My Adsense

12 Agt 2010

Kopiah

Bulan ramadhan yang kulalui sekarang memang ada yang berbeda jika dibandingkan dengan yang kualami beberapa tahun kemarin. Sekarang ini aku sudah punya penghasilan sendiri, meskipun secara nominal masih bisa dibilang sedikit. Aku tidak lagi seperti masa kuliah dulu, perlu berbagai spekulasi dalam mengkalkulasi uang untuk jatah makan sehari-hari, agar kiriman nominal perbulan dari orang tua dapat mencukupi. Begitupun dibulan Ramadhan ini, Alhamdulillah dengan keadaan yang sekarang, aku tinggal memilih hidangan berbuka puasa sekaligus makan sahur apa yang ingin kusantap.
Aku juga punya ongkos yang cukup jika ingin bertaraweh di mesjid kebanggaan Ibu kota, Istiqlal. Jika dulu, karena masih memikirkan jarak dan ongkos serta lain sebagainya, keinginan itu selalu tertunda. Teringat masa dulu, hal itu adalah salah satu keinginan terbesarku jika sampai menginjak Jakarta, yang mungkin dianggap sepele untuk mereka yang sudah lama mendiami ibukota ini.
Aku juga bisa membeli sendiri alat-alat perlengkapan shalat yang selama ini sebenarnya bisa kudapatkan, tapi akunya yang tidak pernah menggenakan. Entah kenapa ketika menjelang ramadhan, terbersit sebuah niat kecilku, aku ingin selalu menggenakan kopiah bundar.setiap kali shalat. Bahkan hampir saja aku bernazar akan menggunakanya kemana saja aku pergi selama dibulan ramadhan dan semoga sampai seterusnya. Tapi niatku urung, mungkin itu hanya keinginan yang tak penting dan menggebu sepintas saja, tak usahlah di setiap waktu, cukup diwaktu sedang shalat saja.
Dan jika boleh bercerita, dari kecil setiap kali shalat aku paling enggan mengenakan kopiah dan sarung. Meski dibelikan, tidak pernah aku pakai, hal itu terbawa sampai aku dewasa. Rasanya ada yang ganjil dalam setiap gerakan jika shalat mengenakan kain sarung. Dan jika dibelikan kopiah, selalu kucoba terlebih dahulu. Hanya saja dari sekian kalinya dibelikan, kopiah tersebut lebih sering sesak dan tidak sesuai di kepala. Mungkin karena ukuran kepalaku yang sedikit melebihi ukuran normal.
Sampai akhirnya menjadi kebiasan dan merasa lebih sesuai jika aku shalat tanpa menggunakan kedua benda tersebut. Entah benar tidaknya pendapatku ini, karena memang sering kulihat mereka yang shalat di mesjid kebanyakan menggunakan kopiah dan kain sarung. Aku juga tidak menganut paham apapun, ini hanya faktor kebiasaan yang mungkin bagi sebagian orang kurang berkenan. Tapi InsyaAllah selama tidak menyalahi syarat wajibnya shalat, kopiah dan sarung itu semoga juga hanya kebiasan dan pelengkap shalatnya orang-orang terdahulu.
Jadi itulah niatku, dibulan ramadhan ini aku ingin sekali shalat menggunakan kopiah, tapi tidak dengan kain sarung. Mungkin itu hanya niat yang bisa dianggap sepele, meski kalau boleh dibilang besar artinya bagiku. Karena keinginan memakai kopiah itu diiringi niatku juga agar shalatku yang sekarang InsyaAllah bisa memenuhi syarat waktu dan kekhusyuanya. Aku ingin membeli kopiah yang terbuat dari bahan yang nyaman dipakai, kopiah yang bisa muat di kepala besarku ini.
Sore sepulang kerja aku ingin mampir sebentar ke pusat perbelanjaan untuk membelinya, tapi apa niatku itu akhirnya jadi setengah-setengah atau mungkin karena dikejar waktu shalat taraweh pertama diRamadhan ini. Akukan harus menempuh perjalanan cukup lama dengan kereta ekonomi yang waktunya juga kadang tak pernah tepat. Perkiraanku selanjutnya pun salah, karena di sekitar stasiun juga tidak ada yang menjualnya. Ah, sudahlah, masih ada niatku yang lain, taraweh pertama ini aku harus shalat di mesjid Istiqlal. Dan kereta ekonomi mengatarkanku ke stasiun terdekat menuju ke sana.
Tapi ketika sampai di depan gerbang mesjid istiqlal, aku melihat seorang pak tua yang sedang menjajakan kopiah daganganya. Entah mungkin karena aku kasihan, bapak tua itu sangat berharap aku membeli satu saja kopiah yang dijualnya. Kopiah yang murah, hanya lima ribu rupiah. Setelah kucoba, bahanya cukup nyaman dan sesuai juga di kepalaku. Ya sudah, kopiah bapak tua itu yang akhirnya kubeli. Hanya kopiah yang murah meski awalnya aku sudah menyisihkan sedikit uang untuk membeli kopiah yang lebih mahal. Apa mungkin niatku ini kembali jadi setengah-setengah hingga akhirnya ingin berhemat dan membeli yang murah saja. Ah sudahlah, kopiah tetaplah kopiah. Memangnya apa tujuan utamaku dengan kopiah yang hanya kopiah ini. Mungkin karena begitu inginya mengenakan kopiah dibulan ramadhan, maka niatku jadi berlebihan. Yang penting semoga lima ribuku tetap berarti buat pak tua tadi.
Dan ada sepintas cerita waktu aku membeli kopiah si pak tua. Kalau aku perkirakan, usia si bapak itu bisa disekitar kepala tujuh. Entah kenapa, diantara sekian banyaknya penjual kopiah lain, pilihanku adalah menyinggahi tempat dia. Tempat dia menjajakan kopiah-kopiahnya hanyalah diatas kain selembar, tempatnya juga yang paling sepi pembeli dibandingkan yang lain. Dari logat bicara, aku sudah kenal dari mana daerah dia berasal, daerah yang sama dengan kedua orang tuaku.
Bapak tua itu ramah, mungkin karena berharap aku membeli barang daganganya, terlihat dari apa yang dia katakan “ belilah satu ajak dik, itung-itung beramal”. Ya, mungkin saja karena ingin beramal, aku membeli sebuah kopiah yang dijualnya. Kopiah yang satunya hanya lima ribu rupiah saja. Tapi itu bisa membuat dia sangat senang, atau kalian mengganggap kata “Alhamdullilah” adalah biasa saja bagi penjual yang sudah renta seperti dia. Yang sebenarnya aku juga mengira bahwa pak tua itu tidak lebih adalah gelandangan di depan mesjid istiqlal ini. Semua kopiah-kopiah dijual oleh banyak penjual, sepertinya hanya dimiliki oleh satu orang yang menyalurkanya. Orang itu yang mungkin iba terhadap pak tua dan menyuruh dia ikut menjajakan kopiah-kopiahnya.
Ada kelanjutan dari cerita tadi. Setelah kata “Alhamdullilahnya” itu, pak tua mengeluarkan sebilah cermin usang dari balik bajunya. Apa mungkin cermin yang dikeluarkan dari sebalik baju yang tak kalah usangnya itu memang telah disiapkanya untuk para pembeli. “Coba lihat nehh dik, pantas sekali kopiahnya. Udah kaya’ ustad”. Terima kasih pak tua, aku tahu kalimat itu tulus meski mungkin tidak sesuai dengan kenyataanya. Hanya dengan lima ribu rupiah, sudah tercapai keinginanku mengenakan kopiah yang cukup pantas seperti apa yang telah dibuktikan cermin pak tua tadi.
Dan ada satu pelajaran penting yang saya dapatkan, bahwa karena kenyataan hidup di kota besar ini, orang renta seperti dia lebih memilih mencari nafkah dibandingkan beribadah dibulan paling suci yang hanya sekali setahun ini, karena mungkin dianggap hanya itu yang bisa dilakukan untuk melanjutkan hidup esok hari. Saya yang masih muda ini juga mungkin sama sekali tidak bisa membayangkan kenyataan hidup apa lagi yang pernah dilalui si pak tua. Tapi pak tua yang tulus ini sepertinya tahu bahwa meski dengan kopiah murahnya, anak muda dihadapanya sekarang ini begitu semangat untuk baribadah menyambut bulan suci Ramadhan.
