My Adsense

24 Des 2008

Sajak Simphoni dari Alam Bawah Sadar


Sajak-sajak adalah suara dari alam bawah sadar. Tak mau ku katakan tentang suara-suara yang timbul dari roh, untuk menghindarkan kesan yang mengandung klenik. Dalam hal ini, aku lebih baik mempergunakan istilah teknis pisikologis “bawah sadar”, meski sesungguhnya soal bawah sadar sama orisinilnya dengan soal roh. Tetapi orang akan lekas dan percaya untuk menerima pengertian bawah sadar itu dari pada roh, yang sudah terlanjur mengingatkan orang kepada tahkyul.

Apa yang muncul dari bawah sadar mungkin suatu yang memalukan diri, seolah-olah menyebabkan kita berdiri telanjang bulat di muka umum, mungkin pula bayangan angan-angan yang pelik, hanya sekali saja menampakkan diri di depan mata hati kita.

Pada saat-saat yang sepi kita berada di dalam kesadaran yang paling cerah, yang mengungkapkan diri dari situasi kita sampai kepada inti hakikatnya. Sajak-sajak yang terkumpul, kuanggap simphoni bagiku. Adalah hasil pergulatan untuk merebut kiltan-kilatan kesadaran itu sebelum tenggelam lagi dalam ketidaksadaran yang dungu.

Bagiku, tujuan pada hidup dan kerja sastra harus memuncak kearah kesadaran sepenuhnya. Itu harus menjadi akhir segala kerja ilmu seni dan lakon hidup. Diriku seperti pencuri yang memasuki gua penuh emas dan cepat harus lari ke luar, sebelum pintu-pintu tertutup dan emas di tangan menjadi darah melekat, darah penyesalan, dan derita kehidupan.

Alam bawah sadar itu amat luas, dan kalau kita bisa memasukinya, kita akan menjadi sadar akan kehadiran Allah, sebagai pusat kesadaran pada segala gerak yang tercipta di dunia fana ini. Hanya hati yang kering dari angan-angan, yang tidak tersadar demikian .

Aku tidak mau sombong wahai sobat, tapi aku beranggapan bahwa mereka yang tidak bisa melihat alamat-alamat kebenaran di tengah alam berlambang ini adalah mereka yang tidak sanggup melihat dengan mata hati, tidak bisa membiarkan rohnya, bawah sadar, intuisi atau rasanya bersuara. Sedangkan, aku mau dengan persediaan pengalaman dan ilmu yang mengisi, akan membentuk diriku mencapai kesadaran setinggi–tingginya tentang hidup dan tentang manusia.

Dan aku beranggapan bahwa kebenaran yang hakiki hanya dapat disoroti dengan agama, dengan menggali lebih dalam ke bawah sadar. Dengan begitu, akan timbul suara kebenaran yang berintikan penyadaran sendiri, bukan tiruan pemikiran dari dogma atau doktrin.

Sikap ku dalam hidup bersosialisasi, dapatlah disamakan dengan seorang arkeologi yang ingin menyusun kembali batu berdebu yang berantakan menjadi candi yang utuh dan keramat, dan mau melihat pada bangun dan motif-motifnya.

Kalau chairil anwar mau melihat ke dalam diri manusia dan ke dalam dirinya sendiri, maka aku mau melihat hakikat manusia sampai kepada nyawa yang terbayang dalam darah.

Adalah percuma seperti apa yang telah dilakukan orang terdahulu, mereka tanpa berlandaskan agama yang sebenarnya. Walaupun pernah ada manusia yang memotong-motong tubuh sesama manusia lain sampai bagian yang kecil-kecil, hanya karena ingin membuktikan logika, tapi tidak juga menemukan nyawa. Waktu itu telah hadir pula budha yang hendak mencapai pelepasan dari belenggu jasmaniah. Demokritus pun tidak bisa melihat apa-apa selain atom dan kekosongan.

Aku tahu apa yang paling benar dari semuanya, semakin kutemukan setelah semakin jauh kutelusuri alam bawah sadar menurut ku, karena hanya aku yang paling mengerti pikiran sadarku sendiri. Mereka yang lain hanyalah sarana luar yang kadang tak memberikan arti yang berarti. Hidayah pun turun hanya kepada manusia yang mau menerimanya. Dinul Islam

Tidak ada komentar: