My Adsense

2 Des 2010

Berbudaya Tanpa Lupa Diri Sebagai Umat Beragama

Mereka yang dulu atau kita yang kini tetap memijak bumi yang sama,

meski kian kesini peradaban terus berkembang menjadi semakin beda,

kita dan mereka hanya bisa pasrah sebagai generasi yang terlempar disuatu masa,

hingga sampailah pada zaman yang mengusung kemajuan sebagai realita,

mempengaruhi seni dan budaya yang sangat dekat dengan pemuda.

Kita kepingan generasi kesekian yang turut ciptakan revolusi ini,

kita manusia muda yang kerap terjerat hasrat karena sarat imajinasi,

namun tetap kodrat lahiriyah kita sebagai insan Ilahi

berdayakan sisi religi untuk peran kita yang tidak berakhir sampai disini.

Ada pertanggung jawaban yang harus kita tebus di alam sana nanti.

Budaya dan seni sobat karib dalam peranjakkan usia kita,

dipahami dengan tindakan yang kerap memberi andil bagi keduanya.

Kita penghuni zaman maju yang cendrung tak mau kaku oleh norma,.

serba bebas memuja logika adalah realita umum tentang budaya kita,

makna seni bercabang jadi persepsi yang sekedar memaknai rasa.

Lantas inikah cermin jati diri kita sebagai insan Ilahi,

bila budaya dan seni di zaman kini terselip tindakan yang jauh dari sisi religi.

Kebudayaan telah menjadi cara pandang yang hanya berkisar tentang hidup dan dunia,

mengekspresikan seni juga sekedar cara memuaskan hasrat atas rasa keindahan semata.

Realita yang terbaca ini seakan cerminkan sikap kita yang hanya terbata dan meniru sesama kita.

Sedangkan kita punya pedoman agama yang mengatur semuanya secara benar dan hakiki,

di dalamnya tersirat cara kita berbudaya sebagai mahkluk sempurna yang berakal dan nurani, bukan kebebasan terlalu yang sebenarnya semakin menjauhkan kita dari sifat manusiawi.

Seni pun sebenarnya adalah cara kita berdayakan talenta yang merupakan anugerah Ilahi,

maka ciptakanlah keindahan yang tidak sekedar dinikmati tapi juga suci dimaknai relung hati.

Tunjukkan cara kita berbudaya dan berseni merunut pedoman benar agama kita.

Karena segalanya telah tertata secara hakiki atas kita yang tak sanggup mengelak aturanNya.

Sadari maksud kita diciptakan untuk meniti makna disebalik daya dan upaya,

karena seperti inilah zaman yang sesungguhnya diimpikan oleh kita sebagai pemuda,

berbudaya dan luapkan semangat muda melalui seni tanpa lupa diri sebagai manusia beragama.

Tidak ada komentar: