My Adsense

7 Agt 2010

Kapolda Jateng lebih berkuasa dari Wasit

Masih ingatkah kita kejadian beberapa waktu lalu yang sempat marak bahkan sampai sekarang masih diperbincangkan di tanah air kita ini. Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol Alex Bambang Triatmodjolah yang ramai diberitakan karena tindakannya yang hendak mengganti wasit Final Piala Indonesia. Dan terdengar kabar bahwa sekarang dia dimutasi dan tak lagi menduduki posisi tersebut.

Mungkinkah ini berkaitan dengan insiden di final?

Kejadian yang terjadi dalam pertandingan Final Piala Indonesia di Solo, Minggu (1/8) lalu, Irjen Alex Bambang turun ke lapangan di waktu turun minum dan mempertanyakan kepemimpinan wasit Jimmy Napitupulu yang jadi pengadil lapangan laga tersebut. Dia juga minta agar Jimmy diganti.
Setelah tertunda selama hampir satu jam, pelaksana pertandingan akhirnya memutuskan menolak permintaan Alex. Jimmy tetap melanjutkan tugasnya sampai selesai. Sriwijaya FC menang dengan skor 2-1 dan tampil sebagai juara.
Tak genap sepekan setelah insiden tersebut, Irjen Alex Bambang ternyata dimutasi. Tak ayal muncullah tanda tanya apakah mutasi itu disebabkan oleh kasus yang terjadi di final Piala Indonesia.
Namun begitu, Mabes Polri menampik spekulasi tersebut. Alex dimutasi karena bagian dari proses pembinaan di Polri.
“Tidak (terkait), mutasi ini reguler,” ujar Wakil Kadiv Humas Mabes Polri, Kombes Untung Yoga Ana, saat jumpa pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Jumat (6/8).
Untung menjelaskan mutasi adalah bagian dari proses pembinaan di Mabes Polri. Mutasi ini merupakan bagian dari upaya untuk mempromosikan jabatan baru kepada perwira tinggi dan menengah.
“Semua proses pembinaan di Mabes Polri seperti itu. Mutasi regulernya dalam rangka kebutuhan organisasi dan memberikan peluang promosi jabatan,” terang Untung.
Alex Bambang bukan satu-satunya yang dimutasi. Setelah tak lagi menjadi Kapolda Jawa Tengah, rencananya Alex Bambang akan ditarik ke Mabes Polri sebagai staf ahli Kapolri.(detiksport/ r)

Terlepas dari permasalahan apa penyebab dimutasikanya Irjen Pol Alex Bambang, dalam tulisan ini saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya mengenai apa sebenarnya yang menyebabkan Irjen Pol Alex Bambang waktu itu ingin mengganti wasit meski dalam pertandingan yang masih berlangsung.

Berdasarkan apa yang dikemukakan di media massa, secara jelas Irjen Pol Alex Bambang mengatakan hal itu dikarenakan untuk mengantisipasi jangan sampai terjadi kericuhan yang dilakukan oleh para seporter kedua belah pihak karena kepemimpinan wasit yang dianggap curang. Dari pernyataan tersebut sebenarnya secara logis kita sudah dapat mengetahui apa alasanya sehingga Irjen Pol Alex Bambang melakukan tindakan itu. Tapi kemudian permasalahan ini menjadi tambah ramai karena para pecinta sepakbola menganggap tindakan Irjen Pol Alex Bambang tersebut dapat mencoreng sportifitas dan dunia sepak bola tanah air kita. Tambah bingung jadinya, di satu sisi dengan alasan Irjen Pol Alex Bambang seperti itu bisa saja tindakanya dibenarkan secara hukum namun dari sisi peraturan olahraga tindakanya jelas-jelas dinyatakan salah.

Tapi bagaimana seandainya apa yang diantisipasi oleh Irjen Pol Alex Bambang waktu itu benar-benar sampai terjadi ?. Para seporter dari kedua belah pihak benar membuat kericuhan akibat kepemimpinan wasit yang dianggap curang. Tentu saja jika hal itu benar terjadi, akan banyak masalah dan korban yang timbul. Dan bagaimana kalau kita berpikir dari sisi Irjen Pol Alex Bambang yang seperti itu.

Kalo saya sendiri, tentu akan membenarkan tindakanya itu. Sebagai aparat negara, polisi tentunya sudah dididik dan terlatih untuk mengantisipasi segala situasi yang dianggap dapat menimbulkan kekacauan. Dan kekacauan bisa terjadi kapan dan dimana saja, sedangkan masyarakat luas menurut saya juga sudah tahu bahwa sepak bola termasuk olaharaga yang paling sering terjadi kericuhan dari para sporternya.

Ada juga pendapat dari sebagian orang bahwa masalah ini dapat memalukan bangsa kita di mata dunia, karena sepak bola di negara lain tersebut tidak pernah ada kejadian seperti yang kita alami ini. Lantas dari hal itu saya ingin bertanya, sebagai rakyat Indonesia tentu kita tentunya sudah tahu bagaimana keadaan sepak bola di negara kita ? dan bagaimana tingkah yang sering dilakukan sporter sepak bola di negara kita ?. Semuanya masih jauh jika dibandingkan dengan yang terjadi di luar negeri sana. Lantas kenapa kita harus membandingkan situasinya dengan negara lain yang jelas-jelas keadaanya berbeda. Bisa saja apa yang menjadi alasan Irjen Pol Alex Bambang itu adalah untuk mengantisipasi kejadian karena dia sudah benar-benar mengerti bagaimana keadaan persepakbolaan dan sporter di tanah air kita ini.

Ada juga yang mengatakan tindakan ini jelas-jelas mencoreng sisi sportifitas persepakbolaan di tanah air kita. Untuk masalah ini, saya ingin berpendapat bahwa pada dasarnya sportifitas memang merupakan hal yang terpenting dari sebuah pertandingan olahraga apapun itu. Tapi sebenarnya untuk menilai kadar sportifitas dari suatu pertandingan tentunya kita tidak dapat menilai dari satu pihak saja. Semua yang menjadi satu kesatuan pendukung pertandingan tersebut haruslah tetap diperhitungkan nilai kesportifitasanya. Contohnya dalam pertandingan sepak bola, yang harus sportif bukan hanya pemainya saja tetapi juga para sporter, wasit, juri, bahkan sampai komentatornya sekalipun.

Dan jika dilihat dari permasalahan ini, sebenarnya dapat kita kaitkan dengan pernyataan di atas bahwa apakah tindakan Irjen Pol Alex Bambang tersebut tetap dinilai akan mencoreng sportifitas pertandingan apabila justru dengan tindakanya itu dapat mencegah para spoter melakukan tindakan yang tidak sportif. Meski sebagai aparat keamanan, bisa saja tindakan antisipasi yang dilakukan lebih cendrung untuk mencegah timbulnya korban dan kerusuhan, tapi walau bagaimanapun menurut saya itu adalah tetap masalah yang paling penting dan harus segera diantisipasi.

Hal terakhir yang merupakan kesimpulan dari pendapat saya dalam penulisan ini adalah, marilah kita sebagai masyarakat bangsa ini jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dan sering berprasangka buruk terhadap aparat resmi negara kita sendiri. Mungkin pernah beberapa hal buruk pernah terjadi disekitar lingkungan kita yang dilakukan oleh aparat, tapi itu adalah oknum dan bukan mengartikan keseluruhan dari satu lembaga resmi tersebut. Seharusnya kita mendukung bukan malah mencela, dan untuk permaslahan ini harusnya dapat diselesaikan tanpa harus ada berbagai perbincangan yang saling menyalahkan. Jika kita menyadari secara jujur bagaimana keadaan persepakbolaan bangsa kita sendiri, dan mau coba mengerti tentang alasan Irjen Pol Alex Bambang tersebut untuk melakukan tindakan tersebut.

Saya juga pencinta olahraga dan mengerti tentang nilai sebuah sportifitas yang mempunyai makna yang satu. Namun dalam hal ini, sebagai pecinta sepak bola tanah air seharusnya juga jangan sampai menjunjung tinggi sepak bola di atas segala-galanya hingga apapun yang dianggap dapat mengganggu pertandingan selalu dianggap sebagai tindakan yang tidak benar. Jika ini menyangkut masalah nyawa atau korban yang bisa saja terjadi, maka tentunya merupakan hal yang lebih penting. Dan dalam suatu pertandingan, tentu saja aparat adalah pihak berwenang resmi yang bertugas untuk mengantisipasi semua itu. Kalau tidak percaya kepada mereka, lantas kepada siapa ?. Yang anehnya, demi sepakbola banyak para pendukungnya yang merelakan segala-galanya bahkan nyawa demi team kesayanganya. Ini yang jelas-jelas merupakan tindakan yang salah.





http://hariansib.com/?p=134437

Tidak ada komentar: