My Adsense

15 Agt 2010

BEGINI RAMADHANKU

Beda sekali rasanya suasana ramadhan kali ini. Apa karena banyak yang pada pulang kampung ya?. Di lingkungan ini banyak terdapat kos-kosan mahasiswa dan biasanya sampai tiga minggu di bulan Ramadhan, di mesjid yang biasa jadi langganan tempatku berbuka puasa ini, ketika menjelang magrib kami penghuni kosan selalu ramai berkumpul untuk berbuka puasa bersama. Tapi Ramadhan kali ini, baru dihari puasa yang keempat mesjid sudah lengang. Sedikit sekali mahasiswa yang datang, kebanyakan hanya para pekerja bangunan apartemen yang hendak dibangun di sebelah mesjid ini.

Bukanya tidak mensyukuri, tapi hidangan berbuka puasa yang disajikan rasanya juga sudah mulai berkurang menunya. Selama berbuka puasa di mesjid ini, tidak pernah minuman yang disajikan hanya Aqua gelas saja, tapi itu terjadi dihari ini. Mungkin saja karena bapak yang selalu rutin mengantarkan minuman buah dingin juga sudah dua hari ini tidak kelihatan. Biasanya dia yang rajin untuk membuat dan mengantarkannya ke mesjid. Orang tua yang ramah, selalu dia yang kuingat pertama kali di mesjid ini jika Ramadhan sudah tiba. Terimakasih ya pak.

Ah sudahlah, Ramadhan kali ini memang juga bertepatan dengan libur kampus, jadi wajar jika teman-teman mahasiswa pada pulang kampung. Dan apapun makanan berbuka puasa yang disajikan, perutku juga biasanya hanya cukup menampung air dua gelas dengan sedikit makanan alakadarnya. Jadi kelengangan ini wajar dan makanan berbuka puasa yang sedikit juga tetap cukup untukku, Alhamdulillah. Ingin gratis memang harus terima apa adanya.

Setelah selesai shalat Maghrib, baru waktu yang tepat agar perutku ini dapat terisi secara normal. Warung di samping mesjid yang menjadi tujuanku. Warung ini baru dibangun, pemiliknya juga baru kukenal, dan menu mie ayam serta jus alpukatnya yang selalu menjadi hidangan favoritku selama empat hari di bulan puasa ini. Ada kejadian yang kuanggap lucu selama beberapa hari aku menyinggahi warung ini. Setiap kali aku datang, pasti si pemilik warung sedang menonton acara film anak-anak “ipin dan upin”. Padahal dari segi umur, si pemilik warung sudah dewasa bahkan berusia lebih tua dariku, tampangnya pun gahar dan rasanya kurang pantas untuk menggemari film “upin dan ipin”. Warungnya pun belum terlalu ramai didatangi pengunjung, maka setiap selesai maghrib kami berdualah yang menjadi penonton setia film “upin dan ipin” di warung ini.

Setelah sekitar setengah jam aku berada di warung tersebut, waktu shalat Isya pun tiba. Aku segera bergegas menuju mesjid, tentunya setelah membayar makanan dan minuman yang sudah kusantap, cukup murah, selalu lima belas ribu setelah ditambah dengan rokok djarum super setangah bungkus.

Kemudian aku Shalat Isya yang dilanjutkan dengan shalat taraweh dua puluh rakaat, serta shalat witir tiga rakkat. Setelah itu kembali ke kosan tercinta, yang harus ditempuh dengan kendaraan umum lagi. Jika dulu, lokasi kosanku memang disekitar lingkungan mesjid ini, tapi sekarang aku sudah pindah ke tempat lain. Karena aku merasa bukan sebagai mahasiswa lagi, dengan tetap tinggal di tempat ini membuat aku rindu dengan kehidupan mahasiswa dulu.

Rindu dengan kegiatan utang piutang ku di setiap warung dan warteg yang ada di lingkungan ini, rindu dengan masyarakat sekitar yang sudah gerah dengan sikap cuekku tapi selalu saja menganggap aku sebagai keluarga, rindu dengan sebagian anak-anak kampung yang seakan selalu megajak ribut tapi tak pernah mau untuk ribut benaran, rindu dengan kenanganku yang selalu pulang tengah malam seperti pencuri meski untuk kekamarku sendiri, rindu dengan kamar sumpekku karena kelebihanya adalah bersebelahan dengan kamar mahasiswi cantik tapi jutek, rindu dengan suara mesin laptop jadul yang selalu membuat berisik pada saat masa-masa skripsiku dulu, rindu dengan pemilik kosanku yang sudah seperti kelurga kandung. Aku rindu dengan mereka semuanya, yang tampak kehilangan pada saat aku mulai memindahkan barang-barang ketika hendak pindah.

Setelah sampai di lorong masuk ke kosanku yang sekarang, aku menyempatkan lagi untuk mampir ke warung terdekat langgananku. Selama beberapa hari di bulan Ramadhan ini, aku memang selalu membeli makanan untuk sahur terlebih dahulu. Cukup murah juga, nasi ayam dan es teh manis selalu hanya sepuluh ribu. Penjaga warung itu seorang gadis manis yang kerap senyum setiap kudatang, tapi mulai cemberut jika aku mulai memesan makanan. Karena dia harus bertanya sampai lebih dari sekali padaku, menurut dia suara dari ucapanku selalu terdengar kurang jelas. Ah tidak mungkin, telinga gadis manis itu yang sepertinya terganggu. Mangkanya aku sering enggan untuk segera memesan makanan jika di warung itu sedang banyak pengunjung, apalagi jika mereka adalah tukang-tukang ojek yang kukenal dan sering menimpali ucapan gadis itu terhadapku. Kusempatkan duduk sebentar ditemani sebatang rokok dan segelas air putih yang kutuang sendiri, mencoba berbasa-basi hingga mereka pergi dan warung sudah sepi. Mungkin dengan begitu gadis penjaga warung tersebut bisa lebih leluasa menyindirku, atau memang dia sengaja karena merasa hanya dengan begitu aku bisa lebih banyak bicara. Mungkin saja.

Kalau sudah sampai di kamar kosanku ini, sepertinya apa yang terjadi selanjutnya adalah kegiatan biasa yang selalu terulang-ulang tiap malam di bulan Ramadhan ini. Kecuali jika teman-teman kosanku itu ada disini, tapi mereka semua memang sedang pulang ke kampung mereka masing-masing. Setelah aku meletakkan apa yang kubawa ke tempat yang mestinya aku letakkan, tas ransel, sepatu, kantong berisi makanan dan minuman. Maka, sekarang waktunya berleha-leha.

Dengan bertelanjang dada, serampangan aku berbaring di lantai ubin kamarku ini. Letak kamarku berada di tingkat dua, jadi lantainya tidak terlalu dingin. Aku bahkan bisa tertidur sampai pagi di lantai, tidur di kasur empuk pemberian pemilik kos ini malah membuat aku tidak nyaman, seperti tidur diatas lumpur hisap, tengah malam aku sering sekali terbangun karenanya. Biasanya aku juga ditemani segelas susu elmen, roti dan beberapa batang rokok. Setelah itu semua sudah siap, mulailah aku mengidupkan PC, memasukkan satu folder lagu kesayanganku ke dalam playlist winamp, phonepun sudah siap terpasang di telinga, Microsoft word terpampang di layar monitor, dan akupun mulai mengetik tentang apa saja. Seperti tulisan remeh temeh yang sedang kalian baca ini.

Jika sudah lelah mengetik atau inspirasiku sudah mulai buntu, tetap kubiarkan komputer ini tetap menyala agar lagu-lagu itu tetap mengalun di telingaku. Segelas susu dan roti telah tandas dari tadi, rokok biasanya tersisa dua batang untuk sahur nanti. Kusingkirkan asbak dan abu rokok, matikan lampu, dan biarkan diri tertidur di lantai sambil mendengarkan lagu. Harapku esok sebelum subuh terbangun tepat waktu, sahur sampai imsyak dan kemudian Shalat shubuh.

Astagfirullah, aku terbangun tapi sepuluh menit lagi akan imsyak. Bergegas aku buka plastik berisi makanan dan minuman itu. Lupa aku hangatkan malam tadi, sedikit basi, dan es telah lama mencair. Nikmati saja apa yang ada setelah niat, lima menit semua pun tandas. Masih ada lima menit lagi buatku mengepulkan asap rokok, itupun selesai dengan meninggalkan puntung seperempat. Imsyak telah dikumandangkan, terlalu cepat rasanya atau memang aku yang terlalu lambat. Kusingkirkan lagi apa yang telah menjadi sampah. Lalu bergegas ke kamar mandi, cuci muka, berangkat ke mesjid untuk shalat subuh.

Sahur terburu-buru seperti ini rasanya akan kerap terjadi selama bulan Ramadhan ini.

Tidak ada komentar: