My Adsense

25 Agt 2010

Menangis dikala adzan

Ada sebuah kejadian yang terjadi pada seseorang malam tadi. Saat itu dia sedang menunggu datangnya waktu shalat isya di dalam sebuah mesjid. Setelah itu entah kenapa, matanya berkaca-kaca ketika mendengar suara adzan dikumadangkan. Cukup ramai orang di mesjid kala itu, mungkin karena seperti biasa, ini masih di minggu pertama bulan Ramadhan, dimana masih berduyun-duyun umat muslim meramaikan mesjid, menunaikan shalat isya yang kemudian dilanjutkan dengan shalat taraweh. Namun dari sekian banyak orang di dalam mesjid itu, sepertinya tidak ada satupun yang memperhatikanya.


Ada apa gerangan yang terjadi pada orang itu. Apakah dia baru saja mengalami sebuah kisah yang memilukan, atau teringat akan sesuatu yang membuat hatinya bersedih. Tentu hanya dia yang tahu, mengapa. Kalimat-kalimat Adzan pun terus dikumandangkan, dan matanya yang tadi telah berkaca-kaca justru semakin melinangkan air mata yang tak tertahankan. Masih tak ada juga orang yang memperhatikan dia.


Mungkin saja ada satu atau dua orang yang memperhatikan, namun jika begitu, mreka hanya sekedar memperhatikan dan tidak berniat untuk menyikapi kejadian itu. Meski mungkin dalam hati mereka pun terbit pertanyaan yang sama, ada apa gerangan yang terjadi pada dia ?.


Sejak dulu orang itu memang sering datang ke mesjid ini tiap kali hendak melaksanakan shalat, apalagi di bulan ramadhan seperti sekarang. Dia tidak beda layaknya umat muslim lain, masyarakat sekitar yang juga tidak mau menyia-nyiakan ibadah di bulan suci ini. Tentu beberapa diantara mereka yang sedang berada di dalam mesjid malam tadi, sering melihat bahkan mengenal dia. Atau mungkin juga tidak, karena kenapa tidak ada memperdulikan kejadian yang terjadi padanya.


Tapi kembali kepertanyaan yang sedari tadi menggelayut di hati, ada apa gerangan yang terjadi padanya ?. Meskipun mungkin sering melihat dia di mesjid ini, sepertinya baru kali ini mereka melihat kejadian seperti itu terjadi pada dia. Mereka pun tak ada yang ingin bertanya ataupun tahu sebabnya, mungkin mereka enggan atau memang sengaja tak mau tahu. Selama ini jika dia ke mesjid juga memang hanya untuk beribadah dan sedikit sekali bertegur sapa dengan yang lain, hingga kalaupun dia dikenal hanya sebatas itu juga.


Dan aku bahkan lebih tidak mengerti jika pertanyaan itu ditanyakan padaku. Aku yang sama sekali tidak tahu siapa dia, apalagi kejadian seperti ini adalah permasalahan emosi yang terjadi dalam diri dia seorang, jika tanpa diceritakan maka tetaplah hanya dia yang tahu kenapa. Meski aku sebenarnya ingin tahu jawabanya, tapi bagaimana bisa, jika aku juga enggan untuk bertanya pada orang yang tak kukenal. Biarlah, mungkin nanti perlahan dengan sendirinya aku juga turut tak mau tahu tentang permasalahan ini.


Tapi, hingga saat kemudian aku pulang dan menulis ini, ternyata rasa keingintahuanku itu belum juga sirna. Padahal ini sebenarnya bukan masalahku, tak perlu kupusingkan hingga harus tahu jawabanya. Namun, aku memang orangnya tak pernah puas jika belum menemukan jawaban dari pertanyaan isi hati. Dan biasanya untuk memuaskan isi hatiku tersebut, aku akan membiarkan imajinasi dalam otakku bebas berpkir, meski tetap terarah pada perkiraan tentang berbagai latar ruang dan waktu kejadian, dan semua itu bertujuan untuk menemukan jawaban yang mendekati kepastian.


Maka seperti inilah kesimpulan yang kubuat sendiri.


Orang itu tiba-tiba menangis pada saat adzan Isya dikumandangkan, dan sekarang adalah bulan suci Ramadhan yang penuh keistimewaan, bulan suci penuh berkah dan ampunan. Dari hal perkiraan itu saja, dengan gampang aku sudah sedikit mendapatkan satu jawaban kemungkinan, dan kalian juga mungkin sudah tahu apa yang kumaksud.


Intinya adalah karena bulan Ramadhan.

Bisa saja dengan mendengar suara adzan di bulan Ramadhan ini, membuat orang itu menyadari akan segala dosa yang pernah diperbuatnya, dan kejadian itu terjadi pada saat adzan Isya dikumandangkan. Shalat isya yang nantinya akan dilajutkan dengan shalat taraweh.


Shalat taraweh adalah ibadah khusus yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Ibadah ini adalah salah satu ibadah paling dinanti umat muslim yang menjalankan ibadah puasa dibulan Ramadhan, menunaikan kewajiban ini adalah untuk menyempurnakan ibadah puasa yang mengharapkan permohonan ampunan dariNya. Meski seharusnya bukan hanya di bulan Ramadhan saja, tapi karena keistimewaan dibulan inilah yang membuat kami lebih mengutamakan untuk melaksanakan ibadah sebanyak mungkin, sehingga kadang menjadi tradisi yang tak lepas dari kekhilafan seorang manusia, tradisi memohon ampunan terhadapNya yang disamakan dengan permintaan maaf kepada sesama, jika telah dilaksanakan maka nanti dapat terulang untuk melakukan salah lagi. Begitulah tradisi manusia.