Tapi apakah mungkin jauh di hati kecil pak tua itu juga terbersit prasangka “Anak muda tetaplah anak-anak yang masih suka terombang-ambing oleh berbagai keinginan mereka sendiri. Sekarang begini, bukan tidak mungkin nanti bisa lain lagi. Suatu saat, jika sampai di suatu takdir penentu, tapi mereka tidak bisa menemukan apa yang seharusnya dipilih. Maka itulah apa yang harus mereka terima sampai usia tua mereka nanti”.
Ya, jika seperti itu maka ada benarnya juga ungkapan yang dapat sangat mengena di hatiku ini. Aku yang masih berusia muda, atau mungkin juga kalian kawan-kawanku disana. Terkadang kita berniat sungguh-sungguh pada sesuatu hanya karena ada keinginan lain disebaliknya. Bahkan itu juga terjadi pada saat kita beribadah kepada Dia, Sang Pencipta Yang Maha Suci. Yang seharusnya itu disertai niat tulus dan ihklas, karena sesungguhnya Dialah Yang Maha Tahu.
Apa karena bulan suci ini saja aku begitu menggebu-gebu untuk beribadah padaNya, kemudian nanti kembali mengulang dosa seperti yang sudah-sudah. Atau karena Dia Yang Maha Memberi Petunjuk, maka hanya melalui kopiah murah ini, tersampaikan hidayah terhadap niatku agar mulai detik ini aku benar-benar dapat membuktikan sebagai umatnya.
Semua kembali padaNya Yang Maha Tahu, aku adalah anak muda yang sadar hidup dalam kenyataan dunia fana tapi masih saja dapat terombang-ambing dalam arusnya yang selalu berubah-ubah.
Seperti itulah cerita singkatku tentang di awal bulan Ramadhan ini, mungkin tak berarti tapi semoga tidak begitu bagiku. Setidaknya aku belajar menulis permasalahan kecil yang kualami, tapi dapat dikembangkan menjadi cerita yang panjang. Dan mencoba bijak dengan berusaha menemukan makna apapun dari setiap hal kecil tersebut, sehingga semoga benar-benar bijak jika makna tersebut dapat terus kupahami sepanjang hidupku ini. Hanya Dia Yang Tahu.
Ada yang hampir terlupa sebelum aku menutup tulisan ini. Ada satu lagi yang sedikit berbeda dalam Ramadhanku kali ini, tetapi itu sangat berpengaruh bagiku. Baru Ramadhan kali ini aku benar-benar sepi, biasanya ada kakakku menemani setiap aku berbuka puasa dan sahur. Biasanya dia yang menyiapkan segalanya, jika memang aku tidak ada uang untuk membeli sendiri. Dari awal tinggal di Jakarta, memang hanya dia keluarga sedarahku yang paling dekat. Tapi sekarang, dia sudah pindah ke daerah tempat seluruh keluarga kandungku berada. Mereka semua sedang berkumpul disana, tanpa aku seorang. Sedih memang.
Aku masih punya keluarga lain yang tidak sekandung disini, tapi untuk bertemu dan berkumpul juga kadang terbentur dengan kesibukan kerja masing-masing. Jadilah ini Ramadhan yang berbeda karena aku benar-benar seorang diri. Kebersamaan hanya dapat kurasakan ketika menjelang berbuka aku menyempatkan diri ke mesjid dan berbuka puasa bersama mereka yang ada di sana. Itu juga hal berbeda yang kumaknai dari Ramadhan kali ini, “kebersamaan sesama umat Islam”.
Jika boleh menyisipkan satu hal lagi yang mungkin sedikit melenceng dari tulisan ini, semoga di Ramadhan ini aku juga mendapatkan satu lagi hal berbeda yang selama ini selalu kunantikan. Aku ingin dia datang dalam hidupku di bulan penuh berkah ini. Amien Ya Allah.

Tidak ada komentar: