengakuan nantinya, bahwa merekalah yang kalah, “bukan aku!”)

“Sendiri” pernah membuat aku menjadi pecinta kesunyian, segalanya menjadi serba individual. Hingga aku tidak tahu, darimana asal pemahaman yang semakin berakar kokoh dalam otakku…
( Kesadaranku berpendapat, hidup sendiri dapat mematikan rasa. Hanya mahkluk tak bernurani yang sanggup melewatinya. “Jelas diriku tidak serendah binatang”. Aku masih butuh keramaian, setidaknya dalam otakku sendiri. Apalagi aku sebenarnya insan paling berbahagia, karena aku mencintai Islam, tercipta dengan tubuh yang lengkap, dikaruniakan talenta yang selalu ingin tahu hingga selalu mencoba dan paling tidak sedikit bisa. Aku juga bisa mendapatkan orang di dekatku, kapanpun ku butuhkan”).
Jika pun ingin mencari pelampiasan sebab, aku pun tidak yakin asal karakterku terbentuk oleh lingkungan.
(Lingkungan tempatku tumbuh adalah keluarga yang mengasihiku, memberlakukan aku sebagaimana mestinya. Mereka mengajariku teori “peduli sesama” sebagai syarat membaur. Mengecap situasi dan kondisi yang termasuk takaran rasa bahagia setiap manusia normal, …semua itu aku terima dan berjalan apa adanya).
Lambat laun, kedewasaan dan kehidupan bermasyarakat yang menghantarkan aku menemukan pikiran bebas sendiri. Berusaha menelusuri setiap detik kehidupan dengan pemahaman yang kucipta sendiri.
“Patutkah ada yang disalahkan, jika aku berusaha menjadi manusia sempurna”?. Jika demikian, mereka yang menghinaku pantas menjadi sebab hingga aku selalu menuntut “hormat” karena takut direndahkan.

Begitulah hidup gw sebagai seorang “Maldalias”. Masih menjadi manusia yang mampu menjelajahi belukar kehidupan, meski berlalunya waktu hanya boleh dituntun oleh nalar cerdas sendiri. Bertarung melawan deraan aral dengan prinsip yang “egois’. Semuanya tetap berjalan apa adanya. Dengan konsekuensi … “diterima dan tersisih ”.
Hingga kini gw masih menjadi seorang mahasiswa Tek. Mesin di kampus UNDIP dan UGM (UNiversitas DIPocin dan Universitas Gunadarma) Depok. Keseharianku sebagai seorang mahasiswa selalu padat diisi dgn kegiatan akademik, ekstrakurikuler dan mencari jodoh.
Nilai kuliah standar2 aja, karena dari dulu gw memang suka yang sedang2 aja. Tapi termasuk disegani teman2 sekampus dalam masalah “otak” karena gw bisa yang mereka bisa tapi mereka belum tentu bisa yang gw bisa, gw gitu lohhh…
Gw juga “gila baca”, maka Gramedia selalu menjadi tempat favorit buat ngisi waktu kosong. Selain itu juga menyandang predikat sbg mahasiswa kere’ yang ga’ punya duit buat beli buku, jadinya teman-teman dengan keterpaksaan harus rela minjamin buku2nya ke gw. Segala macam buku suka gw baca, terutama ttng ilmu pengetahuan umum, agama dan politik juga ok, biografi orang terkenal…apalagi, and never dies about romantic story, filsafat juga ayo…, klo tentang teknik mesin…udah bosan di kuliahan..he..he..
Selain “baca” hobby gw yg baru berkembang tetapi semakin candu adalah Browsing, chating, pokoke ngenet2an lah….gw acungin jempol buat teknologi yang satu ini!!!. Klo orang mau manfaatin Internet buat yg positif,….Apa aja mungkin ,”Dunia keciiiiiil Man!!”.
Dan hobby yang udah sehidup semati sama gw, karena ngelakuinya juga butuh nyali yang gede…”Mix Martial Art”. Gw suka semua olahraga beladiri, dari kecil basic gw Karate, lalu taekwondo dan sekarang ketika kuliah iseng2 gw ikut kungfu dan silat. Sempat juga di Judo, dan Kick Boxing. Gw ga’ main2 dalam menekuni hobby yang satu ini, selalu rutin latihan, berprestasi di tiap sasana, fisik gw benar2 gw geber biar “jago” (RASSIS COMMUNIY), pernah ikut beberapa kali kejuaraan..tapi ga’ menang, bukan karena kalah..hanya kurang beruntung terjun di kelas profesional he..he..
Sekarang jadi ketua sasana Wushu di kampus gw dan silat Merpati Putih di UI,..
Mengenai Jodoh, tak pernah letih gw cari. Ada yang satu gw suka…muncul satu lagi..gw “gebet” aja sekaligus,..bulan ini aja ada 5 cw yang sempat gw gebet,he..he.. tapi berhubung sikap gw yg “diam2 makan dalam”dan terlalu puitis, terlalu menyaring atau bisa juga tau diri. Semua yang gw gebet selalu dalam tahap pedekate, abizznya cw yg gw targetin selalu tajir seeh…padahal kekurangan gw kan dikit…(kurang kaya, kurang tampang, de-el-el…)
Tapi tenang aja, gw tetap optimis ko’…wong nda’ ada yang buat gw harus rendah diri untuk dapetin cw ko’…he..he…tinggal tunggu yang tepat aja..ya..ya..ya…
Tapi emang sempat seeh patah hati, ujung2 nya gw gubah kata2 pengarang bijak kaya gini neeh…

Ada orang-orang tertentu yang memendam cinta demikian rapi. Bahkan sampai mereka mati, sekelilingpun mereka tidak memperlihatkan getas hatinya. Cinta mereka sesepi stambul lama nan melankolis, dengan pengarang yang tidak pernah dikenal,
Jika malam tiba mereka mendengus meratapi rindu, menampar muka sendiri karena jengkel tak berani mendeklarasikan cinta yang mengelitik nadinya. Cintanya tak pernah terungkap, karena ngeri membayangkan resiko ditolak. Lama-lama seperti seorang narsis, mereka menyukai seseorang di dalam hatinya sendiri. Cinta satu sisi, “indah” tapi merana tak terperi.
Mereka hidup dalam bayangan, mengungkapkan cinta agaknya mengandung daya tarik paling misterius dari cinta itu sendiri.
Itulah yang aku rasakan…..

Ya udah deh,….pada intinya sesuai kodrat, aku adalah orang biasa, miskin dan kebanyakan. Namun aku ingin kaya pengalaman batin dan petualangan untuk mencari kebenaran hakiki. Sisi mistisku, aku ingin memastikan setiap kesangsian, membuktikan prasangka dan mitos-mitos, serta mengalami sendiri apa yang hanya bisa diduga orang. Sisi religius, aku mempunyai harapan dari semua keingin tahuan ku itu, dapat menjemput hidayah Ilahi, daripada hanya duduk termangu-mangu tak jelas arah.
Kesimpulanya, aku ingin memuaskan sifat dasar keingintahuan manusia sampai batas akhir yang telah ditentukan dengan segala karunia apa adanya yang diberikan oleh Nya pada ku.

1 komentar:

h e r mengatakan...

kk. .
two thumbs up !!