Ya, bisa saja disebabkan hal itu dia menangis. Dengan mendengarkan kumandang Adzan shalat Isya membuat dia teringat akan semua dosa yang pernah diperbuat. Dia yang mungkin telah melaksanakan puasa sehari ini dengan sebaik mungkin, kemudian berangkat ke mesjid dengan niat menunaikan shalat isya yang akan dilanjutkan dengan shalat taraweh untuk menyempurnakan ibadah puasanya. Begitu besar niatnya untuk beribadah, hingga mengundang segala sisi perasaan emosionalnya yang terendap jauh dalam alam bawah sadar. Dia menangis karena terkenang akan dosa yang pernah diperbuatnya selama ini. Dan puncak perasaan sedihnya itu terjadi pada saat adzan dikumadangkan.


Sebegitu besarkah pengaruh adzan ?.


Ketika adzan dikumadangkan, umat muslim memang seharusnya menghayati secara seksama setiap arti dari kalimat adzan tersebut. Itu adalah kewajiban, namun kenapa dalam kenyataan terkadang menjadi keharusan yang bisa saja iya atau bisa juga tidak. Sebenarnya dengan memahami arti dari kalimat Adzan maka maknanya akan lebih meresap dalam keyakinan hati kita. Tapi dalam kenyataan tidak semua orang paham akan arti dari Adzan.

Apakah yang dimaksudkan dengan arti tersebut hanyalah tentang kalimatnya secara menyeluruh ? tentu saja tidak harus begitu, jika kita sudah mengerti bahwa cukup dengan kata “Adzan” saja, itu sudah mengandung pengertian penting bagi umat muslim untuk segera melaksanakan ibadah shalat. Dan saya rasa sebagai umat muslim kita tentu sudah tahu tentang itu, artinya kita juga sudah cukup mendapatkan makna dalam dari kata “adzan” itu saja. Apalagi jika kita bisa paham keseluruhan arti dari kalimat adzan tersebut.


Kembali kepada cerita orang tadi, saya tidak mau terlalu lebih mengatakan bahwa dia menangis karena paham akan arti keseluruhan dari kalimat adzan yang dikumadangkan, tapi mungkin itu cukup disebabkan suara Adzan yang sekedar dia ketahui sebagai panggilan untuk shalat saja. Yang justru sebenarnya dengan begitu saja sudah melebihkan perkiraan saya, karena jika hanya karena begitu sudah dapat membuat dia menangis apalagi dengan benar-benar paham akan keseluruhan arti dari kalimat Adzan. Semoga benar begitu adanya, karena dalam kenyataan sedikit sekali diantara kita yang sampai begitu. Banyak sekali yang tidak, mungkin termasuk saya.


Lantas kenapa saya bisa yakin memperkirakan bahwa dengan kumandang Adzan saja dapat menyebabkan orang itu menangis?.Untuk menjawabnya, saya hanya memperkirakan makna paling sederhana dari Adzan hingga menyebabkan orang itu menangis. Dan intinya tetap pada satu keyakinan yang harus dipahami, bahwa Adzan tidak lain merupakan panggilan penting untuk menunaikan ibadah shalat.


Makna sederhana itu adalah, alunan suara dari orang yang mengumandangkan adzan. Setelah kita tahu Adzan adalah panggilan sholat, maka ditambah lagi dengan suara indah dari orang yang mengumandangkanya, suara indah yang dapat mengena di hati meski kita tak tahu arti keseluruhan dari kalimat yang dikumandangkan. Tapi yang dimaksudkan keindahan suara, adalah semestinya bukan seperti nyanyian merdu manusia di dunia, yang didengar indah hanya untuk terbuai akan arti secara fana, dan terasa sepintas saja. Keindahan suara ini adalah yang sekaligus dapat menyayat hati, karena sadar akan kita yang selalu berbangga akan kelemahan diri diatas Kebesaran dan KeEsaanNya, kita yang kerap melanggar perintah dan panggilan ShalatNya, meski shalat itu sebenarnya adalah mutlak untuk kepentingan kita sendiri.

Ya, begitulah kesimpulan sederhana saya.


Selanjutnya, karena saya seperti manusia biasa kebanyakan di zaman sekarang ini, bisa saja menganggap cerita ini tidak penting dan saya tidak mau tahu dan bertanya terlalu banyak lagi “kenapa orang itu menangis”. Tapi karena saya juga hambaNya, mestinya cukup cerita singkat ini, saya dapat mengambil makna penting yang dapat membuat saya sadar akan kebesaraNya.


Satu sisi kebaikan mungkin didapat dari orang itu dengan “ketidakingintahuan kami, tentang kenapa dia menangis”. Karena dengan begitu, InsyaAllah tangis penyesalan dari hambaNya yang ingin bertobat, akhirnya tidak sampai menjadi kesombongan yang perlu ditunjukkan, karena itu hanya dapat mengurangi pahala disisiNya.

Tidak ada komentar: